Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Misterius Yang Berjubah Hitam
Hai Readers tercinta, jangan lupa Like, komen and vote 5 cerita ini yah...
yuk dukung Author, supaya Authornya tambah semangat nih ....
Kamar kecil itu tak nampak baik. Anak-anak yang tak bersalah pun ikut menyaksikan apa yang dirasakan oleh Issabelle kala itu. Suara bising yang membuat bibi Luis merasa panik. Ia menyarankan kami untuk mengamankan dan menenangkan anak-anak lain untuk masuk ke kamar mereka masing-masing.
Tak lama kemudian, dokter pun telah datang untuk memeriksa keadaan Issabelle yang hampir kehilangan nyawanya.
Ketika dokter itu mempersilahkan kami semua untuk keluar dari kamar Issabelle, aku berharap kejadian seperti ini tak akan terulang lagi.
Dadaku terasa sesak, aku pun tak mengerti kenapa?, di satu sisi aku sangat menghawatirkan Issabelle, dan sangat menyesalkan kejadian itu. DI sisi lain, aku terfikir tentang semua perkataan yang kulontarkan kepada Aurora saat itu. Aku seperti ingin marah yang tak mengerti arah akan emosiku.
* * *
Aurora yang kala itu masih merasa bersalah, ia terus gelisah dengan apa yang terjadi kepada Issabelle.
Aurora berada di kamarnya sambil berlalu lalang menunggu Mia untuk mendapatkan kabar tentang perkembangan Issabelle
"Mia, bagaimana keadaan Issabelle?, apa dia baik-baik saja?" tanya Aurora yang mulai tadi berdiri sambil meremas jari-jari tangannya karena khawatir.
"Sebaiknya Anda tenang, Tuan Putri." Pinta Mia kepada Aurora sambil menyuruhnya untuk duduk.
"Bagaimana aku bisa tenang?, gara-gara parfum itu asma Issabelle kambuh," saut Aurora menatap Mia dengan sendu.
"Issabelle sudah dirawat oleh dokter Tuan Putri, jadi saya mohon jangan khawatir," ujar Mia.
"Pasti semua membenciku, karena apa yang telah kuperbuat," tutur Aurora menundukkan kepalanya
"Semua ini jelas bukan salah Anda Tuan Putri, kita tidak tahu kenapa parfum itu ada di tempat tidur Issabelle," jelas Mia sambil berfikir apa yang sebenarnya terjadi.
"Saya yakin, ada seseorang yang sengaja meletakkan parfum itu di tempat tidur Issabelle," terang Mia mengeluarkan isi pikirannya.
"Tidak mungkin Mia, kitalah yang terlalu ceroboh dalam menyimpan parfum itu, pasti kata-kata seperti itu yang akan keluar dari mulut Yang Mulia," saut Aurora mengingat perkataanku.
"Bagaimana lagi, kita jelas bersalah," suara Mia terdengar putus asa.
Aurora dan Mia pun saling terdiam, mereka benar-benar menyayangkan hal buruk yang telah mereka lakukan. Tiba-tiba suara pintu Aurora berbunyi seakan ada orang yang ingin menemuinya.
"Tok...tok...tok...," bunyi suara pintu Aurora.
"Pasti Yang Mulia Raja ingin bertemu denganku," saut Aurora yang seakan siap menerima ocehanku kepadanya.
"Biar saya buka dulu, Tuan Putri." Ujar Mia yang kemudian membuka daun pintu kamar Aurora.
Ketika itu pun, suasana menjadi sunyi. Tak ada seorang pun yang berada di balik pintu itu.
"Kenapa tidak ada orang?, bukankah tadi jelas-jelas ada yang mengetok pintu?" gumam Mia terheran.
Mia merasa heran, terlepas dari suara ketok pintu tersebut, Mia menemukan sebuah surat kecil yang terselip di bawah pintu kamar Aurora. Ia pun mengambil surat kecil itu dan memberikannya kepada Aurora.
"Tuan Putri, saya menemukan sebuah surat di bawah pintu," lapor Mia yang kemudian memberikan surat kecil itu kepada Aurora.
"Coba aku lihat ... " Aurora membaca surat tersebut.
"Datanglah ke taman belakang tengah malam, aku ingin membicarakan hal penting denganmu." Aurora membaca isi surat itu.
"Pasti dari Yang Mulia Demian, Tuan Putri." Mia meyakinkan Aurora.
"Tidak mungkin Mia, Yang Mulia Raja tidak terbiasa mengirim surat seperti ini," cetus Aurora sedikit ragu akan kedatangan surat itu.
"Pasti ada hal yang sangat penting, sehingga Yang Mulia harus menulis surat," tutur Mia yang kemudian mengambil surat yang Aurora pegang.
Memang, kedatangan surat itu membuat Aurora dan Mia ragu. Tapi nyatanya, Aurora tetap akan berangkat ke taman belakang rumah pada tengah malam.
"Mia, aku harus menemui Yang Mulia Raja, kau di sini saja yah ..." pinta Aurora pada Mia.
"Tidak, Tuan Putri. Saya akan tetap menemani Anda kemanapun Anda pergi, " ucap Mia begitu setia kepada Aurora.
"Mia, kumohon kali ini saja, mungkin Yang Mulia ingin berbicara empat mata denganku," timpal Aurora.
"Anda yakin, Tuan Putri?" Mia menggenggam kedua tangan Aurora.
"Mmmhhh," jawab Aurora meyakinkan Mia yang begitu khawatir kepadanya.
"Baiklah, saya akan menunggu Tuan Putri di sini, jaga diri baik-baik ya ..." Mia mengantarkan Aurora sampai pintu kamar Aurora dan membiarkannya pergi ke taman belakang seorang diri.
* * *
Sampailah Aurora di taman belakang rumah bibi Luis. Ia merasa sedikit takut karena tak ada cahaya yang menyinari indahnya taman itu. Hanya sinar rembulan yang mampu menghangatkan tubuhnya di malam yang sangat dingin.
Aurora mencairkan rasa takutnya itu dengan memandang indah bulan yang tepat di atas kepalanya.
"Kenapa Yang Mulia belum datang juga yah ..." saut Aurora sambil menggosok - gosok kedua lengannya akibat kedinginan karena angin malam.
Semakin lama Aurora menunggu, ia semakin merasakan ada hal aneh yang sedang mengintainya.
"Seperti ada seseorang yang ada di belakangku?" Aurora mencoba memberanikan diri.
"Kasrak ... kasraakkk ..." Suara yang muncul dari semak-semak.
"Halo ... , apa ada orang?" ucap Aurora yang memberanikan diri melangka menuju sumber suara itu.
Namun tiba-tiba Aurora merasakan langkah dari seseorang yang berlari dari arah belakang Aurora. Ia pun menoleh dengan cepat untuk memastikan siapa sebenarnya yang berdiri di belakang tubuhnya.
Namun tak disangka, seseorang berjubah hitam, wajahnya memakai topeng berwarna silver dan mempunyai tinggi yang hampir sepadan dengan tinggi badan Aurora muncul tepat di depan matanya. Orang berjuba hitam itu mengeluarkan pisau kecil yang langsung ia gunakan untuk menusuk dada Aurora yang kala itu belum menyadari situasi tersebut.
Aurora pun tertusuk pisau itu dan berlumuran darah. Ia tergeletak dengan menggenggam erat belati kecil yang masih menancap di dada sebelah kanannya.
"Si .... siapa kau?" Aurora terbata-bata.
"Apa yang telah kau lakukan padaku?" tambah Aurora lagi.
Seseorang yang berjubah hitam pun dengan cepat meninggalkan Aurora yang tergeletak lemas. Sedangkan Mia yang waktu itu masih berada di dalam kamar Aurora merasa khawatir karena menunggu Aurora yang tidak kunjung kembali.
"Kenapa Tuan Putri lama sekali yah?" tanya Mia berbicara sendiri.
"Aku harus menyusulnya, entah mengapa hatiku merasa tak enak," saut Mia lagi.
Mia pun segera menyusul Aurora ke taman itu.
"Kenapa gelap sekali di sini?" cetus Mia yang berusaha mencari sosok Aurora.
"Tuan Putri ..., Anda di mana?!!!" teriak Mia ingin segera menghilangkan rasa kekhawatirannya itu.
"Tuan Putri di mana yah?, kenapa tak mendengar seseorang pun mengobrol di sini?" Mia terus berjalan mencari Aurora.
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan