NovelToon NovelToon
Pengantin Pria Yang Tak Terduga

Pengantin Pria Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:184.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Annami Shavian

Niat hati ingin dinikahkan dengan kekasihnya, Rania justru dinikahkan dengan Dave, ayah kekasihnya tanpa sepengetahuan nya.

Suatu hari. Pernikahan Rania hampir saja batal, sebab pengantin prianya kabur entah kemana. Ketika Dave meminta maaf pada keluarga Hamid Malik atas kelakuan putranya, Hamid justru memaksanya untuk menikahi Rania menggantikan putranya, Kevin.

Dave tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Hamid. Selain Hamid mengancam Dave akan menyebarkan scandal putranya dengan putrinya ke media, Dave pun tak tega pada Rania yang konon katanya sudah dirusak oleh putranya.

Lantas, kemana Kevin? Dan apakah Rania menerima pernikahan nya dengan pria tua yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerak telor

Dave akhirnya menemani Rania mencari makanan yang istrinya itu ingin kan.Tadi, Rania mengatakan dirinya ingin makan kerak telor. Entah makanan sejenis apa pikir Dave. Jangankan memakannya, mendengar namanya saja Dave baru kali ini.

"Kemana lagi kita harus mencarinya, Rania?" Tanya Dave, mulai agak kesal.

Bagaimana tidak kesal. Sudah dua jam lamanya mobil Dave muter-muter kota tapi tidak membuahkan hasil. Sebelum mencari, Dave sempat mencari letak alamat si penjual melalui internet. Akan tetapi pencarian nya itu tidak berhasil. Makanan khas kota itu ternyata tidak dijual di sebuah gerai apalagi di sebuah restauran. Biasanya makanan itu hanya berupa angkringan dan dijual keliling. Penyebab utama Dave kesulitan mencarinya, karena makanan berbahan dasar ketan putih, telor, ebi kering itu terbilang langka.

"Ya cari saja terus, Om. Lama-lama pasti dapat. Percaya deh," sahut Rania dengan enteng nya.

Dave menghela nafas panjang.

"Sabar, sabar..."Bathin Dave, mengusap-usap jambangnya yang sudah tumbuh lebat.

Permintaan Rania kali ini agak lain. Jika kemarin Rania meminta makanan beraroma kencur dengan porsi satu mangkok dan sudah tentu dapat mengenyangkan perutnya. Kali ini Rania meminta makanan yang menurut Dave tidak akan membuat perutnya kenyang. Padahal tadi Rania bilang kelaparan. Tapi kenapa Rania justru meminta makanan yang tidak akan membuat perutnya kenyang? Dave pikir ini cukup aneh.

"Apa jangan-jangan permintaan Rania ini sebenarnya atas keinginan baby nya? humm, andai saja baby yang dikandung Rania itu anakku, sampai ke ujung dunia pun akan ku cari yang namanya kerak telor itu."

Dave mengusap wajahnya gusar. Menyadarkan dirinya dari khayalan yang tak akan pernah jadi kenyataan.

"Apa tidak sebaiknya kamu makan yang lain saja, Rania. Makanan yang kamu inginkan ini sulit sekali mencarinya. Kamu boleh makan apa saja yang kamu mau di restauran. Kalau perlu seisi restauran saya booking khusus untuk kamu," bujuk Dave.

Rania menggelengkan kepalanya. Bujukan Dave yang terdengar menggoyangkan lidah itu sama sekali tak bisa merubah pikiran Rania yang keras kepala.

"Pokok nya aku cuma mau makan kerak telor, Om. titik tidak pakai koma."

Lagi-lagi, Dave hanya menghela nafas panjang.

"Kenapa sikap Rania berubah menjadi manja seperti ini ? apa sikap nya ini karena bayi nya juga? Ya ampun baby, please. Jangan bikin opa mu ini seperti melayang-layang diatas awan."

Dave menggaruk-garuk kepalanya, frustasi.

Tiga jam berlalu. Dave terpaksa memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, saat tangan nya terasa kram.

"Kenapa berhenti, Om?" Tanya Rania.

"Istirahat sebentar. Tangan saya pegal banget, Ran," kata Dave, lalu meregangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Rania tersenyum samar.

Saat Dave sedang mengendurkan otot-ototnya, sorot matanya tertuju ke arah keramaian di sebuah pameran berlatar outdoor. Terlintas di otak Dave untuk membawa Rania ke sana saja. Siapa tahu disana nanti Dave dapat menemukan makanan yang diinginkan Rania. Jika pun tidak, setidaknya di sana pasti banyak pilihan jajanan lain yang mungkin Rania sukai, lalu melupakan makanan yang dia inginkan.

"Bagaimana kalau kita ke sana saja!"

Rania melirik ke arah Dave." Kemana?"

"Tuh!" dagu Dave menunjuk ke arah tempat pameran yang dilihat olehnya tadi. Rania mengikuti arah tatapan Dave.

"Mau ngapain kesana?" Tanya Rania.

"Mencari makanan yang kamu inginkan."

"Memangnya ada di tempat seperti itu?"

"Mudah-mudahan saja ada."

"Tapi kalau tidak ada bagaimana?"

"Kita cari ke tempat lain. Sudah. Yuk turun." Dave membuka sabuk pengamannya. Rania mau tak mau terpaksa mengikuti Dave meskipun sebenarnya, Rania kurang yakin. Tapi tak apalah yang penting perginya bersama Dave. Kalau masalah makanan itu ada atau tidak, Rania tidak peduli. Toh, mencari kerak telor itu sebenarnya bukan tujuan utama Rania melainkan....Rania tersenyum tanpa terlihat oleh Dave.

Dave cukup terkejut saat tiba-tiba tangan Rania merangkul tangannya. Dave melirik ke arah wajah Rania yang matanya sedang mengedar kesana kemari.

"Apa Rania tidak sadar sama apa yang sedang dia lakukan?"

Agar tak disalahkan ketika Rania sadar, Dave berusaha melepaskan tangannya dari rangkulan tangan Rania, tapi Rania justru mempererat pegangan tangannya. Dave semakin tegang saja.

"Om, kita kesana yuk!" ajak Rania. Menunjuk suatu tempat dengan dagunya.

Di tengah ketegangan, Dave hanya bisa manggut manggut tanpa berkata sepatah kata pun.

Rania nampak menikmati tempat keramaian itu. Tersirat dari raut wajahnya yang selalu tersenyum di setiap gerak langkah kaki mereka. Dan selama itu pula tautan tangan Rania tak lepas dari tangan Dave.

Bukan Dave tak senang atas apa yang Rania lakukan. Hanya saja, Dave takut apa yang Rania lakukan ini diluar kesadarannya. Bagaimana jika nanti Rania sadar lalu menyalahkan dirinya? Dave tak mau Rania marah lagi dan lagi.

"Ehem, apa tidak sebaiknya tangan nya dilepas! saya tidak mau....."

Mendengar permintaan Dave yang menggantung, Rania langsung mengendurkan tautan tangannya lalu tangan mereka terlepas. Wajah senyum Rania pun seketika berubah datar tanpa ekspresi.

"Sorry!" ucap Rania singkat, mengalihkan tatapan nya ke arah lain.

Dave manggut-manggut tanpa berkata. Di tengah situasi saling diam tanpa sengaja sorot mata Dave mengarah ke arah sebuah angkringan. Meskipun Dave belum tahu pasti orang itu penjual kerak telor atau bukan, tapi jika dilihat dari angkringan nya, itu sama persis dengan apa yang dirinya lihat di internet.

"Sepertinya itu penjual kerak telor. Kita kesana yuk!" ajak Dave pada Rania yang hanya diam saja.

Karena Rania tidak merespon ajakan nya, Dave pun mengajak ulang." Kita kesana yuk! bukanya tujuan utama kamu keliling kota ini untuk mencari makanan yang kamu inginkan, Rania?"

Rania menelan saliva nya yang terasa tercekat di tenggorokan nya. Andai pria ini tahu jika tujuan utama Rania adalah....tapi ya sudahlah. Rania langsung bergerak mendekati penjual angkringan itu tanpa berkata apa-apa pada Dave. Lagi-lagi Dave hanya menghela nafasnya melihat punggung Rania yang sudah menjauhinya.

Tiba di tempat penjual angkringan, Rania tak langsung memesan nya melainkan hanya berdiri mematung dengan kedua tangan menyilang diatas perutnya.

"Bapak ini penjual kerak telor bukan ya?" Dave memastikan terlebih dahulu agar tak salah.

"Benar, Tuan."

Dave tersenyum lebar, tapi tidak dengan Rania yang hanya diam dengan ekspresi wajah yang tak berubah.

"Kalau begitu, saya pesan ya, Pak!"

"Mau telor bebek apa telor ayam, Tuan?"

"Oh, ada pilihannya ya?"

Pedagang itu mengangguk. Dave melihat ke arah Rania." Kamu mau telor bebek atau telor ayam, Rania?"

"Terserah," jawab Rania singkat dan dengan tatapan yang mengedar ke arah lain. Karena Rania hanya menjawabnya terserah, Dave pun akhirnya memesan telor bebek saja.

Beberapa menit kemudian, kerak telor Rania sudah selesai dibuat. Dave langsung membayarnya.

"Wah, Tuan. Apa tidak ada uang kecil saja," kata si penjual.

"Tidak usah di kembalian, pak. Ambil saja semuanya."

"Terima kasih, Tuan," ucap pedagang itu tersenyum lebar.

Setelah itu, Dave mengajak Rania ke sebuah kursi kosong. Rania menurut tapi tak berkata apa-apa.

"Ini makan lah. Mumpung masih hangat," ucap Dave sambil menyodorkan makanan itu ke arah Rania. Tanpa berpikir panjang, Rania langsung menyambar dan melahapnya dengan ekspresi emosi yang tertahan. Tapi di tengah Rania mengunyah makanan itu, tiba-tiba...'hueekk' Rania memuntahkan nya. Dave terkejut, dan langsung membantu memijit tengkuk Rania.

Tanpa Rania dan Dave sadari. Dari jarak beberapa meter, sesosok manusia berdiri memperhatikan mereka dengan sorot mata yang berkaca-kaca.

1
Lea
Ga ad niatan lanjutin rania nich kak
Rumaisha Alaa
thor kapan lanjutannya ditunggu
Nenden Lasminingsih
kapan up lagi thor,,,ditunggu lanjutannya
RizQiella
lanjut kk
RizQiella
🤣🤣🤣🤣 kasihan gatot
RizQiella
temen2 toxic gitu
RizQiella
Kevin bukan anaknya
RizQiella
wkwkkw makanya jangan So🤣
RizQiella
🤣
RizQiella
kasian di blokir 😂
RizQiella
jangan jangan sama si kep kep
RizQiella
Rania Rania😁
Lea
Buntu nich thor di anggurin aja ga di lanjuutt
Annami Shavian: hehe keasikan ma rubi🤦🤦🤦tunggu rubi ketemu Rexa dulu ya kak😬🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
RizQiella
wah kasihan
🎀 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я
Kak author cantik..., bagaimana kisah Dave dan Rania selanjutnya? masih lanjut atau sudah tamat?
🎀 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я: hehehe 🤭😂😂
total 3 replies
Sugiarti
Luar biasa
Lea
Di gantung nich ceritanya mak , ga di selesain
Lea
Hilang fokus thor , fakum lama bgt si dave
Diah Elmawati
Kapan Thor lanjutannya. Aku berharap Thor memberikan hukuman yang setimpal buat Renata yang sudah membunuh kedua sahabatnya dan sekarang menculik Rania
💝F&N💝
kak, kenapa ini kok gak ada konfirmasi lagi.
ayo up lagi, kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!