NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11—Rencana Hebat Katanya

Yuofan berlari sekuat tenaga, di tangan kirinya ia memegang bunga mawar api, sedangkan di tangan kanannya ia memegang pedang hitam. Dibelakangnya terlihat jelas para binatang buas yang mulai mengejarnya dengan aura intimidasi yang sangat kuat.

Ia terus berlari, menghindari berbagai serangan yang datang dari belakangnya. Seperti saat ini, dimana sebuah batu besar meluncur menghantam tanah di sekitarnya, membuat beberapa pohon tumbang akibat benturan, bahkan hembusan angin yang kuat sempat hampir menjatuhkannya. Meski begitu ia tidak memperlambat langkahnya, fokusnya hanya satu, yaitu menjauh sejauh mungkin.

Setelah berlari cukup jauh, ia akhirnya sampai di tempat di mana Istana Kesunyian didirikan sebelumnya. Tanpa ragu, ia segera memasuki bangunan itu dan berlari menuju ruangan kedua. Sesampainya di sana, ia langsung menancapkan kembali pedang hitam ke altar batu. Kali ini, bilah pedang itu telah dilumuri darah dari tangannya sendiri.

Beberapa saat setelah pedang itu tertanam, perubahan mulai terjadi.

Rantai-rantai besar yang sebelumnya terlepas kini bergerak kembali. Salah satunya melesat ke arah Wuxu yang melayang di samping Yuofan, lalu melilit tubuh kecil itu dan menariknya ke tiang penyangga. Karena ukurannya yang kecil, satu rantai saja sudah cukup untuk menahannya di tempat.

“Sial! Apa-apaan ini?!” teriak Wuxu dengan keterkejutan yang jelas diwajahnya.

Yuofan tidak berhenti sampai di situ. Ia segera beralih ke tiang ketiga yang berada di sisi kanan ruangan. Di sana terdapat rangkaian mantra yang terukir jelas di permukaannya. Tanpa ragu, ia mulai membacanya kembali, mengikuti susunan yang sama seperti sebelumnya.

Seiring dengan ucapannya, seluruh ruangan mulai bergetar. Getaran itu semakin kuat, merambat ke seluruh bagian istana, seolah bangunan itu perlahan ditarik kembali ke dalam kedalaman tanah.

“Ha…” Yuofan terjatuh lemas ketanah.

Tatapannya kemudian terarah pada Wuxu yang menatapnya dengan kesal.

“Hahahaha! Sabar ya, hanya ini ide yang aku miliki,” ucap Yuofan seraya merebahkan tubuhnya diatas altar. “Sekarang kita hanya perlu menunggu hingga mereka pergi dari sini.”

Wuxu berdecak kesal, ia tak menyangka bahwa 'rencana hebat yang bahkan tak akan terpikirkan oleh dewa' adalah hal sepele ini. Ia pun hanya bisa menggantung pasrah di atas tiang penyangga dengan satu rantai besar mengikatkannya.

Yuofan lalu memakai teknik penyimpanan milik Wuxu, untuk menyimpan bunga itu.

[ “Raumak Voidra” ]

Ruang hampa

Sebuah retakan ruang pun muncul di samping Yuofan, dengan santai ia memasukan bunga itu kedalam retakan dan langsung menutupnya kembali setelah selesai. Inilah teknik penyimpanan milik Wuxu yang bernama Raumak Voidra. Dimana teknik ini bisa menyimpan apapun selain, dalam kapasitas tertentu mengikuti kekuatan pemiliknya.

Dari posisinya di atas, Wuxu melihat sesuatu yang tidak biasa. Di antara celah pintu dan dinding, tampak bayangan besar yang bergerak samar. Ia segera menyadari ada sesuatu yang berhasil menyelinap masuk kedalam istana mereka.

“Yuofan—” Wuxu mencoba memperingatkan. Namun serangan datang lebih cepat.

Sebuah pukulan besar menghantam masuk tanpa peringatan. Yuofan terkejut, tetapi refleksnya bekerja lebih dulu. Ia langsung berguling ke samping, menghindari hantaman yang nyaris mengenainya.

Benturan itu mengguncang ruangan. Yuofan bangkit berdiri dan menatap ke arah sumber serangan. Ekspresinya berubah saat ia melihat sosok yang berdiri di sana, itu adalah kera api yang sebelumnya. Tubuh besarnya masih memancarkan panas, dengan di lapisi api dan bebatuan yang menyala di beberapa bagian. Tatapannya tajam dan penuh amarah, sama seperti sebelumnya.

Yuofan tidak menyangka makhluk itu bisa masuk ke dalam Istana Kesunyian, karena ia sempat mengira bahwa pelarian nya berhasil. Namun sekarang, kenyataannya berbeda.

“Wah, sial juga ya.” gumamnya dengan tawa kikuk menatap ngeri kearah binatang besar penuh amarah didepannya. Keringat dingin menetes pelan diatas dahinya, saat ini ia sama sekali tak memiliki senjata karena jika ia mencabut pedang hitam dari tempatnya, maka Istana ini akan kembali ke permukaan.

Tentu ia tak mau menyerahkan herbal itu pada sang kera, ia yakin ada sebuah cara untuk mengalahkan binatang itu. Karena itu, untuk sementara waktu Yuofan berniat untuk menggunakan tangan kosong sembari mencari cara untuk mengalahkan binatang pemarah ini. Padahal jelas bahwa ia tak pernah mempelajari beladiri tangan kosong sekalipun, bahkan teknik bertarung miliknya hanya satu yaitu berpedang.

“Kau berniat melawan ku, bocah?” tanya kera itu dengan nada meremehkan.

Yuofan tak menjawab dan hanya melihat sekelilingnya. Rak-rak dibelakang kera itu jelas berjatuhan berantakan, ia juga melihat sebagian dari buku dan gulungannya terbakar akibat hawa panas yang di bawa kera itu. Ia pun hanya bisa berdecak kesal melihat sumber kekuatannya hangus.

Kera itu tersenyum sinis melihat tatapan tajam Yuofan, ia lalu mengangkat tangannya dan menghantamkan sebuah tujuan yang langsung Yuofan hindari dengan melompat kecil kebelakang. Dari pukulan itu retakan pada altar pun muncul, Yuofan menyilangkan tangan didepan wajahnya untuk menghindari debu memasuki matanya. Dengan gerakan cepat, Yuofan kembali melangkahkan menggunakan teknik Strav Schadara-Nistra—Langkah tanpa bayangan—menaiki tangan kera itu. Ia memusatkan energi pada tangannya, lalu memberikan sebuah pukulan pada mata bagian kanan kera itu.

“Bajingan!” kera itu mundur seraya menutup bola mata kirinya yang terasa sakit.

Yuofan melompat kembali dan segera menyembunyikan dirinya di balik salah satu tiang. Ia memasang posisi yang sama seperti sebelumnya, dimana ia menyatukan kedua tangannya dan mengangkatnya hingga sejajar dengan dahinya. Bocah itu menutup matanya seraya menyembunyikan keberadaannya menggunakan teknik Zharvak—Hantu.

“Pengecut!” umpat kera itu saat menyadari Yuofan bersembunyi. Ia menghancurkan rak-rak disana dengan tujuan mencari bocah kecil tadi, sedangkan Wuxu hanya menatap jengkel melihat tingkah kera itu. Jika saja kekuatannya masih ada, ia mungkin akan melahap hidup-hidup monyet besar itu.

Seolah tak terganggu oleh kebisingan itu, Yuofan tetap dalam posisinya hingga ia menemukan sebuah cara untuk mengalahkan raksasa dibelakangnya. Ia membuka matanya dan tersenyum kecil, ia pun mengintip dari balik tiang untuk melihat situasi yang sudah semakin parah.

Yuofan membuat sebuah lingkaran dari kedua tangannya yang mana lubang di tengahnya ia arahkan pada kera itu. Kera itu menengok dan menyadari keberadaan Yuofan, tetapi…

[ “Sona Nihilvak” ]

Zona Hampa

Sebuah lingkaran hitam mengitari tubuh besar itu, membuatnya kebingungan melihatnya. Tetapi tak sempat bereaksi, lingkaran sebelumnya kini terangkat dan menutupi seluruh bagian tubuhnya hingga membentuk cekungan besar yang menutupi seluruh pandangannya.

“APA-APAAN IN?!” teriak kera itu sembari memukul-mukul dinding hitam yang mengitarinya. Tetapi hal itu tak menghasilkan apapun, malah tangannya lah yang terasa sakit. Tak sampai disana, ia pun menyadari bahwa energi dalam tubuhnya mulai menghilang, bahkan api yang menyelimuti tubuhnya padam secara perlahan.

Kera itu semakin panik, ia terus memukul-mukul dinding itu tak peduli sesakit apapun. Tetapi jika Yuofan tak membatalkan teknik itu, apapun yang dilakukannya tak akan berpengaruh pada zona tersebut.

“Akhirnya selesai juga.” ucap Yuofan seraya menepuk kedua tangannya membersihkan debu yang menempel.

1
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!