Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang dipisahkan kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai.
Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
PS: Mengandung Catatan Horor Yang Tinggi & Dapat Mempengaruhi Sisi Psikologis..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Malam itu, setelah seharian penuh dengan kesibukan, Laura merebahkan diri di tempat tidur, persendian dan otot-otot di tubuhnya memaksanya agar merelaksasi; lampu meja di sudut menyala remang, udara terasa sejuk dan suasana cukup hening. Rasa letih membuat matanya terkatup, pikirannya melayang sesaat sebelum akhirnya terlelap dalam tidur yang nyenyak.
Dalam tidurnya ia tiba-tiba mengalami mimpi, dimulai dengan suasana yang tenang dan hangat. Laura menemukan dirinya berdiri di tepi sebuah sungai yang lebar dan indah, airnya mengalir perlahan memantulkan cahaya rembulan. Pepohonan rindang di sekelilingnya menambah kesan damai. Di kejauhan, sebuah papan petunjuk usang terlihat, dan ketika Laura mendekat, ia bisa membaca tulisan yang terukir samar: Sungai Barito.
Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncul tiga sosok kecil. Mereka adalah gadis-gadis cilik dengan rambut hitam panjang tergerai, dan yang paling menarik perhatian Laura adalah gaun merah menyala yang mereka kenakan. Gaun itu seolah dibuat dari kelopak mawar, berkibar anggun mengikuti setiap langkah mereka.
Ketiga gadis itu berjalan mendekat ke arah Laura, dengan senyum tipis yang misterius di wajah dan kedipan mata yang seakan menyapa. Mereka berhenti beberapa langkah di depan, dan yang paling tengah melangkah maju sedikit. Matanya hitam pekat, menatap Laura dengan tatapan yang dalam namun lembut.
"Kami datang, Ibu," kata gadis itu, suaranya seperti harmonika yang merdu namun sedikit bergaung, seolah berasal dari tempat jauh di seberang sungai. Dua gadis lainnya mengangguk setuju.
Laura merasa kebingungan, namun juga ada rasa familiar yang aneh. "Ibu?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. "Siapa kalian?"
Gadis yang di tengah tersenyum lebih lebar. "Kami adalah impian Ayah. Kami adalah harapan yang akan segera tiba."
Kemudian, ketiga gadis itu mengulurkan tangan mereka secara bersamaan, telapak tangan terbuka ke arah Laura. "Berikan kami mawar, Ibu," pinta gadis yang di pinggir sisi kiri, suaranya lebih ceria.
"Mawar?" Laura melirik sekeliling. Ia tidak melihat setangkai mawar pun di dekatnya. "Maafkan Ibu, Ibu tidak punya mawar di sini."
Gadis yang di pinggir kanan tersenyum penuh rahasia. "Mawar itu ada di hatimu, Ibu. Mawar yang melambangkan cinta, harapan, dan janji. Berikan itu kepada kami."
Laura merasakan sensasi aneh di dadanya. Seolah ada kehangatan yang menyebar, dan ia tahu apa yang mereka maksud. Ini bukan mawar fisik, melainkan esensi dari cinta dan harapan yang ia rasakan untuk masa depan.
Ia mengulurkan kedua tangannya, seolah benar-benar memberikan sesuatu, meskipun tidak ada wujud fisik. Ia memandang mata ketiga gadis itu, dan di sana ia melihat refleksi dirinya yang penuh kasih sayang.
"Aku memberikannya," kata Laura, hatinya dipenuhi perasaan haru. "Mawar cinta dan harapanku, aku berikan untuk kalian, putri-putriku."
Tiga gadis bergaun merah itu tersenyum lebar, senyum yang begitu murni dan cerah, menerangi seluruh tepian Sungai Barito dalam mimpi Laura. Cahaya itu semakin terang, hingga akhirnya Laura merasa silau, dan perlahan-lahan, pemandangan itu memudar.
Krik… krik… krik… Suara jangkrik terdengar, masuk hingga ke dalam kamar yang hanya diterangi sinar bulan yang menyelinap. Laura tiba-tiba terbangun dengan napas tersengal-sengal, keringat dingin membasahi dahinya dan kedua tangannya langsung menggenggam seprai hingga kusut.
Matanya berkeliaran ke kiri dan ke kanan, mencoba menyesuaikan diri. Jam meja di sudut kamar menunjukkan pukul 01.17, waktu yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali terbangun di tengah malam. Tapi kali ini berbeda; rasa tidak nyaman yang menyelimuti dirinya bukan karena kejutan malam, melainkan bayangan yang masih jelas terpampang di benaknya; mimpi itu. Terasa begitu nyata, begitu jelas, ia tahu mimpi itu adalah pesan, sebuah janji manis akan masa depan yang sebelumnya pernah Doni impikan.
Laura mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi ototnya terasa kaku. Dia menoleh ke jendela; di luar sana, hanya ada nyayian serangga malam yang kian riuh berpadu.
Tiba-tiba, suara nada pesan masuk terdengar di ponsel yang membuatnya sedikit mengerutkan dahi. Dia segera meraih ponsel di sisi tempat tidur dengan tangan yang ragu. Layarnya menunjukkan nomer yang tidak dikenal, tapi ada pesan teks yang baru saja masuk:
“Kami menunggu di tepian. Jangan terlambat, Laura.”
Di bawah pesan itu ada sebuah foto, menunjukkan tiga sosok bergaun merah berdiri tepat di atas sungai. Dan di sudut foto itu, terlihat sosok wanita dengan rambut coklat panjang yang sedang berdiri di dekat pohon, itu adalah sosok dirinya sendiri.
Laura segera menghapus pesan tersebut, ia menarik napas panjang, berusaha menekan detak jantung yang masih berpacu. Telapak tangannya menepuk pelan pipinya sendiri, berbisik lemah, "Hanya mimpi. Itu hanya mimpi, dan apa yang tadi terjadi, hanya kebetulan," meskipun suara itu terdengar tidak meyakinkan bahkan untuk telinganya sendiri. Laura memutuskan untuk tidak membiarkan imajinasinya terus berjalan liar. Perlahan-lahan, ia turun dari tempat tidur, kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin.
Langkahnya pelan dan hati-hati, seolah-olah suara langkah kakinya sendiri bisa membangunkan sesuatu yang sebaiknya tetap tidur. Ia berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh yang membentang luas hingga ke kaki bukit. Tangannya yang masih sedikit gemetar menyentuh pegangan jendela, lalu dengan gerakan perlahan, ia mendorongnya terbuka.
Angin malam langsung menyambutnya, sejuk dan tajam, meniupkan rambutnya yang berantakan ke wajah. Aroma daun teh yang segar menyelinap masuk, aroma yang biasanya menenangkan, tapi malam ini terasa membawa nuansa yang berbeda, lebih berat, lebih lekat, seolah-olah udara itu sendiri menyimpan rahasia.
Laura bersandar di bingkai jendela, matanya menatap jauh ke dalam kegelapan. Kebun teh di bawah sinar bulan yang samar tampak seperti lautan gelap yang tak berujung, barisan tanaman yang rapi berubah menjadi bayangan-bayangan panjang yang seolah bergerak perlahan saat angin berhembus. Tatapannya menjelajah hingga ke garis cakrawala yang gelap, berusaha mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang, sesuatu yang bisa membuktikan bahwa dunia ini masih sama seperti saat ia tertidur. Tetapi apa yang sedang ia pikirkan, benar-benar membuatnya merasa bingung.
Angin bertiup lebih kencang, membuat daun-daun teh berdesir keras, dan untuk sesaat, suara itu terdengar seperti bisikan-bisikan halus yang menyatu. Lalu, dari arah yang sama, terdengar suara lain. Bukan suara manusia, bukan pula suara hewan malam.
Itu adalah suara mirip kain yang bergesekan. Sreesh... sreesh... Suara yang jelas, seolah-olah sumbernya hanya berjarak beberapa meter, padahal ia tahu tidak ada siapa pun di halaman rumahnya.
Keesokan harinya, Laura lebih banyak duduk termenung, meski seharian telah berlalu, akan tetapi dirinya masih merasakan hangatnya mimpi tentang tiga gadis bergaun merah di tepi sungai yang ia lihat tadi malam. Sejak mimpi itu, ia tak bisa berhenti memikirkannya.
Sore itu, Laura segera mencari tahu tentang Sungai Barito. Penelusurannya di internet mengungkapkan bahwa Sungai Barito adalah salah satu sungai tropis terpanjang, terletak di Pulau Kalimantan, dan merupakan ikon penting bagi kota Banjarmasin. Informasi ini semakin menguatkan keyakinannya bahwa mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Ada sebuah panggilan, sebuah intuisi, sebuah petunjuk yang harus ia ikuti.