Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Wanita bermuka dua.
“A—ah! Oppa... Sakit!” Suara itu memecah suasana.
Junho spontan berbalik, hanya untuk melihat Sooyeon terduduk di lantai, tangannya memegang lengan seperti seseorang yang baru saja disakiti. Ekspresinya kacau, napasnya terengah, dan air mata mulai menetes di pipinya dengan cara yang begitu… teatrikal.
Baru saja Junho mau melangkah mendekati Sooyeon, pintu ruangan itu terbuka dengan cepat. Minseo dan Daejung muncul dengan wajah terkejut, diikuti oleh keluarga Kang yang tak kalah panik. Mungkin saja mereka mendengar jeritan Sooyeon yang memang dia akui cukup keras.
“Sooyeon-ah! Apa yang terjadi?” seru ibu Junho dengan suara cemas.
Dia dengan cepat melewati Junho dan melangkah panik kearah Sooyeon yang menunduk, suaranya bergetar, namun cukup keras untuk memastikan semua orang mendengarnya.
“Aku... aku hanya mencoba bicara baik-baik... tapi Junho... dia... mendorongku. Auhh... sakit sekali,” ujar nya sembari mengusap lengan nya, suara isak itu mengiris keheningan.
Wajah Minseo seketika menegang, sementara Daejung menatap Junho tajam—tajam seperti pisau yang siap menusuk kehormatan anak bungsunya sendiri.
“Junho! Kau mendorong seorang wanita? Apa benar?!” nada ayahnya naik setengah oktaf, dingin dan penuh kekecewaan.
Junho terdiam sejenak, berusaha mengatur napasnya yang mulai berat. Ia tahu, sekadar membantah sekarang hanya akan membuat semuanya tampak lebih buruk. Namun, ia tak bisa membiarkan kebohongan semacam itu hidup.
“Aku tidak mendorongnya, aku hanya menarik tanganku. Dia yang memegangku duluan. Saat aku akan pergi dia tiba-tiba berakting seperti itu,” ucapnya tenang, meskipun matanya mulai meredup karena menahan emosi.
“Brakting? Tapi kenapa sampai jatuh begini? Sooyeon, apa benar?” potong keluarga Kang, suara mereka penuh penilaian halus yang menyakitkan.
Sooyeon menunduk lebih dalam, bahunya bergetar kecil—entah karena tangis, atau karena akting yang terlalu sempurna.
“Aku hanya ingin bicara baik-baik... tapi dia... dia terlihat marah sekali... aku takut… aku tidak bohong...” ujar nya menangis semakin keras.
Minseo memejamkan mata, menahan rasa malu yang bergolak di dada. Ia melirik sekilas ke arah keluarga Kang yang kini saling berbisik pelan.
“Junho, ini memalukan apa kau sadar apa yang baru saja kau lakukan di hadapan mereka?” ujar ibunya pelan namun tegas.
Junho menatap ibunya, kemudian memandang Sooyeon yang masih berjongkok dengan mata basah dan ekspresi menyedihkan itu. Ada sesuatu yang getir menyesap ke dadanya—bukan karena dituduh, tapi karena ia tahu, semua ini akan dibawa jauh lebih besar dari yang seharusnya.
"Aku sama sekali tidak melakukan apapun Eomma. Dia hanya bersandiwara, aku tidak sedikit pun menyentuh nya," ujar Junho yang membuat Ji-Hye menatap Junho pelan.
"Apa putri imo terlihat se buruk itu Junho-ssi?" Tanya nya yang jelas tersinggung karena Junho terus menyebut jika Sooyeon berakting.
"Ji-Hye, tenanglah dulu... Maksud Junho pasti tidak seperti itu, ini hanya kesalahpahaman saja. Benarkan Junho, cepat minta maaf pada Sooyeon," sela Minseo.
“Aku tidak melakukan apapun yang melanggar batas, Eomma. Dan aku tidak akan minta maaf untuk sesuatu yang tidak saya lakukan,” ucapnya perlahan, penuh penekanan di tiap kata.
Namun suara itu hanya disambut dengan tatapan kecewa, dan desahan berat dari ayahnya yang tampak tak ingin mendengar penjelasan lebih jauh.
Sementara Sooyeon—dengan wajah yang tetap sembab—melirik diam-diam ke arah Junho. Sekilas, ada senyum samar di ujung bibirnya. Senyum kemenangan yang nyaris tak terlihat.
"Bangunlah Sooyeon-ah, apa sakit sekali?" Tanya Ji-Hye yang membuat suasana makin tegang
“A—aku baik-baik saja, Eomeoni… Aku hanya… terkejut. Aku tidak menyangka Junho akan semarah itu…” ujarnya lirih, meski tangannya masih menekan lengan seolah merasa sakit.
Ji-Hye mengangguk, dia membantu putri nya berdiri sementara Daehyun yang sedari hanya diam melirik sekilas pada ayah Junho, tatapan nya seolah kecewa melihat semua ini. Sedangkan Junho mengeraskan rahangnya. Ia berdiri tegak, postur tubuhnya tetap tenang tapi matanya mulai kehilangan kesabaran.
“Aku tidak marah, Eomma. Dan aku tidak menyentuhnya, apalagi sampai membuatnya jatuh. Harus berapa kali aku jelaskan pada kalian jika itu tidak benar,” kata nya, namun sebelum ia sempat menambahkan penjelasan, Sooyeon kembali menatap dengan pandangan yang nyaris menangis.
“Aku tidak bermaksud menyinggungmu, Oppa. Aku cuma ingin bicara… aku bahkan mencoba bersikap sopan. Tapi kau tiba-tiba menarik tanganmu dengan kasar—aku tidak siap, jadi aku terjatuh. Itu saja, aku tidak menyalahkanmu, sungguh. Kenapa kau malah menuduh ku berakting,”
Nada suaranya dibuat seolah tulus, namun setiap kata terdengar seperti belati yang diarahkan dengan presisi. Ia tidak menuduh langsung, tapi cukup untuk menanamkan benih keraguan di benak semua orang yang mendengarnya.
Daejung menatap tajam ke arah putranya dia sudah cukup malu sejak awal kedatangan keluarga kang ke sana, melihat tingkah putra bungsunya yang benar-benar menunjukkan sikap dingin. Kali ini emosi nya mencapai puncak nya, dia tidak menyangka jika Junho berani menyakiti wanita hanya karena dia tidak suka.
“Kau sadar apa yang baru saja terjadi di depan keluarga Kang? Mereka datang dengan niat baik untuk menjajaki hubungan, dan kau malah... membuat gadis itu menangis?” ujar nya menatap Junho.
“Appa, tolong dengar dulu penjelasanku. Dia yang menahanku lebih dulu. Aku hanya ingin pergi dengan sopan. Tidak ada yang aku lakukan di luar batas...” ucap Junho menahan napas.
“Tapi kenyataannya dia jatuh, Junho! Dan kau tahu betapa sensitifnya ini di mata publik jika sampai terdengar keluar? Apa kau ingin mencoreng reputasi keluarga kita dengan insiden seperti ini? Kenapa kau seperti ini Junho-ya?” potong Minseo, suaranya meninggi karena frustasi. Junho menatap ibunya lama.
“Aku tidak melakukan ap..." Ucapan nya di potong cepat oleh sang ayah.
“Junho! kau diam!” suara Daejung membentak lantang kali ini.
Ruang tamu kembali sunyi. Suara detak jam di dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Di sudut ruangan, keluarga Kang saling bertukar pandang—antara rasa tidak nyaman dan keinginan untuk tetap terlihat anggun. Ayah Sooyeon, melangkah maju dengan nada sopan tapi jelas mengandung teguran.
“Kami tidak ingin memperpanjang masalah, Tuan kim. Tapi tentu saja, kami terkejut. Sooyeon gadis lembut, saya yakin ia tidak bermaksud membuat keributan seperti ini. Tapi saya cukup tersinggung melihat putri saya di perlakukan seperti ini,” ujar nya sembari melirik Sooyeon yang masih menunduk di samping ibu nya.
“Aku sungguh tidak apa-apa, Appa…” sela Sooyeon cepat, matanya tampak berkaca-kaca lagi. “Aku tahu Junho pasti tidak sengaja. Dia hanya sedang... banyak pikiran, kita." Sooyeon bahkan tersenyum kecil, seolah berusaha menenangkan semua orang.
Tapi senyum itu terasa janggal—terlalu terkendali, terlalu sempurna untuk disebut tulus.
Junho menatapnya tanpa ekspresi. Dalam hatinya, rasa muak menumpuk seperti gelombang yang teredam. Ia tahu gadis itu sedang memainkan peran. Dan lebih dari itu—ia tahu semua orang di ruangan ini perlahan-lahan mulai mempercayai naskah ciptaannya. Minseo menghela napas panjang, mencoba menjaga wibawa di depan tamu.
“Sooyeon-ah, maafkan perilaku Junho. Ia kadang sulit mengontrol emosinya,” ujar nya tulus berjalan mendekati Sooyeon, namun Junho segera menyela.
“Eomma,” Junho menatapnya lurus.
“Tolong berhenti meminta maaf atas sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tahu apa yang terjadi. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menulis ulang kebenaran,” lanjut Junho, nada suaranya tetap tenang, tapi tatapannya tajam, nyaris menusuk. Sooyeon menunduk, suaranya parau.
“Aku tidak ingin membuat masalah, sungguh. Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik. Tapi kalau kamu merasa terganggu… aku yang salah. Aku mungkin terlalu… terbuka. Maafkan aku...” Ia menggigit bibir bawahnya pelan, seolah menahan tangis—tapi tatapan matanya sempat naik sepersekian detik, cukup bagi Junho untuk melihat kilatan licik di balik sorot sendunya.
Daejung menarik napas berat, lalu menatap keluarga Kang dengan sopan namun kaku.
“Saya mohon maaf atas kejadian ini. Anak saya… memang keras kepala. Tapi yakinlah, tidak ada niat buruk. Kami akan menyelesaikan ini secara keluarga. Saya akan bicara pada Junho setelah ini,” ujar nya yang membuat keluarga Kang saling bertukar senyum kaku, lalu mengangguk.
“Kami mengerti, Tuan Kim. Kami yakin Junho bukan anak yang jahat, hanya saja… terkadang sikap dingin bisa disalahpahami, bukan? Kami tidak ingin menghancurkan hubungan kekeluargaan kita hanya karena masalah anak anak,” balas ayah Sooyeon diplomatis.
“Benar, aku mungkin terlalu sensitif. Tapi tidak apa-apa, aku yang salah,” timpal Sooyeon lembut, menunduk kecil.
Ia menutup kalimatnya dengan senyum kecil yang begitu menyayat—senyum yang tampak seperti pengampunan, padahal sejatinya penghinaan halus yang terselubung.
Dan di saat semua orang menatapnya dengan iba, Junho berdiri terpaku, menatap lantai dengan mata kosong. Di dadanya, amarah dan kekecewaan bercampur menjadi satu—pahit, dingin, dan mengendap di tenggorokannya.
Dalam hati, ia berucap pelan.
“Jika kebohongan bisa tampak seanggun itu, maka kebenaran tak akan pernah cukup indah untuk dipercaya.”
"Baiklah tuan Kim, karena kami rasa suasana sedikit tegang, kami izin pamit pulang saja dulu. Kita bisa bahas rencana perjodohan ini lain waktu, saat Junho benar benar siap, mungkin ini terlalu mendesak sebab itu Junho sedikit terkejut," kata Daehyun, dia melirik pada sang istri dan juga Sooyeon.
"Benar terimakasih atas jamuan makan malam nya, kami menghormati undangan selanjutnya, dan Junho-ssi.. maaf jika Sooyeon membuat mu kesal," ujar nya tenang namun hal itu semakin membuat keluarga Kim malu.
Mereka mengantarkan keluarga kang sampai depan rumah, kecuali Junho yang masih diam di tempat nya. Setelah mereka benar benar pergi Minseo dan Daejung kembali keruangan itu. Keheningan merayap cepat ke setiap sudut ruang makan.
Udara yang tadinya hangat oleh percakapan kini berubah dingin, menekan dada siapa pun yang bernapas di sana. Hanya suara jam yang menggema di dinding, berdetak seperti hitungan mundur sebelum ledakan.
Daejung berdiri perlahan, namun sorot matanya sudah cukup untuk membuat seluruh ruangan bergetar. Tatapan itu menusuk, penuh bara yang ditahan terlalu lama.
“Apa yang kau lakukan, Junho?” suaranya rendah tapi tajam, seperti pecahan kaca yang menyayat tenang.
Junho menegakkan tubuh, mencoba menahan napas agar tetap stabil.
“Aku tidak melakukan apa pun, Appa. Aku sudah menjelaskan...” ucapan nya di potong cepat.
“Cukup!” bentak ayahnya, tangannya menghantam meja hingga suara porselen bergemerincing. “Kau mempermalukan keluarga ini di depan keluarga Kang! Kau pikir mereka siapa? Keluarga biasa yang bisa kau perlakukan seenaknya?” lanjut nya yang membuat Junho mengatupkan rahang, menahan diri agar tidak meninggikan suara.
“Aku tidak mempermalukan siapa pun. Mereka yang menuduh ku tanpa dasar. Aku tidak pernah menyentuhnya, apalagi berbuat kasar pada wanita itu,” ujar nya yang membuat Minseo, yang sejak tadi berdiri di sisi suaminya, memijat pelipis pelan, tapi suaranya gemetar ketika berbicara.
“Junho, kami tidak butuh alasan. Kami hanya butuh kau mengerti konsekuensi dari perbuatanmu. Kau tidak hanya menyakiti seorang wanita, tapi juga membuat ayahmu kehilangan muka di hadapan mitra lamanya. Nak... Apa yang kau pikirkan sebelum melakukan itu?" Ujar nya yang membuat junho kembali bicara.
"Eomma, aku sudah bilang aku tidak menyakiti nya, aku sama sekali tidak menyentuh nya. Dia sengaja berdrama, dia hanya berpura -pura saja, kenapa Eomma dan Appa sama sekali tidak mau mendengar penjelasan ku..." Balas Junho pelan nada suaranya tetap terkendali, tapi di baliknya ada getir yang nyaris tak bisa disembunyikan.
Plaaak!
Suara tamparan itu menggema, memecah udara seolah seluruh dunia berhenti sesaat. Junho menoleh pelan, bukan karena sakit, tapi karena tidak percaya. Ibu yang selama ini lembut, yang selalu menjadi penyeimbang amarah ayahnya, kini menatapnya dengan mata berair dan tangan gemetar. Minseo menunduk sedikit, suaranya pecah.
“Eomma tidak ingin menamparmu… tapi Eomma tidak tahu lagi bagaimana membuatmu sadar, Junho. Kau selalu membantah, selalu merasa benar. Anak yang Eomma didik dan besarkan bukan anak seperti ini. Kau kenapa junho-ya... kau kenapa?...” tanya nya dengan suara serak.
Tangan nya yang tadi dia gunakan untuk memukul putra bungsunya itu bergetar, hebat seolah menunjukkan penyesalan dan juga amarah.
Junho memejamkan mata sejenak, menahan getir di tenggorokannya. Kulit pipinya masih panas, tapi yang lebih perih adalah perasaan bahwa rumah ini tidak lagi menjadi tempat aman baginya.
“Kalau membela diri dianggap membantah, maka mungkin aku memang tidak akan pernah bisa benar di mata kalian,” ujarnya pelan namun jelas. Daejung melangkah mendekat, napasnya berat.
“Apa maksudmu berbicara seperti itu pada ibumu?!” bentak nya jelas tak terima mendengar putra nya sendiri bicara tidak sopan pada ibunya.
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku sudah katakan yang sejujurnya tapi jika kalian tidak percaya aku bisa apa?” ujar Junho lagi.
“Yang sebenarnya? Kebenaran macam apa? Bahwa kau menolak gadis baik yang bisa menyelamatkan reputasimu? Bahwa kau lebih memilih hidup di dunia musik yang penuh skandal dan gosip murahan itu?” Daejung tertawa sinis. Junho menatap langsung ke mata ayahnya, tidak lagi menunduk.
“Kalau kebenaran harus disesuaikan dengan gengsi keluarga, maka itu bukan kebenaran, tapi kebohongan yang dibungkus sopan santun. Appa aku menghormati kalian tentunya dengan seluruh jiwa ku, tapi aku juga tidak bisa terus berjalan dalam garis yang kalian tetapkan. Aku juga ingin melihat jalan ku sendiri,” balas nya yang membuat wajah Daejung memerah seketika melihat keberanian putra nya itu.
“Beraninya kau bicara seperti itu!” seru Daejung keras, tangannya terangkat, namun kali ini tidak jadi menghantam.
Ia menahan diri, hanya menatap anak bungsunya dengan pandangan yang menusuk.
“Dengar baik-baik, Kim Junho,” katanya perlahan, setiap suku kata menekan seperti beban. “Seluruh hidupmu—pendidikanmu, kariermu, bahkan udara yang kau hirup—semua berasal dari nama keluarga ini. Jika kau berpikir bisa hidup di luar itu, silakan coba. Tapi jangan pernah kembali membawa aib ke rumah ini,” ujar nya yang membuat Junho menatap balik tanpa gentar, meski jantungnya berdetak tak karuan.
“Kalau harga dari nama keluarga ini adalah kehilangan diri sendiri… mungkin aku memang harus pergi. Appa... aku benar-benar kecewa," ujar nya yang membuat Minseo menatapnya, wajahnya berubah pucat.
“Junho… jangan berani berani kau pergi,” ujar nya tapi Junho sudah melangkah mundur, matanya mulai memerah namun tidak setetes pun air mata jatuh.
“Aku tidak marah, Eomma. Aku hanya lelah harus selalu disalahkan atas sesuatu yang tidak aku lakukan, aku benar-benar kecewa saat kalian lebih percaya wanita itu daripada aku,” ujar nya, Junho membungkuk sopan—meskipun dengan tangan yang sedikit bergetar—lalu melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi.
Tapi Minseo tidak diam, dia berlari cepat memeluk putra nya dari belakang yang mana hal itu berhasil membuat Junho berhenti, tapi tidak berbalik.
"Kau tega melakukan itu pada Eomma, kau tega meninggalkan Eomma? Kau tega?" Tanya nya, Minseo berjalan ke hadapan putra nya itu mata nya memerah sudah menahan tangisnya.
Sedangkan Junho hanya diam tubuhnya kaku melihat wanita yang dahulu begitu dia cintai menangis di hadapannya.
"Kau mau meninggalkan Eomma? Kau mau ... Pergi..." Tanya nya frustasi.
Minseo kini nyaris tidak bisa berdiri tegak—bahunya bergetar, suaranya pecah di antara helaan napas yang tersengal. Ia meraih pergelangan tangan Junho, seolah takut jika anaknya akan menghilang begitu saja begitu genggamannya terlepas.
“Eomma sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya, Junho-ya... jangan tambah satu lagi,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.
Junho menunduk, rahangnya mengeras, jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. Ia ingin tetap tegar, tetap berdiri pada pendiriannya—bahwa kebenarannya tidak butuh pengakuan siapa pun. Tapi di hadapannya kini bukan lagi Minseo yang elegan dan tegas… melainkan seorang ibu yang rapuh, yang menangis di tengah kebanggaan yang runtuh.
Udara di ruang keluarga itu terasa begitu berat, seperti menekan dada hingga sulit bernapas. Ia menatap ibunya lama, dan untuk pertama kalinya, kebencian yang menumpuk di dadanya terasa kecil dibanding rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi.
Junho menarik napas panjang, lalu perlahan meraih bahu ibunya. Ia menunduk, memeluk wanita itu tanpa sepatah kata. Tubuh Minseo gemetar di pelukannya, dan saat tangan itu akhirnya melingkar di punggung ibunya, air mata yang sejak tadi ditahan mulai mengalir diam-diam di pipinya.
Junho menatap ke arah lantai, bibirnya bergetar menahan kata-kata yang tak sanggup keluar. Ia masih kecewa. Ia masih terluka. Tapi ia tidak bisa… tidak tega melihat ibunya hancur di depan matanya.
“Eomma…” suaranya serak, nyaris tenggelam di antara isakan pelan Minseo. “Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Tapi… aku juga tidak mau melihatmu seperti ini. Aku mohon berhentilah menjodohkan ku, aku pasti akan menikah tapi bukan dengan wanita itu. Aku tidak mau," ujar Junho benar benar frustasi.
Minseo menatap wajah anaknya dengan mata sembab, tangannya meraih pipi Junho seolah takut bayangan itu menghilang.
“Kalau begitu, jangan pergi, Junho-ya. Jangan buat rumah ini kehilangan cahaya terakhirnya…” ujar nya yang membuat Junho menutup matanya, bahunya turun perlahan seiring embusan napas panjang.
Ia tahu ia tidak bisa pergi hari ini. Bukan karena ia menyerah… tapi karena hatinya masih belum tega.
Dia mengangguk kecil, lalu membiarkan ibunya tetap memeluknya erat, tanpa janji, tanpa kata maaf—hanya keheningan panjang yang menggantung di antara mereka, getir dan hangat di waktu yang sama.
Sementara sang ayah hanya diam melihat istri dan putra bungsunya itu menangis di hadapannya.