Dara Svaroski adalah seorang wanita yang terbunuh dalam sebuah konspirasi kecelakan yang di dalangi sang suami dan ibu tiri nya.
Dara terbangun dan mendapati dirinya kembali di kehidupan sepuluh tahun silam.
Apakah ini adalah kesempatan kedua bagi Dara untuk memperbaiki takdir kejam dari kehidupan sebelumnya ?
"Banyak musuh yang harus aku singkirkan, demi menyelamatkan nyawa orang yang paling aku sayangi.." -Dara-
Akankah Dara berhasil membalas dendam terhadap para penjahat yang berkedok orang terkasih ?
Lalu , bagaimana jika dalam perjalanan balas dendam itu Dara bertemu seorang pria yang mencintainya penuh kelembutan ? akan kah pria itu mampu menghentikan tekadnya ?
Mari simak kisah Dara dan perjalanan asmaranya dalam mengubah takdir~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet_mochi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 DEMAM
Menjelang pagi,
Hari yang sibuk bagi semua pelayan di rumah besar. Mereka harus sudah membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan sebelum siempunya rumah keluar dari kamarnya.
Namun pagi ini berbeda..
Hingga pukul sembilan pagi, William belum menunjukkan tanda tanda keluar dari kamar. Pelayan pun tidak ada yang berani mengganggu tuan muda mereka, terkecuali Dara yang sudah siap dengan penampilan terbaiknya pagi ini.
"Saya sudah mengetuk pintu tadi, namun tuan muda tidak ingin diganggu, Nona Dara." ucap Meri sopan.
"Tapi ini sudah siang, Aku akan periksa ke kamarnya." Dara memutuskan untuk membangunkan William setelah melihat jam di dinding yang semakin menuju siang hari.
Bukan kah dia harus bekerja? Kenapa sesiang ini belum bangun juga ?
Dara mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada sahutan, karena khawatir, Dara mengumpulkan keberanian untuk memeriksa ke dalam kamarnya.
Ceklek~ pintu kamar terbuka dan Dara masuk ke dalam nya.
"Tuan William~" panggil Dara lirih kala melihat pria yang dimaksud masih berada di balik selimut.
"Tuan William, kamu baik baik saja ? Ini sudah siang. Bukan kah kamu harus bekerja?" tanya Dara yang masih berdiri di dekat pintu.
"Hhmmm~" William hanya menggumam tak bersuara.
Kini Dara sudah berdiri di dekat ranjang, tepat di sisi ranjang untuk memastikan kondisi William yang tampak lesu, enggan membuka mata.
"Astaga~ tuan William Kamu demam !" kening William terasa panas saat Dara menempelkan telapak tangannya.
"Hhmmm~" lagi lagi William melenguh mengiyakan.
"Biar aku telpon dokter ya ?" Dara semakin khawatir.
"Jangan, aku tidak butuh dokter." William menggeleng pelan.
"Tapi kamu harus diperiksa, tuan Willaim."
"Aku tidak mau dokter.."
Suara William terdengar lirih sambil tetap memejamkan mata.
"Lalu bagaimana ini~" Dara mulai berpikir untuk melakukan pengobatan tradisional.
Aku akan kompres saja~
"Dara... Jangan pergi... "
William menahan pergelangan tangan Dara yang ingin keluar dari kamarnya.
"Aku akan ambil kompres , tuan. Tunggu sebentar ya."
"No.. Aku tidak mau. Aku hanya mau kamu.."
Seettt~ satu gerakan cepat dan William berhasil menarik Dara terduduk disisi ranjangnya.
"Tuan William jangan begini..." Dara merasa canggung saat William mendekap erat pinggang nya , Tangan kekar itu mengunci pergerakan Dara.
"Begini jauh lebih baik. Jangan pergi.." gumam William yang meringkuk mendekap Dara yang duduk di sisi ranjang nya .
Huft~ baiklah~ Dara menghela nafasnya lalu membiarkan William tetap merengkuh pinggang nya yang ramping.
Padahal aku sudah siap dengan penampilan terbaikku untuk bilang terima kasih, seperti yang diajarkan Cyeril semalam~
Tidak ada suara selain suara hembusan nafas keduanya yang seakan menggema di dalam ruangan.
Sungguh Dara ingin sekali memanggil Meri supaya membantu menyiapkan alat kompres, namun William membuat tubuhnya tidak bisa bergerak.
"pegal juga kalau lama lama begini.."
Sudah setengah jam dan Dara mulai merasa pegal, "punggung ku pegal, huhuhuu~ William bangunlah, geser tanganmu !!"
Dara merasa tidak enak jika harus membangunkan William yang terlelap seperti bayi.
Punggungku kram, huhuhuu~
Hingga entah bagaimana caranya kini Dara ikut terbaring di sisi ranjang. Dengan William yang masih belum melepaskan tangannya dari pinggang.
Suasana rumah besar terasa sepi, saat ini bahkan sudah lewat tengah hari dan para pelayan sudah kembali ke rumah belakang.
Tubuh William begitu hangat , tapi belum mau minum obat. Dara semakin khawatir, bagaimana jika demam tidak turun ?
"Tuan William , bangunlah dulu. Biar aku ambilkan makanan lalu minum obat penurun panas."
"No.. Aku tidak butuh obat.."ucap William lirih, kali ini dia membuka mata lalu menatap Dara yang terbaring di sisinya.
"Kalau begitu, lepaskan aku.." kata Dara pelan sambil berusaha menggeser tangan William yang tidak bergerak dari tubuhnya.
"Akan aku lepaskan, tapi dengan satu syarat.."
"Apa ?"
"Obati aku dulu.."
"Eh~ apa~"
Hhmmpp..