NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Di tengah pekuburan yang telah melapuk dimakan waktu, tiga gundukan pusara berdiri sejajar bagai rahang terbuka. Mereka bukan sekadar batu nisan bisu, melainkan pintu gerbang yang bernapas. Bisikan-bisikan dingin merayap dari celah-celah tanah, memanggil nama, menjerat jiwa, menjanjikan sebuah kunci.

Kunci itu bukan benda berupa logam. Ia adalah ungkapan metaforis yang berdenyut layaknya jantung yang baru dicabut. Saat Laura menggenggamnya, dunia yang ia kenal seketika retak.

Lantai di bawah kakinya meleleh menjadi lumpur hitam. Realitas bukan lagi sesuatu yang tegak dan nyata, melainkan sesuatu yang merangkak naik. Dari kedalaman liang lahat, dari perut bumi yang kelaparan, kegelapan merambat perlahan; menelan tawa, menelan akal sehat, dan menyeretnya hidup-hidup ke dalam kebenaran yang mengerikan di mana orang mati bukanlah mereka yang tertidur begitu saja, melainkan mereka yang selalu berusaha menyampaikan sebuah kabar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Datangnya Impian Dari Liang Lahat

Malam itu, setelah seharian penuh dengan kesibukan, Laura merebahkan diri di tempat tidur, persendian dan otot-otot di tubuhnya memaksanya agar merelaksasi; lampu meja di sudut menyala remang, udara terasa sejuk dan suasana cukup hening. Rasa letih membuat matanya terkatup, pikirannya melayang sesaat sebelum akhirnya terlelap dalam tidur yang nyenyak.

Dalam tidurnya ia tiba-tiba mengalami mimpi, dimulai dengan suasana yang tenang dan hangat. Laura menemukan dirinya berdiri di tepi sebuah sungai yang lebar dan indah, airnya mengalir perlahan memantulkan cahaya rembulan. Pepohonan rindang di sekelilingnya menambah kesan damai. Di kejauhan, sebuah papan petunjuk usang terlihat, dan ketika Laura mendekat, ia bisa membaca tulisan yang terukir samar: Sungai Barito.

Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncul tiga sosok kecil. Mereka adalah gadis-gadis cilik dengan rambut hitam panjang tergerai, dan yang paling menarik perhatian Laura adalah gaun merah menyala yang mereka kenakan. Gaun itu seolah dibuat dari kelopak mawar, berkibar anggun mengikuti setiap langkah mereka.

Ketiga gadis itu berjalan mendekat ke arah Laura, dengan senyum tipis yang misterius di wajah dan kedipan mata yang seakan menyapa. Mereka berhenti beberapa langkah di depan, dan yang paling tengah melangkah maju sedikit. Matanya hitam pekat, menatap Laura dengan tatapan yang dalam namun lembut.

"Kami datang, Ibu," kata gadis itu, suaranya seperti harmonika yang merdu namun sedikit bergaung, seolah berasal dari tempat jauh di seberang sungai. Dua gadis lainnya mengangguk setuju.

Laura merasa kebingungan, namun juga ada rasa familiar yang aneh. "Ibu?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. "Siapa kalian?"

Gadis yang di tengah tersenyum lebih lebar. "Kami adalah impian Ayah. Kami adalah harapan yang akan segera tiba."

Kemudian, ketiga gadis itu mengulurkan tangan mereka secara bersamaan, telapak tangan terbuka ke arah Laura. "Berikan kami mawar, Ibu," pinta gadis yang di pinggir sisi kiri, suaranya lebih ceria.

"Mawar?" Laura melirik sekeliling. Ia tidak melihat setangkai mawar pun di dekatnya. "Maafkan Ibu, Ibu tidak punya mawar di sini."

Gadis yang di pinggir kanan tersenyum penuh rahasia. "Mawar itu ada di hatimu, Ibu. Mawar yang melambangkan cinta, harapan, dan janji. Berikan itu kepada kami."

Laura merasakan sensasi aneh di dadanya. Seolah ada kehangatan yang menyebar, dan ia tahu apa yang mereka maksud. Ini bukan mawar fisik, melainkan esensi dari cinta dan harapan yang ia rasakan untuk masa depan.

Ia mengulurkan kedua tangannya, seolah benar-benar memberikan sesuatu, meskipun tidak ada wujud fisik. Ia memandang mata ketiga gadis itu, dan di sana ia melihat refleksi dirinya yang penuh kasih sayang.

"Aku memberikannya," kata Laura, hatinya dipenuhi perasaan haru. "Mawar cinta dan harapanku, aku berikan untuk kalian, putri-putriku."

Tiga gadis bergaun merah itu tersenyum lebar, senyum yang begitu murni dan cerah, menerangi seluruh tepian Sungai Barito dalam mimpi Laura. Cahaya itu semakin terang, hingga akhirnya Laura merasa silau, dan perlahan-lahan, pemandangan itu memudar.

Krik… krik… krik… Suara jangkrik terdengar, masuk hingga ke dalam kamar yang hanya diterangi sinar bulan yang menyelinap. Laura tiba-tiba terbangun dengan napas tersengal-sengal, keringat dingin membasahi dahinya dan kedua tangannya langsung menggenggam seprai hingga kusut.

Matanya berkeliaran ke kiri dan ke kanan, mencoba menyesuaikan diri. Jam meja di sudut kamar menunjukkan pukul 01.17, waktu yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali terbangun di tengah malam. Tapi kali ini berbeda; rasa tidak nyaman yang menyelimuti dirinya bukan karena kejutan malam, melainkan bayangan yang masih jelas terpampang di benaknya; mimpi itu. Terasa begitu nyata, begitu jelas, ia tahu mimpi itu adalah pesan, sebuah janji manis akan masa depan yang sebelumnya pernah Doni impikan.

Laura mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi ototnya terasa kaku. Dia menoleh ke jendela; di luar sana, hanya ada nyayian serangga malam yang kian riuh berpadu.

Tiba-tiba, suara nada pesan masuk terdengar di ponsel yang membuatnya sedikit mengerutkan dahi. Dia segera meraih ponsel di sisi tempat tidur dengan tangan yang ragu. Layarnya menunjukkan nomer yang tidak dikenal, tapi ada pesan teks yang baru saja masuk:

“Kami menunggu di tepian. Jangan terlambat, Laura.”

Di bawah pesan itu ada sebuah foto, menunjukkan tiga sosok bergaun merah berdiri tepat di atas sungai. Dan di sudut foto itu, terlihat sosok wanita dengan rambut coklat panjang yang sedang berdiri di dekat pohon, itu adalah sosok dirinya sendiri.

Laura segera menghapus pesan tersebut, ia menarik napas panjang, berusaha menekan detak jantung yang masih berpacu. Telapak tangannya menepuk pelan pipinya sendiri, berbisik lemah, "Hanya mimpi. Itu hanya mimpi, dan apa yang tadi terjadi, hanya kebetulan," meskipun suara itu terdengar tidak meyakinkan bahkan untuk telinganya sendiri. Laura memutuskan untuk tidak membiarkan imajinasinya terus berjalan liar. Perlahan-lahan, ia turun dari tempat tidur, kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin.

Langkahnya pelan dan hati-hati, seolah-olah suara langkah kakinya sendiri bisa membangunkan sesuatu yang sebaiknya tetap tidur. Ia berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh yang membentang luas hingga ke kaki bukit. Tangannya yang masih sedikit gemetar menyentuh pegangan jendela, lalu dengan gerakan perlahan, ia mendorongnya terbuka.

Angin malam langsung menyambutnya, sejuk dan tajam, meniupkan rambutnya yang berantakan ke wajah. Aroma daun teh yang segar menyelinap masuk, aroma yang biasanya menenangkan, tapi malam ini terasa membawa nuansa yang berbeda, lebih berat, lebih lekat, seolah-olah udara itu sendiri menyimpan rahasia.

Laura bersandar di bingkai jendela, matanya menatap jauh ke dalam kegelapan. Kebun teh di bawah sinar bulan yang samar tampak seperti lautan gelap yang tak berujung, barisan tanaman yang rapi berubah menjadi bayangan-bayangan panjang yang seolah bergerak perlahan saat angin berhembus. Tatapannya menjelajah hingga ke garis cakrawala yang gelap, berusaha mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang, sesuatu yang bisa membuktikan bahwa dunia ini masih sama seperti saat ia tertidur. Tetapi apa yang sedang ia pikirkan, benar-benar membuatnya merasa bingung.

Angin bertiup lebih kencang, membuat daun-daun teh berdesir keras, dan untuk sesaat, suara itu terdengar seperti bisikan-bisikan halus yang menyatu. Lalu, dari arah yang sama, terdengar suara lain. Bukan suara manusia, bukan pula suara hewan malam.

Itu adalah suara mirip kain yang bergesekan. Sreesh... sreesh... Suara yang jelas, seolah-olah sumbernya hanya berjarak beberapa meter, padahal ia tahu tidak ada siapa pun di halaman rumahnya.

Keesokan harinya, Laura lebih banyak duduk termenung, meski seharian telah berlalu, akan tetapi dirinya masih merasakan hangatnya mimpi tentang tiga gadis bergaun merah di tepi sungai yang ia lihat tadi malam. Sejak mimpi itu, ia tak bisa berhenti memikirkannya.

Sore itu, Laura segera mencari tahu tentang Sungai Barito. Penelusurannya di internet mengungkapkan bahwa Sungai Barito adalah salah satu sungai tropis terpanjang, terletak di Pulau Kalimantan, dan merupakan ikon penting bagi kota Banjarmasin. Informasi ini semakin menguatkan keyakinannya bahwa mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Ada sebuah panggilan, sebuah intuisi, sebuah petunjuk yang harus ia ikuti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!