Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Reza baru saja pulang dari kantor pukul setengah sepuluh malam. Pekerjaan yang menumpuk membuat matanya menjadi lelah. Ia meminta Todi untuk mengantarkannya kembali ke hotel.
Namun, entah kenapa tiba-tiba ia teringat pada Amara. Biasanya gadis itu belum pulang dari toko bunga pada jam segini. Mungkin saja kali ini ia cukup beruntung bisa mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya.
"Todi, putar balik sekarang!" perintahnya pada asistennya itu.
"Putar balik kemana, tuan?" ia tampak kebingungan.
Mau kemana lagi dia malam-malam begini? Aku mau tidur. Pria berkacamata itu mengeluh dalam hatinya.
"Ke toko bunga." jawabnya singkat yang seketika dimengerti oleh Todi.
"Baik, tuan!" ucapnya patuh.
Untungnya kondisi jalanan malam ini tidak terlalu padat. Mobil itu melenggang dengan mulus tanpa hambatan sedikitpun. Todi sengaja meningkatkan kecepatan laju mobil agar segera tiba di toko bunga itu.
"Kita sudah tiba, Tuan." ucapnya pada Reza.
Namun tidak ada jawaban darinya. Todi melepaskan sabuk pengaman dan menoleh ke belakang.
Pria itu sedang tidur ternyata.
"Tuan! Kita sudah tiba, Tuan." ia sedikit menaikkan volume suaranya.
"Hah!" ia tersentak dan bangun seketika. "Kita sudah tiba?" tanyanya memastikan.
"Sudah, tuan." jawabnya.
"Baiklah, aku akan turun." baru saja Reza berniat untuk membuka pintu mobil, ia melihat Amara keluar bersama dua orang wanita lainnya.
Reza tiba-tiba mengurungkan niatnya ketika melihat kedatangan seorang pria yang menggunakan sepeda motornya. Jika dilihat dari papan nama yang tertempel di sepeda motor tersebut, kemungkinan besar pria itu juga bekerja di sana.
"Tuan tidak jadi turun?" tanya Todi bingung melihat atasannya itu bergeming di tempat duduknya.
Ekspresi wajahnya tampak ragu. Ia hanya cemas jika Amara mungkin akan menolak ajakannya untuk pulang.
Di saat ia sedang berperang dengan pikirannya sendiri, Amara telah lebih dulu pergi dengan pria itu menaiki sepeda motornya.
"Tuan! Nona Amara —" kalimat Todi menggantung di udara.
"Kenapa kau malah melamun? Cepat ikutin mereka!" perintahnya tak sabaran setelah sadar dengan kepergian Amara.
Todi seketika menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gas. Ia langsung pergi dengan kecepatan tinggi.
"Apa yang kau lakukan? Kau mau bunuh diri? Pelan-pelan saja!" tegur Reza kesal karena melihat cara mengemudi Todi yang kebut-kebutan di jalan raya.
"Maaf, tuan! Saya takut kehilangan jejak mereka. Pria itu membawa sepeda motornya sangat cepat, bahkan ia bisa menyalip kendaraan lain dengan mudahnya." jelas Todi memperlambat laju mobilnya.
Mobil itu berjalan dengan kecepatan rata-rata. Untung saja mereka masih sempat mengejarnya.
Sepeda motor itu berhenti di depan warung bakso. Amara dan pria itu turun dari sepeda motor dan duduk di kursi paling depan.
Reza memutuskan untuk mengawasi mereka dari dalam mobilnya saja. Ia tidak mengenal pria itu. Apalagi pria itu duduk membelakanginya. Sehingga ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Apa kau mengenal pria itu?" tanyanya pada Todi.
"Hmm... tidak, Tuan! Saya tidak bisa melihat wajahnya. Jadi saya tidak bisa memastikannya." jelas Todi bingung.
"Dasar tidak berguna. Kemarin aku 'kan menyuruhmu untuk mencari tahu tentang kehidupan pribadinya. Apa pria itu tak ada dalam laporanmu?" Reza mengerutkan keningnya karena kesal.
Todi tampak mengingat-ingat isi laporannya. Hanya ada nama dua pria yang ia tahu. Randi dan juga adik iparnya. Selebihnya tidak ada lagi.
"Tidak ada?" tanya Reza menuntutnya.
"Selain mantan suaminya, ia juga dekat dengan adik ipar lelakinya, Tuan. Anak itu baru saja lulus sekolah menengah atas, Tuan." jelas Todi.
"Apa mungkin dia adik iparnya? Tapi pria itu tidak terlihat lebih muda darinya. Apalagi tinggi badan dan masa ototnya yang hampir setara denganku." ia tampak menduga-duga.
Otot wajahnya seketika menegang — bibirnya terkatup rapat dengan tatapan matanya yang tajam. Seakan bisa membelah apa saja yang berhasil ditangkap oleh matanya.
Todi seketika menyadari perubahan ekspresi wajah atasannya itu. Itu adalah ekspresi kemarahan.
"A-apa saya perlu mencari tahu informasi tentang pria itu, Tuan?" tanyanya.
Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya diam membisu menatap sepasang manusia yang sedang asyik bercengkrama dengan bahagia.
Amara bahkan tidak pernah tersenyum lebar ketika sedang bersamanya. Tetapi, ia bahkan bisa tertawa lepas bersama pria itu.
"Kita kembali saja ke hotel." ia menyerah dan membiarkan Amara.
"Baik, Tuan." Todi melajukan mobilnya menuju hotel.
...****************...
Sementara itu, Wahyu mengantarkan Amara pulang setelah selesai makan.
"Kalian baru pulang?" tanya Nina yang baru saja keluar dari rumah setelah mendengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumahnya.
"Iya, Bu! Kami mampir ke warung bakso dulu sebelum pulang. Amara juga membelikan bakso untuk ibu." jelas Amara sambil menunjukkan bungkusan plastik yang dibawanya.
"Ibu masih kenyang. Simpan saja di kulkas untuk sarapan besok pagi." ucap Nina.
"Iya, sudah." ucap Amara.
"Aku pamit pulang ya, Bu. Sudah terlalu malam." pamit Wahyu sambil salim pada Nina.
"Iya, Nak. Hati-hati bawa sepeda motornya. Jangan kebut-kebutan di jalan." pesannya.
"Iya, Bu." sahutnya.
Pria itu lalu pulang ke kos-kosannya yang tidak terlalu jauh dari rumah Amara.
Amara dan ibunya lalu masuk ke dalam rumah.
***
Amara baru saja selesai mandi. Ia tampak mengeringkan rambutnya yang basah. Wajahnya kini tampak jauh lebih segar. Ia duduk di depan meja rias—menatap cermin yang memantulkan bayangan wajahnya.
Tiba-tiba saja wajah Reza terlintas dalam pikirannya.
"Apa perkataan ku tadi terlalu kasar padanya?" gumamnya merasa bersalah.
Ia mengambil sisir— merapikan rambut panjangnya yang kusut. Ia menatap cermin dalam-dalam, namun pikirannya tidak berada di sana.
Pikirannya jauh berlari kembali ke masa lalu. Masa dimana ia akhirnya tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan Reza secara sepihak.
"Haa... Itu sudah lama sekali. Apa mungkin dia masih menyimpan rasa padaku?" ia menghela nafas panjang.
"Itu tidak mungkin terjadi." gumamnya mengakhiri pikirannya sendiri.
...****************...
Beberapa hari kemudian...
Seorang anak laki-laki berlari-lari di halaman belakang griya lansia sambil membawa pistol airnya. Anak laki-laki itu menembaki pohon-pohon dan juga tanaman-tanaman lainnya yang ia jumpai di sana.
Anak laki-laki itu bertubuh tinggi — sedikit berisi dan memakai kacamata baca. Ia tampak senang karena selalu tertawa setelah berhasil menembakkan pistol airnya itu kemana-mana.
Pandangannya tiba-tiba teralihkan pada seprai-seprai yang menggantung di sepanjang tali jemuran. Juga pada seorang wanita dewasa yang sedang menjemur di sana.
Pikiran jahilnya tiba-tiba menemukan sebuah ide yang menurutnya sangat menyenangkan.
Ia berlari dan bersembunyi di balik salah satu seprai, bermaksud untuk mengejutkannya.
Wanita itu seketika merasakan perasaan yang aneh. Ia merasa ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik seprai-seprai tersebut.
Perasaan aneh yang terasa begitu familiar. Seakan ia pernah mengalami hal ini sebelumnya.
"Siapa di sana?" tanya wanita itu penasaran.
Anak laki-laki itu hanya terkekeh di balik persembunyiannya melihat raut wajah wanita itu yang tampak kebingungan.
Anak laki-laki itu telah bersiap keluar untuk mengejutkannya. Namun, yang tidak ia duga, justru wanita itu diam-diam telah berdiri di belakangnya.
"Ketahuan!" serunya mengagetkan anak laki-laki itu hingga membuatnya tersentak.
Ia memegang dada kirinya karena terkejut. Seakan jantungnya hendak melompat paksa keluar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya wanita itu penuh selidik.
"Aku hanya... Hmm..." ia menembakkan pistol air itu ke wajah wanita itu.
Wanita itu menyeka wajahnya yang basah. Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan kemarahan sedikitpun. Hanya terkejut karena mendapatkan serangan tiba-tiba.
Ia berdiri tegak sambil berkacak pinggang. Menatap anak laki-laki itu tajam.
"Siapa namamu, anak kecil?" tanyanya.
"Ibu mengatakan jika aku tidak boleh memberitahukan namaku pada orang yang tidak dikenal." jawabnya.
Wanita itu terkekeh. "Apa ibumu juga mengatakan bahwa kau boleh menjahili orang yang tidak kau kenal?" tanyanya balik.
Anak laki-laki itu hanya cengengesan. Ia menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau menjahiliku? Kau terlihat seperti anak yang pintar. Kau pasti tahu 'kan, kalau menjahili orang lain itu adalah perbuatan yang tidak baik."
Anak laki-laki itu mengangguk.
"Kalau begitu kenapa kau menjahiliku?" tanyanya lagi sambil mengusap kepalan anak laki-laki itu.
"Aku... minta maaf, Bi. Aku hanya iseng karena merasa bosan." pintanya sambil menunduk malu.
"Baiklah. Kali ini bibi akan memaafkan mu. Lain kali kau tidak boleh melakukan hal itu pada orang lain lagi, mengerti?"
" Iya, bibi!"
"Anak pintar. Sekarang apa kau sudah bisa memberitahukan namamu pada bibi?"
"Hmm... Bibi harus memperkenalkan nama bibi terlebih dahulu." ucapnya.
"Baiklah. Nama bibi — Amara. Siapa namamu?"
"Bobby Ray Nalendra." jawabnya.
"Nama yang bagus. Apa kau kesini untuk mengunjungi nenekmu?"
"Iya."
"Siapa namanya?"
"Nenek Laura."
"Ah, jadi kau cucunya nyonya Laura? Apa Nyonya Laura tahu kau berada di sini?" Amara bertanya lagi.
Bobby menggelengkan kepalanya lagi. "Bagaimana Bibi bisa mengenal nenek?" tanyanya bingung.
"Tentu saja bibi mengenalnya. Bibi 'kan kerja di sini. Ayo! Bibi akan mengantar mu kembali menemui nenekmu. Dia pasti sedang kebingungan mencari mu saat ini." ajaknya sambil menggandeng tangannya.
"Iya, baiklah!"
Anak itu tampak pasrah mengikutinya.
Mereka mencari Nyonya Laura di taman, sesuai dengan perkataan Bobby padanya. Di sana, Nyonya Laura dan seorang wanita cantik berambut pendek tampak sedang memarahi seorang wanita lainnya yang memakai seragam khas seorang pengasuh.
"Nenek! Bibi!" Bobby melepaskan gandengan tangan Amara dan berlari menuju mereka berdua.
"Bobby! Kau darimana saja. Kami kebingungan mencarimu dari tadi." ucap wanita berambut pendek itu tampak cemas.
"Aku bermain bersama bibi itu." Bobby menunjuk ke arah Amara.
Amara tertegun seketika melihat wanita berambut pendek tersebut. Begitu juga dengan wanita itu. Keduanya saling menatap satu sama lainnya. Dalam ekspresi wajah yang tak bisa di jelaskan.
...****************...