“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tak ada pilihan lain, Syafira memenuhi penawaran Putra. Ia tak ingin semakin memberatkan Khale setelah adanya masalah ini. Seperti yang Putra katakan, ia harus konsisten menjadi wanita mandiri.
Dengan tetap diantar oleh anak buah Khale yang menjaganya, Syafira tak mengatakan urusannya di restoran hotel kala itu, pun meminta mereka tak mengatakan hal ini pada Khale. Agar Putra tak mencurigainya, ia meminta anak buah Khale mengantarnya dengan mobil taksi yang disewa dan menurunkannya di lobi hotel. Lalu setelahnya, mereka berganti mobil untuk masuk ke dalam parkiran hotel dan standby di sana jika sewaktu-waktu Syafira memerlukan bantuan.
Dengan sisa keberanian yang ada untuk menghadapi Putra, Syafira menaiki lift dan berjalan menuju restoran hotel. Dilihatnya pria yang pernah menjadi bosnya itu sudah datang dan duduk di salah satu meja. Hanya ada staf restoran yang sedang bertugas, tak ada pengunjung lain selain dirinya dan Putra. Hal ini membuat Syafira cukup gugup dan takut.
Mendongakkan kepalanya, ia mendekat ke arah Putra yang duduk membelakanginya.
“Mana gaun yang harus aku pakai?” Tak menyapa, bunda kembar itu langsung to the point.
Dengan wajah sumringah, Putra berdiri dan membalikkan badannya. “Hai, aku senang akhirnya kamu mau datang, Nyonya Syafira.”
Tanpa basa-basi, Syafira mengambil sebuah kotak di atas meja yang diduga adalah gaun untuknya.
“Jangan lama-lama, aku menunggumu di sini,” ujar Putra genit.
Melengos, Syafira berlalu menuju toilet.
Buru-buru ia melepaskan bajunya dan membuka kotak tersebut. Namun, betapa terkejutnya ia ketika mendapati gaun yang Putra siapkan adalah gaun sexy. Sedangkan dirinya adalah wanita berhijab. Merasa dihina, Syafira geram.
Berusaha berfikir dengan kepala dingin, ia tak ingin mengulur waktu. “Oke, Syaf, tenang. Sekali ini saja lakukan, setelah itu semuanya akan berakhir.”
Terpaksa ia segera mengganti bajunya dengan gaun panjang yang sedikit terbuka di bagian dada itu. Selesai memakainya, ia menutup tubuhnya yang terbuka dengan kemeja yang ia pakai sebelumnya. Ia juga menyelempangkan hijabnya untuk menutupi rambutnya.
Berjalan kembali ke arah Putra dengan kepercayaan diri yang luntur karena gaun itu, Syafira meminta Putra segera menyiapkan makanannya.
“Tunggu, aku sudah bilang kalau kamu harus memakai gaun yang aku siapakan. Kenapa kamu masih pakai bajumu? Bukalah, Syaf, kamu lebih cantik dengan gaun itu dan tanpa penutup kepala,” ujar Putra membuat Syafira ingin marah dan menangis.
Putra memintanya untuk tidak malu karena di sana hanya ada mereka berdua dan para staf restoran yang melayani mereka, karena ia sudah membooking restoran malam ini.
Dengan perasaan campur aduknya, Syafira membuka kemeja dan hijabnya. Lebih cepat ia lakukan, lebih cepat pula semua ini akan berakhir. Putra pun tersenyum melihat kecantikan wanita di hadapannya itu, kulitnya yang putih kini lebih terlihat. Tak berkedip ia memandangi Syafira dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Tak lama, pelayan menyajikan begitu banyak menu di meja mereka.
Berharap waktu cepat berlalu, Syafira hanya mengambil sedikit menu ke dalam piringnya dan mempercepat makannya. Di saat seperti ini, lapar pun tak ia rasa. Yang ada hanyalah keinginan untuk segera pulang bertemu kembar mengakhiri adegan menyedihkan ini.
“Pelan-pelan, Syaf. Santai saja jangan terburu-buru. Kita sudah lama tidak mengobrol. Dulu saja hampir setiap hari kita berbincang, 1 mobil pula,” tutur Putra tenang.
5 menit yang terasa bagai 5 jam, Syafira lalu meletakkan garpu dan pisaunya di atas meja, “Aku sudah selesai. Hutangku sudah lunas ‘kan? Kalau begitu aku bisa pulang sekarang.”
Syafira berdiri tapi langsung dicegah oleh Putra. “Tapi aku belum selesai, tunggu dulu.”
Kembali duduk, mantan istri Khale itu membuang muka.
Hingga setelah Putra selesai makan, ia mempersilakan Syafira untuk pulang. “Ayo sama-sama kita turun ke lobi.”
Sedikit lega, Syafira bergegas berdiri dan berjalan menuju pintu keluar restoran disusul Putra di belakangnya.
Keluar dari restoran, untuk menuju lobi mereka melewati beberapa ruangan para staf hotel dan manager. Syafira mempercepat langkahnya menuju lift untuk turun ke lobi. Namun, baru saja ia akan memencet tombol lift, Putra memeluknya dari belakang dan setengah menyeret tubuhnya menuju ke sebuah ruangan tak jauh dari lift.
Sontak bunda kembar itu berteriak meminta tolong.
Mengunci pintu ruangan yang diduga adalah ruangan manager, Putra sedikit membanting tubuh Syafira ke tembok. Hanya berjarak 5 centimeter, ia mendekatkan wajahnya pada wajah wanita di depannya itu.
“Mau apa kamu? Brings*k!” teriak Syafira.
“Sssst…ssst, tenang, Syaf, jangan teriak-teriak. Aku hanya ingin memudahkanmu membayar hutangmu. Seharusnya kamu bersyukur aku begitu baik padamu. Mengajakmu makan malam dan ….” Putra tidak melanjutkan ucapannya, dengan tatapan nakal ia memandangi tubuh Syafira penuh hasrat.
Berusaha melepaskan diri dari Putra, Syafira memakinya. Ia tak berhenti berteriak meminta tolong. Mencoba meraih ponselnya untuk meminta bantuan anak buah Khale pun seakan adalah hal yang mustahil dilakukan dalam kondisi seperti ini.
Berusaha menciumnya, Putra meminta Syafira tenang dan menikmati malam ini. Ia tak berhenti memuji tubuh Syafira yang diinginkannya sedari dulu. Ia juga mengatai janda beranak dua itu tak pantas berpenampilan tertutup. “Sayang dengan keindahan tubuhmu itu kalau tak diperlihatkan.”
Tangan kiri Putra masih memegangi kedua tangan Syafira, sementara tangan kanannya mulai membuka jas dan kancing kemejanya.
Ingin menangis, sekuat tenaga Syafira terus berteriak meminta tolong berharap ada keajaiban.
Perlahan, Putra menurunkan satu tali di pundak kanan wanita berkulit putih itu.
...****************...
dasar laki" emang buaya🙄🙄