NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:177
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Ruang Mesin

Lima menit telah berlalu tanpa percakapan apa pun, dan tato bunga teratau di lidah Rostav telah menghilang. Rostav ingin memastikannya sendiri, dia berdiri dan melangkah menuju lemari, melihat dirinya di cermin dan menjulurkan lidahnya. Memang benar, tato di lidahnya telah menghilang. Rostav tak dapat menyembunyikan rasa leganya, dia mengelus dadanya seolah-olah menganggap bahwa hal yang mengancam nyawanya telah hilang.

'Hubunganku dengan Cia melalui Sumpah Segel Teratai telah terputus, itu artinya aku tidak perlu berkata jujur pada Cia,' dia berbalik dan menatap Cia berbaring di kasurnya dengan tenang dan hening, memunggunginya. 'Kenapa dia tidak menunjukkan reaksi apa pun? Apa dia tertidur?' untuk memastikannya, Rostav melangkah mendekat dan melihat Cia menutup matanya.

Wajahnya yang bagaikan permata bersinar di tengah malam tampak kelelahan. Dia tertidur seperti bayi, polos dan menggemaskan. Sebagian wajahnya tertutup oleh rambut panjang bergelombang miliknya. Rostav menganggukkan kepalanya pelan dan melangkah mundur perlahan, berusaha untuk tidak meninggalkan suara apa pun.

Dia berkeinginan untuk duduk di kursinya, tapi dia segera mengurungkan niatnya dan memilih untuk keluar dari ruangannya sendiri. Melangkah di lorong tempat banyak pintu, dan setelah beberapa saat dia akhirnya sampai di dek atas.

Angin pagi berembus perlahan, menyapu permukaan tubuhnya dengan sentuhan yang dingin tapi lembut. Hembusannya membawa kesejukan yang menenangkan, seolah mampu meredakan segala kegelisahan yang tersimpan di dalam hati. Untuk sesaat, dia hampir melupakan tempat mengerikan yang sedang dipijaknya. Jika saja dia tidak mengetahui bahwa dirinya berada di Laut Mayat, mungkin dia akan mengira sedang berdiri di puncak gunung yang tinggi, menikmati udara segar yang berembus bebas di antara lautan awan.

Di atas sana, hamparan awan merah membentang tanpa batas. Gumpalan-gumpalan awan itu bergerak lambat, bergulung dan berputar seperti ombak raksasa yang mengarungi langit. Warnanya yang merah pekat memberi kesan ganjil sekaligus megah, seakan langit itu sendiri dilumuri darah yang tak pernah mengering.

Matahari merah menggantung di cakrawala, memancarkan cahaya menyala yang menerangi seluruh Laut Mayat. Sinar merah keemasannya jatuh ke segala penjuru, berusaha menembus lapisan kabut tebal yang menyelimuti dunia di bawahnya. Tapi kabut itu tampak begitu pekat dan abadi, menelan sebagian besar cahaya yang datang. Hanya beberapa berkas sinar yang berhasil menerobos, membentuk garis-garis samar yang menari di antara gulungan kabut.

Pemandangan itu menghadirkan keindahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tenang, megah, dan memukau. Tapi di balik keindahan tersebut tersembunyi aura kematian yang tidak dapat disembunyikan. Semakin lama seseorang memandangnya, semakin terasa bahwa tempat ini bukanlah dunia yang seharusnya dihuni oleh makhluk hidup. Laut Mayat tampak seperti alam yang berada di antara kehidupan dan kematian, sunyi, luas, dan menyimpan misteri selama ribuan tahun.

Rostav melebarkan kedua tangannya, mengangkat sedikit kepalanya, dan menutup matanya. Dia ingin menikmati angin pagi yang berhembus dengan sejuk ini, kadang-kadang mengingatkannya tentang Bumi. Jika dia masih di Bumi dan mendapatkan hari libur, pagi hari dia pasti akan pergi memancing di pantai. Inilah hembusan angin yang selalu dia rasakan saat memancing. Sungguh menenangkan, dan sungguh nostalgia.

Setelah merasa puas, Rostav melangkah ke haluan dan berdiri di ujung. Memandang lautan luas yang seolah-olah membentang tanpa batas. Ombak kecil sesekali menabrak lambung kapal, tapi itu tidak menimbulkan dampak besar, hanya sebuah goyangan kecil.

Setelah puas melihat lautan di haluan, dia beralih ke buritan. Di buritan, dia melewati beberapa cerobong asap yang cukup padat dan akhirnya tiba di balkon buritan. Dia menikmati pemandangan lautan di belakang, walaupun visualnya mengerikan, tapi setidaknya ini bisa menjadi hiburan tersendiri baginya. Dia menatap ke bawah, melihat sebuah baling-baling raksasa dan beberapa baling-baling kecil di sisi kiri dan kanan yang tidak berputar sama sekali.

Rostav menduga kalau baling-baling itu terhubung langsung dengan masih rumit di ruang mesin. Rostav sebenarnya ingin mengaktifkannya, tapi dia masih takut untuk melakukannya, takut jika ada salah satu tombol penghancuran diri. Itu sama saja seperti bunuh diri.

Memandangi lautan luas, Rostav bergumam, "aku pernah mendengar sebuah pepatah dalam bahasa Inggris, 'Fortune favors the bold', artinya, 'Keberuntungan berpihak pada mereka yang berani'. Memang benar aku ingin sekali menyalakan baling-baling kapal ini agar perjalanan menjadi lebih cepat, tapi jelas hal ini merupakan hal yang berbahaya. Aku tidak bisa begitu saja berpegang pada pepatah itu. Keberuntungan berpihak pada yang berani, humph. Pepatah itu untuk orang-orang yang tahu kapan harus mengambil risiko dan kapan harus mundur selangkah untuk berpikir. Keberanian tanpa pertimbangan bukanlah keberanian, melainkan kecerobohan."

"Hah," dia tak dapat menahan diri untuk tidak menghela napas, dan kemudian melantunkan sebuah puisi:

"Di ujung dunia yang tak tercatat peta,

terhampar Laut Mayat yang sunyi dan tua.

Airnya merah seperti darah yang tak pernah membeku,

mengalun perlahan di bawah langit yang membara.

"Matahari merah menggantung di cakrawala,

sebuah bola bara yang enggan tenggelam.

Cahayanya jatuh seperti luka yang terbuka,

menyapu ombak dengan kilau muram.

"Awan-awan tebal berarak di angkasa,

merah gelap bagai benteng dari duka purba.

Tak seekor burung menembus tirainya,

tak satu pun bintang berani menatapnya.

"Kabut pekat memeluk lautan tanpa akhir,

menelan cakrawala dan arah pulang.

Dia bergerak perlahan seperti napas raksasa,

membisikkan nama-nama yang telah hilang.

"Ombak tidak pernah dapat diprediksi,

tapi kesunyiannya lebih berat dari badai.

Setiap riak seolah membawa kenangan,

tentang zaman yang tenggelam dan tak kembali.

"Siang dan malam serupa warna,

merah darah yang tak pernah pudar.

Langit, laut, matahari, awan, dan kabut

menjadi satu dalam waktu yang abadi.

"Dan bila seorang pengembara berdiri di tepinya,

dia akan melihat dunia seperti luka terbuka, indah dalam kesuramannya yang ganjil,

mengerikan dalam keheningannya yang setia."

Dia terkekeh dengan puisinya sendiri, merasa puisinya tidak bagus. Dia memang tidak pandai dalam merangkai kata-kata. Setelah menenangkan diri, dia akhirnya kembali ke dalam, dan, entah kenapa dia merasa ingin pergi ke ruang mesin. Dia tidak tahu kenapa, tapi seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya jika tidak pergi ke sana.

Akhirnya, dia melangkahkan kakinya menuju ruang mesin. Ketika pintu terbuka, pemandangan pertama yang terlihat adalah, di seberang, terdapat sebuah rangkaian mesin rumit dan aneh yang berdiri dari ujung kiri hingga ujung kanan. Rostav melirik ke arah kiri, melihat sebuah tungku yang terbuka lebar di sana. Lalu beralih ke arah kanan, melihat sebuah wadah yang berisi tumpukan batu bara penuh, di atas wadah itu terdapat sebuah korek api berbahan kuningan dan tembaga antik dengan detail roda gigi, pipa uap, baut dekoratif, serta ukiran mekanis yang rumit.

Dia sudah mengeceknya.

Dia menatap rangkaian mesin di depannya dengan teliti sambil mengusap dagunya, dia terlihat seperti seorang detektif yang tengah memecahkan sebuah kasus rumit. Memang di rangkaian mesin raksasa nan rumit itu sudah terdapat tiga tombol, tapi Rostav masih tetap khawatir. Khawatir ada sistem penghancuran diri di salah satu tombol.

'Bagaimana jika...' Rostav masih merasa ragu. Dia melihat ketiga tombol secara bergantian sambil menggigit bibir bawahnya, sementara kakinya terus mengetuk lantai tanpa henti. '... bagaimana jika aku mencoba menekan salah satunya?' tapi dengan cepat dia segera membuang ide itu, terlalu berisiko. 'Tidak, itu tindakan bodoh. Lebih baik tetap seperti ini, aku bukan tipe orang yang suka mengambil resiko tanpa kepastian.'

Dia segera membuang napas panjang dan melangkah keluar dari ruang mesin, dan pergi ke ruangannya. Membuka dan menutup pintunya dengan hati-hati, dia melangkah dan duduk di kursinya.

Dia memijat kepalanya yang terasa pusing lalu kembali berpikir, 'ngomong-ngomong, aku masih khawatir dengan kondisiku. Seperti yang dijelaskan oleh Cia, Master Q lebih baik menjinakkan Q yang sesuai dengan Tingkat-annya. Jika memaksa menjinakkan Q dengan Tingkat yang lebih tinggi, maka aura yang dikeluarkan olehnya dapat merusak Laut Primordial dan membuat jantung meledak.'

Memikirkan hal itu membuat tubuhnya merinding tanpa dia mau. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja dan menggunakannya untuk menopang kepalanya.

'Q Ikan hitam itu... Tingkat berapa?' dia teringat saat-saat ketika Q itu masuk ke jantungnya dan berenang-renang di Laut Primordial-nya. 'Fakta bahwa ikan hitam itu masuk ke Laut Primordial menunjukkan kalau dia adalah Q. Huff, yang membuatku khawatir adalah, aku tidak tahu Tingkat-annya. Aku saat ini adalah Tingkat 1 Tahap Awal. Jika Q itu berada jauh di atas Tingkat 1, maka hidupku bisa dalam bahaya.'

Rostav tak bisa untuk tidak panik. Keringat segera membasahi dahinya, sebelum akhirnya dia mengambil napas panjang berkali-kali untuk menenangkan dirinya.

'Bagaimana caraku untuk masuk ke Laut Primordial lagi?' dia teringat pengalamannya saat pertama kali masuk ke Laut Primordial. 'Jujur saja, waktu itu aku tiba-tiba dipindahkan ke sana... apa sistemnya sama seperti sihir di film? Bagaimana jika aku mencobanya... ya, tidak ada salahnya. Seharusnya tidak akan ada masalah jika aku gagal, kan?'

Rostav akhirnya memejamkan mata, memfokuskan pikirannya untuk memikirkan Laut Primordial. Dan, saat dia membuka mata, dia mendapati dirinya berdiri di atas laut berwarna biru gelap dengan bintang-bintang berwarna perak, kuning, dan hijau di langit.

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!