Tentang Ulama, di benak Tumang ialah seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan. Tanpa sayu, parau dan Lelah memberikan nasehat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya. Seperti perkataan Malaikat Jibril, “Ulama adalah Pelita dunia dan akhirat.”
Selain berkelana mencari dambaan hati, Tumang juga selalu berusaha memperbaiki diri dan berusaha sabar, Ridha dengan apa yang di dapat dari karunia Allah serta selalu berbuat Kebajikan. InsyaAllah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelabu
Di Tengah perjalanan yang terpisah, Tumang menghela nafas Panjang. Dia berinisiatif memberikan pendapat perihal peristiwa lama yang terjadi di pesantren. Tumang mengucapkan istighfar tiada henti, dia paham tiada sebab yang timbul dari asap yang tersulut kecil. Mengupas habis di mulai dari ketukan pintu salah satu rumah warga.
Tok tok tok (Suara ketukan pintu yang sedikit keras)
Tumang dan Butet memanggil si pemilik rumah, namun tidak ada yang membuka pintu untuk mereka. Orang-orang yang di dalam terlalu takut menghadapinya. Sosok yang menjelma di sebut- sebut penunggu ghaib yang mengganggu ketenangan wilayah perkampungan pasti akan melenyapkan mereka.
"Ben, coba kau lihat dua anak remaja disana. Aku yakin kalau si Barokot melihat mereka maka dia akan memberitahu ke Boncel"
"Ton, jangan keras-keras. Biarkan saja, bukan urusan kita toh.."
Tiga puluh menit berlalu, seorang wanita yang memakai songkok bertubuh sedikit membungkuk membukakan pintu. Dia menoleh ke kanan dan kiri, melihat suasana Nampak sepi lalu dia buru-buru meminta mereka masuk. Rumah yang menarik pandangan akan gantungan bawang merah, bawang putih dan bungkusan kantung kecil yang tergantung di atas langit langit ruangan.
Campur aduk aroma yang di hirup, Butet membantu mendudukkan Tumang di kursi Panjang yang terbuat dari papan. Tumang menahan rasa sakit, tubuhnya panas dingin, gigi menggertak ngilu, menahan hantaman yang tidak bisa lagi di menguatkan pertahanan sampai dia tidak sadarkan diri.
"Tumang!" teriak Butet.
Nek Yus, begitulah para warga memanggilnya. Dia selesai merebus air, di dalam tungku yang sederhana itu sisa arang masih menyala. Dia memanggang beberapa potong daging dengan tusukan bambu kecil. Satu tusukan di berikan ke Butet, aroma ciri khas daging matang yang menggugah selera.
"Tapi, ini daging apa? Bagaimana jika daging yang haram untuk di makan?" batin Butet dengan perasaan bimbang.
"Aku jadi teringat debat yang berlangsung sewaktu aku sekolah di bangku SMP. Materi yang mengenai hukum seorang musafir yang tersesat di padang tandus. Berhari-hari tidak makan dan minum, sampai seorang pria menawarkannya daging anjing yang di haramkan di konsumsi orang muslim. Semua pernyataan dan berbagai macam pertanyaan terpacu di rangkum pada kata haram hukumnya" sambungan gumamnya yang semakin Panjang.
Butet menerima sambil membalas senyuman wanita itu. Perut keroncongan, sangat jelas suara cacing yang berbunyi menari-nari seperti memakai pengeras suara berukuran besar. "Nek, maaf tapi saya herbivora ehh anu nek maksudnya Vegetarian" Glekk
"Wah-wah saya salut melihat jiwa muda anak masa kini. Ternyata kalian mementingkan pola hidup sehat. Tapi, nenek hanya punya daging. Jika kamu mau, ambillah ubi kayu di bagian samping rumah.."
"NggnngG
Butet hanya dapat bergumam meracau.
Menurut cerita dari wanita yang Bernama Yus, dia menceritakan peristiwa aneh yang mengganggu pesantren itu. Dia juga tergolong manusia yang beriman, kerudung berwarna hitam di pakai Ketika menyodorkan sebuah buku berisi juz amma.
Tahun-tahun yang terlewati, Butet melihat semua foto dokumentasi dan secercah Riwayat hidup dari seorang pria yang Bernama Kliwon. Iblis telah merusak, mengacau balau dan menghancurkan keimanannya. Pikiran kacau tidak tentu arah, sampai pemondokan di kenal sebagai tempat angker.
"Kamu kalau percaya saya, sebelum matahari terbit akan membawa kamu teman mu menyebrang lautan. Tempat ini terlalu berbahaya untuk kalian. Tapi, dengan satu syarat. Jika sudah bertekad pergi maka jangan pernah Kembali lagi. Atau seumur hidup kalian akan terjebak disini."
Waktu pukul 03:00 WIB, terdengar suara burung gagak membangunkan Tumang. Dia tidak mau melewatkan sepertiga malam walau kondisinya masih sulit bergerak sendiri. Membersihkan diri dengan tayamum,Tumang menjalankan sholat sunah dan meminta petunjuk pada Illahi.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Apa yang kini kamu rasakan pada luka di punggung mu? apakah terasa lebih sakit?" tanya Yen.
"Nggak nek. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas pertolongan nenek."
"Cukup, jangan habiskan tenaga di tambah harus kesusahan berdiri demi menyapa ku. Saya tidak banyak menolong kalian. Bersiaplah sebelum fajar menyingsing kalian akan berangkat."
"Nek. Sebelumnya tolong berikan tasbih ini pada Butet. Aku tidak akan pergi nek, antar lah Butet pulang dengan selamat."
Yen mengganggu, dia menggenggam tasbih dan kemudian menutup pintu. Berjarak beberapa jam berlalu, Butet menerima dengan senang hati. Tasbih yang terasa dingin, dia pun berpikir kalau Tumang ada di dalam kapal. Seperti ucapan Yen, katanya kalau dia sendiri yang membawa Tumang masuk.
Tasbih berwarna putih itu ternyata di dalam kegelapan menimbulkan Cahaya berwarna putih kehijauan. Butet tersenyum, di atas kapal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya dan tidak pernah di lihat di dermaga Ketika dia tiba di pulau tersebut.
Kapal yang sepi,
Tum, kamu Dimana?" panggil Butet.
"Butet, aku di sini," jawab Tumang dari belakang. Dia berdiri dengan senyum lebar, memegang seikat bunga warna-warni sebagai hadiah untuk Butet. "Ayo kita jelajahi pulau ini bersama-sama." Mereka berdua pun melangkah menjauhi kapal menuju petualangan yang baru.
Butet merasa dingin mengalir di sepanjang tulang belakangnya saat mendengar suara itu. Dia menoleh ke arah sumber suara dan melihat sosok yang mengintimidasi di balik bayangan. Wajahnya tertutup oleh kegelapan, tapi aura kejahatan yang menyelimuti tubuhnya begitu terasa.
"Siapa... siapa kamu?" desis Butet, langkahnya terhenti.
"Ssst... jangan takut, Butet. Aku adalah teman Tumang. Dia tidak bisa datang karena ada hal yang mendesak. Dia meminta aku untuk menjemputmu dan membawamu kepadanya," suara itu menggema, membuat rambut di leher Butet berdiri tegak.
Namun, hati Butet tidak tenang. Dia merasa ada yang salah dengan situasi ini. Tumang tidak akan mengirim sosok misterius seperti ini untuk menjemputnya. "Aku... aku tidak percaya padamu. Aku menunggu Tumang di sini," ujarnya dengan suara gemetar.
"Sialan! Kamu tidak bisa melarikan diri dari sini," bentak sosok itu tiba-tiba, menggugah kegelisahan Butet. Dia berusaha mundur, namun kakinya terasa terpaku di tempat.
Tiba-tiba, cahaya kebiruan menyinari ruangan itu. Sosok itu mendesis kesakitan dan kemudian menghilang, meninggalkan Butet dalam kebingungan. Dalam kepanikan, Butet berusaha mencari jalan keluar dari kapal itu, mencari Tumang dengan harapan bisa melarikan diri dari ancaman yang tidak diketahui.
"ihihii__Butet! Kamu tidak ingin melihat siapa sosok yang di depan mu? Kamu pasti akan mengakuinya. Peran makhluk yang pernah menjadi bagian orang-orang terdahulu. Terlebih lagi, apakah engkau tidak menginginkan kembalinya saudara mu yang pernah menghilang di pantai? Aku bisa membantu mu. Ayo__ ikuti aku.."
Makhluk yang mengerikan itu menggoda dan menginginkan darah Butet. Dia tidak sabar mendapatkan persetujuan darinya.
Arrgghh___
Balung seharusnya suruh dzikir saja biar nggak ketasukan setan atau apa gitu. jangan biarkan jiwa kita kosong apalagi saat kondisi kita dalam ketakutan seperti itu. Tukang dan teman teman seharusnya kalian baca surat pendek saja biar para setan nggak bisa mendekati kalian.
Maaf ya kak🙏😊💕
namun juga menegaskan bahwa kegelapan itu tidak terkalahkan. Selain itu, interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah lapisan kompleksitas pada cerita, dengan pembaca dibawa pada perjalanan yang penuh dengan ketidakpastian dan keberanian yang tersembunyi. Kesimpulannya, komentar tersebut berhasil menarik perhatian pembaca dan membangun suasana yang mencekam.
Penjelajah pemberani yang menantang kegelapan memberikan dorongan pada narasi, namun nasibnya yang tragis menegaskan bahwa kekuatan jahat itu tidak terbendung. Suara-suara mengerikan yang menggema dari rumah tua yang terkutuk menambah lapisan ketegangan yang mencekam, sementara ketidakberdayaan warga desa yang terperangkap dalam cengkeraman kegelapan menciptakan atmosfer yang memicu adrenalin.
Interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah kompleksitas pada cerita, dengan kehadiran tokoh tua tersebut memberikan nuansa yang lebih dalam terhadap rahasia yang tersembunyi di balik kegelapan itu. Ketegangan mencapai puncaknya ketika suara gemuruh yang menakutkan kembali menggema, memotong keheningan malam dengan kekerasan yang menakutkan, meningkatkan ketidakpastian dan kecemasan pembaca.
Dengan setiap langkah yang diambil Butet dalam usahanya untuk melawan kegelapan, pembaca merasakan ketegangan yang semakin memuncak, sementara suara tawa jahat Kliwon dan pengikutnya menggema di antara bayangan-bayangan gelap, menambah ketakutan yang menyelimuti pikiran.❤️
Sirih harus benar-benar kuat untuk bertahan menghadapi semua ancaman yang muncul dari kegelapan. Di bab ini si Butet liat si nenek menapak di atas tanah nggak?