Karena ingin mendapatkan uang yang banyak, Brian nekat menculik bayi kembar crazy rich seorang janda bernama Diva. Brian sendiri tak tahu kalau bayi kembar yang diculiknya adalah anaknya sendiri atas hasil kesalahan semalam.
Awalnya Brian mengira semuanya bisa dilakukan dengan mudah, tetapi pada kenyataannya tidak. Bayi kembar Aron dan Alan bukanlah bayi biasa. Meski baru berusia 9 bulan, mereka sudah sangat pintar dan membuat Brian kewalahan.
Siapa yang menduga? Penculikan yang dilakukan Brian justru membawanya lebih dekat dengan si kembar sekaligus ibu mereka. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Sikap Aneh
...༻⎚༺...
Dalam perjalanan menuju rumah, Diva terus memikirkan Bram yang tadi dirinya temui. Dia merasa ada yang aneh dengan lelaki itu.
"Aku merasa tidak asing dengan sikapnya," gumam Diva sembari memiringkan kepala. Dia pun segera teringat dengan Brian.
"Ah benar! Bukankah ini sudah tujuh tahun? Itu berarti dia sudah keluar dari penjara. Jangan-jangan..." Diva menduga kalau Bram yang tadi dirinya temui adalah Brian. Namun dengan cepat dia menggelengkan kepala. Diva tak mau mengambil kesimpulan begitu saja. Lagi pula rasanya mustahil Brian melakukan hal senekat itu setelah menyelesaikan hukumannya di penjara.
Setibanya di rumah, Diva langsung mencari Alan dan Aron. Akan tetapi kedua anaknya tersebut belum pulang dari sekolah. Padahal biasanya mereka selalu ada di rumah saat Diva telah pulang.
"Tumben sekali mereka belum pulang." Diva bergegas menghubungi sopir pribadi Alan dan Aron. Ia mendapat kabar bahwa Alan dan Aron pulang terlambat karena adanya pelajaran tambahan.
Tanpa sepengetahuan Diva, Alan dan Aron sebenarnya dalam perjalanan ke rumah Bram. Mereka sepertinya serius ingin menemui mantan suaminya Diva. Alan dan Aron bahkan menyuruh sopir pribadi mereka berbohong agar bisa melakukan itu.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, Alan dan Aron akhirnya sampai di tempat tujuan. Keduanya menyuruh Evan menunggu, sementara mereka turun bersama untuk bertamu ke rumah Bram.
Alan tekan bel yang ada di pintu pagar rumah Bram. Seorang penjaga segera merespon.
"Kalian siapa dan mau apa?" tanya penjaga rumah Bram.
"Kami adalah anaknya Nona Diva. Jadi bisa dibilang kami adalah anak Bram Anthony. Aku dan saudaraku ingin menemuinya," kata Aron.
"Tunggu sebentar. Aku akan memberitahukan kedatangan kalian," tanggap si penjaga.
Alan dan Aron menunggu sebentar. Sampai akhirnya seorang wanita muncul dari balik pintu pagar. Atensi Alan dan Aron sontak tertuju kepadanya.
Wanita itu tampak menunjukkan raut wajah sinis. Dia tidak lain adalah Agnes, istri barunya Bram.
"Berani sekali kalian ke sini!" timpal Agnes.
Alan dan Aron reflek bertukar pandang. Keduanya sedikit bingung dengan reaksi Agnes.
"Kami hanya ingin bertemu dengan Daddy," ujar Aron.
"Al! Kau tidak bisa langsung menyimpulkan! Belum tentu Bram Anthony ayah kita!" tegur Alan seraya memegangi lengan Aron.
"Dia benar! Bram memang bukan daddy kalian! Jadi sebaiknya kalian pergi dari sini!" usir Agnes. Dia lalu segera menutup pintu dengan hempasan keras.
Alan dan Aron terperangah menyaksikan sikap Agnes yang kasar.
"Bisa-bisanya dia bersikap begitu pada anak berusia tujuh tahun!" keluh Aron. Dia segera menatap Alan. "Sekarang bagaimana? Kita tidak bisa menemui Bram Anthony!" ucapnya.
"Wanita itu sepertinya tahu siapa ayah kita. Mungkin kita bisa mengajaknya bicara," sahut Alan.
"Apa kau gila? Jelas-jelas dia mengusir kita. Aku yakin dia pasti tidak akan mau bicara dengan kita!" tukas Aron yang tak sependapat.
"Lalu mau bagaimana lagi? Aku rasa Bram Anthony adalah orang yang sibuk. Dia pasti sulit ditemui." Alan mendengus kasar.
Mendengar Alan berucap begitu, Aron tiba-tiba mendapatkan ide bagus. Dia kini mengusulkan untuk menemui Bram ke perusahaan tempat lelaki itu bekerja.
Alan merasa kalau ide Aron cukup bagus. Keduanya lantas sepakat pergi ke perusahaan dimana Bram bekerja.
Ketika Alan dan Aron tiba di perusahaan tempat Bram bekerja, mereka langsung meminta pertemuan dengan Bram. Kali ini Alan dan Aron tidak hanya berduaan, ada Evan yang membantu mereka.
...***...
Setelah tak sengaja bertemu Diva, Brian pergi ke perusahaan Bram bekerja. Dia terpaksa ke sana karena ponsel Bram yang dirinya bawa tak berhenti berdering. Lelaki itu mendapatkan panggilan penting mengenai pekerjaan.
Brian pun memutuskan akan pergi ke rumah utama keluarga Anthony setelah pulang bekerja nanti.
Kini Brian sudah berada di perusahaan. Dia disuruh menandatangani beberapa proposal dari karyawan.
Brian tak langsung menandatangani berkas yang diantar kepadanya. Dia hanya menumpuk berkas itu menjadi satu.
"Aku tidak bisa asal tanda tangan. Setidaknya aku harus belajar meniru tanda tangan milik Bram," gumam Brian yang duduk menyandar di kursi kerja mewahnya.
Tak lama kemudian Brian mendapatkan telepon dari sekretarisnya. Dia diberitahu mengenai kedatangan dua anak yang ingin menemuinya.
Brian yang tadinya duduk bermalas-malasan, langsing berdiri. Matanya terbuka lebar. Dia segera menanyakan nama anak yang ingin menemuinya.
Saat mendengar nama Alan dan Aron, Brian langsung menyuruh sekretarisnya untuk membawa Alan dan Aron ke ruangan.
Dengan perasaan senang Brian menunggu kedatangan Alan dan Aron. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan si kembar. Sungguh, Brian sangat rindu dengan keduanya.
Penantian Brian usai saat pintu terdengar diketuk. Alan dan Aron akhirnya bisa muncul di hadapannya.