Rasa cinta itu justru tersadar, ketika cemburu dirasakannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elsa Tersesat
"Dea, kamu sudah tidak apa-apa kan?" tanya Bu Lisa setelah mereka semua turun dari bus dan harus berjalan menyusuri jalan setapak beberapa meter untuk sampai ke tempat perkemahan. Jalan pun sedikit menanjak.
"Sudah tidak apa-apa, Bu." Dea tersenyum. Jelas sudah baikan, apalagi hatinya sekarang terasa begitu bahagia.
"Untung ada Elang yah."
Setelah mengeluarkan semua tas yang ada di bagasi bus, Elang mengambil tasnya dan langsung menyusul Dea. "Iya, untung ada gue.." Elang mengimbangi langkah Dea sambil mengambil tas yang masih Dea jinjing. "Sini gue bawain."
Dea terdiam dan membiarkan Elang menyerobot tasnya.
"Ya udah, Ibu duluan yah. Kalau ada perlu apa-apa, kamu bilang sama Ibu," kata Bu Lisa sambil sedikit tersenyum pada Dea.
"Iya Bu. Terima kasih." Setelah Bu Lisa berlalu, Dea berniat mengambil tasnya kembali. "Sini, biar gue bawa sendiri aja."
Elang mengelak, "Eittss, kalau gue bantuin itu gak boleh nolak. Lebih baik gue bawa tas lo daripada gue gendong lo kalau pingsan. Berat."
"Elang, lo nyindir banget yah kalau gue gemuk." Dea mencubit asal lengan Elang yang membuat Elang tertawa.
Keributan itu membuat Elsa menoleh ke arah mereka berdua. Biasanya Elang ribut dengan Elsa. Sebenarnya ada sesuatu yang aneh, mungkin Elsa masih belum terbiasa melihat perhatian Elang pada gadis lain.
"Mana tas lo biar gue bawain," kata Fandi yang membuat Elsa mengalihkan perhatiannya dari Elang.
"Gak usah, tas gue gak berat kok." Dan bohong, karena Elsa masih saja jaga image di depan Fandi.
Sesampainya di area perkemahan mereka berkumpul untuk pembagian kelompok, satu tenda untuk 4 orang
"Gini nih, kalau pembagian kelompok berdasarkan absen. Gue jadi satu tenda sama si curut," Elang kesal.
"Maksud lo curut itu gue?" tanya Bagas dengan tampang polosnya.
"Bukan lo!"
Fandi mendengar perkataan Elang karena berdiri mereka yang sederet per satu kelompok; Elang, Bagas, Doni, dan Fandi. "Lo kalau gak mau satu kelompok sama gue, lo bikin aja tenda sendiri. Kalau bisa di tengah utan sana," dan inilah untuk pertama kalinya Fandi menimpali Elang.
"Apa lo bilang?" Elang menarik Bagas agar Elang bisa berdekatan dengan Fandi. "Pinter jawab yah lo sekarang. Kenapa? Lo udah bosan jadi cowok yang sok cool."
"Terserah apa kata lo," sebenarnya dulu Fandi juga tipe cowok yang banyak bicara. Hanya karena semua masalah di hidupnya yang merubah dirinya.
"Sudah, tidak usah ada yang berkomentar. Lebih baik sekarang kalian pasang tenda masing-masing. Setelah selesai baru kalian istirahat dan makan sebelum acara malam." Pak Satria memberi arahan pada murid-murid. Mereka semua bubar dan mulai memasang tenda masing-masing kelompok.
Elang dan Fandi masih saja berseteru, tapi rupanya mereka sama-sama ahli memasang tenda. Perseteruan mereka berubah menjadi kerjasama yang membuat Bagas dan Doni bisa beristirahat dan hanya melihat mereka bekerja sambil menertawakan.
"Cepet selesai kan kalau ada gue." Elang mengibaskan tangannya menghilangkan debu yang menempel.
"Gak usah sombong lo!" Fandi melakukan hal yang sama. Tapi arah pandangannya kini tertuju pada Elsa yang masih saja belum selesai memasang tenda. Fandi langsung melangkah mendahului Elang.
Elang mengikuti Fandi, dia berniat ingin membantu Elsa juga tapi saat melihat ekspresi Elsa yang begitu bahagia dengan Fandi, dia urungkan niatnya dan memutar langkahnya menuju Dea. Udah ada yang perhatian ke lo selain gue. Dan mungkin, bukan gue lagi yang akan lo cari saat lo butuh sesuatu.
Tak butuh waktu lama, Fandi sudah selesai memasangnya. Kemudian dia berbisik di telinga Elsa. "Ikut gue yuk."
Elsa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Sa, lo mau kemana?" tanya Anna.
"Mau jalan-jalan bentar."
"Ya udah jangan lama-lama tugas kita kan masih banyak."
"Oke," Elsa hanya menjawab sambil berlalu. Langkahnya terlihat ringan mengikuti Fandi. "Fan, lo tumben sih ngeladeni Elang berantem." Elsa memulai pembicaraan.
"Sejak gue cerita sama lo kemaren, rasanya ada beban yang hilang dipikiran gue. Gue aslinya gini kok, banyak omong juga kayak Elang."
"Oo, syukurlah kalau lo udah bisa move on." Mereka mengobrol sambil berjalan lumayan jauh sampai hampir masuk ke dalam hutan.
Fandi menghentikan langkahnya. Menghirup udara yang sejuk meski hari mulai sore. "Makasih, lo udah ubah hidup gue."
Elsa, awalnya tidak berani menatap mata Fandi. Dadanya bergetar. Kali ini mereka hanya berdua. Apa yang akan dikatakan Fandi padanya? Memikirkan itu rasanya membuat Elsa panas dingin tidak karuan.
Belum sempat Elsa berkata apa-apa, Fandi melanjutkan perkataanya dan kini Fandi menatap Elsa jauh lebih dalam dan penuh penghayatan. "Mungkin, ini terlalu cepat buat lo tapi ini terlalu lama buat gue untuk mengartikan."
Elsa kini beranikan diri menatap Fandi. Dia seperti melambung, jika memang Fandi mengungkapkan cintanya sekarang, apa yang akan dia katakan. Dia gigit kecil bibir bawahnya untuk mengurangi rasa gemetar di tubuhnya.
Fandi mendekatkan wajahnya, dengan cepat dan membisikkan sebuah kalimat yang begitu lembut. "Aku cinta sama kamu."
Satu kalimat yang seketika membuat pipi Elsa merah merona, apalagi di saat tangan Fandi tiba-tiba menggenggam tangannya dengan hangat.
Haruskah Elsa langsung menjawab, iya, aku juga cinta sama kamu. Kalimat yang simple tapi sulit terucap. Bibir Elsa seperti tidak mau untuk terbuka. Berat. Sampai akhirnya ada suara yang memanggil nama Fandi cukup keras.
Fandi melepas tangannya dan menoleh ke belakang. "Ya ampun Doni, gue lupa. Kamu tunggu sini yah aku mau ambil air dulu di sungai. Cuma bentar."
Elsa mengangguk sambil tersenyum. Lalu Fandi segera membalikkan badannya dan berlari menyusul Doni.
"Yes! Cinta, aku, kamu!" Elsa melompat kegirangan. Untunglah Fandi sudah berlalu dan tidak melihat tingkah konyolnya. "Tapi terus gue harus jawab apa, Fandi nembak gue apa cuma ungkapin perasaannya sih? Gue jadi bingung." Elsa meremas tangannya sendiri sambil berpikir sehingga tanpa sadar dia menginjak sesuatu yang empuk. "Eh," Elsa melihat seekor kelinci yang langsung melompat kabur saat Elsa tanpa sengaja menginjak kakinya. "Di hutan gini ada kelinci? Jangan-jangan ada sarangnya." Elsa pun mengikuti kelinci itu melompat. Dia tidak sadar jika dia masuk ke dalam hutan lebih jauh dan mungkin dia tidak hafal jalan untuk kembali.
Benar, Elsa kini berada di dalam hutan. Elsa membalikkan badannya, yang dia lihat hanyalah pohon-pohon besar. Berjalan ke kanan atau pun ke kiri tetap sama. Elsa mulai bingung dan panik. "Kenapa gue bisa sampai sini?!" Napas Elsa mulai tergesa, "Gue mesti lewat mana?" Elsa malah berlari tapi nihil, Elsa semakin tersesat.
"Elsa?" panggil Fandi saat dia kembali ke tempat dia meninggalkan Elsa. Tapi Elsa sudah tidak ada di sana. "Mungkin Elsa udah kembali ke tenda." Dan, Fandi pun langsung kembali ke perkemahan. Lalu Elsa???