Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Efek dari mencoba pakaian yang dulu selalu dia pakai, ternyata menimbulkan sensasi rasa percaya dirinya meningkat.
Laki-laki itu adalah tuan Andi, yang sedang mencoba memakai kembali pakaian kerjanya dulu. Tuan Andi telah memutuskan akan kembali ke dunia bisnis, dunia kuliner yang membuatnya diperhitungkan sebagai pengusaha muda yang sukses, sebelum kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.
Selama sakit, restoran miliknya di awasi oleh pengacara kepercayaannya dan juga bu Lina. Meskipun bu Lina hanya lulusan SMA, namun cukup pintar menjalankan bisnis, terbukti dalam pengelolaannya, restoran milik tuan Andi kondisinya stabil.
Tanpa pertolongan bu Lina, mungkin hidup tuan Andi sudah berakhir sejak pengkhianatan dua orang yang sangat dia percayai dan sayangi.
Tuan Andi sudah menghubungi pengacaranya, berkonsultasi tentang langkah-langkah yang harus di ambilnya. Rencananya nanti saat Yuda kembali, tuan Andi akan memperkenalkan mereka berdua.
Tuan Andi berharap, semoga Yuda bisa menjadi orang kepercayaannya. Jika dilihat selama sebulan ini merawatnya, Yuda bukan tipe orang yang gila akan harta.
Harta yang dimiliki tuan Andi, menjadi tujuan dua orang yang dulu sangat dipercayainya tega berkhianat, bahkan merencanakan pembunuhan yang keji pada tuan Andi.
Setelah lebih dari tiga tahun menghilang, kini saatnya dia membuktikan bahwa dia bisa bangkit dan meminta maaf pada kedua orang tuanya, menyesal tak menuruti semua nasihat mereka.
¤¤FH¤¤
Yuda sedang duduk di ruang depan, menunggu Afifah yang sedang mencuci piring. Tadi Afifah meminta Yuda menunggunya, karena akan membicarakan hal yang penting.
Yuda penasaran dengan yang akan istrinya bicarakan, tapi lebih baik menunggu sejenak.
Dari dapur, Afifah masuk ke kamarnya, untuk mengambil sesuatu yang akan dia perlihatkan pada suaminya.
Afifah duduk di samping Yuda, dan menyodorkan sebuah amplop.
"Apa ini dek?" Yuda mengambil amplop yang di sodorkan istrinya, dan langsung membukanya.
"Serius ini dek?" Yuda menyodorkan stik testpack yang menunjukan dua garis merah. Yuda mengetahui testpack dan kegunaannya, karena sebelum ini, Afifah sering menunjukan batang stik testpack dengan raut wajah sedih karena masih tetap garis merah satu.
Afifah hanya mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Yuda.
"Alhamdulillah, ya Alloh." Yuda langsung sujud, sebagai tanda syukur kepada Alloh. Penantian mereka berdua selama dua tahun lebih terkabulkan.
Yuda langsung memeluk istrinya. Kemudian memegang perut Afifah yang masih tampak rata.
"Sudah berapa bulan dek?"
"Perkiraan bidan, masuk dua bulan."
"Adek sudah diperiksa?"
"Sudah, mas. Minggu lalu di antar mamah."
"Nanti kalau ke kota, kita periksa lagi ke dokter kandungan ya, biar bisa d USG."
"Iya, mas."
Afifah lalu menceritakan jika sebelum mengetahui dirinya hamil, dia tak mau makan nasi, maunya makan yang asem-asem. Lalu saat ibu Sri main ke rumah, melihat Afifah yang malas makan, ibu Sri menyarankan agar diperiksa bidan, menurut ibu keadaan Afifah seperti tanda-tanda wanita hamil.
"Adek suka mual- muntah nggak?"
"Sama bu bidan, diberi resep obat anti mual, sejak itu mualnya berkurang dan selera makan adek agak lumayan, meskipun tetep nggak mau makan nasi, mas."
"Makan apa aja yang bisa masuk, asal tetep makanan yang bergizi."
"Iya, mas. Mamah sama ibu juga bilangnya gitu, nasi bisa di ganti dengan sumber karbohidrat yang lain."
"Adek lagi pengen makan sesuatu, nggak?"
"Nggak, mas"
"Kalau diingat-ingat, kayanya mual-mual mas, terus pengen makan ini itu, ngidam gantiin adek deh. Bukan karena asam lambung yang naik."
"Lucu ya, adek yang hamil, tapi mas yang ngidamnya."
"Nggak apa-apa, mas tak keberatan menggantikan ngidamnya adek, biar ikut merasakan beratnya masa kehamilan. Pantes aja ya, pipi adek semakin chubby, badannya juga lebih berisi."
Mendengar itu hanya tertawa, karena menyadari belakangan ini dia sering lapar.
Perasaan keduanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena terlalu bahagia, dengan anugrah yang dinantikan mereka selama dua tahun ini.
Perasaan Afifah sedikit lega sudah mengatakan berita kehamilannya pada Yuda. Tinggal satu lagi, yang harus dia bicarakan. Masalah Nindi.
¤¤FH¤¤
Semenjak melihat seseorang yang mirip dengan Yuda, Nindi jadi memikirkannya terus. Jadilah setelah makan siang tadi, fokus Nindi terpecah, Nindi tak bisa konsentrasi menyelesaikan laporan-laporannya.
Bahkan beberapa kali di senggol teman sebelah kubikelnya, karena Nindi kedapatan melamun. Nindi sangat yakin jika yang tadi melintas dengan motor itu Yuda. Nindi penasaran, kenapa Yuda bisa berada di daerah sekitar tempat dia bekerja, apa mungkin Yuda bekerja di sekitar daerah sini. Nindi harus mencari tahu.
Sejak kebohongannya kemarin terbongkar, Nindi tak berani lagi mengintai rumai Yuda. Walaupun tak jadi dilakukan pemeriksaan dokter, keberadaan mantan suaminya yang sangat membencinya di sana, sudah pasti dia akan mengatakan yang selama ini Nindi tutupi, dan kepergiaannya dari klinik makin menguatkan kebohongannya.
Nindi masih mengharapkan Yuda, namun kali ini dia tak boleh sembarangan bertindak. Hampir setiap hari, Nindi selalu mencoba menghubungi Yuda dan Afifah, tapi nomor keduanya masih tetap tak bisa dihubungi.
Nindi merasa setelah kemalangan yang dirasakannya, dia juga berhak untuk bahagia, dan kebahagiaannya ada pada Yuda.
Hingga waktunya pulang, Nindi belum menyelesaikan pekerjaannya, karena kebanyakan melamun. Dengan terpaksa Nindi harus lembur, karena laporan yang dikerjakannya, harus diserahkan pagi hari keesokan hari.
Teman-teman kerja Nindi hampir semuanya sudah pulang. Nindi berusaha Fokus agar kerjaannya segera selesai, dan dia bisa pulang.
Hampir tiga jam Nindi menyelesaikan laporannya. Nindi memutuskan untuk menyimpan saja dulu datanya di flashdisk, dan besok dia akan mengeprintnya.
Nindi membereskan mejanya, lalu melangkah ke arah lift. Nindi bekerja di lantai empat, sedang lift masih dilantai tujuh. Saat Nindi akan masuk ke dalam lift, di sana sudah ada seorang laki-laki. Nindi langsung masuk dan memilih berdiri dibelakang laki-laki tersebut. Dari belakang, Nindi bebas memperhatikan laki-laki di depannya. Tinggi dengan bobot tubuh yang proporsional, sekilas Nindi melihat wajah laki-laki di depannya, cukup menarik.
Nindi berfikir sepertinya, laki-laki dihadapannya masuk dari lantai tujuh, karena lift berhenti disana cukup lama. Lantai tujuh merupakan ruang kerja para kepala departemen. Apa dia termasuk salah satu kepala departemen di sini? Tapi Nindi merasa belum pernah melihatnya.
¤¤FH¤¤
Hari sudah beranjak malam, setelah shalat isya dan makan malam, mamah Ajeng langsung masuk kamar, mau istirahat lebih awal, padahal ingin memberi kesempatan untuk anak dan menantunya berdua saja.
Afifah dan Yuda memilih masuk kamar, berbincang di atas tempat tidur seperti kebiasaan mereka dulu, 'pillow talk' sebelum tidur.
Afifah merasa ini waktu yang tepat untuk mengatakan tentang kepergiaannya kemarin ke kota.
"Mas, Fifah mau minta maaf. Sebenarnya kemarin adek dan mamah pergi ke kota, bukan karen mengantar mamah belanja."
"Sebenarnya, mas juga merasa aneh. Setahu mas, mamah tak begitu suka belanja dan keramaian."
"Iya, mas. Maaf Fifah terpaksa berbohong, karena tak ingin mas kepikiran di tempat kerja."
"Memangnya ada apa?"
"Fifah menemui mbak Nindi."
"Nindi? memang ada apa dengan Nindi?"
Afifah lalu menceritakan jika ibu-ibu sekitar rumah mereka, yang dulu belajar mengaji bersama Afifah mengirim pesan padanya, jika ada seorang wanita yang sering terlihat memperhatikan rumah mereka. Saat Afifah menanyakan ciri-ciri wanita tersebut, mengarah pada mba Nindi.
Lalu beberapa hari setelahnya, pak Arif menelepon Afifah, jika ada seorang wanita mengaku dihamili oleh suaminya. Mulanya pak Arif menemui wanita itu bermaksud menanyakan alasan wanita itu sering terlihat memperhatikan rumah Yuda, tapi mendapat pengakuan seperti itu, pak Arif kaget dan menelepon Afifah untuk menanyakan kebenarannya.
Yuda sangat terkejut mendengar Nindi mengaku-ngaku dihamili olehnya. Geram dengan kelakuan Nindi yang makin menjadi sampai memfitnah dirinya.
"Sebenarnya, pak Arif sudah berusaha menelepon mas Yuda, tapi nomor, mas nggak aktip."
"Mas ingat, sekitar seminggu yang lalu, memang ada notifikasi jika pak Arif menelepon, tapi saat dihubungi kembali, pak Arif hanya bilang ada yang berniat mengontrak rumah kita, tapi nggak jadi."
"Itu karena Afifah yang melarang, pak Arif untuk mengatakan tentang Nindi pada, mas. Afifah nggak ingin mengganggu pekerjaan, mas."
"Lalu bagaimana sekarang? Adek percayakan, mas nggak mungkin melakukan hal seperti itu."
BERSAMBUNG
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.