"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Jebakan Satria
Malam itu, kediaman megah keluarga besar Bani Sudirjo terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya. Cantik datang sendirian untuk mengantarkan beberapa berkas laporan audit final yang diminta oleh Papa Sudirjo secara mendadak.
Juna sebenarnya ingin menemani, namun pria itu sedang tertahan di bengkel karena ada pengiriman mesin komponen dari Jepang yang baru saja mendarat. Juna berjanji akan menyusul dalam waktu setengah jam.
Setelah menyerahkan berkas dan berbincang sejenak dengan Papa di ruang kerja, Cantik berpamitan untuk segera pulang.
Ia merasa tubuhnya sangat lelah setelah drama ciuman di Mall sore tadi. Cantik berjalan menyusuri lorong panjang yang menuju ke arah pintu belakang, berniat mengambil jalan pintas ke parkiran agar tidak perlu memutar melewati ruang tamu utama yang sedang dibersihkan oleh para pelayan.
Namun, langkah Cantik mendadak terhenti di tengah lorong yang remang. Perasaannya mendadak tidak enak, seolah ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari balik kegelapan.
Di ujung lorong, dekat dengan akses ke kamar tamu belakang, ia melihat sesosok bayangan pria berdiri mematung.
"Satria?" gumam Cantik, jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar.
Satria melangkah keluar dari kegelapan. Wajahnya tampak kacau, aroma alkohol menyengat tajam dari pakaiannya yang berantakan, dan matanya berkilat penuh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
Sejak resmi ditendang dari rumah ini, Satria ternyata masih memiliki akses masuk dengan alasan untuk beristirahat sejenak di rumah ini.
"Hebat ya kamu, Cantik. Masih berani injakkan kaki di sini setelah mempermalukan aku habis-habisan di depan umum sore tadi," desis Satria, suaranya terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian lorong.
"Gue cuma anter berkas Papa. Minggir, gue mau pulang," ketus Cantik, mencoba tetap tenang dan berjalan melewati Satria.
Namun, Satria justru menyentak bahu Cantik dengan kasar dan membanting tubuh wanita itu ke dinding lorong.
Tanpa aba-aba, ia mencoba mencium Cantik dengan brutal. Cantik meronta sekuat tenaga, tangannya memukul dada Satria, namun pria itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Sebelum Cantik sempat berteriak, telapak tangan Satria yang lebar sudah membekap mulutnya dengan sangat keras hingga Cantik sulit bernapas.
"Kamu pikir kamu siapa, hah?! Masih disegel?! Masih suci?!" Satria berbisik di telinga Cantik dengan nada yang penuh kebencian.
"Kalau aku nggak bisa miliki kamu, maka si Juna bocah itu juga nggak boleh!"
Satria menyeret Cantik yang meronta-ronta menuju salah satu kamar tamu di bagian paling belakang rumah yang jarang dilewati orang pada jam segini.
Ia membanting tubuh Cantik ke atas ranjang, lalu langsung mengungkung tubuh wanita itu dengan seluruh berat badannya.
Cantik mencoba menendang dan mencakar wajah Satria, namun Satria justru semakin kalap.
Tangannya mulai mencoba merobek kancing blus Cantik secara paksa. Isakan Cantik pecah, air matanya mengalir deras membasahi bantal yang digunakan Satria untuk menekan wajahnya agar suaranya tidak keluar.
Di saat yang sama, raungan knalpot motor sport milik Juna Raksa memasuki gerbang rumah utama Bani Sudirjo dengan suara yang membelah keheningan malam.
Juna memarkir motornya asal-asalan, perasaannya mendadak sangat gelisah saat melihat mobil Cantik masih terparkir di tempat semula namun dalam kondisi mesin mati.
"Pak, Kak Cantik mana?" tanya Juna dengan napas memburu pada satpam di pos depan.
"Tadi sudah pamit pulang lewat pintu belakang, Mas Juna. Tapi kok saya juga bingung, belum kelihatan lewat parkiran," jawab satpam itu heran.
Juna tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia berlari masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Langkahnya terhenti mendadak di tengah lorong saat ia melihat sebuah tas tangan milik Cantik tergeletak di lantai, isinya berhamburan seolah habis ditarik paksa.
Jantung Juna seolah berhenti berdetak sesaat sebelum akhirnya berpacu gila-gilaan karena amarah dan ketakutan.
"Kak! Cantik!" teriak Juna, suaranya bergema memenuhi lorong yang sunyi.
Sayup-sayup, Juna mendengar suara gaduh dan isakan tertahan dari arah kamar tamu paling ujung. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Juna melesat secepat kilat.
BRAAAKKKK!
Pintu kayu jati itu hancur berantakan setelah ditendang dengan kekuatan penuh oleh Juna Raksa.
Pemandangan di dalam kamar itu membuat darah Juna seolah mendidih hingga ke ubun-ubun.
Ia melihat Cantik dalam kondisi yang hancur, menangis sesenggukan di bawah kukungan Satria yang sedang berusaha melakukan tindakan bejat.
"A****** LU, SATRIA!!!"
Juna tidak butuh kata-kata lagi. Ia menarik kerah kemeja Satria dengan satu tangan, menyentak pria itu hingga terjatuh dari ranjang, dan sebelum Satria sempat menyeimbangkan tubuhnya, sebuah pukulan mentah mendarat telak di rahangnya.
BUGH!
Satria tersungkur dengan bibir pecah, tapi Juna yang sudah kesetanan kembali menyeretnya bangun.
Pukulan demi pukulan bertubi-tubi menghujani wajah dan perut Satria tanpa ampun.
Amarah Juna benar-benar di luar kendali; ia memukul bukan lagi sebagai adik, tapi sebagai pelindung yang siap membunuh demi wanitanya.
Satria yang sedang di bawah pengaruh alkohol tidak punya sedikit pun kesempatan untuk melawan Juna yang sedang berada di puncak kekuatannya.
"Gue udah bilang jangan pernah sentuh dia!" raung Juna sambil menghantamkan tinjunya ke wajah Satria hingga pria itu terkapar tidak berdaya di lantai dengan darah yang berceceran.
Tangis Cantik pecah seketika, suaranya terdengar sangat memilukan bagi siapa pun yang mendengarnya. Ia meringkuk di sudut ranjang, tubuhnya gemetar hebat sambil mencoba menutupi bagian blusnya yang sudah robek dengan kedua tangannya.
Suara keributan yang luar biasa dan tangisan histeris itu akhirnya mengundang seluruh penghuni rumah.
Papa Sudirjo yang masih mengenakan baju rumahan, Mama Maya dengan wajah yang pucat pasi karena panik, bahkan beberapa pelayan rumah berlari menuju kamar tersebut dengan ketakutan.
"ASTAGA! JUNA! SATRIA!" jerit Mama Maya histeris melihat darah di lantai dan kondisi Juna yang sedang kalap.
Papa Sudirjo melihat Cantik yang hancur di atas ranjang. Matanya membelalak kaget, lalu beralih menatap Satria yang tergeletak tidak berdaya di kaki Juna.
Amarah yang sangat dalam dan kekecewaan yang tak terhingga terlihat di wajah sang kepala keluarga Bani Sudirjo.
"Binatang kau, Satria!" suara Papa bergetar hebat karena emosi.
"Kau berani menyelinap ke rumah bapakmu sendiri hanya untuk melakukan perbuatan sekeji ini kepada wanita yang hampir kau nikahi?!"
Juna tidak memedulikan orang-orang di sekelilingnya. Ia langsung naik ke atas ranjang, menarik Cantik ke dalam pelukannya yang sangat erat seolah ingin menyembunyikan wanita itu dari seluruh dunia.
Ia melepas jaket denimnya dan segera menyelimuti tubuh Cantik yang masih gemetar hebat.
"Gue di sini, Kak... gue di sini. Lu aman sekarang, ada gue," bisik Juna parau, suaranya pecah menahan luka melihat kondisi wanita yang sangat ia puja kini tampak begitu rapuh.
Papa Sudirjo mendekati Satria yang sudah setengah pingsan, lalu tanpa ampun menendang tubuh putranya itu dengan rasa muak yang luar biasa.
"Keluar dari rumah ini sekarang! Dan jangan harap kamu dapat ampunan dari papa!" perintah Papa tegas.
Mama Maya langsung memeluk Juna dan Cantik, tangisnya ikut pecah karena rasa bersalah yang mendalam. "Maafin Mama, Cantik... maafin kelakuan Satria yang sudah seperti iblis ini..."
Malam itu, Satria diseret keluar dari kediaman Bani Sudirjo dengan kehinaan yang paling dalam yang pernah dialami oleh seorang putra sulung.
Ia bukan hanya kehilangan karier dan harta, tapi kini ia resmi kehilangan haknya untuk dianggap sebagai bagian dari keluarga besar itu selamanya.
Sementara di dalam kamar, Juna terus mendekap Cantik yang masih terisak pilu di dadanya. Juna mencium puncak kepala Cantik berkali-kali, memberikan kehangatan di tengah trauma yang baru saja terjadi.
Juna Raksa bersumpah dalam hati, mulai detik ini, ia akan menjadi benteng yang tak tertembus bagi Cantik.
Siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—yang mencoba menyakitinya lagi, harus melangkahi mayat Juna terlebih dahulu.
Malam yang seharusnya penuh cinta itu berubah menjadi saksi bisu betapa ugal-ugalannya Juna dalam melindungi harga diri bidadarinya.