Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi itu, suasana di mansion Knight terasa lebih mencekam daripada biasanya. Arkan tidak langsung berangkat ke kantor. Ia berdiri di depan pintu kamar Evelyn dengan tangan bersedekap, menatap daun pintu kayu jati itu seolah-olah bisa menembusnya dengan sinar laser dari matanya.
Semalam, Arkan bermimpi. Bukan mimpi buruk tentang dikerubungi anak-anak SD, melainkan mimpi tentang "Mbak Pel" yang aroma sabun bayinya sangat identik dengan aroma yang keluar dari kamar ini. Ditambah lagi dengan penemuan bekas luka tembak di lutut Evelyn kemarin, Arkan tidak bisa lagi duduk diam sambil menyemprot disinfektan.
Tok! Tok! Tok!
"Evelyn, buka pintunya. Aku ingin melakukan inspeksi sanitasi," suara Arkan terdengar dingin dan berwibawa.
Di dalam kamar, Evelyn yang sedang asyik membedah sebuah microchip curian milik Sebastian langsung melompat dari kursinya. "Gawat! Si Higienis sedang kumat!"
Dengan gerakan secepat kilat, Evelyn menyapu seluruh peralatan elektroniknya ke bawah tempat tidur. Namun, ia menyadari kabel-kabel masih berserakan. Tanpa pikir panjang, ia menyambar sebuah kotak sereal besar yang ada di atas meja kecilnya dan memasukkan soldering iron serta microchip itu ke dalamnya.
"S-sebentar Tuan Arkan! Eve sedang... sedang pakai baju!" teriak Evelyn sambil buru-buru memasang kacamata tebalnya dan memakai kardigan rajut yang ia pakai terbalik.
Evelyn membuka pintu dengan napas sedikit terengah-engah. "I-iya Tuan? Ada apa? Apa ada kuman raksasa yang menyerang rumah kita?"
Arkan tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kamar Evelyn, melanggar aturan radius satu meternya sendiri karena rasa curiga yang sudah di ubun-ubun. Ia mengeluarkan sebuah alat detektor logam kecil dari sakunya.
"Aku merasa ada gangguan sinyal di rumah ini sejak semalam. Aku ingin memastikan tidak ada barang elektronik ilegal di kamarmu yang bisa membawa virus... digital," ucap Arkan sambil mulai menggerakkan alat itu di sekitar meja Evelyn.
Evelyn menelan ludah. Sial, dia bawa detektor logam!
"V-virus digital? Astaga! Apa itu menular ke manusia, Tuan? Eve takut!" Evelyn berpura-pura gemetar dan memeluk kotak serealnya dengan erat.
Arkan berhenti di depan Evelyn. Alat detektor itu mulai berbunyi nyaring saat didekatkan ke kotak sereal di pelukan Evelyn.
Biiip! Biiip! Biiip!
Mata Arkan menyipit tajam. "Apa isi kotak sereal itu?"
Evelyn menatap kotak sereal bermerk "Corn-O-Crunch" itu dengan wajah polos yang dibuat-buat. "Ini? Ini sereal kesukaan Eve, Tuan. Tapi... sepertinya sereal zaman sekarang mengandung banyak zat besi ya? Sampai alat Tuan bunyi begitu."
Arkan tidak percaya begitu saja. "Berikan padaku."
"Jangan, Tuan! Ini sereal basi! Tuan bisa pingsan kalau mencium baunya! Kuman di dalamnya sudah membentuk koloni dan mungkin sudah punya pemerintahan sendiri!" Evelyn berusaha menjauhkan kotak itu, tapi Arkan lebih cepat.
Arkan merebut kotak itu. Ia membukanya dengan hati-hati menggunakan sapu tangan sutra agar tidak menyentuh kotak itu secara langsung. Begitu ia melihat ke dalam, matanya membelalak.
Di antara butiran sereal jagung yang manis, terselip sebuah alat besi panjang yang masih terasa hangat dan sebuah benda kecil berbentuk kotak berwarna hijau dengan kabel-kabel halus.
"Evelyn Valentina Grant. Sejak kapan sereal jagung memiliki komponen sirkuit terintegrasi dan alat pemanas?" Arkan mengangkat soldering iron (alat solder) itu dengan tatapan mengintimidasi.
Evelyn memutar otak dengan kecepatan cahaya. Ia harus mencari alasan paling konyol agar Arkan tidak curiga.
"O-oh itu! Itu... itu stik pemanas sereal, Tuan!" jawab Evelyn dengan nada meyakinkan. "Tuan tahu kan, Eve tidak tahu cara pakai kompor? Jadi Eve beli alat itu di toko online. Namanya 'Alat Pemanas Makanan Portabel Untuk Jomblo'. Cara pakainya dicolok ke laptop, lalu dimasukkan ke sereal supaya serealnya hangat dan renyah."
Arkan menatap alat solder itu, lalu menatap Evelyn. "Dan benda hijau ini?"
"Itu... itu mainan hadiah dari kotak serealnya, Tuan! Namanya 'Robot Penjaga Sereal'. Kalau ada semut mendekat, dia akan mengeluarkan bunyi... tit tit tit... begitu. Canggih kan?" Evelyn memberikan jempol dengan wajah sangat bangga.
Arkan terdiam. Logikanya sebagai CEO perusahaan teknologi raksasa mengatakan ini adalah omong kosong terbesar abad ini. Tapi, melihat wajah Evelyn yang tampak sangat jujur dan "bodoh", Arkan mulai meragukan kewarasannya sendiri.
"Kau... menggunakan alat solder untuk menghangatkan sereal?" tanya Arkan tak percaya.
"Iya, Tuan! Tuan mau coba? Tapi jangan ya, Tuan kan higienis, nanti kena remah-remah sereal," Evelyn segera mengambil kembali alat soldernya.
Arkan memijat pelipisnya. Ia merasa pening. "Keluar dari sini. Aku ingin menyemprot seluruh kamarmu dengan cairan pembersih tingkat rumah sakit. Dan buang sereal aneh itu!"
"Baik, Tuan Galak!" Evelyn berlari keluar kamar dengan membawa kotak serealnya, sambil dalam hati bernapas lega. Selamat! Hampir saja aku ketahuan sedang meretas satelit Sebastian!
Namun, saat Evelyn sudah di luar, Arkan menemukan sesuatu di bawah tempat tidur yang tertinggal. Sebuah kain hitam kecil bermaterial fiber yang sangat kuat—potongan masker yang sama dengan yang dipakai wanita di gudang semalam.
Arkan memungutnya dengan pinset. Ia menatap kain itu dengan intens. "Sereal hangat, ya? Kita lihat sampai kapan kau bisa bermain sandiwara ini, Istriku."