Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapat dukungan
"Ibu gak apa-apa?" Raina khawatir.
Ia melihat ibu mertuanya terus menangis, tapi tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Karena semua kalimat itu hanya tertahan dalam hati, dan tak sempat keluar dari tenggorokan yang tiba-tiba menyempit.
"Ibu!" Raina memegang lembut tangan Ibu mertuanya.
"Siapa selingkuhannya?" tanya Bu Joko, setelah sekian lama wanita tua itu diam minta bersuara.
"Monica. Istri tetangga depan rumah!" jawab Raina.
Bu Joko makin terkejut. "Monica? istrinya Hadi?"
Raina mengangguk.
Bu Joko mengusap wajahnya dengan kasar. Dulu, saat pertama kali Robby dan Raina pindah ke rumah ini. Bu Joko sedikit tidak nyaman saat pertama kali ia melihat Monica tengah menjemur pakaian di depan rumahnya.
Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Bu Joko merasa Monica bisa menjadi ancaman secara tidak langsung. Namun pada saat itu, Bu Joko menampik semua prasangka itu. Karena ia merasa mungkin itu hanya pikirannya yang terlalu berlebihan.
Tetapi setelah semua itu terjadi. Bu Joko jadi menyesal telah mengabaikan prasangka itu.
Air matanya semakin deras... sebagai seorang wanita mantan korban perselingkuhan. Bu Joko sangat tahu bagaimana rasa sakit yang Raina alami.
Ya, Bu Joko pernah dikhianati oleh suaminya... bukan hanya sekali bahkan berkali-kali. Namun pada saat itu, Bu Joko tidak memiliki keberanian untuk mengakhiri pernikahan yang tak sehat itu.
Karena pernikahannya dengan ayah Robby, mendapat tantangan dari seluruh keluarga. Tetapi ia sama sekali tidak memperdulikan dan tetap menikah dengannya. Hingga saat perselingkuhan itu terjadi, Bu Joko tidak berani pulang apalagi mengadu. Karena rasa malu akibat tidak mendengarkan perkataan orang tua dan keluarga.
"Ibu!" Raisa memeluk erat Ibu mertuanya yang tiba-tiba berguncang hebat.
"Kenapa?" tanya Bu Joko di sela isak tangisan. "kenapa Robby harus mewarisi sifat ayahnya?"
Bu Joko sangat menyesalkan hal itu. Sejak Robby remaja, Bu Joko sudah mulai memberitahu dan memberi berbagai wejangan, agar Putranya tidak meniru kelakuan ayahnya yang tidak setia. Dulu Robby sangat patuh, bahkan ia sangat membenci kelakuan Ayah kandungnya.
Tapi sekarang... mengapa ia malah menirunya?
"Maafin Ibu Raina?" bisik Bu Joko dengan suara yang bergetar akibat rasa sakit yang kembali terulang.
"Seharusnya aku yang minta maaf ke ibu!" ucap Raina.
Bu Joko melepas pelukannya. Ia menatap menantunya dengan tatapan bingung. "kenapa kamu yang minta maaf?"
Raina menegakkan posisinya. Ia berdehem untuk memberitahu inti dari pembicaraan mereka pagi ini. "aku minta maaf... karena aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini Bu?" kata Raina.
"Kamu mau bercerai?"
Raina mengangguk dengan mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Aku tidak kuat seperti Ibu. Aku tidak bisa bertahan dalam pernikahan yang menyakitkan! aku tidak mau diduakan. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya wanita dalam hidup suamiku. Dan... ketika suamiku tidak bisa menjadikan aku satu-satunya... maka aku hanya bisa menjadi mantan istrinya!" terang Raina.
Bu Joko menatap kedua netra menantunya dalam-dalam. Di sana ia melihat kekuatan, tekad, dan keberanian yang dulu tidak pernah ada dalam dirinya.
"Kamu yakin mau bercerai?" tanya Bu Joko dengan suara rendah.
Raina kembali mengangguk.
Ia sangat yakin dengan keputusannya. Apapun yang akan dilakukan ibu mertuanya nanti... dan jika seumpama wanita tua itu menghalanginya untuk bercerai. Maka, Raina tidak akan memikirkan hubungan baik mereka. Karena kesehatan mentalnya, jauh lebih penting daripada hubungan yang sudah terjalin baik selama beberapa tahun ini.
"Ibu mendukung kamu!" ucap Bu Joko dengan senyum yang pertama kali terbit sejak percakapan itu.
Raina terkejut. Ia kira Ibu mertuanya akan marah dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan itu. Tqpi ternyata, Ibu mertuanya malah mendukung rencananya.
"Ibu nggak salah?"
Bu Joko menggeleng. "Ibu sangat tahu, bagaimana sakitnya mempertahankan pernikahan bersama suami yang pernah selingkuh! perselingkuhan itu tidak akan pernah benar-benar berakhir Raina. Jika saat ini dia bertaubat, tidak menutup kemungkinan di kemudian hari dia akan mengulangi kesalahan yang sama. Dan ibu... tidak mau kamu ikut merasakan sakit yang Ibu rasakan dulu!" jelas Bu Joko.
Raina menangis, bukan menangis sedih tetapi terharu. Terharu karena Ibu mertuanya, bukan hanya menganggapnya sebagai menantu... tapi sebagai Putri kandungnya sendiri.
"Bagaimana kalau Robby tahu ibu malah mendukung aku untuk bercerai?"
"Persetan dengan anak sialan itu!" kata Bu Joko. Ini kalimat makian yang pertama kali terucap dari mulutnya, sejak Raina resmi masuk ke dalam keluarga itu. "dari dulu Ibu sudah menasehatinya untuk tidak meniru kelakuan ayahnya. Tapi nyatanya, dia malah tetap melakukannya. Sekarang, biar dia rasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang istri yang sangat tulus dan memilih ular berbisa yang hanya mau dengan uangnya."
Raina kembali memeluk Ibu mertuanya. Ia juga mengucapkan terima kasih. Karena mendapatkan dukungan yang tidak semua menantu dapatkan dari ibu mertua mereka.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini?" ajak Bu Joko.
"Ibu mau pulang?"
"Iya! untuk apa Ibu bertahan di sini. Ibu nggak sudi melihat wanita itu!"
Setelah itu keduanya segera berkemas. Bu Joko membawa kembali kopernya, begitu juga dengan Raina yang ternyata tidak benar-benar membongkar kopernya kemarin.
"Kamu ikut Ibu pulang kan?" tanya bu Joko penuh harap.
Raina menggeleng. "aku nggak bisa Bu!"
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau bersembunyi. Aku akan menghadapi mereka dan menyelesaikan semua masalahnya, agar aku bisa bangkit dan membuka kembali lembaran hidupku yang baru!"
Saat mengatakan hal ini, Raina terbayang akan wajah tampan kekasihnya. Hadi, suami tetangga yang sekarang juga menjadi kekasihnya. Sekaligus pria satu-satunya yang sekarang memberikan perhatian luar biasa untuknya.
"Kamu yakin? Robby pasti tidak akan mudah melepaskan kamu?" sebagai ibu kandungnya, Bu Joko sangat tahu bagaimana sifat putranya.
"Aku tahu Bu. Tapi dia tidak akan bisa kembali mengikatku!" kedua tangan Raina mengepal. Semua bukti perselingkuhan Robby sudah ia serahkan ke pengadilan. Dengan semua itu, Robby tidak memiliki alasan untuk mempertahankan pernikahan mereka. Dan tentu, Raina bisa bercerai dengan mudah. Apalagi mereka juga tidak memiliki keturunan.
"Ya sudah jika memang begitu keputusanmu! Ibu tidak akan melarang. Tapi jika terjadi sesuatu, jangan pernah sungkan untuk kembali pada ibu ya?" ucap Bu Joko.
Raina kembali memeluk ibu mertuanya dengan erat. "pasti bu!"
Raina akhirnya mengantar Bu Joko ke stasiun kereta. Raina menemani Ibu mertuanya, sampai tubuh tua itu masuk ke dalam kereta yang perlahan berjalan meninggal kota.
"Hati-hati di jalan Bu? terima kasih sudah menjadi ibu mertua yang sangat baik dan sangat mengerti aku?" gumam Raina sambil melambaikan tangan ke arah kereta yang mulai menghilang.
"Sudah pamitannya?" kata seorang pria yang tiba-tiba menggenggam tangannya dengan lembut.
"Mas Hadi!" Raina terkejut, melihat pria itu tiba-tiba ada disampingnya. "Mas kok tahu aku ada disini?"
"Semua yang berhubungan dengan calon istriku... aku tentu tahu sayang!" kata Hadi.
"Mas ngikutin aku?" tanya Raina.
Hadi tersenyum. "Bukan mengikuti! tetapi memastikan jika calon istriku selalu baik-baik saja dan selalu menjaga hatinya hanya untukku!"
"Mas nakal!" kata Raina dengan nada manja sambil memukul lengannya.
Hadi merangkul wanitanya, mengambil koper yang ada di tangan Raina. Lalu mengajaknya menuju ke rumah baru yang sudah ia persiapkan untuknya.
mungkin sebenarnya... : Mirna SDDANG TAK INGIN bicara, apalagi menjelaskan panjang lebar. Ia lebih memilih pergi meninggalkan SUAMINYA yang tadi....bla bla bla....🙏🙏🙏🙏
dy juga yg melanggar 😂😂😂