Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Erian Semakin Menggila
Kamar itu kini terasa seperti ruang hampa yang terisolasi dari sisa dunia, di mana moralitas dan akal sehat telah hangus terbakar oleh api gairah yang meluap. Di bawah temaram lampu tidur yang memancarkan cahaya jingga redup, Erian dan Stefani kini telah benar-benar polos total. Pakaian yang semula menjadi pembatas terakhir harga diri mereka kini teronggok tak berdaya di lantai kayu yang dingin, seperti rongsokan masa lalu yang tak lagi relevan.
Erian menatap tubuh di bawahnya dengan tatapan yang nyaris tidak manusiawi—tatapan yang dipenuhi oleh kabut nafsu yang tebal dan efek zat kimia yang terus memompa adrenalin ke seluruh pembuluh darahnya. Erian telah lama mendambakan untuk menikmati keindahan tubuh Stefani. Sejak pertama kali wanita itu melangkah masuk ke rumahnya, ada sesuatu yang primitif di dalam diri Erian yang terusik. Keanggunan yang sengaja dipoles, aroma parfum yang selalu tertinggal di udara, dan cara Stefani menatapnya dari balik bulu mata yang lentik telah menjadi imajinasi liar yang ia kubur dalam-dalam di bawah topeng suami setia. Namun malam ini, semua pertahanan itu runtuh. Di matanya, Stefani adalah mahakarya yang harus ia jamah, sebuah larangan yang justru terasa semakin manis untuk dilanggar.
"Mas... tolong jangan, Mas Erian... mmmmpppphhhhhh..."
Stefani terus meronta-ronta, kedua tangannya yang lentik terus mencoba mendorong dada bidang Erian, menciptakan jarak yang mustahil untuk dipertahankan. Suaranya yang serak dan pecah terdengar seperti rintihan keputusasaan, namun gerakannya justru semakin memicu insting penakluk di dalam diri Erian. Ia menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, rambutnya yang hitam panjang tersebar berantakan di atas bantal, menciptakan kontras yang dramatis dengan kulit bahunya yang putih mulus.
"Jangan Mas... ingat Nadya... kumohon... aaaaaaaaahhhhhhhhh!"
Jeritan itu teredam saat Erian terus menekan dan menciumi leher Stefani dengan penuh hasrat. Erian seolah tidak mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri yang berdegup layaknya genderang perang. Baginya, setiap kata "jangan" yang keluar dari bibir Stefani hanyalah melodi yang memperindah simfoni pengkhianatannya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Stefani, menghirup aroma keringat dan parfum yang bercampur menjadi satu aroma erotis yang memabukkan. Gigitan-gigitan kecil yang ia berikan meninggalkan jejak kemerahan yang mencolok, sebuah tanda kepemilikan yang ia torehkan di atas kulit wanita yang seharusnya terlarang baginya.
Tangan Erian yang besar dan kuat kini mulai menjelajahi setiap inci lekuk tubuh Stefani. Ia merasai kepadatan otot dan kehalusan kulit yang selama ini hanya menjadi bayangan dalam mimpinya. Setiap sentuhannya terasa seperti sengatan listrik yang membakar, memicu getaran hebat di tubuh Stefani yang terus menggeliat. Konflik batin yang ia rasakan—antara rasa bersalah pada Nadya yang sedang sakit di kamar sebelah dan kenikmatan yang ditawarkan Stefani—justru menciptakan sensasi masokistik yang membuat gairahnya semakin tak terkendali.
Stefani, di sisi lain, terus memainkan peran "wanita yang terzalimi" dengan sangat sempurna. Meskipun di dalam hatinya ia merasakan kemenangan besar karena berhasil menjatuhkan harga diri pria sekaku Erian, ia tetap harus menjaga fasad sebagai sahabat Nadya yang terpaksa. Ia mencengkeram seprai hingga jari-jarinya memutih, kakinya sesekali menendang udara sebagai bentuk perlawanan formalitas. Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Setiap kali bibir Erian menyentuh titik-titik sensitifnya, napasnya memburu dan pinggulnya tanpa sadar terangkat, menyambut tekanan tubuh Erian yang kian berat dan menuntut.
"Kamu... kamu terlalu indah untuk tidak disentuh, Stef," gumam Erian dengan suara yang sangat rendah, nyaris seperti geraman binatang buas di telinga Stefani. "Biarkan malam ini menjadi milik kita. Lupakan semuanya... lupakan dunia."
Erian mengangkat wajahnya sejenak, menatap mata Stefani yang berkaca-kaca. Ia melihat ketakutan yang dibuat-buat, namun ia juga melihat binar gairah yang sama besarnya dengan miliknya. Tanpa memberikan kesempatan bagi Stefani untuk menjawab, Erian kembali menyerang bibir wanita itu dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Ia menghisap bibir bawah Stefani seolah ingin menyesap habis sisa-sisa perlawanan yang ada di sana.
Pergumulan di atas ranjang itu semakin intens. Keduanya berguling ke tengah kasur, terjerat dalam jalinan tungkai yang saling mengunci. Erian terus mengeksplorasi tubuh Stefani dengan lapar, sementara rintihan "jangan" dari mulut Stefani perlahan-lahan mulai berubah nada, menjadi desahan panjang yang menyayat udara kamar yang pengap. Ruangan itu kini dipenuhi oleh suara napas yang bersahutan, gesekan kulit yang basah oleh keringat, dan aroma pengkhianatan yang kental.
Di bawah pengaruh obat perangsang dosis tinggi, Erian merasa seolah-olah ia memiliki energi yang tak terbatas. Ia tidak lagi memedulikan waktu atau risiko. Ia hanya ingin menenggelamkan dirinya dalam keindahan fisik Stefani yang selama ini ia puja secara rahasia. Ia menciumi pundak, lengan, hingga turun ke arah perut Stefani yang rata, memberikan kecupan-kecupan yang membuat Stefani membusungkan dadanya dan mengerang keras.
"Mas Erian... aaaaaahhh... cukup... berhentilah..."
Kalimat itu terdengar sangat lemah, nyaris tak lebih dari sekadar bisikan yang kehilangan maknanya. Stefani merasa separuh jiwanya menikmati kehancuran moral ini, sementara separuhnya lagi tetap waspada pada setiap suara yang mungkin datang dari koridor luar. Namun, di bawah kungkungan Erian yang begitu perkasa, ia merasa seperti selembar daun yang hanyut terbawa arus sungai yang deras—ia tidak bisa berhenti, bahkan jika ia benar-benar menginginkannya.
Erian terus menekan tubuhnya ke atas tubuh Stefani, merasakan setiap detak jantung wanita itu yang berpacu seirama dengan detaknya sendiri. Ia merasa seolah-olah mereka berdua sedang melebur menjadi satu entitas yang terbuat dari dosa dan kenikmatan murni. Di dalam kegelapan kamar itu, pengkhianatan ini bukan lagi sekadar tindakan fisik, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap segala tatanan hidup yang selama ini Erian bangun bersama Nadya.
Setiap gerakan yang Erian lakukan adalah pelampiasan dari rasa penasarannya yang terpendam akan hasrat kepad tubuh indah Stefani. Ia mengecup setiap jengkal kemulusan tubuh Stefani, memuji kecantikannya dengan kata-kata yang memabukkan yang membuat Stefani semakin terjepit dalam dilema emosional. Baginya, Stefani malam ini adalah pelarian, sekaligus hukuman bagi dirinya sendiri yang telah gagal menjaga kesetiaan. Dan bagi Stefani, malam ini adalah puncak dari segala intrik yang ia susun sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini—sebuah trofi kemenangan yang ia raih dengan cara yang paling kotor namun memuaskan.
pdhl Nadya blm punya anak masa gk bisa muasin suami nya terlalu lempeng ya bosen lah.
sdng Nadya wanita gk tau gimana nyenengin suami pdhl blm punya anak. sakit perut saja tinggal minum obat ndadak kluar Kamar oalah manja nya.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭