"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon
"Aem—” Mika langsung kikuk dan membuang muka.
“Tunggu sebentar. Bukannya kamu bilang aku disuruh ke sana sendiri?!” tanya Mika.
“Sejak kapan aku percaya sama orang, apalagi anak bocah kayak kamu!” sahutnya ketus.
Mika ternganga. Ekspresinya bercampur kesal dan heran.
“Dia jemput kamu? Atau kamu yang minta jemput?” tanya Arlan terlihat menuduh dan cemburu.
“Dia? Tristan, maksudnya? Eh, Tuan Arlan yang terhormat, aku bukan cewek murahan yang mau sama orang begitu aja, ya!” Mika naik pitam. Tangannya mengepal. Ingin rasanya satu pukulan menghajar orang dingin dan kejam seperti Arlan.
Tetapi, amarahnya hanya berada digenggaman tangannya.
“Terus kenapa sama aku mau?” tanyanya kembali.
“Ka—karena—” Mika seperti ragu menjawabnya. “Ya, karena kalau aku nggak naik ke mobilmu, yang ada aku digendong atau digeret masuk!” lanjutnya beralasan.
Arlan menutup mulutnya. Ada senyum curiga di bibirnya. Arlan tak yakin bahwa itu adalah jawaban sebenarnya.
Mereka pun sampai di Hotel Pogan. Mika masuk dengan elegan bak putri kerajaan. Gaun biru dengan model rambut gerai, membuat wajah Mika semakin cantik.
Beberapa orang yang ada diacara tersebut tak berkedip melihatnya.
Mika diajak untuk mendatangi kakek Arlan.
“Arlan, gadis cantik mana lagi yang kamu bawa ini!” tanya Hustan berbisik.
“Perhatikan baik-baik.”
Hustan melihat penampilan Mika dari ujung rambut hingga kaki. Ia baru sadar bahwa gadis yang dihadapannya sekarang adalah gadis yang pernah ia usir.
“Yang bener aja kamu. Kamu bawa dia lagi ke acara ini? Kamu ini udah mau menikah ama Kamalia, Lan. Gimana kamu ini?!” celetuk Hustan geram.
Tak beberapa lama, Mika melihat orang tua dan saudara tirinya menghadiri acara tersebut.
“Ayah?” Mika tercengang. Ia melirik ke arah Arlan.
“Nikmati aja!” ucap Arlan singkat.
Mereka pun berjalan mendekati Arlan dan Hustan. Samuel tidak tahu bahwa yang ada di samping Arlan adalah Mika. Itu disebabkan penampilan Mika yang sangat berbeda.
“Terima kasih, Tuan Arlan udah mengundang kami ke sini!” ucap Samuel, sambil mengulurkan tangannya.
Tetapi, Arlan tidak membalas jabatan tangan itu. “Bukan aku yang mengundangmu!”
Samuel dengan anak tirinya saling pandang satu sama lain. Mereka menjadi canggung dihadapan Arlan.
Tak lama kemudian, Tuan Kamil pun menghadiri acara tersebut.
Mika berlari mendatanginya. “Pak Kamil, gimana kabar Anda?”
“Mika, kamu terlihat sangat cantik,” puji Kamil.
Mika tersenyum tersipu malu. “Biasa aja, Pak.”
Diseberang mereka, terlihat musuh Mika sudah datang, yaitu Angel. Kedatangan Angel berbarengan dengan kedatangan Kamalia.
Kamalia datang bersama kedua orang tuanya. Pakaian Kamalia sangat mempesona banyak pria diacara tersebut.
Bagaimana tidak? Kamalia jelas seorang designer. Bajunya tidak mungkin dari bahan yang murah. Ditambah lagi design gaun pesta Kamalia sangat diminati banyak orang.
Dengan manjanya ia mendatangi Arlan dan menggandeng tangannya. Mika melihat dengan tatapan yang berbeda.
“Mika, itu calon Tuan Arlan?” tanya Kamil.
“Emm, iya!” jawab Mika sedikit menunduk.
“Bapak kira kamu dengan Tuan Arlan … kalian—”
Mika tersenyum pasih. Ia menggelengkan kepala. “Bukan, Pak. Kami cuma orang asing!”
Mika menunduk sejenak. “Permisi, Pak! Aku ke sana dulu!”
Mika pun menepi. Ia meneguk beberapa minuman yang dibawa pramusaji saat melintasinya.
Beberapa menit kemudian, Tristan datang menggandeng Nurma. Mika tercengang tak percaya.
Nurma sangat cantik malam itu. Saat mata mereka bertemu, Nurma langsung mendekati Mika.
“Mika, kita ketemu di sini!”
“I—iya. Em, ka—kamu sama Tristan … ada—” Mika ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Oh, Tuan Tristan hubungi aku untuk diajak ke sini. Lumayan uangnya buat bayar tunggakan sekolah setahun,” ujarnya.
“Oh, begitu!” Perasaan Mika sangat aneh. “Terus tadi kenapa dia mau jemput aku?” batinnya.
Ngiiik!
Tiba-tiba suara dentuman mik membuat para tamu melihat ke atas podium.
“Selamat datang para tamu kehormatan. Kami persilahkan Tuan CEO kita, Tuan Arlan Gavriel untuk naik ke podium!”
Sebelum Arlan naik, ia melihat ke arah Kamalia. Tentu saat itu Kamalia merasa percaya diri, kalau Arlan akan menariknya untuk ke podium.
Namun, harapan itu terlihat hanya halusinasinya.
Langkah Arlan melewati Kamalia. Sepatu hitam mengkilat itu jelas melangkah cukup jauh.
Duk! Duk!
Mika yang merasa Arlan menuju padanya, membuat tubuhnya spontan ingin mengambil langkah seribu.
Tapi, langkah itu tidak sebanding dengan langkah besar Arlan.
Tangan Mika dipegang oleh Arlan. Ia membawanya ke atas podium.
Semua tamu menjadi berbisik heran. Terutama Kamalia, ada api yang membara di dadanya. Lalu, Tristan juga sedikit terlihat mengepalkan tangan.
Sedangkan Hustan melihat kanan dan kiri atas tindakan cucunya.
“Tuan apa yang Anda lakukan?” tanya Mika.
Tetapi ucapan Mika seperti angin berlalu. Arlan tidak menjawab sepatah katapun.
Ngiiikk!
Mik kembali berdentum. Arlan telah berada di depan para tamu dan keluarga.
“Perkenalkan … dia adalah Mikaela calon istriku!”
Deg!
Jantung Mika tersentak hebat. Tatapan Matanya benar-benar bingung.
Semua para tamu berbisik semakin menjadi-jadi. Hustan pun menggeram tak percaya bahwa cucunya akan senekat itu.
Jake—Ayah Kamalia mengeraskan rahangnya. Sementara Kamalia juga tidak habis pikir dengan langkah Arlan.
Duk!
Kamalia menghempaskan kakinya ke lantai. Ia sangat marah. Kamalia dipermalukan di depan banyak orang.
“Mika, awas kamu!” Ia mengepalkan tangannya.
Arlan kembali berbicara. “Hotel Pogan ini aku akan serahkan atas nama Mikaela!”
“Ssstt, Tuan. Apa yang Anda lakukan! Aku nggak mau!” bisik Mika.
Arlan tidak menjawab apa pun. Tiba-tiba Hustan mendatangi mereka ke depan podium.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Mika. “Dasar wanita murahan. Kamu cuma mau harta cucuku ‘kan?”
“Kek, bu—”
“Alah, pergi sekarang dari sini, cepat!” Tangan Hustan sampai gemetar, membentak Mika.
Di sisi lain Kamalia sangat puas melihat adegan itu.
Arlan langsung menarik Mika ke belakangnya. “Nggak ada yang berhak mengusir dia dari acaraku!”
Duk!
Hustan menghentakkan tongkatnya "Arlan!” bentak Hustan. “Kamu sama kayak bapakmu! Nggak becus memilih wanita!”
Bisikan para tamu semakin seperti lebah. Mereka tak menyangka acara tersebut bukan acara pernikahan Kamalia dengan Arlan. Tapi pengakuan status Mika untuk kehidupan Arlan.
“Yah, pakai pelet apa si Mika? Sampai bisa buat orang sekejam Arlan luluh?” gumam Jessi hampir berbisik.
Samuel terdiam. Ia melihat Mika putrinya sudah diminati orang yang paling berpengaruh di Kota Glazy.
Tatapan Samuel itu bukan karena senang, melainkan seperti menyusun strategi baru.
Hustan masih berhadapan dengan Arlan. “Ibumu itu sama kayak gadis ini, murahan!”
“Tuan Arlan, lebih baik aku pergi!”
“Diam!” bentak Arlan. “Selangkah kamu pergi dari sini, jangan harap hidupmu baik!”
Mika langsung menghentikan niatnya. Arlan menatap Hustan begitu dalam dan tajam.
Pertengkaran mereka menjadi tontonan gratis bagi para tamu dan musuh Arlan dan Mika.
“Hm, mampus!”