"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Hari berikutnya ...
Dexter sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Sementara Kiandra hari ini tidak bekerja. Karena dia ada sedikit urusan.
"Urusan apa sayang?" tanya Dexter setelah Kiandra mengatakan dia ada urusan.
"Hubby jangan marah ya, aku hendak ke markas. Selebihnya aku tidak perlu mengatakannya," jawab Kiandra.
"Mau main teka-teki ya? Jangan kira aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin di parkiran mall," ujar Dexter.
Kiandra membulatkan matanya. Tanpa sadar dia menarik dasi cukup kuat, sehingga Dexter pun merasa tercekik.
"Sayang, kau ingin membunuhku?" Bicara Dexter sedikit kurang jelas karena tercekik dasi.
Kiandra pun panik dan buru-buru mengendorkan dasinya. Kemudian dengan cepat meminta maaf.
"Maaf sayang, aku kaget karena kamu ternyata tahu semuanya," ucap Kiandra.
Dexter tersenyum. Kemudian mengecup kening Kiandra. Dexter mengatakan jika dia meretas cctv mall. Dari mulai parkiran bawah tanah, sampai ke dalam mall.
"Kalau begitu aku tidak bisa selingkuh dong," goda Kiandra.
"Adakah laki-laki yang lebih baik dari suami mu ini? Lebih tampan dan lebih segalanya," ujar Dexter memuji dirinya sendiri.
"Narsis," ucap Kiandra.
Kemudian keduanya pun keluar dari kamar. Mereka sarapan pagi terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas lain.
"Bikin apa Bu?" tanya Kiandra pada pengasuhnya.
"Hanya ini Nona," jawab Nisa sambil menghidangkan makanan di atas meja.
Kiandra mengangguk, ternyata pengasuhnya itu masih ingat makanan yang disukai Kiandra waktu kecil.
"Bubur?" tanya Dexter.
Kiandra mengangguk, kemudian dia menceritakan sedikit tentang kesukaannya waktu kecil.
Dexter pun akhirnya meminta semangkuk juga. Ketika mencicipinya sedikit, Dexter merasa bubur itu terasa enak.
"Enak?" tanya Kiandra. Dexter mengangguk, hingga tanpa sadar sudah menghabiskan semangkuk.
"Ada lagi Bu?" tanyanya.
"Ada Tuan," jawab Nisa.
Dexter meminta semangkuk lagi, Kiandra hanya tersenyum melihat suaminya makan dengan lahap.
Setelah menghabiskan dua mangkuk bubur, Dexter pun mengelus perutnya yang terasa kenyang.
Dexter menunggu Kiandra menghabiskan buburnya. Baru setelah itu dia pun berpamitan. Kiandra mengantar Dexter hingga dekat mobil.
"Aku berangkat, hati-hati, jangan sampai membunuh," kata Dexter.
"Aku ngerti kok," ucap Kiandra.
Dexter mengelus rambut Kiandra. Kemudian mengecup kening dan bibir Kiandra dengan cepat. Baru setelah itu Dexter masuk ke dalam mobil.
Kiandra melambaikan tangannya ketika mobil Dexter mulai bergerak. Kiandra pun masuk ke dalam rumah setelah mobil Dexter menghilang dari pandangannya.
Sementara di tempat lain ...
"Siapa kalian?" tanya Sisil.
Sepuluh orang anak buah Kiandra menerobos masuk ke rumah Sisil. Dua orang penjaga gerbang pun tidak berani melawan.
Melihat pistol di tangan mereka saja sudah membuat dua orang penjaga takut. Beberapa pelayan dan tukang kebun hanya mampu bersembunyi.
"Ehh, kalian mau apa?" tanya Sisil lagi.
Namun, para anak buah Kiandra tidak menjawab sepatah katapun. Dua orang langsung menyeret Sisil dengan paksa dan memasukkannya ke dalam mobil.
Sisil tidak mengenal mereka. Sisil awalnya mengira mereka adalah perampok. Tapi, tidak ada satupun barang yang mereka sentuh.
Bahkan ponsel milik Sisil pun mereka buang ke lantai hingga pecah. Tubuh Sisil gemetar ketika dua orang menghimpit nya di dalam mobil.
"Diam, atau pistol ini menembus kepalamu." Anak buah Kiandra berkata pelan. Tapi cukup membuat tubuh Sisil membeku di tempatnya.
Tiga buah mobil pun melaju setelah keluar dari pintu gerbang. Dua orang penjaga yang tadi sempat berjongkok karena ketakutan, sekarang bangkit dan langsung menelepon tuannya.
Ternyata salah satu pelayan juga menelepon tuannya memberitahu jika nyonya mereka diculik oleh orang yang tidak mereka kenal.
Sementara anak buah Kiandra langsung membawa Sisil ke markas mereka. Mata Sisil ditutup dengan kain hitam terlebih dahulu sebelum tiba di markas.
Salah satu dari mereka langsung menghubungi Kiandra dan mengatakan jika mereka sudah berhasil menculik Sisil.
"Halo Boss," kata anak buah Kiandra setelah telepon terhubung dan diangkat.
"Hmm, bagaimana?"
"Beres Boss, sekarang kami masih dalam perjalanan menuju markas."
"Baik, aku ke sana sekarang."
Kiandra langsung menutup teleponnya secara sepihak. Kemudian dia berganti pakaian dengan pakaian hitam ketat. Kemudian dilapisi dengan jaket kulit warna yang sama.
Tanpa berpamitan, Kiandra langsung pergi. Dia pikir suaminya juga sudah tahu dengan tujuannya. Lagipula suaminya saat ini sedang bekerja.
Tanpa Kiandra tahu, jika Dexter memasang kamera tersembunyi di rumah ini. Maka, setiap gerak-gerik Kiandra terpantau oleh Dexter.
Kiandra ngebut setelah keluar dari pintu gerbang. Dia menggunakan motor milik Dexter.
"Mau ke mana nyonya, Bu Nisa?" tanya Ara.
"Nggak tahu, nyonya orangnya misterius," jawab Nisa.
Semua pelayan dan penjaga di rumah ini tidak tahu kalau Kiandra seorang ketua dunia bawah. Karena Kiandra merahasiakan identitasnya.
Tidak berapa lama Kiandra pun tiba di markas. Anak buah Kiandra juga sudah tiba beberapa menit yang lalu.
"Boss." Anak buah Kiandra menunduk hormat ketika Kiandra masuk.
"Bagaimana?" tanya Kiandra.
"Dia ada di ruang bawah tanah," jawab Louis.
Louis berjalan berdampingan dengan Kiandra menuju ruang bawah tanah. Beberapa anak buahnya yang lain mengikuti dari belakang.
"Silakan Boss." Louis membuka pintu ruangan itu.
Kiandra pun masuk dan menuruni anak tangga. Tiba di ruang bawah tanah, terlihat Sisil sedang terikat dengan mata tertutup.
"Apa kabar Tante?" tanya Kiandra.
"K-kau? Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Sisil berusaha berontak, tapi tangan dan kakinya terikat pada kursi.
"Pernahkah Tante berpikir akan mengalami kejadian seperti ini?" tanya Kiandra lagi.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kalian menculik ku? Kalau mau uang, aku akan menghubungi suamiku," ujar Sisil.
"Tante sepertinya sudah lupa ya? Aku Kiandra Tante, seorang gadis desa yang Tante hina. Tante lupa, jika Tante sudah mengirim orang untuk membunuhku dengan dalih merampok," kata Kiandra.
Kiandra meminta anak buahnya untuk membuka penutup mata pada Sisil. Kemudian Kiandra meminta anak buahnya untuk membawa empat orang preman itu.
Sisil terkejut melihat keempat orang tersebut sudah babak belur dihajar oleh anak buah Kiandra.
"Siksa mereka, biar wanita tua ini melihatnya," kata Kiandra.
Anak buah Kiandra pun menyiksa keempat orang itu. Mereka menjerit-jerit kesakitan. Sisil pun tidak berani melihatnya. Tubuhnya gemetar ketakutan melihat kekejaman anak buah Kiandra.
"Itulah akibatnya jika berani berurusan denganku," kata Kiandra.
"Kiandra, ampun, ampunkan aku. Aku janji, aku janji tidak akan berurusan denganmu lagi," ucap Sisil memohon.
Kiandra meminta anak buahnya untuk menghentikan menyiksa keempat orang itu. Anak buah Kiandra pun berhenti, kemudian menyeret kembali keempatnya ke dalam tahanan.
Kiandra tersenyum kepada Sisil. Namun, senyuman Kiandra malah membuat Sisil ketakutan.
Sisil terus memohon untuk dilepaskan. Namun, Kiandra malah mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke Sisil.
"Bagaimana jika peluru di dalam sini aku lepas? Dor. Mati," ujar Kiandra.
Sisil gemetar ketakutan. Saking takutnya, dia sampai pipis di celana. Kiandra dan anak buahnya langsung menutup hidung karena tercium bau pesing.
sukses selalu buat KK nya 💪💪