JUARA 1 Event Sweet Marriage
Rania, gadis tomboi yang memiliki saudari kembar terpaksa menikahi kakak iparnya sendiri karena wasiat terakhir dari kakak kembarnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Evan Anthony. Kakak ipar super jutek dan menyebalkan adalah pria yang akan menjadi suami Rania. Lantas, mampukah Rania bertahan dalam kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dicintainya?
"Aku menikahimu hanya karena wasiat istriku, tidak lebih! Jadi, jangan berharap aku akan menyentuhmu dan menganggapmu sebagai seorang istri!" (Evan Anthony)
"Aku tidak pernah bermimpi untuk disentuh oleh pria sepertimu. Jadi, tidak perlu khawatir! Aku tidak akan mengganggumu!" (Rania Tyas Permata)
Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apa jadinya jika tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah ciuman
Mama Rose pun langsung sigap mengalihkan perhatian sang cucu. Karena mama Rose sangat tahu cucunya sangat kritis dengan pertanyaan-pertanyaan. Apalagi pertanyaan itu sangatlah sensitif.
"Eh Junior. Ikut oma yuk! Oma tadi bikin kue enak loh. Kebetulan kamu pulang, jadi kita bisa makan bareng-bareng!" ajak mama Rose sambil menggiring sang cucu untuk segera masuk ke dalam rumah. Sementara itu Evan dan Rania saling melempar senyum sambil berjalan di belakang mama Rose dan Junior.
Evan pun segera merangkul pundak sang istri sambil berbisik. "Hayo ngapain kamu senyum-senyum?" bisik Evan yang pastinya ia tahu kenapa sang istri terlihat malu-malu.
"Apa sih! Emangnya nggak boleh aku senyum!" balas Rania.
"Kamu pasti ngetawain aku, kan?" seru Evan dengan senyum nakalnya.
"Ngapain ngetawain kamu!"
"Ya kali aja! Aku lihat kamu tertawa terus dari tadi!" ucap Evan.
"Kamu sih jujur amat sama mama. Junior jadi terkejut, kan! Nanti kalau dia tanya gimana aku jawabnya!" balas Rania.
"Bilang aja kita sedang latihan tinju. Dah lah, nggak usah dipikirin!" ucap Evan sambil terus mengajak sang istri masuk ke kamar mereka.
*
*
*
Setelah kepulangan mereka dari liburan. Junior terlihat lebih nempel ke mamanya. Bukan cuma Junior. Evan pun tidak mau kalah selalu lengket kepada istrinya tidak mau jauh-jauh. Kemana Rania pergi, ada Evan dan Junior mengekor di belakangnya. Bahkan, saat Rania cuci piring pun anak dan ayah itu selalu mengikuti Rania dan berebut membantu pekerjaan Rania.
"Mau dibantuin, Sayang!" tawar Evan. Sementara itu Junior yang masih khawatir jika sang papa menyakiti mamanya lagi, bocah kecil itu pun tak mau kalah dari papanya.
"Ma, Junior juga mau bantuin mama. Boleh, kan!" tawar sang bocah yang menggeser posisi sang papa.
"Eh eh Junior, jangan desak-desak dong! Ya elah nih anak ngikut mulu!" gerutu Evan.
"Papa tuh jangan nempel-nempel sama mama. Nanti mama kesenggol badan gede papa dan mama bisa jatuh lagi! Papa sana agak jauhan dikit! Udah badan segede gajah nempel mulu ke mama!" omel bocah itu seperti layaknya orang dewasa.
"Eh nggak bisa dong! Ini istri papa!" Evan pun tidak mau kalah.
"Ini mama aku!" sahut Junior.
Rania pun menghela nafas panjang melihat kedua laki-laki yang disayanginya sedang bertengkar merebutkan perhatian darinya. Sementara itu mama Rose yang juga berada di sana juga ikut tertawa melihat putra dan cucunya bertengkar.
"Ya Allah! Kenapa sih kalian tuh nggak bisa diem. Mama ini sedang cuci piring. Ya udah sini! Kalau mau bantuin nggak usah tanggung-tanggung. Nih cuci semuanya dan mama akan duduk di sana menunggu papa dan Junior cuci piring! Siapa yang cepet nanti dapat ciuman dari mama!"
Setelah mengatakan itu, Rania segera duduk di sebuah kursi sambil makan kue bersama mama Rose. Sedangkan Evan dan Junior langsung semangat saat mendengar jika mereka akan mendapatkan ciuman dari sang mama.
Keduanya pun langsung mencuci semua piring kotor dengan sangat semangat. Mama Rose melihat itu tertawa sendiri. Baru kali ini ia melihat putranya menyentuh dapur untuk mencuci piring. Padahal biasanya, boro-boro mencuci piring. Bahkan untuk mengembalikan gelas ke tempat asalnya pun ogah-ogahan.
"Mama nggak nyangka Evan jadi nurut sama kamu. Tuh anak mana mau pegang piring kotor apalagi sampai mencucinya." ucap mama Rose.
"Masa sih, Ma! Suamiku tidak pernah melakukan itu dong!" sahut Rania.
"Nggak pernah sama sekali! Baru kali ini seumur hidup mama melihat dia cuci piring. Ya Allah, ternyata kehadiranmu membawa perubahan besar untuk puteraku. Mama sangat bahagia!" ucap mama Rose sambil tersenyum kepada sang menantu. Rania pun tersenyum dan mereka melanjutkan makan kue sambil memperhatikan Evan dan Junior yang sedang berlomba siapa terlebih dahulu yang selesai menyelesaikan tugas.
"Pokonya papa yang pertama mendapatkan ciuman dari mama!" ucap Evan kepada putranya.
"Nggak bisa! Junior yang akan mendapatkan ciuman dari mama dulu!" sahut Junior.
Benar saja, Junior yang tidak mau kalah. Ia pun cepat-cepat mengeringkan tangannya meskipun tinggal beberapa piring yang belum dicuci.
"Eh Jun! Ini belum dicuci kok malah kabur. Waaahhhh curang nih!" seru Evan ketika melihat putranya sedang mengelap tangannya.
"Papa aja yang nyuci. Junior kan masih anak-anak. Nanti dikiranya papa sedang eksploitasi Junior yang masih imut-imut gini. Nggak mau kan papa! Ya udah papa aja yang selesaiin!" ucapan sang bocah seketika membuat Evan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun pasrah dan akhirnya melanjutkan pekerjaannya sambil melirik ke arah Junior yang sudah berada di samping istrinya.
"Mama! Junior udah selesai!" ucap Junior dengan senangnya.
"Waaahhhh cepat sekali. Kamu hebat sekali, Sayang! Bisa mengalahkan papa. Sesuai janji mama, siapa yang cepat maka akan dapat hadiah ciuman dari mama. Sini anak mama!" puji Rania kepada putranya sambil memeluk Junior lalu mencium kening dan pipi bocah itu dengan kasih sayang.
"Iya dong, Ma. Junior pasti bisa mengalahkan papa!" jawab bocah itu dengan bangganya. Mama Rose tertawa melihat tingkah sang cucu.
Junior pun tersenyum senang. Lantas, ia menoleh ke arah sang papa yang berada di belakangnya. Sambil meledek sang papa, Junior mengacungkan jempol ke bawah. Evan melihat sang anak yang sedang meledeknya.
"Heleh! Masih kecil udah pinter manipulasi! Anak siapa coba! Yang pastinya anakku lah!" gumam Evan sambil meletakkan piring-piring yang sudah dicuci pada tempatnya.
Setelah Evan selesai meletakkan piring-piring ke tempatnya. Ia pun mengelap tangannya dan mengantri di belakang sang anak. Setelah Junior mendapatkan ciuman dari sang ibu. Junior menoleh ke belakang. Dilihatnya sang papa yang sedang berdiri sambil cengar-cengir.
"Ngapain papa di sini! Papa kan kalah, nggak bisa dapat ciuman dari mama!" ucap Junior.
"Hehehe, papa juga pingin lah dicium sama mama. Masa Junior doang. Papa udah capek nih cuci piring. Tuh tangan papa jadi mati kerendam air terus, mana masih bau terasi lagi!" jawab Evan sambil mencium tangannya yang masih terdapat bekas aroma terasi dari piring-piring kotor yang baru dicucinya.
Rania tertawa kecil melihat wajah sang suami yang sedang mencium bekas aroma terasi di tangannya. Seolah Evan sedang mengendus-endus sesuatu yang aneh.
"Ya ampun, Sayang! Nggak gitu juga kali nyiumnya, lebay banget sih!" sahut Rania.
Evan tertawa kecil langsung dan menyembunyikan tangannya di belakang. Sementara itu mama Rose memperhatikan putranya yang sangat ingin dicium oleh sang istri. Karena masih ada Junior di sana. Akhirnya mama Rose mengajak cucunya pergi.
"Junior, ikut oma yuk! Kita buka oleh-oleh dari nenek dan kakek. Oma penasaran apa isinya! Ayuk bantuin oma buka!"
Mendengar ajakan dari sang oma. Junior pun antusias untuk ikut membuka oleh-oleh yang dibawakan kakek dan neneknya dari desa.
"Oke oma. Let's go!"
Akhirnya, mama Rose berhasil mengajak Junior pergi. Kini, tinggal Rania dan Evan yang ada di dalam dapur berdua saja. Dalam hati Evan berkata, "Ah mama tahu aja kalau anaknya minta dicium juga. Aseekk bisa cium sepuasnya nih!"
Benar saja, Evan mulai mendekati istrinya dan dengan tatapan nakalnya Evan menarik tangan sang istri sehingga membuat Rania beranjak dari tempat duduknya.
"Awwww, Sayang!" pekik Rania ketika Evan menarik pinggangnya.
"Sekarang giliranku yang harus dapat ciuman!" ucap Evan yang akhirnya berhasil mendapatkan ciuman dari sang istri.
Di saat Evan dan Rania masih berciuman. Tiba-tiba Junior kembali ke dapur karena lupa mengambil gunting untuk memotong tali yang digunakan untuk membungkus oleh-oleh dari kakek dan neneknya.
Di saat Junior masuk ke dalam dapur. Secara tidak sengaja ia melihat Rania yang sedang memberontak karena ia kehabisan nafas selama ciuman itu berlangsung. Tentu saja Junior mengira jika sang papa sedang menyakiti sang mama. Bocah itu menangis sambil memukuli punggung papanya sehingga membuat keduanya tersadar dan menghentikan ciuman mereka.
"Papa jahat! Papa ngapain mama huhuhu! Papa pergi! Pergi!!"
BERSAMBUNG