𝐌𝐞𝐠𝐮𝐦𝐢 𝐘𝐮𝐞, 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐤𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐤𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬 𝐝𝐢𝐛𝐮𝐫𝐮 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐨𝐫𝐠𝐚𝐧𝐢𝐬𝐚𝐬𝐢 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐚𝐦𝐩𝐚𝐫 𝐝𝐢 𝐭𝐞𝐩𝐢 𝐬𝐮𝐧𝐠𝐚𝐢. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚, 𝐬𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐝𝐞𝐬𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐜𝐮𝐫 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐫𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐫𝐮𝐧𝐲𝐚. 𝐓𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐭𝐮𝐧 𝐗𝐢𝐚𝐨 𝐋𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐘𝐮𝐞 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐤𝐚𝐩𝐚𝐫. 𝐈𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐭𝐞 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫 𝐝𝐢 𝐁𝐞𝐧𝐮𝐚 𝐃𝐚𝐭𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐩𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐏𝐮𝐥𝐚𝐮 𝐄𝐬.
𝐒𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐚𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐛𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐚𝐭𝐚 𝐣𝐢𝐰𝐚 𝐝𝐞𝐰𝐚. 𝐃𝐮𝐠𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐧𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐞𝐰𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐭𝐮𝐧 𝐘𝐮𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑾𝒆𝒍𝒂𝒔 𝑨𝒔𝒊𝒉, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Xiao Li
Miu meminta Han Luan untuk menggeserkan posisi duduk Yue tepat ke tengah danau. Han Luan sangat hati-hati memperhatikan tangannya kemana ia menyentuh. Miu memelototi Han Luan dengan buas sebagai peringatan bahwa Han Luan tidak boleh macam-macam.
Miu mendorong kristal tersebut tepat di belakang punggung Yue. Perlahan-lahan air tampak terbelah dua, asap putih menyebar perlahan-lahan diatas permukaan danau dibelakang Yue. Sedangkan danau bagian depannya perlahan kembali membiru, gumpalan darah menghitam tadi perlahan berpindah ke belakang Yue.
Permukaan di belakang Yue berubah menjadi merah pekat seketika, gelembung-gelembung muncul sedikit demi sedikit disertai uap air yang terlihat semakin jelas.
Han Luan tak berhenti memperhatikan Permukaan danau tersebut. Terkejut, takut dan heran terasa bersamaan.
"Miu, apa air mendidih itu tidak akan melukai Yue'er ?" tanya Han Luan tak bisa menahan rasa khawatirnya.
"Tenang saja, meskipun dua sisi tampak berlawanan, posisi tuan tepat berada di tengah. Jadi tak perlu khawatir, suhu ditempat tuan duduk sangat stabil." jawab Miu dengan santai, ia kembali berbaring seraya memperhatikan tuannya.
"Ini, seperti penggabungan energi?!" gumam Han Luan.
"Benar. Penggabungan energi terjadi di tengah-tengah bentrokan. Namun secara teori, mereka tidak bergabung melainkan berdampingan" sahut Miu mendengar gumaman Han Luan.
"Berdampingan? Ini terdengar seperti... Energi Yin Yang?!" Han Luan melirik Miu memastikan tebakannya.
"Hmphhh... Rupanya kau tidak sebodoh yang ku kira" ejek Miu.
Han Luan tercekat mendengar jawaban Miu, ingin rasanya ia memukul kepala Miu. Namun perhatiannya lebih terfokus pada permukaan danau yang sudah semakin kontras perbedaannya.
Waktu berlalu dengan cepat, Yue membuka matanya dan mendapati Han Luan tertidur di pinggir danau. Miu menjulurkan kakinya agar Yue dapat berpegangan.
"Maaf merepotkanmu, Miu" ujar Yue dengan lemas.
"Tidak masalah,tuan. Beristirahatlah, aku akan menetralkan danau ini terlebih dahulu agar dapat digunakan untuk pemulihanmu" sahut Miu.
Yue tersenyum lembut, ia duduk bersandar pada batu besar di belakangnya. Ia memperhatikan Miu yang menenggelamkan kepalanya ke dasar danau. Tak lama kemudia Miu menarik kepalanya dengan menggigit sebatang mawar yang sudah layu, warna biru yang semula sangat indah kini terlihat pucat. Miu melakukan hal yang sama sekali lagi, kali ini Miu menggigit sebuah batu berwarna cokelat kehitaman.
"Ppffttt.. Miu lihat bulumu, sekarang tidak cantik lagi" Ujar Yue terkekeh melihat bulu Miu yang semula putih bersih kini terlihat Coklat.
"Ahh.. Haha tidak apa-apa, aku akan membersihkannya setelah danau kembali normal" sahut Miu tampak malu.
Keduanya memutuskan untuk beristirahat. Mereka tertidur setelah Yue makan malam untuk memulihkan staminanya walau hanya sedikit.
Malam berganti pagi, namun Miu dan Yue belum juga membuka matanya. Han Luan sudah mondar mandir di depan mereka sejak pagi buta.
"Bodoh! Aku malah tertidur semalam. Aku bahkan tak menyadari kapan Yue'er naik dari danau. Aku tak sempat memeriksa kondisinya. Sekarang mereka pasti kelelahan. Apa aku harus membangunkannya? Tidak tidak, mereka perlu istirahat." gerutu Han Luan mengacak-acak rambutnya.
"Eemmhh... Anda sudah bangun Tetua Han?!" Yue menggeliat perlahan merentangkan tangannya.
Miu yang merebahkan kepalanya di kaki Yue terbangun akibat gerakan Yue.
"Ahh.. Maaf membangunkanmu, Miu." Yue mengelusnya dengan lembut.
"Yue'er, apa kau baik-baik saja sekarang ? Bagaimana keadaanmu ? Apa kau merasa tidak nyaman? Maafkan aku tidak menjagamu sepenuhnya, bahkan aku tertidur saat menjagamu." oceh Han Luan menghujani Yue dengan ocehannya.
"Hmm.. Tidak apa-apa, anda pasti lelah menungguku selama itu. Maaf sudah menyusahkanmu tetua. Tapi, benda apa yang semalam kamu ambil Miu?" tanya Yue mengalihkan topik.
Han Luan menceritakan semua yang terjadi. Miu membenarkan cerita Han Luan. Yue terkejut mendengar ceritanya, akan tetapi Yue juga merasa senang keduanya bersedia membantunya.
"Jujur saja, aku sendiri tidak menyangka akan separah ini. Karena ini juga pertama kalinya ada yang lolos dari racun pedang. Aku senang kau berhasil melewatinya Yue'er " ujar Han Luan menghela nafas lega.
"Terimakasih. Tanpa bantuan kalian mungkin aku sudah mati sekarang" sahut Yue hendak bersujud untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya, namun Han Luan menghentikannya.
"Sudahlah. Danau sudah kembali normal, kembali berendam dan pulihkan kekuatanmu. Besok kau harus kembali mengikuti ujian." titah Han Luan menuntun Yue ke dalam danau.
"Anjing bodoh, aku tidak tahu bagaimana danau ini dapat kembali seperti semula, pasti kau melakukan sesuatu pada danau ini kan?" celetuk Han Luan ketika Yue mulai berkonsentrasi.
"Hmphh.. Setelah tahu kemampuanku kau masih berani memanggilku bodoh?!! Lagi pula aku bukan anjing, aku serigala" ketus Miu dengan kesal.
"Yah, sama saja anjing ataupun serigala. Tapi memang benar, jika bukan karna kau, Yue'er mungkin sudah..."
"Ckk.. Tak ada gunanya membahas hal yang sudah berlalu. Bersyukur saja tuanku tidak dalam bahaya lagi" sela Miu menjauhi Han Luan.
Han Luan membenarkan ucapan Miu. Kini ia berniat mengumpulkan beberapa tanaman obat. Selain menjaga pusat misi, Han Luan juga sering membuat beberapa pil untuk dirinya sendiri dan beberapa orang terdekatnya.
Ketua sekte sempat menawarkan posisi sebagai tabib sekte, namun Han Luan menolak. Meskipun ia tahu posisi sebagai peracik pil sangat disegani dalam dunia persilatan. Tidak ada yang tahu alasan apa yang membuat Han Luan bersikeras menolak posisi tersebut, padahal kemampuannya sudah setara dengan peracik ahli.
......................
Kembali ke sisi Xiao Li. Yukimi merasa gelisah sepanjang malam, hingga membuatnya tidak bisa tidur dengan baik.
"Guru, maaf mengganggu waktumu. Tapi aku benar-benar tidak tahu kenapa hatiku merasa sangat gelisah" keluh Yukimi pada gurunya yang tengah duduk di halaman depan.
"Apa yang terjadi? Tidak biasanya kau gelisah seperti ini" tanya Xiao Li melihat Yukimi yang sudah pucat pasi.
"Aku tidak tahu, guru. Sejak kepergian Kakak Yue, hatiku sangat gelisah. Seperti ingin selalu berada di dekatnya. Tapi ada sedikit emosi yang tidak aku mengerti saat aku memikirkannya" sahut Yukimi duduk disamping gurunya.
"Mungkin kau terlalu khawatir. Tenang saja, Yue'er bukan sedang berlatih, ia sedang berusaha membuang semua racun dalam tubuhnya." Xiao Li menatap langit malam yang begitu polos, tidak ada bintang sama sekali, bahkan bulan pun tertutupi awan hitam.
Xiao Li meminta Yukimi kembali ke kamarnya dan beristirahat. Ia meyakinkan Yukimi bahwa Yue akan baik-baik saja selama Miu dan Han Luan ada disampingnya.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Xiao Li sama cemasnya dengan Yukimi. Itulah sebabnya ia duduk memandangi langit malam yang polos itu. Merasa bosan, Xiao Li kembali ke kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya, memejamkan mata mencoba untuk tertidur.
' Yue'er, guru harap kau baik-baik saja. Berjuanglah, masih banyak waktu yang ingin aku habiskan denganmu.... Putriku' batin Xiao Li hingga ia terlelap.
gaspooool pokoke up nya 🤗🤗👍☕😇
💪💪☕💪💪