NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Takhta di Balik Terali

Fajar menyingsing di atas puing-puing kaca dan jelaga hitam yang menyelimuti selasar Lapas Cipinang. Pasca-kerusuhan semalam, suasana berubah menjadi sunyi yang mencekam, seolah-olah tembok-tembok beton itu sedang menahan napas. Arkan Xavier kini berada di sel isolasi—sebuah ruangan sempit berukuran 2x2 meter tanpa jendela, hanya ada satu lubang kecil di pintu besi untuk ventilasi dan makanan.

Namun, bagi Arkan, sel isolasi ini tidak terasa seperti hukuman. Justru di sini, dalam kesunyian yang total, ia merasakan kemerdekaan batin yang belum pernah ia kecap selama tiga puluh tahun hidupnya.

Dua hari setelah insiden penyelamatan Sipir Rian, pintu sel isolasi berderit terbuka. Cahaya lampu lorong yang terang benderang menusuk mata Arkan yang sudah terbiasa dengan kegelapan. Di ambang pintu, berdiri Kepala Lapas, Bapak Suprapto, didampingi oleh dua pengawal bersenjata lengkap.

Suprapto menatap Arkan dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kewaspadaan terhadap seorang mantan raja mafia dan rasa hormat terhadap pria yang baru saja menyelamatkan anak buahnya.

"Nomor 7042, keluar. Ada yang ingin bicara denganmu," ujar Suprapto datar.

Arkan berdiri, tubuhnya yang tegap tampak sedikit lebih kurus, namun sorot matanya tetap tajam. Ia digiring menuju ruang kerja Kepala Lapas yang luas. Di sana, sudah duduk seorang pria paruh baya berseragam dinas tinggi dari Kementerian Hukum dan HAM, serta seorang wanita yang sangat ia kenal: Sofia Xavier.

"Ibu?" gumam Arkan.

Sofia berdiri dan memeluk putranya sekilas.

"Arkan, tindakanmu semalam telah sampai ke telinga pusat. Mereka melihat rekaman CCTV bagaimana kau menolak ikut serta dalam kerusuhan dan justru menjadi tameng bagi petugas."

Pria berseragam dinas itu berdehem. "Saudara Arkan, sebagai bentuk apresiasi atas keberanian Anda mencegah pertumpahan darah yang lebih luas, kami secara resmi memberikan status Warga Binaan Teladan kepada Anda. Ini berarti Anda akan dipindahkan ke Blok Hunian Minimum dengan fasilitas perpustakaan dan akses lebih luas untuk kegiatan sosial di dalam Lapas."

Arkan tertegun. Ia tidak mengharapkan penghargaan. "Terima kasih, Pak. Tapi saya melakukan itu bukan untuk fasilitas."

"Kami tahu. Itulah sebabnya Anda layak mendapatkannya," sahut pria itu.

Namun, Sofia mendekat ke telinga Arkan, membisikkan sesuatu yang membuat rahang Arkan mengeras. "Berhati-hatilah, Arkan.

Penghargaan ini adalah pedang bermata dua. Narapidana lain melihatmu sebagai 'peliharaan' sipir sekarang. Dan di luar sana... ada pergerakan di Yayasan Malik."

Di luar tembok penjara, Aisyah sedang sibuk di kantor Yayasan Rahman Malik yang baru saja didirikan. Yayasan ini mengelola aset-aset legal Xavier yang telah dikembalikan untuk mendanai panti asuhan dan rumah sakit gratis.

Aisyah sedang meneliti beberapa laporan keuangan ketika seorang pria masuk tanpa mengetuk pintu. Pria itu berpakaian sangat rapi, dengan senyum yang tampak terlalu sempurna untuk menjadi tulus.

"Selamat siang, Dokter Aisyah. Masih ingat saya?"

Aisyah mendongak, matanya menyipit di balik cadar. "Tuan Bramantyo? Rekan kerja Ayah dulu?"

Bramantyo adalah pria yang pernah bekerja di bawah Rahman Malik dua puluh tahun lalu, pria yang sempat menghilang saat kasus korupsi dana panti meledak. Kini ia kembali sebagai salah satu dewan penasihat yayasan atas rekomendasi beberapa investor lama.

"Saya hanya ingin memastikan transisi aset ini berjalan lancar. Tapi saya lihat, Dokter terlalu banyak mengalokasikan dana untuk riset medis panti. Bukankah lebih baik kita investasikan kembali ke properti agar yayasan ini mandiri?"

Bramantyo meletakkan sebuah dokumen di meja Aisyah.

Aisyah membaca dokumen itu. Isinya adalah rencana penjualan sebagian lahan panti asuhan untuk dijadikan kompleks apartemen mewah.

"Ini lahan untuk tempat tinggal anak-anak, Tuan Bram. Saya tidak akan pernah menandatangani ini," tegas Aisyah.

Bramantyo tertawa kecil, suara tawa yang dingin. "Dokter Aisyah, Anda sangat idealis. Persis seperti Ayah Anda. Tapi ingat, tanpa dana yang kuat, yayasan ini akan mati dalam enam bulan. Dan Arkan Xavier tidak bisa menolong Anda dari balik jeruji besi."

Setelah Bramantyo pergi, Aisyah merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia segera menghubungi Hamdan. "Bang, kita harus memeriksa kembali latar belakang Bramantyo. Ada aroma pengkhianatan di sini."

Arkan dipindahkan ke Blok Hunian Minimum. Kamarnya lebih bersih, ada jendela kecil yang memperlihatkan sepetak langit biru, dan ia diberikan tugas sebagai Kepala Perpustakaan Lapas.

Namun, saat ia melangkah masuk ke perpustakaan untuk pertama kalinya, ia disambut oleh tumpukan buku yang sengaja diacak-acak dan coretan di dinding: "Anjing Penjaga Sipir".

Bongkeng, yang entah bagaimana berhasil menghindari sel isolasi berkat koneksi internalnya, berdiri di sana bersama kelompoknya. "Selamat atas jabatan barumu, Ustadz. Menyenangkan bisa menjadi kesayangan Kepala Lapas, eh?"

Arkan tidak membalas. Ia mulai memunguti buku-buku yang berserakan.

"Kau pikir kau aman karena punya status teladan?" Bongkeng mendekat, membisikkan ancaman. "Kami punya mata di luar, Xavier. Kami tahu tentang Dokter bercadarmu. Kami tahu panti asuhannya sedang goyah. Jika kau tidak mau bekerja sama memberikan kode akses brankas digital Xavier yang masih tersembunyi, panti itu akan rata dengan tanah sebelum kau bebas."

Arkan berhenti bergerak. Ia berdiri perlahan, membalikkan tubuhnya menghadap Bongkeng. Atmosfer di perpustakaan yang sunyi itu mendadak menjadi sangat berat. Aura "Sang Serigala" yang selama ini ia tekan, kembali muncul ke permukaan—bukan untuk menghancurkan, tapi untuk melindungi.

"Bongkeng," suara Arkan sangat rendah, namun setiap katanya terasa seperti hantaman palu.

"Kau bisa menghinaku, kau bisa merusak buku-buku ini. Tapi jika kau menyebut namanya lagi dengan niat buruk... aku akan memastikan kau tidak akan pernah keluar dari tempat ini, bahkan dalam bentuk jenazah sekalipun."

Bongkeng mundur selangkah, terintimidasi oleh kegelapan yang mendalam di mata Arkan. "Cih, kita lihat saja siapa yang akan menang."

Hari Sabtu tiba, hari yang paling dinanti Arkan.

Aisyah datang dengan membawa bekal masakan rumah dan sebuah berita penting. Namun, kali ini kunjungan dilakukan di ruang khusus tanpa jeruji besi, keuntungan dari status "Warga Binaan Teladan".

Arkan duduk di depan Aisyah. Ia melihat keresahan di mata wanita itu. "Ada apa, Aisyah? Apa Bramantyo mengganggumu?"

Aisyah terkejut. "Bagaimana Anda tahu tentang Bramantyo?"

"Ibu memberitahuku. Bramantyo adalah orang yang dulu membantu ayahku menjebak ayahmu.

Dia adalah 'ular' yang paling licik. Dia ingin mengambil kembali aset itu untuk klan-klan kecil yang masih setia pada cara lama," Arkan menggenggam tangan Aisyah di atas meja—kali ini ia diizinkan menyentuh sedikit. "Aisyah, kau harus waspada. Dia akan mencoba memanipulasi Hamdan."

"Bang Hamdan sangat mempercayainya karena dia teman lama Ayah," bisik Aisyah cemas.

"Katakan pada Hamdan untuk memeriksa rekening luar negeri Bramantyo. Leo sudah aku perintahkan untuk mengirimkan data-datanya lewat kurir rahasia ke paviliun kalian," Arkan menatap Aisyah dengan penuh kasih. "Dan satu hal lagi... Bongkeng mengancam panti."

Aisyah membelalakkan matanya. "Bongkeng? Pria di dalam sini?"

"Iya. Tapi jangan takut. Aku punya cara untuk membungkamnya tanpa menyentuhnya. Aku hanya ingin kau memperketat penjagaan di panti. Suruh Leo memindahkan beberapa tim keamanan ke sana secara permanen."

Aisyah mengangguk, ia merasa sedikit lebih tenang. "Arkan, Anda sedang dalam masa remisi. Tolong, jangan melakukan hal yang membahayakan posisi Anda. Aisyah tidak ingin waktu lima tahun ini bertambah."

Arkan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Aisyah dengan ibu jarinya. "Aku sedang membangun takhta baru, Aisyah. Takhta yang didasarkan pada kebenaran. Aku akan keluar dari sini sebagai pria yang layak bersanding di sisimu. Percayalah padaku."

Saat kunjungan berakhir, Aisyah memberikan sebuah surat yang ditulis tangan oleh Rahman Malik. Isinya singkat: "Arkan, kejujuran adalah mata uang yang paling mahal. Teruslah membayar hutangmu pada Tuhan, dan aku akan memastikan rumahku selalu terbuka untukmu."

Arkan menyimpan surat itu di saku seragamnya, tepat di atas jantungnya.

Di malam hari, Arkan berdiri di depan jendela selnya. Ia melihat bulan sabit yang menggantung di langit Jakarta. Konflik ini semakin melebar—dari jeruji besi hingga ke ruang dewan yayasan. Ia tahu, ia sedang dijepit dari dua sisi. Bongkeng di dalam, dan Bramantyo di luar.

Namun, Arkan Xavier tidak lagi bertarung untuk kekuasaan. Ia bertarung untuk sebuah nama: Keluarga.

Malam itu, Arkan mulai menulis di buku catatan barunya:

Musuh yang paling berbahaya bukanlah yang memegang pedang di depan matamu, melainkan yang menawarkan senyum di belakang punggungmu. Tapi mereka lupa satu hal... serigala yang sedang bertaubat tetap memiliki insting untuk mencium bau pengkhianatan.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!