Jangan lupa like dan vote ya, meskipun sudah end.
Sepasang manusia yang tak kunjung menikah diusianya yang sudah matang. Reuni menjadi awal mula kisah cinta mereka yang lika-liku. Kisah asmara yang dibumbui dengan konflik batin.
Bagaimana kisah cinta mereka? Ayo baca dan nikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Irvianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondangan
Dres berlengan pendek dan ukuran panjang dres selutut sudah melekat di tubuh Lolita. Malam ini, sesuai janjinya Eric menjemput kembali dirinya untuk pergi kondangan di pernikahan Chandra.
"Mata kamu masih sedikit membengkak." Eric menggandeng Lolita masuk ke dalam mobil.
Padahal Lolita sudah berusaha menutupi bekas tangisnya dengan make-up. Namun, matanya tidak bisa dibohongi, matanya masih sedikit membengkak.
Saat mereka sudah sampai di gedung pernikahan Chandra dan Terra. Para tamu undangan juga sudah banyak yang hadir. Eric mengambilkan minuman untuk Lolita dan dirinya, mereka berdiri dikerumunan para tamu undangan.
Di sana banyak rekan-rekan kerja Lolita, di tengah keramaian pak Hadi muncul di depan mereka. Chandra mengundang pak Hadi sebagai tamu undangan spesial.
"Pak Eric," sapanya mengulurkan tangan.
Eric menyambut uluran tangan bos Lolita. Eric juga menggenggam mesra tangan Lolita dengan tangan kirinya. Dia sedikit menarik tubuh Lolita ke belakang dengan genggamannya, saat pak Hadi menjulurkan tangannya ke depan Lolita.
"Kamu jangan sampai, jadi istri ketiganya," bisik Eric tepat di telinga Lolita. Hal itu, membuat Lolita tertawa kecil.
Bukan rahasia umum lagi, jika pak Hadi sudah memiliki dua orang istri. Lelaki playboy di masa mudanya itu, bertekad berhenti dari kenakalannya setelah memiliki dua istri.
"Kamu berduaan dulu sama pak Hadi, Aku ke sana dulu," bisik Lolita sambil menunjuk Dea yang tengah berdiri dengan lelaki yang memiliki tubuh tegap.
"Pak saya pamit pergi dulu." Lolita pergi meninggalkan Eric dan bosnya.
Lolita Pergi meninggalkan kedua pria dewasa itu. Dia mendekati Dea yang lagi bersama sepupunya yang ia ceritakan siang tadi. Dea menyadari kedatangan Lolita, mereka cipika-cipika. Dea juga memperkenalkan Lolita ke sepupunya.
"Kemal." Lelaki itu mengulurkan tangannya di depan Lolita.
"Lolita." Lolita menyambutnya tanpa sungkan.
Mereka bertiga mengobrol tanpa canggung. Meskipun, Kemal dan Lolita baru bertemu. Kemal ternyata bekerja sebagai tour guide di Bali, kemampuan bahasa asingnya tidak bisa diragukan. Dia bukan lagi bilinguage, tetapi multilinguage.
Hidung mancung dan rahang yang kokoh dimiliki oleh Kemal. Hal itu, menjadi daya tarik tersendiri, belum lagi kharismanya yang begitu pekat. Siapa yang akan berpaling jika bertemu dengan lelaki seperti Kemal. Namun, realitanya dia masih betah menjomblo diusia yang terbilang sudah dewasa.
"Aku beneran masih single," ujarnya saat disinggung Lolita tentang pasangan.
"Aku enggak percaya." Lolita mengangkat kedua bahunya acuh.
"Susah cari perempuan seperti, Kamu." Kemal mengedipkan salah satu matanya.
"Cih, playboy akan selalu mengatakan single, kalau di dekat wanita cantik." Dea nampak jengah melihat kelakuan sepupu dan sahabatnya itu.
"Sudah! Nanti ada yang panas." Dea melihat Eric mendekat ke arah mereka.
Eric sudah berdiri tepat di samping Lolita. Pria itu, memeluk pinggang Lolita posesif. Dia ingin memberi isyarat kepada lelaki dihadapannya, bahwa Lolita adalah kekasihnya.
"E...eric." Lolita terlihat gugup saat mengetahui Eric sudah ada di sampingnya dan memeluk dirinya.
"Ngobrolnya sudah? Saya ada kerjaan di rumah malam ini," ujarnya yang masih memeluk Lolita. Eric melihat ke arah mata sepupu Dea dengan mata penuh kemenangan.
"Ternyata sudah ada pawangnya, ya." Kemal masih menatap tajam mata Eric.
Merasakan aura yang tidak enak, Lolita pamit pergi dari Dea dan sepupunya. Perempuan itu, menarik tangan Eric kesal.
"Kamu cemburu sama Kemal?" omel Lolita.
Eric menghentikan tarikan tangan Lolita tiba-tiba. Kali ini, mereka berdiri saling berhadapan.
"Jadi, sudah sempat berkenalan juga." Eric memicingkan matanya tajam sambil memiringkan kepalanya.
"Dia tipe aku banget." Hati Eric tambah memanas.
"LITA!" geramnya.
Lolita pergi meninggalkan Eric begitu saja. Dia menuju ke kursi pelaminan Chandra dan Terra yang diikuti oleh Eric. Kekesalan Eric bertambah saat sadar kalau Lolita akan bertemu mantan kekasihnya di kursi pelaminannya. Eric buru-buru memeluk pinggang Lolita. Hal itu, membuat Lolita tersenyum gemas.
Mereka sudah sampai di hadapan kedua mempelai. Lolita mengulurkan tangan ke Terra dan cipika-cipiki, Lolita juga mengucapkan selamat atas pernikahannya.
"Selamat Chan," ujar Lolita yang hanya menjabat tangan Chandra, demi menjaga perasaan Terra. Eric juga menyalami mereka dan mengucapkan selamat untuk kedua mempelai.
Eric dan Lolita pergi dari gedung tersebut dan menuju ke tempat parkir. Di perjalanan Eric masih diam, Lolita juga masih diam sambil memainkan ponselnya.
Tiba-tiba cacing di perut Lolita bunyi karena dia tidak makan diresepsi pernikahan Chandra. Eric yang mendengarkan hal itu, hanya diam. Namun, dia berinisiatif mencari tempat makan untuk Lolita. Dia berhenti di pinggir jalan, saat melihat ada penjual nasi goreng.
"Kok berhenti?" tanya Lolita yang masih memegang ponselnya.
Eric tidak menjawab Dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Lolita.
"Perut Kamu butuh asupan." Eric berjalan ke arah penjual nasi goreng.
Lolita mencibirkan bibirnya. Diam-diam, Lolita mengulumkan senyumnya. Dia pikir, Eric tidak mendengar suara cacing di perutnya tadi. Ternyata, dia hanya ingin mencoba menjadi cowok romantis.
Eric memesan satu porsi nasi goreng. Kemudian, dia duduk di kursi plastik yang di sediakan oleh penjual nasi goreng tersebut.
"Kok cuma satu?" tanya Lolita.
"Aku tidak bawa uang lebih," bisiknya.
Lolita memanyunkan kedua bibirnya. Dia kesal dengan Eric yang gengsinya melebihi langit. "Bilang saja, kalau mau satu piring berdua," batinnya.
"Mau kemana?" cegah Lolita.
"beli minum," jawabnya.
Eric berjalan ke arah penjual asongan yang tidak jauh dari penjual nasi goreng. Dia membeli dua botol air mineral. Setelah itu, dia balik lagi ke Lolita dan duduk di sampingnya.
"Katanya enggak bawa uang lebih," cibir Lolita yang hanya dibalas raut muka datar oleh Eric.
"besok, fitting baju yuk." Lolita menerima botol air mineral yang sudah dibuka oleh Eric.
"Kapan?"
"Besok, pulang kerja." Lolita meneguk air minumnya.
Eric mengangguk, mengiyakan ajakan Lolita. Pernikahan mereka, mungkin akan dipercepat setelah melihat kondisi ayah Lolita yang sakit parah. Mereka tidak ingin hal buruk terjadi, sebelum pernikahan mereka digelar.
Satu porsi nasi goreng diantarkan oleh pedagangnya kepada Eric. Eric menerima pesanan mereka.
"Mau pakai dua sendok?" tawar penjual nasi tersebut.
"tidak perlu, Pak." Eric menolaknya halus.
Kemudian Eric menyendok nasi goreng itu, dia menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri. Lolita sedikit kesal dibuatnya, Lolita pikir si Eric akan menyuapinya.
"A...," ujar Eric sambil menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut Lolita.
Lolita kaget dibuatnya, tapi akhirnya Lolita mengunyah juga makanan dari hasil suapan Eric. Itu artinya, mereka ciuman secara tidak langsung melalui sendok.
"Pemimpin dulu yang makan, baru kamu." Eric tersenyum sangat manis.
Lolita tersedak mendengar ucapan Eric. Dia buru-buru meminum air yang ada di genggamannya. Lolita sangat salah tingkah katena perlakuan Eric.
Terima kasih banget yang sudah bersedia membaca. ❤
Jangan lupa like, vote, dan komen sebagai dukungan.