Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.
Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.
Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.
Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Jejak di Dasar Jurang
*Gadis Bermata Hijau*
Para murid itu pun menyebar. Mereka menakar radius kemungkinan sejauh mana tubuh Sukma bisa mendarat jika melompat dari atas tebing.
Sangar Hentak dan istri, Gujara dan Joko Tingkir, ikut mencari dengan seksama.
“Sukmaaa!” teriak Gatri memanggil.
Tidak ada jawaban atau sahutan. Yang ada adalah para murid turut melakukan pemanggilan, termasuk Sangar Hentak sendiri.
“Sukmaaa!” teriak Sangar Hentak, sedikit mengandung tenaga dalam.
“Jokooo!” Joko Tingkir memulai pula memanggil nama sahabatnya.
Setelah setengah jam pencarian terpusat di area berumput tinggi dan berpohon besar itu, akhirnya ada hasil yang ditemukan.
“Guru!” teriak seorang murid cukup keras.
Mendengar panggilan itu, Sangar Hentak dan Gatri Yandana segera datang ke sumber panggilan dengan berlari.
Gujara dan Joko Tingkir juga mendatangi sumber panggilan. Demikian pula para murid yang mencari di area tersebut.
Apa yang mereka saksikan adalah serpihan-serpihan kayu dan bambu, termasuk bagian-bagian kecil roda kayu kereta kuda. Mereka juga menemukan potongan tubuh bangkai kuda yang hancur mengerikan. Namun, mereka tidak menemukan adanya tubuh manusia yang tergeletak atau hancur terpotong seperti kuda penarik kereta.
“Seharusnya keduanya jatuh di dekat sini juga,” kata Sangar Hentak.
“Pasti murid Ki Ageng Kunsa Pari punya sayap,” ucap Gatri penuh harap, meski ucapannya termasuk tidak masuk akal.
“Semoga saja,” kata suaminya, memilih membesarkan harapan istrinya, meski di dalam batinnya ia menilai harapan istrinya terlalu berlebihan.
“Kalian semua! Cari lagi dengan teliti!” teriak Gatri kepada para murid.
“Baik!” sahut beberapa murid.
Mereka kembali bergerak. Gatri juga bergerak mencari lagi. Sementara Sangar Hentak menghampiri Gujara.
“Apakah murid Ki Ageng itu memiliki ilmu bisa terbang?” tanya Sangar Hentak kepada Gujara.
“Setahuku tidak, hanya ilmu peringan tubuh biasa,” jawab Gujara.
Sangar Hentak hanya menghempaskan napas panjang.
“Namun, jika tubuh mereka tidak juga kita temukan, artinya kita masih punya harapan,” kata Gujara.
Belum lagi Sangar Hentak bergerak untuk melanjutkan pencarian, seorang muridnya datang menghadap.
“Guru, aku menemukan jejak harimau,” lapor sang murid.
“Di mana?” tanya Sangar Hentak.
“Di sana, Guru!”
Murid itu segera menuntun gurunya ke titik tempat ia menemukan jejak kaki harimau. Tak lama, mereka tiba di sebuah tanah yang agak basah yang tidak ditumbuhi rerumputan tinggi. Di tanah itu mereka melihat ada jejak seperti jejak kaki kucing, tetapi lebih besar.
“Guru! Di sini ada jejak!” teriak seorang murid lagi, agak jauh di sisi barat, lebih mendekat ke kaki tebing.
Sangar Hentak segera berkelebat ke tempat murid yang berteriak. Gujara dan Joko Tingkir segera berlari ke tempat yang sama.
Mereka menemukan dahan besar setebal paha orang dewasa yang tergeletak di dalam rerumputan. Dari bentuk potongan pangkal kayunya menandakan bahwa dahan itu patah.
Gujara melompat naik ke atas pohon dengan beberapa kali tolakan untuk mencapai posisi patahan dahan tersebut. Ia memperhatikan sejenak bekas patahannya, lalu melompat turun kembali dengan ilmu peringan tubuhnya.
“Patahannya karena terkena beban dari atas,” kata Gujara.
“Di sini ada bekas seretan, Kakang!” sahut Gatri kepada suaminya. Ia berdiri memperhatikan bekas rebahan rumput hingga garis seretan yang tercipta di tanah yang terlapisi daun-daun kering.
Sangar Hentak menghampiri istrinya. Satu gambaran ilustrasi sudah tercipta dalam benak Sangar Hentak. Demikian pula Gujara, ia pun telah mengambil dugaan sementara.
“Dari beberapa jejak dan bukti, aku menduga, tubuh Sukma jatuh menghantam dahan pohon, lalu jatuh. Entah tewas atau....”
Sangar Hentak menghentikan kata-katanya. Batinnya bergejolak, rasa kebapakannya keluar. Ia menahan tangisnya agar tidak keluar di depan istri dan para muridnya.
“Kemungkinan besar Sukma telah diseret pergi oleh harimau dan memangsanya,” kata Sangar Hentak akhirnya.
“Sukmaaa!” jerit Gatri histeris. Ia kembali menangis dengan membenamkan wajahnya ke dada suaminya.
“Aku juga menduga seperti itu,” kata Gujara pelan.
“Seharusnya ada darah, Paman!” celetuk Joko Tingkir sambil lebih dulu menutupi kepalanya dengan dua telapak tangannya.
Semua jadi memandang Joko Tingkir, termasuk Gatri yang menangis. Gatri segera menghentikan tangisnya dan menyeka air matanya. Dalam hati, orang-orang dewasa itu membenarkan kata-kata Joko Tingkir.
“Pasti terjadi sesuatu,” ucap Gujara lirih, tetapi masih terdengar di antara mereka.
“Cari lagi! Cari lagi! Periksa setiap jengkal area ini!” seru Sangar Hentak.
Namun setelah itu, mereka tidak menemukan jejak atau temuan baru lainnya.
“Ketua, sudah waktunya kita kembali agar tidak terjebak gelap,” kata seorang pemandu dari Desa Gempur Awan.
Sangar Hentak melihat ke arah matahari yang menyilaukan. Matahari sudah menukik ke barat. Berdasarkan lama perjalanan dari Desa Gempur Awan hingga ke tempat itu, mereka akan kemalaman di dasar jurang jika menunda perjalanan pulang.
“Rangkap Ulom! Pastikan semua murid di kelompok ini masih lengkap. Kita pulang sekarang. Beri tanda kepada kelompok lainnya!” perintah Sangar Hentak kepada salah satu murid utamanya.
“Baik, Guru!” sahut murid berbadan gemuk berotot. Ia segera melaksanakan perintah gurunya.
“Tapi Sukma belum ketemu, Kakang!” protes Gatri kepada suaminya.
“Besok pagi kita lanjutkan kembali pencarian. Saat ini waktu tidak memungkinkan,” kata Sangar Hentak, berusaha tetap memberi harapan kepada istri keduanya itu.
Mereka pun akhirnya berjalan pulang menuju Desa Gempur Awan.
Ctuarr!
Seorang murid di kelompok utama memberi tanda kepada kelompok dua dan tiga dengan cara melesatkan sinar hijau ke angkasa seperti kembang api. Ketika sinar hijau itu meledak di puncak lesatannya, suara yang ditimbulkan sangat nyaring.
Tanda itu dapat didengar oleh dua kelompok lainnya. Dua kelompok itu segera bergerak dan menyatukan diri dengan kelompok utama setelah memastikan jumlah personelnya lengkap.
“Bagaimana hasil dari pencarian Ayah?” tanya Jaga Manta saat bergabung kembali dengan rombongan ayahnya.
“Kita menemukan bangkai kereta kudanya dan jejak, tetapi tidak menemukan adikmu dan Joko Tenang yang berupaya menolongnya,” jawab Sangar Hentak kecewa.
“Siapa Joko Tenang itu, Ayah?” tanya Lirik Layangati.
“Murid tokoh sakti Ki Ageng Kunsa Pari. Dia turut terjun ke dalam jurang demi menolong adikmu,” kata sang ayah.
Kedua kakak dan adik itu sejenak terdiam mendengar jawaban ayah mereka. Kening keduanya mengerut, seolah berpikir keras.
“Aku tidak bisa mencerna, bagaimana bisa ada orang yang ikut terjun demi menolong orang yang jatuh ke jurang?” kata Lirik Layangati.
“Entahlah. Tapi jelasnya, kita belum menemukan mayat adikmu dan Joko Tenang,” kata Sangar Hentak.
“Artinya, besok kita masih melakukan pencarian?” terka Jaga Manta.
“Benar, meski kita hanya berharap pada keajaiban,” kata Sangar Hentak lagi.
Tepat waktu matahari tenggelam separuh wujud di barat, mereka tiba di Desa Gempur Awan.
Namun, di Desa Gempur Awan, Sangar Hentak dan murid-muridnya justru mendapat kabar mengejutkan.
Seorang murid yang baru datang dari perguruan datang melapor.
“Ada apa, Wono Akeh?” tanya Sangar Hentak saat melihat kedatangan muridnya yang ia ketahui seharusnya berada di perguruan.
“Lapor, Guru!” kata murid lelaki yang bernama Wono Akeh. Wajahnya tegang, seolah laporan yang dibawanya begitu genting. “Ada dua pendekar persilatan datang ke perguruan dan membuat onar. Sepuluh murid kita mereka bunuh!”
“Apa?!” kejut Sangar Hentak. Seketika emosinya memuncak, wajahnya menegang dengan sorot mata yang tajam dan memerah.
Kabar dibunuhnya sepuluh murid perguruan membuat para murid yang mendengar laporan itu berubah memendam kemarahan dan dendam.
“Bagaimana dengan Ibu, Wono Akeh?” tanya Jaga Manta cepat sambil menghampiri murid utusan itu. Ia cemas.
“Ibu Guru Pertama terluka melawan mereka,” jawab Wono Akeh.
“Apa?!” kejut Sangar Hentak lagi. “Mereka bisa mengalahkan Ibu Guru Pertama kalian?”
Semua orang Perguruan Tiga Tapak tahu bahwa setelah Ketua Sangar Hentak, istri pertama Ketua adalah orang tersakti nomor dua di perguruan. Jika istri pertama ketua perguruan sampai terluka, berarti dua pendekar yang datang menyerang perguruan memiliki kesaktian tidak rendah.
“Siapa mereka yang berani bertaruh nyawa terhadapku?!” tanya Sangar Hentak dengan membentak. Belum selesai masalah hilangnya Kerling Sukma, kini muncul masalah serius baru yang menyulut emosi dan dendam.
“Mereka mengaku bernama Pendekar Golok Hancur dan Siluman Angin Batu,” jawab Wono Akeh.
Sangar Hentak terdiam dengan wajah menegang.
“Kakang, mereka bukan pendekar sembarangan,” kata Gatri Yandana yang mengetahui siapa adanya dua nama yang disebutkan.
“Ayah, aku pulang lebih dulu untuk melihat kondisi Ibu!” kata Jaga Manta lalu berlari kencang menuju tempat kuda ditempatkan.
“Kita kembali ke perguruan!” seru Sangar Hentak kepada seluruh muridnya. (RH)