Baru saja menikah Prashadi mengajak istrinya hijrah ke kota lain. Namun sayangnya mereka terjebak di sebuah kampung yang sarat dengan hal mistis.
Meski berbahaya, Prashadi memilih bertahan karena di sana lah satu-satunya tempat aman untuknya dan sang istri sembunyi dari kejaran orangtua mereka masing-masing.
Keanehan dan ketakutan terus membayangi hingga nyaris membuat mereka gila.
Kengerian seperti apa yang dijumpai Prashadi dan istrinya selama tinggal di kampung itu ?.
Penasaran ?. Ikuti kisahnya yuukkk ...
( Novel ini murni buah pikiran Author. Nama dan tempat yang ada di novel ini hanya fiksi. Mohon bijak membaca dan berkomentar. Terima kasih 🙏 )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Ke Tempat Seharusnya
Di perjalanan menuju Rumah Sakit Prashadi makin panik saat melihat kedua mata Artha yang semula mendelik ke atas itu perlahan menutup. Bersamaan dengan itu tubuh Artha yang semula kaku perlahan menjadi lemas, lunglai seolah tanpa tenaga. Bahkan jika Prashadi tak memeluknya dengan kuat, tubuh Artha pasti merosot ke lantai mobil saking lemasnya.
" Ya Allah ..., Sayang. Bangun Sayang !" jerit Prashadi sambil menepuk pipi Artha beberapa kali.
Ahmad yang sedang mengendarai mobil pun menoleh karena khawatir.
" Ada apa Pras ?. Kenapa teriak-teriak ?!" tanya Ahmad dengan lantang.
" Istri Saya ga bergerak Pak !" sahut Prashadi.
" Ga usah panik dulu Pras. Coba Kamu cek nafas dan urat nadinya. Kalo masih ada, artinya Istrimu gapapa ...," saran Ahmad.
Tanpa membuang waktu Prashadi segera melakukan apa yang Ahmad katakan. Sesaat kemudian Prashadi nampak menghela nafas lega.
" Alhamdulillah ..., nafasnya ada dan nadinya masih berdenyut Pak," kata Prashadi dengan suara bergetar.
" Alhamdulillah ..., itu bagus. Kejadian kaya tadi udah biasa di kampung ini Pras," kata Ahmad sambil melirik Prashadi melalui kaca spion.
" Maksudnya udah biasa gimana ya Pak ?" tanya Prashadi tak mengerti.
" Semua yang sakit tiba-tiba di dalam wilayah kampung, kalo dibawa keluar kampung bakal tambah parah atau bahkan kritis. Tapi itu hanya sebentar. Setelah melewati gerbang kampung semuanya kembali normal. Ya seperti Istri Kamu itu," sahut Ahmad.
" Kenapa begitu Pak ?" tanya Prashadi.
" Kalo itu Saya ga tau jawabannya. Emang begitu lah kepercayaan yang mengakar turun temurun di kampung ini. Ya ... semacam peraturan tak tertulis dari leluhur kampung gitu lah Pras," sahut Ahmad.
Prashadi pun mengangguk tanda mengerti. Dia kembali mengamati Artha yang ada dalam pelukannya. Saat menatap wajah Artha, ada sakit yang menghimpit dadanya hingga membuat Prashadi menitikkan air mata.
" Maafin Aku ya Sayang, maafin ketidak mampuan Suamimu ini. Padahal Aku janji mau bikin Kamu bahagia. Tapi belum apa-apa aja Kamu udah berkali-kali sakit dan mengalami kejadian yang ga mengenakkan kaya gini," kata Prashadi penuh sesal.
Meski diucapkan dengan suara lirih, namun Ahmad masih bisa mendengarnya. Dia menghela nafas panjang karena tahu Artha sedang menderita penyakit non medis yang dia yakin tak akan terlacak di Rumah Sakit nanti.
" Ehm. Kalo boleh saran, sebaiknya Istrimu jangan dibawa ke Rumah Sakit Pras ...," kata Ahmad tiba-tiba.
" Lho, kenapa Pak ?. Bukan kah lebih baik Kita ke Rumah Sakit biar sekalian cek up menyeluruh. Saya mau tau sebenernya Istri Saya nih sakit apa. Kok belakangan makin kurus dan keliatan ga bersemangat. Saya khawatir Artha mengidap penyakit dalam tapi dia sengaja ga mau bilang karena khawatir merepotkan Saya," sahut Prashadi.
Entah mengapa mendengar ucapan Prashadi justru membuat Ahmad tertawa geli. Prashadi pun mengerutkan keningnya karena bingung dengan sikap Ahmad.
Menyadari kebingungan Prashadi, Ahmad pun menghentikan tawanya.
" Maaf Pras. Saya ga bermaksud meremehkan Kamu. Tapi Saya yakin Kamu juga udah tau kalo penyakit yang diderita Istrimu bukan penyakit medis. Jadi berhenti lah berpura-pura," kata Ahmad hingga membuat Prashadi terkejut.
Untuk sejenak Prashadi nampak salah tingkah dan bingung harus merespon seperti apa. Dia tak menyangka Ahmad mengetahui rahasia yang sedang berusaha dia tutupi.
" Dan daripada Kita buang waktu ke Rumah Sakit, ada baiknya Kita langsung ke tempat yang seharusnya. Karena percuma Pras. Rumah Sakit juga ga akan bisa mendeteksi penyakit Istrimu. Yang ada Kamu cuma buang uang untuk bayar administrasi, ini itu dan sebagainya. Jadi saran Saya, Kita langsung bawa Istrimu ke tempat alternatif itu," kata Ahmad sesaat kemudian.
" Keliatannya Pak Ahmad yakin banget kalo penyakit Istri Saya cuma bisa disembuhin di tempat itu. Jangan-jangan ...," ucapan Prashadi terputus karena Ahmad memotong cepat.
" Iya Pras. Saya memang beberapa kali membantu warga yang menderita penyakit aneh macam Istrimu itu. Sebagian meninggal karena ga kuat melewati tekanan di gerbang kampung tadi. Dan sebagian lain berhasil selamat setelah Saya membawa mereka ke tempat itu. Saya menawarkan bantuan kaya gini ga ke sembarang orang Pras. Saya liat-liat dulu. Kalo orangnya emang masih bisa insyaf, ya Saya bawa ke sana. Tapi kalo orangnya terlalu percaya sama hal mistis, Saya angkat tangan. Karena percuma memaksakan pengobatan ini sama orang yang lebih percaya setan daripada Allah," kata Ahmad sungguh-sungguh.
Ucapan Ahmad menyentuh hati Prashadi. Sesaat kemudian Prashadi pun menganggukkan kepala pertanda setuju dengan saran Ahmad.
Ahmad pun tersenyum lalu membelokkan arah mobil. Awalnya mobil bisa berjalan tenang di atas jalan beraspal, tapi tak lama kemudian mobil mulai berguncang karena masuk ke jalan yang rusak.
Prashadi pun memeluk Artha kian erat. Entah sadar atau tidak, Prashadi mulai berdzikir dalam hati sepanjang perjalanan menuju tempat pengobatan yang dikatakan Ahmad.
" Nah, Kita sampe Pras ...," kata Ahmad setelah mobil berguncang setengah jam lamanya.
" Alhamdulillah ...," sahut Pras sambil meluruskan tubuhnya yang terasa sakit akibat guncangan mobil tadi.
" Kamu tunggu sebentar di mobil ya Pras. Saya liat ke dalam dulu. Siapa tau Istrimu beruntung bisa mendapat pengobatan lebih cepat dan ga perlu ngantri ...," kata Ahmad sambil membuka pintu mobil.
" Iya Pak ...," sahut Prashadi.
Dari dalam mobil Prashadi bisa mengamati gerak-gerik Ahmad. Dia yakin Ahmad sudah akrab dengan pemilik rumah pengobatan itu karena Ahmad langsung menerobos masuk tanpa mengisi buku tamu seperti yang lain.
Tak lama kemudian Ahmad kembali sambil mendorong kursi roda. Di belakangnya terlihat seorang wanita yang Prashadi kenal yaitu Erni, karyawan toko obat tempat dia membeli test pack beberapa waktu lalu.
" Lho, Kamu Pras. Ini ...," ucapan Erni terputus karena Prashadi memotong cepat.
" Istri Saya Mbak," kata Pras.
" Astaghfirullah aladziim. Ayo cepet bawa masuk Pras !" kata Erni.
Prashadi mengangguk. Dibantu Ahmad dia menurunkan Artha dari dalam mobil lalu mendudukkannya di atas kursi roda. Setelahnya dengan sigap Erni mendorong kursi roda itu menuju ke dalam rumah diikuti Prashadi dan Ahmad.
Saat melintas di teras, Prashadi melihat dua orang terbaring di lantai dan sedang mendapat pertolongan.
" Mereka ga sempet digotong ke dalam karena berat. Makanya diobati di tempat," bisik Ahmad menjelaskan.
Prashadi pun mengangguk. Kemudian dia masuk ke dalam ruangan dimana Artha dibaringkan sedangkan Ahmad menunggu di teras.
Dari tempatnya berdiri Prashadi bisa mengamati apa yang Erni lakukan. Sekilas melihat saja Prashadi tahu jika Erni memegang peranan penting di rumah pengobatan itu.
" Masih bisa !" kata Erni sesaat kemudian.
" Apanya yang masih bisa Mbak ?" tanya Prashadi penasaran.
" Insyaa Allah Istrimu masih bisa diobati Pras. Tapi Kamu harus sabar karena kesembuhan sempurna ga bisa didapat secara instant," sahut Erni sambil tersenyum.
" Alhamdulillah ..., iya Mbak Saya tau. Makasih Mbak ...," kata Prashadi dengan mata berkaca-kaca.
" Jangan makasih dulu Pras. Masih banyak yang harus Kita lakukan lho," kata Erni mengingatkan.
Prashadi mengangguk cepat tanpa suara. Dia terlalu antusias mendengar kemungkinan istrinya bisa sembuh seperti sedia kala.
\=\=\=\=\=
Semngt bkin crta horor lgi thor mkasih 🙏
Aamiin ya Robb 🤲