"Ayo kita bercerai!"
Hana tiba-tiba diceraikan oleh Heston karena sang suami mengalami kecelakaan dan amnesia.
Dunia Hana hancur apalagi dia diceraikan dalam keadaan hamil.
Apa yang akan Hana lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Tragedi
Kehidupan pernikahan Heston tentu saja tidak terlepas dari pantauan keluarga Ernest.
Mama Riana membiarkan sikap labil Heston karena meyakini kalau anak keduanya itu tidak akan tahan menjalani kehidupan rakyat jelata.
Tetapi sepertinya dia salah besar.
"Apa kita akan membiarkan anak itu begitu saja?" tanya mama Riana pada sang suami.
Papa Erlan sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan tentang status istri anak-anaknya kelak.
"Biarkan saja dulu, toh Heston berusaha bertanggung jawab dengan pilihannya," balas papa Erlan.
"Tanggung jawab dengan pilihannya?" Mama Riana tidak terima dengan pernyataan itu. "Apa tanggapan dan kata-kata orang nanti terhadap keluarga kita?"
"Pasti kita dianggap tidak becus mengurus anak!"
Mama Riana harus melakukan sesuatu supaya Heston bisa berpisah dengan Hana.
Namun, belum sempat melakukan apapun, mama Riana justru mendengar Heston yang kecelakaan.
Pada saat itu, Heston sedang menghitung sisa uangnya yang terus berkurang. Kalau dia tidak bekerja pasti untuk ke depannya dia dan Hana akan kesusahan.
Heston tidak mau hal itu terjadi.
Jadi, Heston mencoba menghubungi temannya yang bisa mencarikan pekerjaan.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu?" tanya teman Heston.
"Kau tiba-tiba ingin bekerja? Apa tidak salah?"
"Kau pikir aku bercanda, tentu saja aku serius," jawab Heston.
Teman Heston itu menimang-nimang pekerjaan apa yang cocok dengan Heston yang tanpa pengalaman apalagi untuk skill berat sepertinya pemuda itu tidak bisa melakukannya.
Kalau diberi tugas proyek pun rasanya Heston belum mampu.
"Apa kau ingin menjadi security? Kerjanya hanya menyapa tamu dan membuka pintu," akhirnya teman Heston itu memberi penawaran.
"Ya terserah saja yang penting aku digaji dan tidak mengganggu waktu kuliahku," balas Heston.
"Hanya kau yang mencari pekerjaan tapi bosnya harus tunduk padamu," sindir temannya.
Walaupun begitu, Heston tetap mendapatkan pekerjaan itu. Itulah pentingnya koneksi dan relasi.
Heston tidak sabar memberi kabar ini pada Hana, dia pulang menggunakan taksi online dan mulai berpikir kalau menggunakan taksi online terus pasti akan boncos.
"Istriku..." panggil Heston ketika sampai.
Hana pada saat itu tengah memasak sup dan baru saja selesai.
"Kenapa bisa pas sekali? Ayo makan selagi supnya masih panas," ucap Hana. Dia sebenarnya bingung setiap kali memasak.
Selera Hana dan Heston tentu saja berbeda, sang suami sudah biasa memakan masakan mahal sementara dirinya hanya makan telur nasi pun sudah bisa kenyang.
Tetapi, Hana bersyukur karena Heston mau menurunkan standarnya walaupun kadang bingung dengan makanan yang dimasak oleh sang istri.
"Hari ini masak apa?" tanya Heston seraya duduk di meja makan sederhana mereka.
"Sup ayam kentang dan wortel, apa kau bisa memakannya?" Hana meragu.
"Aku akan mencobanya," balas Heston tidak sabar. Dia selalu suka hal baru dalam hidupnya.
Sup ayam kentang wortel Hana tentu saja masuk di lidahnya.
"Sepertinya kita memang cocok menjadi suami istri," komentar Heston.
"Mulai..." Hana sudah terbiasa dengan godaan semacam itu.
Keduanya kemudian tertawa bersama, hari damai seperti ini rasanya tidak ingin cepat berlalu.
"Oh iya, aku akan mulai bekerja sayang," ungkap Heston sebelum mereka tidur.
"Hah? Apa tidak salah, aku saja yang cari kerja part time," tanggap Hana.
"Kebetulan kafe di dekat kampus sedang membutuhkan karyawan jadi aku akan melamar pekerjaan di sana!"
"Apa kata dunia jika suami membiarkan istrinya bekerja, aku ingin belajar naik motor dan membeli motor baru yang lebih aman untuk dipakai," Heston menolak keras usul dari sang istri.
Mengingat tabiat Heston tidak mungkin Hana akan menang debat dengan lelaki itu. Lebih baik dia mengambil jalan tengahnya saja.
"Kalau begitu kita bisa bekerja berdua dan mengumpulkan tabungan bersama," ucap Hana memberi solusi.
"Apalagi kalau beli motor, kita harus memangkas kebutuhan lain terlebih dahulu jadi kalau hanya mengandalkan satu orang saja rasanya tidak cukup," lanjutnya.
Dengan berat hati Heston menerima saran istrinya itu, dia mulai membeli motor bekas yang masih bagus kemudian belajar motor beberapa kali.
"Pokoknya sebelum mahir naik motor, jangan mengendarai sendiri apalagi tidak punya SIM," Hana memberi peringatan.
Inilah awal mula tragedi di rumah tangga kecil mereka.
agak lama yaa nunggu nya