Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Rahasia di Balik Pantulan Cermin
Gisel sedang duduk di depan meja riasnya, melakukan ritual skincare malam. Ia hanya memakai daster satin tipis bertali satu yang menonjolkan bahu mulusnya. Wangi white tea yang segar bercampur dengan aroma krim wajahnya memenuhi kamar, menciptakan suasana yang sangat rileks.
Tok, tok.
"Masuk aja!" seru Gisel tanpa menoleh, tangannya sibuk menepuk-nepuk essence ke pipinya yang merona.
Pintu terbuka, dan sosok jangkung Dewa (35 thn) melangkah masuk. Ia sudah berganti pakaian menjadi kaos oblong hitam yang pas di badannya, memperlihatkan otot lengan dan bahu lebar yang kokoh. Kacamata bacanya masih bertengger di hidung, memberikan kesan intelektual yang selalu berhasil bikin Gisel salah fokus.
"Besok kita akan ke rumah keluarga besar saya. Ada acara makan malam keluarga. Kamu... bisa ikut, kan?" tanya Dewa, suaranya berat dan rendah.
Gisel menoleh lewat pantulan cermin, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Tentu saja bisa, Mas Sayang! Masa istri secantik aku nggak dipamerin ke keluarga besar? Nanti mereka pikir kamu beneran nikah sama kulkas kalau aku nggak datang."
Dewa tidak langsung pergi. Ia berdiri mematung di dekat ranjang, matanya menatap punggung kecil Gisel. Ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya. Ia ingin sekali bertanya soal uang 200 juta itu. Sisi paranoidnya tetap ingin mendengar pengakuan langsung.
Haruskah saya tanya? Bagaimana kalau dia tersinggung? batin Dewa ragu. Lidahnya terasa kelu. Ia merasa sangat berdosa karena masih memata-matai Gisel padahal gadis ini sudah melakukan banyak hal luar biasa untuk anak-anaknya.
"Ada lagi, Mas? Kok diem aja? Mau aku bantuin lepas kacamata atau mau aku bantuin lepas yang lain?" goda Gisel sambil mengedipkan mata lewat cermin.
Dewa tersentak, wajahnya sedikit memerah. Ia memutuskan untuk menelan kembali pertanyaannya. Ia tidak ingin merusak suasana hangat yang sudah susah payah dibangun Gisel.
"Tidak ada. Tidurlah lebih awal. Besok akan jadi hari yang panjang," ucap Dewa pelan. Ia berbalik untuk keluar, namun langkahnya terhenti saat Gisel berdiri dan menghampirinya.
Gisel berdiri tepat di depan dada bidang Dewa, membuat Dewa harus menunduk dalam karena perbedaan tinggi badan mereka yang 28 cm. Gisel merapikan kaos Dewa, membiarkan jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Dewa yang mulus.
"Mas... jangan terlalu banyak mikir ya. Apapun yang kamu ragukan soal aku, nanti bakal terjawab sendiri. Sekarang, mending Mas istirahat. Jangan sampai pas ketemu keluarga besar besok, muka gantengnya Mas kelihatan kuyu gara-gara kurang tidur," bisik Gisel lembut, aroma segarnya benar-benar membius Dewa.
Dewa menatap mata bulat Gisel dengan intens. "Terima kasih, Gisel."
Dewa keluar dari kamar dengan jantung yang berdegup tidak karuan. Begitu pintu tertutup, Gisel tersenyum tipis. Ia tahu Dewa ingin bertanya soal uang itu, dan ia sengaja menunggu momen yang paling tepat untuk memberikan kejutan besar di rumah keluarga besar besok.
Malam itu, kediaman utama Atala tampak sangat megah. Keluarga besar berkumpul, mulai dari kolega bisnis hingga kerabat jauh yang semuanya tampak kaku dan formal—sangat khas gaya Dewa. Gisel tampil memukau dengan gaun cocktail berwarna gading yang menonjolkan lekuk pinggulnya, rambut panjangnya ditata anggun.
Wangi white tea dan citrus-nya menyeruak di antara parfum-parfum mahal yang berat, memberikan kesegaran yang mencolok. Dewa (35 thn) berdiri di sampingnya dengan jas hitam yang sangat pas di bahu lebar-nya
Saat sesi bincang-bincang santai, Gisel tiba-tiba meminta izin untuk memberikan pengumuman singkat. Dewa menatapnya heran, namun tidak menahan.
"Malam semuanya," suara Gisel terdengar jernih dan penuh percaya diri. "Sebagai anggota baru di keluarga Atala, saya ingin berbagi kabar bahagia. Atas nama Dewa Atala dan memori mendiang Mbak Arumi, hari ini secara resmi... Panti Asuhan Kasih Arumi telah melunasi seluruh tunggakan lahannya dan mulai besok akan direnovasi total."
Suasana mendadak hening. Keluarga besar saling berbisik takjub.
"Dan renovasi ini bisa berjalan berkat tabungan dan bantuan dana dari... suami saya tercinta," Gisel menatap Dewa dengan tatapan penuh arti. "Dia pria yang sangat setia pada masa lalu, tapi terkadang dia butuh bantuan sedikit untuk mewujudkan janji yang tertunda."
Dewa membeku. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia teringat kembali tuduhannya soal uang 200 juta tempo hari. Ternyata uang itu tidak dipakai untuk foya-foya atau pria lain, melainkan untuk menebus dosa dan janjinya yang terlupa pada mendiang istrinya.
Dewa menatap Raka (17 thn) dan Alya (16 thn) yang berdiri tak jauh dari mereka. Kedua remaja itu tersenyum tipis ke arah Gisel, sebuah senyuman yang penuh rasa terima kasih.