Mereka pernah bersama pada masanya. Namun, kesalahpahaman membawa mereka untuk mengakhiri hubungan itu begitu saja.
Sampai beberapa tahun kemudian Gavin masih memiliki rasa yang sama pada Karina. Akan tetapi, seorang anak kecil membuat Gavin berpikir jika orang yang selalu ia harapkan jadi miliknya itu sudah menikah. Pada akhirnya Gavin harus menerima kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Akankan Gavin memperjuangkan cintanya pada Karina? Bagaimanakah takdir mempersatukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xavieraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fix You!
Untuk membuktikan omongannya. Gavin mengajak untuk bertemu keluarganya lagi. Awalnya malam itu Karina menolak. Rasa takut di hatinya masih ada perihal pertemuan pertama kali saat itu. Bayang-bayang ketakutan masih terekam jelas diingatannya.
Gavin membujuk agar Karina mau untuk bertemu keluarga secepatnya jika Karina memang meragukan keseriusan Gavin. Akhirnya, setelah perdebatan panjang malam itu Karina setuju dengan permintaan Gavin.
Pagi ini Gavin ke unit Karina untuk mengantar Shaka ke sekolah terlebih dahulu. Mobilnya sudah sampai di depan apartment milik Karina.
Ia pun segera masuk dan menaiki lift menuju unit Karina.
"Karina, Shaka..." Gavin mengetuk pintu.
"Pagi," sambut Karina dengan senyum manisnya pagi ini.
"Masuk dulu, ayo kita sarapan. Shaka udah nunggu kamu," ajaknya lalu Gavin masuk.
"Shaka udah nunggu lama, ya?" Gavin mendapati Shaka sudah siap dengan seragam sekolahnya dan sedang duduk di ruang makan dengan piring kosongnya.
"Lama nggak yaaa..." goda Shaka kepada Gavin yang sudah duduk disampingnya.
"Oh sekarang udah berani nihh sama Daddy," Gavin menggelitik Shaka gemas dengan jawaban anak kecil itu sampai Shaka tertawa dan meminta untuk menghentikan aksi itu.
"Udah, Dad. Shaka geliiii..." rengeknya kala Gavin belum berhenti menghentikan aksi itu.
"Mommy, Daddy nakal, Mom," Shaka justru mengadu pada Karina saat Karina sudah berada disana. Karina pun memberikan kode ke Gavin.
"Makan dulu, nanti kalian telat," suruhnya dan mulai menyiapkan makanan di meja.
Mereka pun mulai melakukan sarapan bersama sebelum berangkat ke aktivitas masing-masing.
"Enak semua masakan kamu," puji Gavin saat Karina sedang mencuci piring. Sedangkan Shaka sedang mengambil buku di kamarnya.
Karina menahan senyumnya. "Makasih." Jawabnya.
"Aku kira kamu nggak bisa masak."
"Oh jadi..." belum Karina menjawab Gavin memotong ucapan Karina.
"Maksud aku kamu kan pasti selalu sibuk, dan kerja terus gitu. Jangan salah paham dulu," sanggah Gavin. Sepertinya Karina tak terima kala Gavin mengatakan dirinya tak bisa memasak.
"Ya bener, juga. Tapi aku mau Shaka selalu makan sehat dan terjamin pastinya. Dari dia toddler aku selalu masak buat dia," jelas Karina pada Gavin. Gavin pun tersenyum bahagia melihat keuletan wanita di depannya itu.
"Ayo kita berangkat," Shaka datang menarik tangan Karina dan Gavin bersamaan. Akhirnya, mereka pun berangkat mengantar anak kecil itu ke sekolah terlebih dahulu.
Mereka pun sampai di depan gerbang sekolah Shaka. Mereka pun turun dan mengantar Shaka sampai ke depan kelasnya.
"Sekolah yang pintar, nanti kalau dapat nilai 100 Daddy kasih hadiah."
"Beneran?" Shaka berbinar dengan tawaran Gavin. Gavin pun mengangguk pada Shaka.
Setelah berpamitan dan Shaka masuk kelas Gavin dan Karina pun kembali melajukan mobilnya. Setelah ini Gavin akan mengajak Karina ke rumahnya sesuai janji kemarin yang Gavin katakan.
"Vin, kamu bener yakin sama aku?" Pertanyaan Karina memecah keheningan suasana di mobil itu.
Gavin pun mengalihkan pandangan ke Karina. "Yakin." Singkat dan jelas.
"Kenapa? Kamu yang nggak yakin sama aku?" Pertanyaan Gavin berbalik ke Karina.
Benar, apa yang dikatakan Gavin baru saja itu benar. Perasaan yang ada dalam hatinya mengatakan demikian. Entah kenapa keraguan selalu ada dibenak pikirannya. Seolah-olah ini masih mimpi, jika dirinya akan menikah dengan mantan sekaligus ayah dari putranya itu.
"Rin, aku akan buktiin ke kamu. Percaya sama aku, aku akan melakukan yang terbaik untukmu," ucapnya. Ia menatap wanita di sampingnya itu dengan tatapan penuh harap, agar perempuan itu bisa yakin dan percaya pada dirinya.
"Iya, Vin. Aku butuh tindakanmu nyata bukan hanya omongan belaka."
"Kamu tenang aja, akan aku buktikan," ujarnya.
Mobil mereka sudah sampai di halaman luas kediaman Gavin. Pagar pun sudah dibukakan oleh satpam disana.
"Makasih, Pak," ucap Gavin saat gerbang itu sudah dibukakan saat mobilnya akan masuk.
Gavin dan Karina pun turun. Mereka berjalan masuk ke ruang utama.
"Mama, Papa!" Gavin memanggil mama papa nya yang entah kemana mereka saat ini.
"Duduklah, aku akan mencari mereka dulu," Gavin memerintahkan Karina untuk duduk di ruang utama atau ruang tamu. Sedangkan Gavin ke belakang untuk mencari kedua orang tuanya.
Ternyata mama dan papa nya berada di taman belakang. Mama nya menyiram tanaman dan papa nya sedang berenang.
"Ada apa, Vin?" Mama nya bertanya kala pria yang sudah mengenakan pakaian kantor rapi itu kembali ke rumah.
"Em... Karina ada di depan, Ma, Pa," Gavin menjawab dengan sedikit ragu. Papa nya pun mengakhiri kegiatan berenangnya dan menghampiri Gavin.
"Karina?" Tanya Papa nya yang masih belum paham.
"Iya, Pa. Karina aku ajak kesini," tukas Gavin.
"Yaudah ayo ke ruang tamu sekarang. Papa ganti baju dulu," Mamanya mengajak Gavin untuk segera menemui Karina yang sudah menunggu.
Mereka berdua pun ke ruang tamu menemui Karina, sedangkan Papa nya berganti pakaian.
"Pagi, Tante," Karina menyambut hangat Mama Gavin dengan bersalaman. Tak seperti waktu pertama kali bertemu, dimana Mama Gavin memasang wajah acuh dan tak suka. Kini wanita paruh baya itu bisa tersenyum santai pada Karina.
"Papa masih ganti baju," Gavin duduk bersebelahan dengan Karina mengatakan itu.
Suasana tak semenyeramkan waktu itu dimana pikiran Karina sudah berasumsi yang tidak-tidak. Kali ini Karina sudah menanamkan asumsi positif di pikirannya Jika memang ini yang terbaik permudah, jika tidak berikan yang terbaik menurut Tuhan. Berusaha legowo ternyata tak semudah itu baginya.
Tak lama kemudian Papa Gavin sudah datang. Mereka pun duduk face to face berhadapan satu sama lain.
"Apa kabar Karina?" Sapa Papa Gavin bersalaman dengan Karina.
"Baik, Om."
"Karina sudah tahu? Gavin sudah cerita sama kamu?" Papa Gavin langsung to the point tanpa basa-basi.
Karina mengangguk. "Sudah, Om. Gavin sudah cerita semuanya," timpal Karina.
"Kamu bagaimana? Bersedia kah?" Tanya Mama Gavin kepada Karina.
Gugup, jantungnya serasa mau lari dari tempatnya kala pertanyaan itu keluar dari mulut Mama Gavin. Gavin yang tahu jika Karina nervous pun memandangnya. "Jawab, Rin. Sesuai apa kata hatimu," perintahnya kepada wanita itu.
"S-saya..."
Ucapannya terbata. "Sa-saya bersedia, Tante..."
Gavin menatap Karina bahagia mendengar jawaban itu. "Jika kalian sudah sepakat maka secepatnya acara pernikahan kalian dilaksanakan," timpal Papa Gavin.
"Apa kamu sudah bicara dengan kedua orang tuamu?" Papa Gavin pun memberikan pertanyaan kepada Karina. Karina pun mengangguk.
"Bagaimana? Setuju?" Sambung Papa Gavin lagi.
"Iya, Om."
"Pa, tapi aku mau intimate wedding aja. Keluarga kita sama teman-teman Karina sama Gavin yang hadir," Gavin pun mengusulkan kemauannya.
"Oke, baiklah," Mama nya menjawab.
"Mulai hari ini siapkanlah, 2 Minggu lagi kalian resepsi," Papa Gavin memutuskan.
Karina menatap Gavin tak percaya. 2 Minggu? Bukankah itu waktu yang cepat?
Dirinya secepatnya akan menikah? Dengan pria yang duduk disampingnya ini? Seolah pertanyaan itu berputar terus di otaknya.
"Papa, Mama tenang aja. Venue nya nanti ada temen Gavin yang handle," ucap Gavin kepada kedua orang tuanya.
"Kami serahkan semua ke kalian, kalian buat semenarik dan sesuai kemauan kalian berdua," Mama nya turut bahagia dengan berita ini.
Karina diterima oleh keluarga Gavin? Masih antara percaya dan tidak dengan kenyataan ini. Semoga saja tak ada udang dibalik batu di kabar bahagia ini batinnya. Ia masih takut jika itu hanya alibi keluarga Gavin saja untuk bisa merestui Gavin menikah dengannya.
Usai perbincangan dan membahas berbagai hal bersama Papa Mama Gavin, Gavin mengantarkan Karina ke Florist. Kini mereka perjalanan ke Florist milik Karina.
"Rin, kamu mau pernikahan kita kayak gimana?" Gavin yang fokus menyetir pun menoleh ke Karina.
"Emm... Kalau yang sederhana gimana?"
"Coba tunjukkan inspirasinya," Gavin meminta contoh sederhana yang dimaksud Karina seperti apa.
Karina menunjukkan sebuah foto ke Gavin dari ponselnya. "Ini gimana?" Tanyanya kepada pria tampan disampingnya itu.
"Bagus, aku ngikut kamu aja," jawabnya.
"Kalau kamu nggak suka nggak papa, jangan nurut aku."
"Pilihan kamu selalu bagus, aku suka." Pria itu menatap manis wanita disampingnya itu.
"Kamu kirim aja gimana konsep yang kamu mau, nanti biar aku sampaikan ke venue nya," titah Gavin pada Karina. Karina pun mengangguk setuju.
Mobil mereka sudah sampai di depan Florist milik Karina. "Makasih, Vin," Karina hampir saja membuka handle pintu mobil namun dicegah oleh Gavin.
"Emm... Rin..."
"Kenapa?" Karina menolah kala Gavin meraih pundaknya.
"Semangat kerjanya, ya." Sebenarnya mau mengucapkan ini tapi masih ada rasa malu+ canggung.
Karina tersenyum. "Iya, kamu juga semangat," balasnya.
"Hati-hati di jalan, Vin. Jangan ngebut, ya," setelah itu Karina keluar dari mobil Gavin.
Gavin pun membuka kaca jendelanya dan melihat wanita cantik itu sudah berdiri di depan Florist nya. Gavin pun melambai pada Karina saat mobilnya hampir melaju dari sana.
Karina masuk ke dalam Florist. Ia melihat para pegawainya sudah dalam pekerjaan masing-masing.
"Pagi, Bu Karin!" Sapa Cici saat melihat bosnya baru saja datang itu.
"Pagi juga, Ci," jawabnya tak kalah ramah.
"Wah, kayaknya lagi bahagia banget nih, Bu Karin. Masih pagi sudah full senyum." Entah meledek atau bagaimana Cici ini kepada sang bos yang terlihat happy pagi ini.
"Ya kan masih pagi harus fresh dong, Ci. Masa pagi-pagi udah cemberut aja," timpal Karina lalu ia tertawa.
"Aku ke atas dulu ya, Ci." Karina berlalu dan menuju ruangannya.
...----------------...
Sedangkan pria itu baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran gedung Sandika Corp. Tak masalah mau datang jam berapapun karena dia sendiri adalah bosnya.
Jam yang melingkar ditangannya itu sudah menunjukkan hampir pukul setengah sebelas.
"Selamat datang, Pak Gavin," seorang staff menyapa Gavin dengan anggunnya.
Gavin pun hanya menanggapi dengan anggukan kecil dan berlalu begitu saja saat wanita itu menyapa dirinya.
Ia pun segera ke lift dan menuju ruangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
To be continue... Next? Jangan lupa like, komen, dan subscribe yaa!❤️❤️