NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Dokter Amber

Mengejar Cinta Dokter Amber

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mama Mima

Mutasi kerja yang seharusnya menjadi babak baru yang lebih baik dalam hidup seorang dokter umum seperti Amber Zea Letisha ternyata ibarat mimpi di siang bolong. Bagaimana tidak? Dia justru mengetahui kenyataan bahwa kepindahannya merupakan campur tangan dari mantan suaminya yang tidak lain adalah direktur utama dari Cakrawala Hospital, tempat kerjanya yang baru.

"Dimana anak kita, Amber?"

"Anak apa maksudmu?"

"Katakan yang sebenarnya, sebelum aku yang mengatakannya."

Mata Amber membola. Apakah Chris sudah tau kalau ternyata mereka punya anak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan cemburu.

Satu minggu berlalu dengan cepat. Tak terasa besok adalah akhir pekan dimana kelas Brandon akan mengadakan tamasya keluarga ke Dufan. Sebenarnya tempat itu adalah tempat yang sangat mainstream untuk anak-anak orang kaya tersebut. Mungkin jika ditanya satu per satu, anak-anak itu inginnya main ke luar negeri saja, at least Singapore. Namun karena itu adalah ketentuan dari sekolah, mau tidak mau mereka harus pergi.

Brandon pun tidak berbeda dengan teman-temannya. Dia pernah mengungkapkan keheranannya pada Amber. Kenapa harus ke Dufan, bukan ke tempat yang lebih asyik. Setidaknya Bali. Lebih enak, bisa main ke pantai, banyak pemandangan bagus. Amber sampai tidak tahu harus menjawab apa. Apalagi Chris yang sepikiran dengan putranya. Ingat kan, pertama kali Amber memberitahu soal gathering itu, dia langsung menolak setelah tahu akan diadakan di Dufan.

Kendatipun demikian, mereka tetap akan berangkat. Mereka bertiga. Sekarang Amber sudah sibuk mempersiapkan kebutuhan mereka selama seharian di sana.

"Ngapain bawa tisu sebanyak itu?" Chris selewat dari kasur dan melihat tas ransel Amber berisi tisu kiloan. Cukup besar, sampai tas itu penuh hanya karena benda itu.

"Brandon pasti keringatan kan? Aku juga tipe yang cepat berkeringat."

"Harus banget bawa dari rumah? Beli di sana kan bisa? Tasmu penuh hanya karena tisu."

"Eh?"

"Ck..." Chris menarik tas ransel milik Amber. Mengeluarkan semua isinya lagi untuk disortir satu per satu berdasarkan tingkat kepentingannya.

"Ini juga nggak perlu. Ngapain bawa charger tapi bawa powerbank juga? Lagian powerbank nggak usah bawa lagi. Aku kan udah bawa."

"Mana aku tau kau juga bawa."

"Bukannya tadi kau juga yang mengemasi ranselku?"

"Iya, tapi nggak ada powerbank kaaaannnn?" jawab Amber malas.

"Ini juga nggak usah dibawa. Nggak akan kepake," Chris juga menyingkirkan outer yang ada di dalam tas itu.

"Ih, jangannnnn. Aku perlu biar nggak belang, Chris."

"Udah pakai sunblock kan? Nanti aku yang gerah melihatmu pakai baju double di bawah sinar matahari yang terik."

"Apaan sihhhh... urus banget sama urusan orang. Sini!" Amber menyambar outer-nya dari Chris dan memasukkannya lagi ke dalam tasnya. Membuat Chris geleng-geleng kepala.

"Ya sudah. Kalau nggak kepake, siap-siap telingamu ku jewer. Ini juga nggak usah dibawa, mamanya Brandon, di sana kan bisa beli air minum kemasan."

"Nggak mau! Dimana-mana juga dianjurkan bawa minum sendiri daripada beli di luar. Nambah-nambah sampah, you know?"

"Memangnya segitu cukup buat seharian? Kalau habis, ngisinya pakai apa? Beli juga kan ujung-ujungnya?"

Lagi-lagi Chris benar. Duh, memang jiwa emak-emak rempong Amber membuat dia tidak berpikir sampai ke arah situ. Setelah Chris mengurangi hampir setengah isi ranselnya, dia tersenyum karena tasnya tidak terlalu berat.

"Kubilang juga apa, Sayang," Chris mengelus kepala Amber sambil tersenyum penuh kemenangan. Amber mencibir sebentar, namun setelah itu dia tersenyum malu-malu.

******

Demi kebersamaan anak-anak, Brandon dijemput oleh bus sekolah yang Chris saja baru tahu kalau sekolah itu punya fasilitas yang demikian. Sejak Brandon pindah ke sekolah itu, sama sekali tidak ada pertanda sekolah punya bus antar jemput. Mungkin karena semua siswa sudah pasti diantar orangtuanya dengan mobil-mobil mewah mereka. Lagian, naik bus sekolah tentu terlalu beresiko bagi seorang anak kecil yang sepatu sekolahnya saja bermerek Gucci. Ori loh ya.

Namun kali ini, anak-anak itu sudah dipastikan aman berada di dalam bus tanpa orangtua mereka. Di sana sudah ada empat bodyguard yang memegang tugas besar untuk menjaga anak-anak tersebut.

"Tadi kau sudah melepas jam tangan Brandon?" Chris sendiri pun baru ingat kalau anaknya itu selalu ia berikan barang branded. Termasuk jam yang sering Brandon pakai ke sekolah.

"Sudah. Tapi bukan aku yang melepasnya. Brandon sendiri. Katanya Dufan itu ramai. Takut mengundang kejahatan."

Chris yang sedang menyetir dengan memakai rayban menoleh pada Amber, lalu sedikit menurunkan benda berlensa hitam itu.

"See? Kau mengajarinya dengan baik, Sayang. Dia punya pribadi yang sederhana."

"Hm. Dan kau memanjakannya dengan kemewahan."

"Hahaha. Tapi dia tahu kan kapan dan dimana harus memakainya. Itu yang kumaksud."

Sekitar satu jam kemudian, Amber dan Chris sudah sampai di Dufan. Panitia gathering sudah memberitahu meeting point dimana mereka bisa bertemu anak-anak mereka lewat grup whatsapp. Apesnya, berhubung itu akhir pekan, Dufan sudah pasti ramai oleh pengunjung. Hanya untuk mendapat tempat parkir pun Chris dan Amber cukup kesulitan.

"See? That's why i hate to join this kind of study tour," omel Chris yang sudah kepanasan karena panas matahari menembus kulitnya yang terpaksa berjalan kaki sepanjang lima ratus meter ke titik temu. Belum lagi dia tidak membawa jaket seperti yang dilakukan Amber.

"Terimakasih sudah mengijinkanku membawa ini, Pak Chris," sindir Amber saat mereka berjalan. Dia mengangkat ujung outer kotak-kotak merahnya dan menunjukkannya di wajah Chris dengan senang. Pria itu tidak menjawab, wajahnya memerah kepanasan.

Saat mereka berjalan, Chris menjadi pusat perhatian orang-orang yang mereka lewati. Wajah bule-nya, kulit putih bersihnya, tubuh berototnya yang terbentuk jelas di kaos ketat yang ia kenakan Cara ia memakai topi dan rayban pun menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang mengaguminya.

"Chris..." Amber memanggil pelan.

"Hm?" Chris yang berjalan cepat itu membuat Amber harus berlari kecil untuk menyamai langkahnya.

"Kau sedang berjalan atau berlari sih? Aku kesulitan menyamai langkahmu."

"Siapa suruh kakimu pendek."

"Chris! Gendonggggg..."

Chris menghentikan langkahnya. Dia mengerutkan alis sambil memandang Amber. "Kau sedang ngelindur?"

"Kakiku pegal, suer!" ujar wanita itu. Padahal dia hanya tidak suka orang-orang menatap suaminya dengan wajah mupeng mereka.

"Beratmu berapa?"

"Bagaimana kalau kau tebak sendiri?" Amber mengeluarkan senyum usilnya. Belum lima detik, dia sudah berada di atas pundak Chris. Pria itu membawanya seperti membawa karung beras.

"Chris!!! Bukan gendong seperti ini maksudku!! Turunkan aku!!"

"Sama saja! Diamlah! Aku tidak ingin menguras tenaga lebih dengan banyak bicara.

Katakanlah orang-orang itu cemburu melihat Amber sekarang. Tapi dia tidak yakin mereka melihat itu sebagai sesuatu yang romantis. Amber kan ingin mereka cemburu karena Chris memperlakukan dia dengan manis, yaitu dengan menggendongnya di belakang. Tapi, ck... Chris memang tidak peka kalau sedang kesal...

"Chris!! Turunkan! Dalamanku bisa kelihatan!" desak Amber. Dia tidak nyaman. meskipun Chris menahan roknya agar tidak tertiup angin, dia tetap tidak suka berada di posisi itu.

Chris pun menuruti perintah Amber. Dia menurunkan Amber dengan cepat, lalu lanjut berjalan.

"Dasar tidak peka!" Amber berteriak kesal sambil memperbaiki kunciran rambutnya yang berantakan karena digendong tadi.

"Ayo cepat! Atau kutinggal!!" ternyata Chris masih peduli padanya. Laki-laki itu berhenti untuk menunggunya.

"Duluan saja! Aku capek kalau harus menyamai langkah besarmu itu."

"Naik... naik..." tau-tau Chris menekuk lututnya sehingga posisinya jadi sama rendah dengan Amber. Dia menepuk punggungnya dan memerintah wanita itu naik ke punggungnya.

"Kakiku sudah tidak pegal."

"Mamanya Brandon, sayangku, cintaku, ayolah," bukan hanya kata-katanya saja yang manis, wajah pria itu pun sedang tersenyum pada Amber sekarang. Tampan sekali, Amber lagi-lagi tidak sadar memuji.

"Kau yang memaksa ya. Bukan aku!"

Chris tertawa mengiyakan saja. Lalu Amber naik ke punggungnya. Mereka pun sukses menjadi pusat perhatian dan bahan cibiran ibu-ibu yang menilai mereka lebay.

"Kau senang sekarang? Hm?" kali ini langkah Chris sudah sedikit melambat. Dia ingin menikmati momen langka dimana Amber yang menyodorkan dirinya untuk sebuah keintiman seperti sekarang.

"B aja."

"Harusnya kau senang, orang-orang itu sudah tidak melihatku lagi."

Amber terkesiap. Bagaimana Chris bisa tau motifnya adalah itu?

"Kau pasti sedang bertanya-tanya darimana aku tau tujuanmu minta digendong hanya karena cemburu akan tatapan orang-orang, iya kan?"

"Kau cenayang ya?"

"Aku sudah terlalu mengenalmu, Amber. Kau sangat tidak suka orang-orang memperhatikan aku. Kau tidak suka Steffy, Miss Gita. Tapi kau sendiri tidak ingin bersamaku. Kau egois, Mrs. Amber..." Chris menoleh sebentar pada Amber yang melewatkan kepala di pundaknya.

"Aku hanya tidak mau kau salah memilih perempuan jika kau ingin menikah lagi. Aku kan harus memikirkan Brandon juga."

"Ohya? Ku kira kau cemburu," ungkap Chris sedikit kecewa. Ternyata dia sudah salah menafsirkan sikap Amber belakangan ini. Dia sangat patah hati. Lalu dia pun menertawakan dirinya sendiri.

"Eh, maksudku..."

"Kita sudah sampai. Di sini kan katanya?"kebetulan Chris sudah tiba di lokasi yang disebutkan gurunya Brandon tadi. Membuat Amber tidak jadi menyampaikan maksudnya.

"Iya. itu mereka."

Chris menurunkan Amber dengan pelan. Kemudian, sebelum melangkah lagi dia menghadap Amber sebentar. "Kau harus terbiasa dengan cara orang-orang memperhatikan aku. Jangan bertingkah konyol lagi, supaya aku tidak salah paham."

DEG!

*****

1
chan
Luar biasa
Boa Hancock
betuulll,, makanya pinter2 milih suami.
kalo untuk pacaran mgkn oke hanya mengandalkan cinta.
tp untuk hidup bersama ga hanya butuh cinta walaupun sebenernya cinta itu luas dan mencakup banyak hal.
komitmen + komunikasi + saling terbuka + berbagi kasih + menekan ego
yg punya itu semua aja masih ttp bida lewatin ujian. tp asalkan bs berusaha mengimbangi, ujian bs terlewati 🤤
Boa Hancock
pantas rada rada mesyum si cha 🤣
Boa Hancock
makasih ya kak, aku salut bgt 🤗
Boa Hancock
gimana ga jd devil waktu ketemu dom pertama kali 🤣 tp asli sih karakter chris ini kayanya bahan halu semua wanita.
romantis, suami setia, bertanggungjawab pd keluarga, family man, tegas tp bijak dalam waktu bersamaan, ga kolot aaaahhh chris 🤤
Boa Hancock
Crist jg memendam luka dalam cukup lama 😭 krn blom pernah ngrasain momment ini sama wanita yg dicintai.
tau2 idungku ikut perih
Boa Hancock
terimakasih akak, sudah mengingatkan aku untuk bersyukur, dan kembali berterimakasih jg pd indonesia 😍
Boa Hancock
aku penasaran muka crish evan kalo marah.. mukanya adem bgt 🤤
Boa Hancock
takut kena serangan mental captain 🤌🏼
Boa Hancock
seruuuu
Boa Hancock
udah kak, langsung berasa pengen nyosor 🤤
Boa Hancock
trus kenapa ada aurakasih segala 🤣
Boa Hancock
suami cha aja remuk ama chris 🤣
Boa Hancock
captain america dilawan 🤌🏼
Boa Hancock
dasar lemah 🤣🤌🏼
Boa Hancock
aku menyukainya 🤣
Boa Hancock
🤣
L A
Luar biasa
vit
Bagus bgt ceritanya kk author 😍😍
vit
bagus bgt 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!