Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
Lama Indira terdiam di pelukan Nala hingga akhirnya dia pun mendorong dada suaminya itu dan sedikit beringsut menjauhkan diri. Sementara Nala hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti.
Benar kata Nala tadi, Indira memang keras kepala. Tapi hal itu terjadi bukan tanpa sebab. Sejak kejadian malam itu, dia tidak berani membuka hati untuk pria manapun, menurutnya semua laki-laki itu sama saja.
"Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini, menjadi ibu untuk anak yang tidak tau siapa ayahnya memang tidak mudah. Aku sendiri bukanlah orang yang baik, aku juga punya kesalahan di masa lalu yang tidak bisa aku ceritakan pada siapapun. Aku hanya ingin belajar menjadi lebih baik, sebab itulah aku menginginkan rumah tangga yang utuh."
Nala diam sejenak dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku, jika seperti ini membuatmu merasa nyaman maka lanjutkan saja. Tapi tolong, jangan lagi meninggikan suara di hadapan Nasya maupun Isa! Mereka tidak mengerti apa-apa, jangan buat mereka takut padamu!" imbuh Nala, setelah itu dia pun memilih pergi meninggalkan kamar itu.
Setelah kepergian Nala, Indira meraung sejadi-jadinya untuk meluapkan rasa sakit di hatinya. Ibu mana yang akan tega mendengar anaknya dibully apalagi dikatai anak ha*ram.
Ini memang bukan pertama kalinya Isa mendapatkan perlakuan seperti itu, sebelumnya bocah itu juga sempat direndahkan bahkan di hadapan Indira sendiri.
Bagi Indira, tidak masalah jika ada orang yang menghinanya. Dikatai wanita murahan dan tidak punya harga diri sudah biasa baginya, tapi tidak untuk Isa. Bocah itu tidak tau apa-apa, dia hanya korban dari kelakuan bejat kedua orang tuanya.
Puas melepaskan semua rasa sakit yang menusuk di dada, Indira dengan cepat menyeka wajahnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Betul kata Nala, dia harus berdamai dengan keadaan.
Kemudian Indira meninggalkan kamar itu dan berjalan ke kamarnya. Dia ingin mandi agar tubuh dan pikirannya kembali segar.
Di kamar itu, Nala sedang termenung di sisi ranjang sembari mematut pantulan tubuhnya dari cermin. Nala pikir mungkin caranya salah mendekati Indira terlalu dini, dia harus sedikit menjaga jarak agar Indira tidak merasa disudutkan.
"Nala..." sapa Indira setelah masuk dan menutup pintu.
Nala terperanjat kaget dan memutar leher ke arah Indira seraya mengukir senyum simpul.
"Aku sudah memutuskan, aku akan menepati janji yang sudah kita buat. Sekarang kamar ini menjadi milikmu, aku akan tidur di kamar tamu." ucap Nala, kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja.
"Nala, tunggu..." seru Indira sembari berbalik badan, akan tetapi Nala sudah terlanjur menghilang dan turun ke bawah.
Indira menjatuhkan diri di sisi ranjang. Rasanya hubungan ini terlalu rumit untuk dijalani. Memang dia lah yang menegaskan perjanjian itu pada Nala, tapi dia sendiri tidak menampik bisa berubah pikiran nantinya.
Indira hanya ingin menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Dia memang belum bisa menerima Nala sebagai suaminya, apa dia salah?
Tidak ingin berlarut-larut memikirkan ini semua, Indira pun memutuskan untuk masuk ke kamar mandi. Dia ingin berendam dan mengguyur tubuhnya di bawah air agar pikiran-pikiran buruk yang selalu menghantuinya bisa hilang secepatnya.
Di bawah, Nala memilih bergabung bersama Nasya dan Isa. Dia membaringkan tubuhnya di atas permadani yang terbentang di depan televisi. Sesekali dia mengajak Isa dan Nasya bercengkrama hingga suara gelak dan tawa mereka bertiga bergemuruh memenuhi ruangan.
Ya, entah mengapa rasanya begitu nyaman saat berkumpul dengan kedua bocah itu. Tidak ada kecanggungan sedikitpun di dirinya, Nala bahkan merasa seperti tengah bercanda dengan darah dagingnya sendiri.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Nala? Dulunya dia paling tidak suka dengan yang namanya anak-anak, tapi mengapa sekarang semuanya jadi berubah seratus delapan puluh derajat?
Entahlah, Nala sendiri tidak tau dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Yang dia yakini sekarang Nasya dan Isa adalah anaknya, penyemangat yang mampu membuat harinya lebih berwarna.
Lelah bercengkrama dan tertawa terkekeh-kekeh, tubuh Nala pun terbaring lemah diantara Nasya dan Isa yang juga sangat kelelahan. Nasya berbaring di sisi kanan Nala sedangkan Isa berbaring di sisi kiri. Nala pun mendekap keduanya dan mencium pipi mereka bergantian.
"Pa..." panggil Nasya sembari mendongakkan kepalanya. Seketika mata almond nya menyipit mendapati mata sang papa yang sudah terpejam.
"Astaga, kok papa malah tidur?" keluh Nasya dengan bibir mengerucut.
"Hihihi... Papa kalau tidur lucu ya." timpal Isa terkekeh. Bagaimana tidak, ini kali pertama baginya melihat Nala tertidur, berbeda dengan Nasya yang sudah biasa tidur bersama sang papa.
"Begitulah papa, saat dia merasa lelah, dia akan tidur di manapun." sahut Nasya menjelaskan tabiat sang papa pada Isa.
Waktu terus berjalan sehingga Isa dan Nasya pun ikut tertidur sembari mengapit tubuh Nala. Disaat bersamaan, Indira turun dari lantai atas setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Seketika langkahnya terhenti saat menginjak ruang keluarga mendapati suami dan kedua anaknya yang tengah tertidur pulas.
Indira menautkan kedua alisnya, bisa-bisanya mereka bertiga begitu kompak seperti ayah dan anak sesungguhnya. Padahal Indira tau betul bahwa kedua bocah itu bukanlah anak kandung dari suaminya itu.
Tidak ingin mengusik tidur ketiganya yang sangat pulas, Indira memilih masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Biarkan saja mereka bertiga tidur lebih dulu, saat menu makan malam matang, Indira akan membangunkan ketiganya.
"Nyonya mau ngapain?" tanya Sumi yang baru saja menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak.
"Ngapain lagi, Bik? Masa' mandi?" seloroh Indira mengukir senyum.
"Nyonya bisa saja, mana ada orang mandi di dapur." balas Sumi menahan tawa.
Indira ikut terkekeh mendengar celetukan Sumi kemudian mengambil alih pekerjaan Art itu segera. Indira ingin membuatkan makanan spesial buat Nasya dan Isa.
"Nyonya sudah biasa masak ya?" tanya Sumi yang sedang berdiri di dekat wastafel seraya mencuci ayam yang baru saja dia keluarkan dari freezer.
"Tidak juga, tapi sedikit banyaknya bisalah kalau cuma masak makanan sederhana." jawab Indira sembari mengupas bawang dan mengirisnya, lalu memotong sayuran yang hendak dia olah menjadi sop.
Sumi yang mendengar itu hanya manggut-manggut sembari terus menyelesaikan pekerjaannya, dia tidak menyangka bahwa seorang dokter seperti Indira ternyata cukup lincah saat di dapur.
Bagaimana tidak, sejak kedua orang tuanya meninggal, Indira dipaksa mandiri dan menyiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan seorang diri. Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah, bahkan mencari uang untuk melanjutkan hidup. Sesekali dia memang mendapatkan kiriman uang dari sang paman, namun uang yang dia terima masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Indira sempat bekerja di rumah makan selama beberapa bulan, lalu mengundurkan diri dan bekerja di sebuah toko kue. Terakhir dia bekerja paruh waktu di salah satu super market sebelum mengalami kejadian naas itu, hingga akhirnya dia pun mengasingkan diri ke kota dimana dia tinggal sekarang. Namun siapa sangka nasibnya akan jadi seperti ini, dia tidak pernah memikirkan pernikahan tapi malah terjebak di dalamnya seperti saat ini.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘