NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zoe Dan Nindi

Suasana di dalam ruang rawat itu mendadak beku, seolah waktu berhenti berputar. Nindi menahan napasnya dalam-dalam, paru-parunya terasa sesak saat melihat pemandangan mustahil di depan matanya. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena keajaiban yang melampaui logika manusia sedang terjadi.

Perlahan, kelopak mata Ranjani bergetar hebat hingga secara perlahan terbuka, menampakkan binar kehidupan yang seharusnya sudah padam beberapa menit lalu. Mata Nindi melotot sempurna, napasnya tersengal. Tatapannya beralih pada Zoe yang berdiri kaku bak patung di samping kanan ranjang. Di ujung jemari Zoe, sisa-sisa pendaran cahaya perak—sisa sihir yang murni dan asing—masih menari-nari sebelum akhirnya memudar ke udara.

"Zoe... Apa... sebenarnya yang barusan kamu lakukan?" tanya Nindi dengan suara yang pecah dan bergetar hebat. Ia melihat Zoe bukan lagi sebagai sahabatnya, melainkan sebagai sosok asing yang baru saja menarik nyawa ibunya kembali dari ambang kematian.

"Nindi..." lirih Ranjani. Suara parau sang ibu memecah keheningan, menyentak kesadaran Nindi. Tanpa memikirkan penjelasan lagi, Nindi langsung menghambur, memeluk tubuh ibunya yang mulai terasa hangat.

Sementara itu, Zoe memejamkan matanya rapat-rapat. Ia bisa merasakan sisa kekuatan itu berdenyut di dalam nadinya, liar dan haus. "Kekuatan ini... ternyata jauh lebih bermanfaat dari yang kubayangkan," batin Zoe dengan sudut bibir yang nyaris terangkat.

Namun, Zoe sama sekali tidak menyadari bahwa tindakannya barusan bukanlah sebuah tindakan penyelamatan biasa.

Dia bukan sekadar mengobati--- dia baru saja melakukan pemberontakan terhadap semesta. Seseorang yang seharusnya sudah berhenti bernapas, seseorang yang namanya sudah mulai memudar dari 'Buku Kematian', kini dipaksa kembali ke dunia fana. Ada harga yang harus dibayar, dan Zoe belum tahu bahwa konsekuensi fatal akan jatuh pada sang pemilik asli kekuatan tersebut.

Zoe mendekati Nindi, mengabaikan momen emosional itu dengan dingin. "Kita bicara di luar setelah ini. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan di depan ibumu," bisik Zoe tepat di telinga Nindi.

Nindi hanya diam membatu. Ia masih terisak, memeluk erat tubuh ibunya seolah takut jika ia melepaskannya, keajaiban ini akan menguap.

Zoe melangkah pergi dan menarik gagang pintu. Di luar, Liam sudah menunggu dengan wajah pucat pasi dan kecemasan yang meluap-luap. "Zoe! Jelaskan padaku! Apa yang sebenarnya kamu lakukan di dalam? Kamu bukan dokter, kamu bahkan tidak menyentuh alat medis apa pun! Bagaimana kamu bisa—"

Kalimat Liam tercekat. Suara batuk kecil dan rintihan pelan dari dalam kamar menembus celah pintu yang terbuka. Liam menerjang masuk, melewati Zoe, dan mematung di ambang pintu. Sebagai seorang dokter, dunianya runtuh seketika. Ia melihat pasien yang baru saja ia nyatakan kritis dan tidak memiliki harapan, kini sedang terduduk lemah dengan mata terbuka.

"I-ini tidak mungkin... Secara medis, ini mustahil," lirih Liam dengan suara nyaris hilang.

Tiba-tiba, bulu kuduk Liam berdiri. Ia merasakan aura aneh yang menyengat di dalam kamar itu—seperti aroma ozon setelah petir, atau sesuatu yang kuno dan berbahaya yang masih tertinggal di udara. Pandangan Liam beralih pada Zoe yang kini menatapnya dengan tatapan sedingin es, tanpa penyesalan sedikit pun.

"Tidak mungkin... ini mustahil! Apakah---?" batin Liam, jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk yang mulai menjalar.

Setelah memastikan napas Ranjani menderu teratur dalam tidurnya, Nindi melangkah keluar dari kamar rawat dengan sisa ketegangan yang masih mengumpul di ujung jemari.

Di sana, bersandar pada dinding koridor yang dingin, Zoe sudah menunggu. Nindi berjalan mendekat, setiap langkahnya diiringi detak jantung yang berdentum keras di telinga. Begitu ia duduk di samping Zoe, keheningan koridor rumah sakit terasa mencekam.

"Kau bisa jelaskan padaku sekarang? Kekuatan apa sebenarnya yang baru saja menyelamatkan ibuku?" tanya Nindi, suaranya bergetar antara tuntutan dan ketakutan.

Zoe menghela napas panjang, menatap kosong ke arah deretan ubin di bawah kaki mereka. "Aku sendiri tidak punya jawaban pastinya. Semuanya bermula saat kecelakaan itu. Saat tubuhku terjun ke jurang. Aku mengira itu akhir dari segalanya. Tapi saat aku terbangun, kekuatan ini sudah berdenyut di dalam nadiku. Bahkan, sesuatu yang selama ini asing bagiku tiba-tiba terbangun paksa... keberanian."

Zoe menoleh, menatap Nindi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Maafkan aku, Nindi. Aku sadar betul bahwa apa yang kulakukan di masa lalu adalah luka yang mungkin mustahil untuk sembuh. Tapi aku di sini karena aku ingin memperbaiki semuanya."

Nindi terdiam, rahangnya mengeras saat kenangan pahit itu menyeruak kembali. "Kau tahu? Saat aku dikeluarkan dari sekolah, dunia seakan tertutup bagiku. Tidak ada satu pun sekolah yang mau membukakan pintu. Ayahku bersimpuh, memohon pada mereka, tapi pengaruh ayahmu terlalu kuat hingga mereka lebih memilih membuangku. Sampai akhirnya... Ayah jatuh sakit. Beliau meninggal karena stres yang menggerogotinya setiap hari."

Deg! Jantung Zoe serasa mencelos ke dasar perut. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kini meluap, mencekiknya hingga sesak.

"Maaf..." lirih Zoe, suaranya nyaris hilang. "Andai saja saat itu aku cukup kuat untuk melawan ancaman mereka. Aku terlalu pengecut hingga tega mengorbankan persahabatan kita demi keselamatanku sendiri. Kau boleh membenciku sampai mati, Nindi. Tapi tolong, biarkan aku menebus satu per satu kesalahan itu."

Nindi menghela napas berat, mencoba membuang sesak di dadanya. "Aku memang sangat membencimu, Zoe. Tapi aku juga bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Hari ini, aku berhutang nyawa ibuku padamu, meskipun cara yang kau gunakan... sedikit tidak masuk akal."

Perlahan, Zoe mengangkat tangannya. Di tengah remang cahaya koridor, sebuah pendaran cahaya aneh mulai berpendar dari telapak tangannya. Nindi kembali terkesiap, mundur selangkah meski ia sudah melihat keajaiban itu.

"Aku juga sempat ngeri saat menyadari ada sesuatu yang asing di dalam tubuhku. Tapi setidaknya, kekuatan ini bisa berguna untuk melindungi orang lain," kata Zoe pelan.

Nindi menatap cahaya itu dengan ngeri. "Zoe, apa kau tidak merasa ada yang salah? Maksudku... kau tidak penasaran dari mana asal usul kekuatan mengerikan ini?"

Zoe menurunkan tangannya, menatap Nindi dengan ekspresi datar yang justru terasa lebih menakutkan. "Kekuatan ini... milik siluman," jawabnya enteng.

Mata Nindi membelalak sempurna, bibirnya kelu. "S--siluman?"

"Kata Milo sih, kemungkinan besarnya memang begitu," tambah Zoe sambil mengedikkan bahu.

Nindi mematung, otaknya mencoba memproses informasi itu dengan cepat. "M—Milo? Bukankah itu nama anjing golden retriever milikmu?" tanya Nindi, suaranya bergetar antara bingung dan takut.

"Iya, Milo yang memberitahuku," sahut Zoe datar.

"Kamu... kamu bisa bicara dengan hewan?" Nindi melotot, kali ini ekspresinya benar-benar terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Sejak kekuatan ini menetap di tubuhku, semuanya berubah. Bukan cuma Milo, aku merasa ada yang berubah di dalam tubuhku. Itulah kenapa aku yakin ucapan Milo benar, kekuatan ini bukan berasal dari dunia manusia," Zoe menjeda kalimatnya, menatap Nindi dalam-dalam. "Menurutmu, siluman apa yang sanggup memberikan kemampuan seperti ini?"

Wajah Nindi sudah tidak tertolong lagi. Pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dengan suara yang nyaris hilang, ia bertanya, "Siluman... apa?"

Zoe mendekat, lalu berbisik tepat di telinga sahabatnya itu. "Aku curiganya... ini milik Gumiho."

Mendengar kata itu, lutut Nindi terasa lemas seketika. Dunianya serasa berputar, dan jika saja tidak ada dinding di belakangnya, ia pasti sudah jatuh pingsan saat itu juga.

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!