Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh mulai beraksi
Suasana haru di jalan setapak itu seketika berubah menjadi mencekam. Pelukan rindu antara Angga dan Dita terputus paksa oleh deru mesin mobil minibus butut yang mengerem mendadak di samping mereka. Pintu geser terbuka kasar, menampakkan sosok pria dengan wajah bopeng dan seringai menjijikkan, yaitu Gareng.
"Wah, wah... adegan drama yang sangat menyentuh," cemooh Gareng sambil melompat turun bersama dua anak buahnya yang berbadan kekar.
Dita membelalak, wajahnya pucat pasi. "Ka...kau... siapa kau, apa urusanmu datang kesini!"
"Jangan sentuh dia!" bentak Angga. Ia segera pasang badan, menyembunyikan Dita di belakang punggungnya. Meski ia seorang pelajar, darah keluarga Diningrat yang pemberani mengalir di tubuhnya.
"Minggir, Bocah! Gadis ini adalah jaminan hutang ayahnya yang belum lunas. Dan dia juga umpan yang bagus untuk kakakmu yang sombong itu!" Gareng memberi kode pada anak buahnya.Dan sepertinya ia sudah tahu semuanya soal Angga yang merupakan adik kandungnya Arjuna.
Perkelahian pun tak terelakkan. Angga menerjang maju, melayangkan pukulan mentah ke arah anak buah Gareng. Namun, Gareng bukanlah lawan sembarangan. Saat Angga berhasil memukul mundur satu orang, Gareng mengeluarkan sebilah pisau lipat yang berkilat tertimpa cahaya matahari sore.
"ANGGA, AWAS!" teriak Dita histeris.
Srettt!
"Akh!" Angga mengerang tertahan. Pisau itu menyayat lengan bawahnya cukup dalam hingga darah segar merembes cepat membasahi seragam putihnya. Angga terhuyung, rasa panas dan perih yang luar biasa membuatnya terjatuh ke tanah sambil memegangi lengannya yang terluka.
"Angga!" Dita hendak menghampiri, namun kedua tangan kekar anak buah Gareng sudah mencengkeram bahunya dan menyeretnya paksa menuju mobil.
"Lepaskan aku! Tolong! Angga!" jerit Dita sambil meronta-ronta dan menendang sebisanya.
"Diam kau, Gadis Kecil!" bentak Gareng. Ia menjambak rambut Dita dan mendorongnya masuk ke dalam mobil.
Angga berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, napasnya tersengal. "Jangan... bawa... Dita..." Namun, tendangan keras dari salah satu anak buah Gareng tepat di perutnya membuat Angga kembali terkapar, terbatuk darah di atas aspal.
Brak!
Pintu mobil ditutup kencang. Mobil itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan debu, menyisakan jeritan Dita yang kian menjauh.
Angga terbaring lemas, matanya mulai berkunang-kunang menatap langit yang kian menggelap. Dengan tangan yang gemetar dan berlumuran darah, ia merogoh kantong celananya, mencari ponsel untuk menghubungi satu-satunya orang yang bisa menolong mereka.
"Mas... Mas Juna..." bisiknya parau sebelum kesadarannya mulai menipis.
*
*
Di Mabes Polri, Arjuna baru saja hendak meletakkan senjatanya ke dalam loker saat ponselnya bergetar hebat. Nama "Aga" berkedip di layar. Ia mengernyit, biasanya adiknya itu hanya akan mengirim pesan singkat jika ingin sesuatu.
"Halo, Ga? Ada apa? Tumben menelepon jam segini," sapa Arjuna ringan.
Namun, jawaban di seberang sana membuat jantung Arjuna seolah berhenti berdetak. Suara napas yang tersengal, rintihan perih, dan bisikan parau yang nyaris tak terdengar.
"Mas... Mas Juna... Dita... dia dibawa... oleh seorang pria berwajah seram..."
"Aga?! Kau di mana?! Apa yang terjadi?!" teriak Arjuna, suaranya menggelegar hingga membuat rekan-rekannya menoleh.
"Jalan belakang... sekolah... aku... terluka..." Suara itu terputus, berganti dengan bunyi gedebuk ponsel yang terjatuh di aspal.
"AGAAA!" Arjuna menyambar kunci mobil dan senjatanya kembali. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras dengan urat-urat yang menonjol. Ia berlari menuju parkiran secepat kilat, melajukan mobil patrolinya dengan sirine yang membelah kemacetan Jakarta. Pikirannya kalut, dimana adiknya sekarat dan istrinya diculik oleh penjahat yang selama ini ia cari. "Sialan kau, aku yakin kau pasti Gareng, kau telah berani mengusik keluarga ku! Kalau sampai lecet sedikit saja, aku tidak akan membiarkanmu hidup!"
Di Gudang Rahasia, dekat pelabuhan
Suasana pengap dan bau karat menyengat indra penciuman Dita. Ia terduduk di sebuah kursi kayu tua dengan tangan terikat erat ke belakang. Lakban hitam menempel rapat di mulutnya, meredam jeritan histeris yang hanya keluar sebagai erangan tertahan. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, bukan hanya karena takut, tapi karena bayangan Angga yang terkapar bersimbah darah terus menghantuinya.
Brak!
Gareng menendang sebuah meja besi di depan Dita, membuatnya tersentak ketakutan.
"Nona cantik, rupanya kau pintar juga ya cari pasangan," ejek Gareng sambil berjalan memutari kursi Dita dan bertepuk tangan lambat. "Si polisi menyebalkan itu sangat dekat denganmu, dan pria yang tadi... kalau tidak salah adik dari polisi itu, kan? Kau juga dekat dengannya. Wah... wah... kau hebat sekali bermain di antara dua saudara!"
Gareng mengeluarkan selembar kertas kusam yang penuh dengan coretan angka dan tanda tangan. Ia menarik kasar lakban di mulut Dita, membuat Dita memekik perih.
"Lepaskan aku! Kau pembohong! Angga... apa yang kau lakukan pada Angga?!" teriak Dita parau.
"Diam!" bentak Gareng, menyodorkan kertas itu ke depan wajah Dita. "Tanda tangani ini! Ini adalah surat pengakuan hutang ayahmu, si tua bangka Indra. Dia sudah menjadikanku bank pribadinya selama bertahun-tahun demi menutupi hutang-hutang lamanya. Dan kau... kau adalah jaminannya!"
"Bohong! Ayahku tidak mungkin seperti itu! Kau pasti memalsukannya!" Dita menggeleng kuat, menolak menyentuh pena yang disodorkan.
Gareng tertawa licik, mencengkeram rahang Dita dengan kasar. "Kau pikir darimana ayahmu punya uang untuk sekolahmu dan gaya hidup kalian setelah dia bangkrut? Dia meminjam padaku! Sekarang, karena dia sudah mati, kau yang harus bayar. Atau... aku akan membiarkan suamimu melihat mayat mu di sini!"
Dita terisak, hatinya hancur. Ia tidak ingin percaya bahwa ayahnya menyembunyikan rahasia sekelam ini, namun tatapan kejam Gareng seolah mengatakan bahwa ini adalah kenyataan pahit yang harus ia telan.
*
*
Raungan sirine mobil patroli Arjuna membelah keheningan jalan setapak di belakang sekolah. Ban mobilnya berdecit keras saat Arjuna mengerem mendadak, meninggalkan bekas hitam di aspal. Arjuna melompat keluar, dan jantungnya serasa berhenti berdetak melihat pemandangan di depannya.
Angga terkapar di pinggir jalan, seragam putihnya sudah berubah menjadi merah pekat karena darah yang merembes dari luka sayatan di lengannya.
"Aga! Bangun, Ga!" teriak Arjuna panik. Ia segera berlutut, menyangga kepala adiknya yang terkulai lemas. Tangan Arjuna gemetar saat ia menekan luka di lengan Angga dengan saputangannya. "Sial! Bertahanlah, ambulans segera datang!"
Mata Angga terbuka sedikit, sayu dan penuh penderitaan. Namun, saat melihat wajah kakaknya, ia justru mencengkeram erat kerah seragam Arjuna dengan sisa tenaga yang ada.
"Mas... Mas Juna... jangan... jangan hiraukan aku," bisik Angga parau, suaranya nyaris hilang. "Cepat... cari kakak ipar. Dita... dia dalam bahaya... Pria itu dan komplotannya telah membawanya..."
Arjuna tertegun sejenak. Kalimat Angga menghantamnya seperti palu godam. Kakak ipar? Bagaimana mungkin Angga mengenal Dita sedalam itu sampai memanggilnya dengan sebutan itu? Dan kenapa mereka bisa berada di lokasi yang sama? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Arjuna, namun ia sadar ini bukan waktunya untuk menuntut penjelasan.
"Diamlah, Ga. Jangan banyak bicara dulu," ucap Arjuna, suaranya bergetar menahan emosi.
"Cepat, Mas! Cari Dita! Kumohon... jangan sampai dia terluka," rintih Angga lagi sebelum matanya kembali terpejam, kehilangan kesadaran karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Tepat saat itu, mobil ambulans tiba dengan lampu strobo yang berputar-putar. Para petugas medis segera turun dan mengangkat tubuh Angga ke atas tandu. Salah satu petugas menoleh ke arah Arjuna.
"Bapak keluarganya? Silakan ikut di dalam ambulans," ajak petugas itu.
Arjuna menatap adiknya yang sedang dipasangi masker oksigen, lalu ia menatap ke arah jalanan kosong tempat mobil yang ia yakini adalah Gareng melesat tadi. Rahangnya mengeras. Amarah yang dingin mulai menyelimuti hatinya.
"Tolong jaga adik saya. Bawa dia ke rumah sakit terbaik!" perintah Arjuna tegas kepada petugas medis. "Saya ada urusan nyawa yang harus diselesaikan sekarang juga."
Tanpa menunggu jawaban, Arjuna kembali ke mobilnya. Ia membanting pintu dan segera menghubungi tim IT di Mabes.
"Lacak koordinat terakhir ponsel Dita! Sekarang!" teriaknya ke sambungan telepon. "Dan siapkan tim taktis. Kita tidak akan melakukan penggerebekan biasa. Jika Gareng melawan, habisi di tempat!"
Mobil Arjuna melesat bak peluru, meninggalkan ambulans yang membawa adiknya. Di dalam kabin yang sunyi, tangan Arjuna mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.
‘Tunggu aku, Dita. Dan kau Gareng... kau sudah menyentuh dua orang yang paling berharga dalam hidupku. Hari ini akan menjadi hari terakhirmu menghirup udara,’ batin Arjuna penuh dendam.
Bersambung...
ini lagi satu ulet bulu blom kapok jg yah ganggu rumah tangga orang tau rasa lu d usir sama.juna huuh 😤😤
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna