NovelToon NovelToon
Si PHYSICAL TOUCH

Si PHYSICAL TOUCH

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Harem / Cintapertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: gadisin

Edam Bhalendra mempunyai misi— menaklukkan pacar kecil yang di paksa menjadi pacarnya.

"Saya juga ingin menyentuh, Merzi." Katanya kala nona kecil yang menjadi kekasihnya terus menciumi lehernya.

"Ebha tahu jika Merzi tidak suka di sentuh." - Marjeta Ziti Oldrich si punya love language, yaitu : PHYSICAL TOUCH.

Dan itulah misi Ebha, sapaan semua orang padanya.

Misi menggenggam, mengelus, mencium, dan apapun itu yang berhubungan dengan keinginan menyentuh Merzi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadisin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merzi si Hujan

"Masuklah. Tidur dengan nyenyak." Ebha membukakan pintu kamar Merzi.

Dengan senyumnya yang mengembang Merzi menggeleng pelan sambil memainkan tangan Ebha yang dipegangnya.

"Antarin Merzi sampai tempat tidur." Pintanya.

Ebha mengangguk kecil, "baiklah. Ayo."

Merzi berjalan di depan dan Ebha mengekorinya. Tautan tangan mereka terlepas.

Tubuh mungilnya menduduki pinggiran kasur, bersiap berbaring. Ebha berdiri memperhatikan. Hingga dia menatap tangannya yang lagi-lagi dipegang Merzi. Lalu dia melihat wajah Merzi yang berseri. Senyumnya tak surut sejak tadi.

"Cium lagi. Sekali lagi. Disini." Merzi menunjuk bibirnya. Sungguh, dia tidak tahu apa itu kata segan dan sejenisnya. Yang dia tahu hanya mengungkapkan isi hatinya.

Perlahan Ebha menunduk dan mendaratkan kecupan ringan disudut bibir Merzi. Kepalanya ingin menjauh tapi Merzi menahannya lebih dulu.

"Pipi." Ebha menurut. "Sebelah kanan." Ebha mengecup lagi, lebih lama, membuat Merzi tertawa kecil.

Betapa manisnya gadis ini.

Terakhir, Ebha mengecup kening Merzi tanpa gadis itu minta. Kecupan itu sebagai bentuk kasih sayang dan penutup ciumannya.

"Sudah. Sekarang tidurlah. Besok kamu sekolah." Ebha menarik selimut Merzi lebih tinggi. Dia tersenyum tipis.

"Ebha yang mengantar, kan?"

Ebha mengangguk. "Iya. Saya yang akan mengantar ke sekolah."

Merzi mengangguk lucu dan sialnya itu membuat Ebha gemas. Rasanya dia ingin merasuk lagi ke dalam ciuman hangat sang kekasih kecil.

"Selamat malam, Ebha."

"Selamat malam ... Marjeta."

...****************...

"IBUUNN!! Kenapa tidak membangunkan saya, Bun? Saya terlambat. Aaaaaakkkk!"

Suara Merzi melengking sepanjang lorong. Dia terburu-buru sambil menyandang tasnya. Dia kesiangan, padahal sudah berniat bangun lebih awal untuk melihat Ebha. Yang terjadi malah sebaliknya.

"Eh, Nona Merzi! Nona sudah sembuh? Jangan memaksakan diri, Nona." Nella datang menahan bahu Merzi. Wajahnya menggambarkan kekhawatiran dan keterkejutan.

"Ish! Kak Nella kenapa tidak membangunkan Merzi?! Merzi sudah sembuh setelah melihat Ebha, Kak. Ayo-ayo, turun. Merzi sarapan dijalan saja. Ibun mana?"

Merzi menarik tangan Nella. Dia berjalan cepat sedangkan Nella berusaha mencerna kalimat majikan kecilnya.

"Nyonya Waiduri di kamar, Nona. Lagi ... lagi sakit ...." Suara Nella mengecil diakhir kalimatnya. Kemudian dia menepuk jidatnya karena keceplosan. Aduh, mampus aku. keceplosan lagi. Ck, pasti kena omel Bella lagi nanti nih. Nella ... Nella.

Merzi menahan kakinya. Keduanya terhenti di depan lift. Dia segera menoleh pada Nella dengan raut panik. "Ibun sakit? Kenapa kakak tidak mengatakannya dari tadi? Merzi ingin melihat Ibun dulu."

Nella kebingungan sendiri. Dia mengangguk kemudian menggeleng. Mulutnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu.

"Ti—tidak, Nona. Maksud, maksud saya ... Nyonya Waiduri baik-baik saja. Tidak—"

"Nona Merzi." Suara bariton dari belakang mereka membuat keduanya menoleh. Ebha berjalan dengan langkah lebar dan tampang andalannya—datar. "Pergilah, Nella."

Dengan cepat Nella mengangguk lalu menunduk sejenak kemudian melarikan diri.

"Ebha." Wajah panik Merzi belum surut. Dia meraih lengan Ebha dan mendongak menatap lelaki bongsor itu. "Ibun…."

Jemari besar Ebha mengelus pipi Merzi. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nyonya Waiduri hanya flu biasa. Jika ingin melihat beliau, ayo."

Suara Ebha yang terdengar tenang berhasil mengendurkan wajah tegang gadis itu. Merzi mengangguk kecil dan masuk ke dalam lift disusul Ebha.

"Apakah Ibun sakit karena memikirkan Merzi? Merzi sempat mogok makan, Ebha. Apakah karena itu? Ibun jadi kepikiran, dan…."

"Ssttt. Mulailah pagi kamu dengan hal positif. Nyonya Waiduri baik-baik saja." Lift berdenting, keduanya tiba di lantai dua—letak kamar utama. "Ayo."

Langkah kecilnya tergesa-gesa. Merzi langsung membuka pintu kamar orang tuanya begitu saja. Membuat orang-orang di dalam sana menoleh padanya.

"Ibuuuunnn…." Tangisnya pecah. Rengekan manja bak anak kecil yang terluka memenuhi ruangan.

Nyonya Waiduri sampai tertegun menerima pelukan kuat dari putrinya.

Ebha yang berdiri diambang pintu menggeleng kecil dengan senyum setipis tisu.

Tuan Oldrich pun sama terkejutnya melihat kehadiran sang putri. Dia pikir Merzi masih merajuk dan tak ingin datang ke sekolah.

"Hey, Nak. Kamu sudah sehat? Sudah mau pergi ke sekolah?" Tuan Oldrich mengusap rambut Merzi. Kalimat tanya yang dilontarkannya semata-mata bukan untuk memastikan tapi juga menyindir khas orang tua.

Merzi menarik ingus lalu melerai pelukan dari sang ibu lalu menatap ayah. "Sudah. Ayah tau obat saya apa, bukan?" Merzi melirik Ebha dengan mata yang masih memerah.

Tuan Oldrich tertawa kecil. Sedangkan Nyonya Waiduri tersenyum lemah. Dia melihat bagaimana Merzi yang terang-terangan menantikan Ebha kembali di depan mereka.

Pria bertubuh tegap di dekat pintu itu merasa telinganya memanas mendengar kalimat tersirat Merzi.

"Kamu ini." Tuan Oldrich mencubit hidung Merzi.

"Ayaaahh…." Merzi protes dan mendorong tangan sang ayah. "Ah, Ibun!" Sadarnya kemudian kembali menoleh pada ibunya. Merzi duduk disamping wanita pucat itu.

"Pagi, Sayang." Suara Nyonya Waiduri terdengar lemah. Mata wanita itu tampak lelah walau sudah tersenyum.

Mata Merzi kembali berkaca-kaca. "Ibun ingin apa? Biar saya bawakan." Merzi mengusap tangan Nyonya Waiduri.

Nyonya Waiduri menggeleng lemah. Sebelah tangannya menyampirkan poni Merzi ke samping. Merzi menahan tangan ibunya di pipinya.

"Ibun cuma ingin kamu sehat."

Mulut Merzi melengkung ke bawah mendengar kalimat ibunya. Dia merasa bersalah karena sempat mogok makan.

"Maaf, Ibun …. Saya tidak bermaksud." Dikecupnya tangan sang ibu. "Itu karena ayah menjauhkan saya dari Ebha." Sambungnya melirik ayahnya sekilas.

"Oho! Kamu menyalahkan ayah, Putriku?" Sahut tuan Oldrich dengan suara rendah namun bercanda.

Merzi terkekeh. Dia menoleh pada Ebha yang ternyata sedang menatapnya. Lelaki itu bertampang datar namun sorot matanya teduh pada Merzi.

"Kalian ini." Nyonya Waiduri menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum.

...****************...

Sepanjang perjalanan Merzi memeluk lengan besar Ebha sekaligus menyenderkan kepalanya ke bahu lelaki itu. Gadis itu juga mengelus dan memainkan tangan Ebha.

Perjalanan mereka diisi dengan instrumen lembut yang Merzi putar.

"Bagaimana tidur Ebha?" Merzi mendongak menatap wajah lelaki itu. Wajah Ebha yang tegas juga bulu tipis disekitar rahangnya membuat Merzi tak tahan untuk tidak mengelusnya.

"Baik. Kamu?" Ebha menurunkan pandangan dan menghentikan mobil karena lampu merah.

Untuk beberapa saat keduanya saling memandang. Merzi dengan senyum-senyum malunya dan Ebha tatapan teduhnya.

"Lebih nyenyak karena Ebha mencium Merzi sebelum tidur."

Ebha terkesiap. Ucapan Merzi begitu ringan. Seakan mereka benar-benar akrab. Padahal keduanya hanya sebatas majikan dan penjaga. Dia masih tak menyangka gadis ini sekarang adalah kekasihnya.

Melihat Ebha yang diam saja, membuat Merzi mencondongkan badannya ke atas lalu mengecup rahang Ebha.

Bunyi kecupan itu begitu nyaring. Ebha sampai harus menahan napas karenanya. Lalu lelaki itu menoleh ke depan. Tangannya meremas setir.

Merzi adalah definisi hujan. Dia menghantam tanpa bisa dicegah.

"Saya bisa melakukannya setiap malam—kalau kamu ingin."

1
_senpai_kim
Gemes banget, deh!
Diana
Aduh, kelar baca cerita ini berasa kaya kelar perang. Keren banget! 👏🏼
ASH
Saya merasa seperti telah menjalani petualangan sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!