NovelToon NovelToon
Mafia Dan Gadis Desa

Mafia Dan Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Roman-Angst Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aquilaliza

Glenca Lysandra, seorang gadis yang terkenal di desanya sebagai penakluk hutan yang tak seorang pun berani memasukinya. Dia lah satu-satunya gadis yang berhasil keluar masuk hutan dalam keadaan selamat, berbeda dengan beberapa orang desa lainnya.

Namun, apa jadinya ketika dia bertemu seorang pemimpin mafia, Ethan Frederick Denaro, di sebuah villa kosong yang terkenal angker di dalam hutan yang ia jelajahi. Pertemuan tak sengaja yang membawanya menyaksikan kekejaman dan transaksi gelap seorang Ethan, juga menjadi awal hidup rumit nya.

Ethan tidak pernah membiarkan saksi mata transaksi terlarang nya hidup. Tapi, Glenca adalah pengecualian. Membawanya ke Mansion dan dijadikan mainan, cukup menghibur dirinya yang penuh dengan keseriusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Punya Hak Untuk Kecewa

Ethan mengusap lembut bibir Glenca yang terdapat sisa sarapan yang menempel. Gadis itu masih berada di atas pangkuannya—duduk diam menuruti ucapan Ethan.

"Terima kasih," ucap Glenca usai Ethan menyingkirkan sisa makanan di bibirnya. Jujur, jantungnya berdebar semakin kuat, bahkan pipinya memerah malu.

"Sejak tadi, aku mendengar detak jantungmu," ujar Ethan tanpa peduli jika perkataannya membuat Glenca semakin malu.

"A-aku ganti baju—"

"Tetap disini. Aku belum selesai." Ethan menahan kuat pinggang ramping Glenca, membuat gadis itu menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa kesal dan malu.

"Hari ini, kau ku serahkan pada Adeline."

Glenca langsung menatap Ethan. Ada kilatan terkejut, bingung, juga kecewa yang terpancar dari tatapan mata Glenca. Meski begitu, gadis itu mengangguk pelan.

Dia tahu, hukuman akibat perbuatannya yang menghancurkan barang peninggalan mendiang nyonya besar Denaro, tidak sesederhana Ethan meniduri nya dan menghancurkan masa depannya. Walau sebenarnya, menurut ia itu sudah melampaui perbuatannya dan sangat keterlaluan.

Akan ada hukuman-hukuman lainnya yang akan ia terima. Adeline lah salah satu hukuman itu.

Tapi, dari semua rasa yang ia terima, rasa kecewa terhadap Ethan jauh lebih menonjol. Glenca tidak tahu, kenapa perasaan itu berani ada. Kenapa dia sampai merasa kecewa pada Ethan? Apa karena Ethan tidak menghukumnya hingga setengah mati—seperti mematahkan kaki dan tangannya? Atau mungkin karena Ethan memperlakukannya lebih manusiawi selain menidurinya?

Namun, semua itu hanya sebuah kesenangan yang ingin Ethan dapatkan dari dirinya. Tidak ada hal khusus sehingga ia berani merasa kecewa pada lelaki itu. Ethan berhak menentukan apapun sesuai keinginannya, termasuk menyerahkan dirinya pada Adeline. Dia tidak punya hak untuk kecewa pada Ethan atau siapapun.

"Adeline memintamu dariku. Ku rasa kau tahu maksudnya." Ethan mengusap lembut bahu polos Glenca, lalu mengecupnya sekali.

"Aku sangat paham, Tuan," jawab Glenca, tetap berusaha tenang. Ia menguatkan dirinya jika ini hanya sementara. Dia akan bebas setelah berhasil menemukan jalan rahasia itu.

"Bagus." Ethan menepuk pelan puncak kepala Glenca.

"Sekarang.... Apa aku boleh pergi mengganti baju? Anda tidak ingin nona Adeline menunggu kan?"

Ethan tersenyum miring. Dia membenamkan wajahnya di dada Glenca, lalu meninggalkan bekas kecupan tepat di pangkal bongkahan padat dada Glenca.

Pria sialan! Maki Glenca dalam hati.

"Aku tahu, kau memaki ku," kata Ethan dengan santai. "Cepatlah. Adikku akan mengamuk jika kau belum muncul."

***

Setelah beberapa saat mengganti pakaiannya, Glenca segera kembali menemui Ethan yang masih berada di sofa. Ia berdiri tenang di hadapan lelaki itu, menunggu instruksi selajutnya.

Ethan mematikan rokoknya, kemudian beranjak bangun dan mendekati Glenca. Ia tatap gadis itu, lalu berjalan melewatinya begitu saja.

Glenca segera berbalik dan membuntuti Ethan. Saat lelaki itu justru berhenti di sisi dinding bagian kanan kamar, Glenca pun turut berhenti—meski raut bingung terpancar jelas di wajah gadis itu.

"Tuan, kenapa kita—"

Ting.

Tiba-tiba dinding itu terbuka layaknya pintu pintu lift yang sering ia gunakan di mansion. Raut bingungnya langsung berubah menjadi ekspresi terkejut yang nyata. Ternyata dinding tersebut bisa terbuka menjadi lift.

Pantas saja aku tidak bisa menemukan lift di kamar ini. Ternyata dibalik dinding ini. Batin Glenca.

Ethan masuk, lalu di ikuti Glenca. Selama lift bergerak, Glenca hanya diam dengan kening yang berkerut bingung.

Kenapa aku merasa lift nya bergerak naik? Bukannya.... Hah! Aku sangat bingung. Batin Glenca.

Dia melirik Ethan, namun lelaki itu hanya diam tak berniat memberitahu nya sama sekali. Jadi, dia memilih mengubur perasaan bingung dan ingin tahunya.

Sudahlah. Nanti juga aku pasti akan tahu.

Lift berhenti, Ethan keluar lebih dahulu diikuti Glenca. Gadis itu baru tahu sekarang, bahwa dia kembali ke bangunan kecil—tempat dimana Ethan menyeretnya dari kandang Scar beberapa waktu lalu.

"Scar merindukanmu," ucap Ethan sambil melangkah santai keluar dari bangunan tersebut.

Sudut bibir Glenca tertarik membentuk senyum tipis. Dia baru ingat Scar sekarang, dan ia juga merindukan hewan besar itu.

Glenca melangkah cepat keluar dari bangunan, bahkan melewati Ethan begitu saja. Ia baru berhenti saat tiba di kandang Scar.

Dan sesuatu yang terjadi setelahnya cukup memanjakan mata Ethan. Scar yang tadinya meringkuk di sudut kandang pun terbangun dan melangkah cepat mendekati Glenca. Hewan besar itu langsung menempelkan kepala dan tubuhnya pada besi-besi kandang, tepat di depan Glenca berdiri.

Gadis itu terkekeh kecil sambil mengusap-usap kepala juga tubuh Scar.

"Kau merindukanku? Hm?" tanya Glenca lembut. Dia bertambah terkekeh ketika melihat Scar menggerakkan kepalanya—mengangguk—seolah paham dengan pertanyaan nya.

"Kau semakin pintar sekarang. Aku pun juga sangat merindukanmu."

Ethan yang berdiri tak jauh dari tempat Glenca pun bisa mendengar kekehan juga pembicaraan Glenca bersama Scar. Dia mendengus pelan.

Dia tidak pernah seperti ini di depanku. Batin Ethan.

Ethan menghembuskan nafas kasar. "Glenca," panggil Ethan, membuat senyum Glenca lenyap seketika. Gadis itu berbalik, memasang wajah tanpa ekspresi, jauh berbeda saat dia bersama Scar.

"Adeline sudah menunggumu," ujar Ethan dengan nada dingin.

"Baik, Tuan." Glenca mengangguk pelan dan tenang. Saat Ethan melangkah mendahuluinya, dia berbalik sejenak untuk melambaikan tangannya pada Scar. Setelah itu, dia melangkah cepat mengikuti Ethan menuju bangunan utama Mansion.

***

Adeline menatap Glenca dari atas hingga bawah kaki. Tatapannya tenang namun penuh selidik.

Ada satu tanda tanya besar, kenapa Glenca terlihat baik-baik saja? Bukankah harusnya dia memiliki banyak luka di tubuhnya? Tapi, melihat tubuh Glenca yang sedikit lebih kurus dari biasanya membuat Adeline berpikir, mungkin Ethan mengganti metode hukumannya.

Meski hatinya tetap merasa sesuatu yang tak beres, dia tetap berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak ada apa-apa antara Ethan dan Glenca.

"Nona, ada apa—"

Ucapan Julie seketika terhenti saat pintu yang ia dorong terbuka, menampilkan Ethan, Glenca, dan juga Adeline di sana. Matanya langsung tertuju pada Glenca yang berdiri tenang di hadapan Adeline.

"Kau tidak sopan, Julie," kata Adeline dingin.

"Maaf, Nona. Saya—"

"Aku harus pergi sekarang," ucap Ethan, ia menepuk pelan puncak kepala Adeline sambil tersenyum tipis, "orang ku, jangan sampai hilang di tanganmu," lanjutnya, lalu dengan tenang berbalik tanpa sedikitpun melirik ke arah Glenca maupun Julie yang berdiri di sisi kiri pintu.

Kepergian Ethan membuat ruangan itu terasa sedikit longgar. Adeline melangkah pelan, semakin dekat dengan posisi Glenca berdiri. Tangannya terangkat, mencengkram kedua pipi Glenca. Dia lalu memaksa melihat sisi kiri dan kanan wajah Glenca.

Rahang Adeline seketika mengeras saat melihat tanda merah yang mencuat sedikit dari kerah baju Glenca.

PLAK!!

Satu tamparan keras menghantam wajah Glenca. Wajah putih mulus itu seketika memerah dengan bekas tamparan. Sakit. Itulah yang Glenca rasakan. Tapi, dia tidak bisa melawan apalagi membalas. Dia tahu, dia juga salah.

"Dengar Glenca! Bahkan nyawamu tidak ada apa-apa nya dibandingkan barang-barang Ibuku! KENAPA KAU MERUSAKNYA SIALAN!!" Adeline berteriak keras di akhir kalimat. Wajahnya memerah, begitupun dengan air mata yang mulai menggenangi matanya.

"Kau merusak kenangan ku dengannya, jal*ng!!"

Glenca terus menunduk, menerima makian dan tuduhan dari Adeline. Tanpa Adeline maupun Julie tahu, Glenca diam-diam meneteskan air mata. Bukan karena tamparan, tapi karena ia teringat ayah, ibu, dan neneknya.

'Nyawamu sangat berarti, nak. Akan kami tukarkan semua hal-hal berharga, bahkan nyawa kami sendiri, asalkan kau baik-baik saja'.

Kalimat itu tiba-tiba saja terngiang di ingatannya.

"Apa kau tidak punya hati? Kau—"

"Sebelum mempertanyakan aku, apa kau tidak sadar kalau kau juga tidak punya hati?" Glenca bertanya dingin, memotong ucapan Adeline. Tatapannya penuh keberanian menatap Adeline. Merah matanya juga genangan air mata menambah kesan keberanian penuh amarah dalam diri Glenca.

"Kau berani memotong ucapanku?"

"Apa aku tidak boleh? Apa aku harus terus menunduk, membiarkan kau, Ethan, dan semua keluargamu menindas ku?" Suara Glenca tenang, namun kesan dinginnya tidak pernah hilang.

Adeline mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya. Glenca benar-benar membuatnya marah sekaligus terkejut. Gadis itu jauh lebih berani dari sebelumnya.

"Huh!" Adeline tersenyum mengejek. Ia maju selangkah, lalu menepuk pelan pipi Glenca. "Kau tahu? Saat kakimu menginjak Mansion ini, hidupmu sudah sepenuhnya menjadi milik kami. Kau tidak punya hak untuk memilih..." ucap Adeline setengah berbisik.

Adeline menarik nafasnya lalu menghembuskan pelan. Sambil melipat kedua tangannya di dada, Adeline kembali menatap Glenca dengan tatapan mengejek.

"Tuan Ethan memaksaku untuk melayaninya. Kami, sudah menghabiskan malam bersama beberapa kali."

Senyum Adeline seketika lenyap. Begitu juga dengan Julie yang mendengarnya.

"Cih! Sekarang kau baru memanggilnya Tuan? Perempuan licik! Aku yakin kau pasti menggodanya. Tapi, tidak masalah. Ethan mudah bosan. Kau akan dibuang setelah ia bosan. Apalagi Katty tiba hari ini," jawab Adeline santai meski hatinya diliputi rasa kesal. Dia tidak menyangka Ethan benar-benar tidur dengan Glenca.

"Aku ingin terlepas dari Tuan Ethan. Aku—"

"Kau hanya ingin terlepas dari hukuman. Tidak perlu banyak alasan. Ikut aku!"

Adeline berbalik dan berjalan keluar kamarnya. Akan ia bawa Glenca ke ruangan ibunya, membiarkan gadis itu menjalankan hukuman pertamanya disana.

Glenca menarik nafas panjang dan menghembus nya. Dia lalu berbalik untuk mengikuti Adeline. Namun, matanya justru tertuju pada Julie. Senyum tipis sedikit terukir samar di bibirnya. Dia mendekat ke arah Julie, lalu berhenti tepat di depan wanita itu.

"Kau dengar? Aku dan Ethan sudah berbagi kehangatan bersama. Aku tahu dia seorang yang mudah bosan. Tapi, waktu bisa mengubah segalanya. Jika kau tidak bergerak cepat, kau akan kehilangan Ethan. Janjimu, ku harap kau menepatinya secepat mungkin. Jika tidak, kau akan berada di bawahku dan kehilangan Ethan..." bisik Glenca, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Julie yang terdiam dengan penuh amarah.

Kenapa harus Glenca yang seberuntung itu tidur bersama Ethan? Dia juga ingin bersama Ethan.

"Glenca sialan!" gumamnya.

1
Mrs. Kan
Lanjut thor
Mia Camelia
ayooo eth, tangkep lagi glecha nya😔
Tevina Anggita: kapan upp nya kakk
total 1 replies
@Biru791
ayo dong upp
Mia Camelia
mendingan glencha di tangkap lagi deh🤣🤣🤣ethan nya udh ngliat nih🥰
Siti Zaid
Dengan susah payah nya glenca melarikan diri...kalau akhirnya dia kembali terkurung dan dihina juga sering kali dipukul oleh adeline...😠
Zahira Saskia
maaf mau tanya author ini up nya setiap hari kah? setiap up berapa episode?
terimakasih ❤️
Aquilaliza: Gak setiap hari kak🥺 kalau gak sibuk aku cukup rajin Up😊. Kalau sibuk ya wasalam😅😅 tunggu waktu luang😅🙏.
total 1 replies
Mia Camelia
itu serigala yg dimaksud julie kah ???
untung aja glecha bisa kabur 😄
Siti Zaid
Terima kasih author sudah update pagi..ditunggu terus lanjutan cerita nya..semoga saja glenca selamat dan hidup bahagia...🤭
Mia Camelia
ehm jdi gak rela klo glenca kabur😂😂😂
Siti Zaid
Author...terima kasih sudah update cerita nya..ditunggu terus lanjutan nya🤭
Mia Camelia
ayo thor up date lgi😄
ini glencha beneran mau kabur ?? aduh pasti klo ethan tau bisa ngamuk nih😂🤔
Mia Camelia
sering up date ya thor🥰🥰🥰
@Biru791
thour ayo dong rajin up nyaa nungguin nih
Siti Zaid
Terima kasih sudah update episode baru..👍ditunggu lanjutan terus ceritanya🤭
Siti Zaid
Terima kasih sudah update..ditunggu lanjutan ceritanya dengan sabarrr🤭👍😄
Aquilaliza: Hehehe... Makasih ya Kak😅
total 1 replies
@Biru791
kapan upppp
@Biru791
lama kali lah up nya
Siti Zaid
Terima kasih author..akhirnya update juga..walau pun lama menunggu😄semoga author dipermudahkan segala urusan..🤭
@Biru791
ihh kok gk up trss
Siti Zaid
Author...kenapa lama tak update sambungan ceritanya...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!