NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

​Kerumunan terkejut. Semua orang tahu Kevin adalah calon menantu idaman Pak Rendra. Kini Arga muncul dan mempermalukan Kevin—jelas Pak Rendra merasa martabat keluarganya terusik.

​Arga mengangguk tenang dan berkata sopan, “Halo, Pak Rendra. Saya Arga Bimantara.”

​Melihat ini, Sherly segera memegang lengan ayahnya. “Papa, jangan galak-galak pada Mas Arga. Dia orang baik.”

​“Arga, ikut saya. Ada yang ingin saya bicarakan secara pribadi,” ujar Pak Rendra tanpa ekspresi, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai atas.

​“Hmph…” Kevin menatap Arga dengan senyum licik yang kembali muncul. Tanpa restu Pak Rendra, sehebat apa pun Arga di bursa saham, ia tetap tidak akan bisa memiliki Sherly.

​Arga menenangkan Sherly yang cemas, lalu segera menyusul Pak Rendra ke lantai dua.

​Pak Rendra berdiri di balkon yang menghadap ke arah taman luas dan kerlip lampu kota Semarang di kejauhan.

​“Pak Rendra memanggil saya. Ada keperluan apa?” tanya Arga dengan sikap tenang, tidak rendah diri, namun tetap menghormati.

​Saat itu, aura Pak Rendra sangat kuat. Tekanan mental di ruangan itu begitu terasa.

​“Jika kau melihat ke luar sana, apa yang kau lihat?” tanya Pak Rendra datar.

​Arga menatap kejauhan, melihat lampu-lampu kota yang indah. “Pemandangan kota yang luas, Pak.”

​“Benar. Luas,” Pak Rendra menghela napas, suaranya mendadak dingin. “Namun kau tahu? Semua yang kau lihat dari sini adalah hasil kerja keras Keluarga Gunawan selama tiga generasi. Apa yang kau miliki sekarang mungkin membuatmu bersinar di mata orang awam, tapi di hadapan kekuasaan yang sesungguhnya, kau hanyalah percikan api kecil yang mudah padam.”

​Ia menoleh dan menatap Arga dengan pandangan merendahkan.

​“Aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Kau lahir di desa, keluargamu orang biasa. Popularitasmu sebagai 'Titisan Naga' mungkin hanya keberuntungan sesaat atau hasil manipulasi pasar.”

​“Pria dengan latar belakang sepertimu tidak akan pernah pantas untuk putriku, Sherly. Aku harap kau tahu diri dan meninggalkannya!”

​Pak Rendra melanjutkan dengan nada dingin,

“Kau memang luar biasa di antara rekan sebayamu. Namun, jika dibandingkan dengan para talenta muda di Semarang, bahkan di seluruh Jawa Tengah, kau masih tertinggal jauh.”

Arga menjawab dengan tenang,

“Lalu apakah Kevin mampu berbangga diri di seluruh Jawa Tengah?”

“Haha,” Pak Rendra tertawa kecil dengan senyum meremehkan. “Sekalipun Kevin ingin menikahi putriku, ia tetap harus menunjukkan kemampuan sejatinya.”

“Sepuluh tahun lagi, jika ia mampu menjadi orang terkaya di Jawa Tengah, atau berhasil mengambil alih posisi puncak di Grup Otomotif keluarganya, barulah aku akan merestuinya.”

“Pikirkan saja. Jika tidak demikian, aku sama sekali tidak akan menyerahkan putriku kepadanya.”

Setelah berkata demikian, Pak Rendra kembali menatap Arga lekat-lekat.

“Aku tahu kau berhubungan dengan tokoh seperti Hadi Setiawan dan Bagus Mahendra sejak muda. Aku juga tahu banyak orang di lingkaran ini tidak menyukai narasi 'Titisan Naga' yang kau sandang.”

“Jika Kevin tidak memiliki latar belakang keluarga konglomerat, ia memang akan jauh lebih buruk darimu.”

“Anda telah menyelidiki saya cukup dalam,” ujar Arga sambil sedikit menyipitkan mata.

Pak Rendra tertawa ringan.

“Sherly adalah putri kesayanganku. Bagaimana mungkin aku tidak menyelidiki pria mana pun yang mencoba mendekatinya?”

“Secara logika, dengan kekayaan bersih miliaran di usia muda, ditambah kemampuanmu mempengaruhi para tokoh besar, kau sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk bersanding dengan Sherly.”

“Sayangnya…”

“Sayangnya apa?” tanya Arga.

Dengan nada penuh kebanggaan, Pak Rendra menjawab,

“Sayangnya, dia adalah putri Rendra Gunawan!”

“Kau ingin menikahinya?”

“Belum cukup! Masih kurang! Kau belum memenuhi kualifikasi!”

Empat kata terakhir itu diucapkannya satu per satu, penuh penekanan.

“Oh?” Arga tersenyum tipis. “Lalu, bagaimana kualifikasinya?”

“Dari segi latar belakang, setidaknya harus ada tokoh berpengaruh di tingkat nasional atau lebih tinggi dalam keluargamu.”

“Dari segi kekayaan, di usiamu sekarang, nilai asetmu minimal harus mencapai puluhan triliun. Itulah kualifikasi dasar.”

Pak Rendra berkata dengan nada datar,

“Sayangnya, kau berasal dari desa. Bukan hanya tidak ada tokoh berpengaruh dalam keluargamu, bahkan kerabat-kerabatmu pun masih membutuhkan bantuanmu.”

“Adapun soal harta, jika bukan karena keberuntunganmu memenangkan taruhan dari Joni Hartono, aku khawatir hari ini kau bahkan tidak mampu memberi Sherly hadiah ulang tahun yang pantas.”

“Orang kaya baru sepertimu—yang mengandalkan spekulasi dan keberuntungan semata—akan menghadapi terlalu banyak batasan di masa depan, bahkan bisa tersandung masalah hukum atau finansial.”

“Bagaimana mungkin aku bisa dengan tenang menikahkan Sherly kepada orang sepertimu?”

Setelah itu, Pak Rendra menatap Arga lekat-lekat, seolah telah menembus segala sesuatu tentang dirinya.

Arga menghela napas ringan.

“Di mata Anda, aku serendah debu. Namun di mataku, Anda bahkan serendah semut.”

Arga memiliki ingatan dari masa depan. Bahkan jika ia hanya berinvestasi saham dan properti secara bertahap, menjadi orang terkaya di negeri ini hanyalah soal waktu.

Lalu bagaimana dengan Pak Rendra?

Ia bahkan bukan orang terkaya di Semarang! Dan berdasarkan ingatan Arga, sebentar lagi ia juga akan menghadapi krisis bisnis yang hebat. Maka, di mata Arga, Pak Rendra tak ubahnya semut yang sombong.

“Aku… semut?”

Pak Rendra begitu marah hingga justru tertawa getir.

“Ayahku adalah mantan pejabat tinggi di kota ini!”

“Aku setara dengan orang terkaya di Jawa Tengah!”

“Bahkan jika para pemangku kebijakan datang, mereka tetap harus menaruh hormat padaku!”

Ia mengucapkannya kata demi kata dengan nada menekan.

“Aku khawatir kau bahkan tidak berani membayangkan posisi itu!”

“Beraninya kau mengucapkan omong kosong seperti ini di hadapanku?”

“Berdiri di atas angin yang tepat, bahkan babi pun bisa terbang.” Arga menjawab dengan tenang. “Anda hanya beruntung berada di posisi dan waktu yang tepat.”

“Pak Rendra, alasan aku memanggil Anda 'Bapak' semata-mata karena Anda adalah ayah Sherly, bukan karena aku menghormati pencapaian Anda.”

“Anda berbeda denganku. Aku bukan orang yang rela mengorbankan keluarga demi ketenaran dan kekayaan.”

“Maksudmu aku, Rendra Gunawan, adalah orang yang sanggup mengorbankan keluarganya demi harta?” tanya Pak Rendra dengan nada mengejek.

Arga hanya tersenyum samar, tanpa membantah.

Dalam kehidupan sebelumnya, Pak Rendra bangkrut. Demi menyelamatkan bisnis keluarga, ia mengorbankan kebahagiaan Sherly untuk ditukar dengan investasi dari keluarga Kevin—yang akhirnya mendorong Sherly mengakhiri hidupnya. Fakta telah membuktikan bahwa Pak Rendra sama sekali bukan ayah yang baik. Karena itulah, Arga memandangnya rendah dari lubuk hati terdalam.

Pak Rendra menggelengkan kepala sambil tersenyum sinis.

“Arga, Arga… hari ini aku akhirnya mengerti mengapa Sherly bersedia mengikutimu.”

“Mulutmu benar-benar tajam. Orang mati pun bisa kau buat seolah hidup kembali, bukan?”

“Sayangnya, hanya itu yang kau miliki.”

“Pak Rendra, demi Sherly, izinkan aku memberi satu nasihat,” ujar Arga dingin.

“Setiap orang memiliki masa kejayaan. Jangan pernah menganggapnya sebagai keabadian.”

1
Jujun Adnin
lagi
Dewiendahsetiowati
senjata makan tuan,pingin Arga bangkrut ternyata malah untung
Fajar Fathur rizky
cepat bongkar kebusukan kevin bikin bangkrut thor
LING: gbklan langsung di bongkar biar muter2 dlu karna belum nyampe target dpt uang
total 1 replies
Fauziah Daud
Keren.. trusemangattt
Jujun Adnin
lanjutkan
Dewiendahsetiowati
ternyata yang dihina adalah orang terkaya yang ditunggu banyak orang🤣🤣
sitanggang
gak bisa yaa kok masalahnya di mantan/kluarganya terus siih, JD nampak monoton jln ceritanya...membosankan 🤣🤣🤦
Fauziah Daud
hahaha.. tercengang 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Shelina makanya jangan meremehkan orang lain,malu kan ternyata yang diremehkan membela kamu
Dewiendahsetiowati
kalau Rendra dan Kevin tahu Arga yang terkaya langsung stroke 🤣🤣
Fauziah Daud
Keren.. trusemangattt
Jujun Adnin
lanjut
Fauziah Daud
hahaha rasakan.. trusemangattt
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Sastra Aksara: Terimakasih kak😍
support terus yaa
total 1 replies
Fauziah Daud
sudah terlambat Lahan udah di borang.... trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!