Briana Gemaliel, seorang aktris papan atas sekaligus model ternama yang terkenal dengan sifat arogan dan sombongnya, membuat ia fi juluki sebagai 'Wajah Para Antagonis'.
Briana yang dalam perjalanan menuju lokasi syuting film, mobilnya mengalami kecelakaan beruntun. Briana sempat di larikan ke rumah sakit, tapi ia meninggal dalam perjalanan dan menjadi topik paling hangat di perbincangan.
Briana yang mati dalam kecelakaan, tak di sangka malah terbangun di sebuah tubuh orang lain, ia yang awalnya mengira itu hanya mimpi sebelum kematiannya, memilih untuk tidak terlalu ambil pusing.
Tapi ternyata, kejadian itu bukanlah mimpi, ia mendapat ingatan dari tubuh barunya. Nama dari tubuh itu adalah Emeline Cynthia Bagaskara, anak bungsu dari keluarga Bagaskara yang tidak pernah di anggap.
Lalu, bagaimana jadinya, jika Emeline, gadis yang sangat penakut dan tidak memiliki kepercayaan diri, di ambil alih oleh seorang Briana yang adalah aktris arogan dan manipulatif? Tentunya akan seru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kelliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kenapa hanya aku?
Rumah sakit biasanya tenang, karena banyak pasien yang di rawat dan harus selalu dalam keadaan stabil.
Tapi dalam beberapa menit ini suasana lumayan tegang karena beberapa orang tampak gelisah dan bahkan ada yang menangis, pasien yang menjadi salah satu anggota keluarga mereka tengah di tangani dokter karena sempat kejang tadi.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan pasien, membuat saru-persatu orang yang tengah menunggu menghampirinya untuk bertanya.
"Bagaiman dengan putriku?" Tanya salah satu pria setengah baya dengan wajah khawatir.
"Putri anda baik-baik saja, malah selain demam yang sangat tinggi, putri anda tidak memiliki gejala penyakit serius." Jawab dokter sekaligus menjelaskan.
Semua orang tampak heran, "Apa maksud anda cucuku baik-baik saja? Sedangkan tadi dia sempat muntah darah, dan barusan saja dia kejang-kejang." Pria paling tua di antara mereka bertanya dengan tak mengerti.
Dokter sedikit tak mengerti juga, pemeriksaan yang di lakukannya tadi benar-benar menunjukkan jika gadis muda di dalam kamar pasien itu benar-benar baik-baik saja, selain demam tinggi.
"Tapi tuan, jika saya boleh tau, apa gadis di dalam adalah bagian dari keluarga Bagaskara?" Tanya dokter tiba-tiba, membuat mereka terdiam dan saling pandang.
"Ekhem! Stukurlah jika memang tidak ada apa-apa, bisa kami menjenguknya?" Pria setengah baya lain segera bertanya agar bisa membungkam si dokter agar tetap diam, dan mendapat anggukan dari sang dokter.
Akhirnya mereka masuk setelah dokter pamit untuk tugas lain, satu persatu dari mereka menatap pada gadis yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit, walau memang ranjangnya berbeda, karena ini adalah ruangan VVIP.
"Dia gak papa, tapi kenapa dari tadi gak bangun? Terus juga ini panasnya gak normal." Celetuk seorang pria dewasa dengan setelan kantoran yang sedikit berantakan, dia Satria.
Agraham, pria enam anak tanpa istri itu mendekat dan duduk di sisi ranjang san putri, dia mengusap dengan lembut dahi putrinya yang terlihat berkerut.
Panas di rasakannya kala kedua kulit mereka bersentuhan, putranya benar, panasnya tidak normal, ini sebuah keajaiban jika ternyata putranya hanya tidur saja dengan badan sepanas ini.
"Waktu di UKS tadi juga dia ngerutin dahi gitu, kayaknya mimpi." Celetuk Arsen.
Pria itu masih memikirkan saat Emeline batuk darah tadi, dirinya sangat panik dan dengan refleks langsung menelpon Papa-nya, yang saat itu tengah berada di kantor Agraham.
Dengan perasaan khawatir, Agraham dan William langsung tancap gas menuju DHS. Mereka benar-benar di buat sangat khawatir saat melihat kondisi Emeline yang sangat pucat, di sudut bibirnya masih tersisa darah, dengan Arsen yang telah menangis.
William mengemudi dengan cepat, sedangkan Emeline berada dalam pelukan Agraham dan Arsen yang menelpon anggota keluarga yang lain.
Dalam beberapa menit saja semua langsung berkumpul di rumah sakit terdekat, untungnya itu adalah rumah sakit milik sahabat Agraham.
Semua orang bertanya kepada Arsen yang masih menangis dengan tangannya yang sedikit ternoda darah tadi. "Aku gak tau, waktu aku nawarin dia buat makan, dia mau, tapi baru mau di suapin, dia langsung muntah. Aku juga gak tau kenapa." Jelas lelaki itu dengan air mata yang masih mengalir.
Tidak pernah sekalipun Arsen menangis selama dia dewasa ini, dia bahkan hanya diam saja saat mendapat pukulan saat tawuran, atau saat dia pernah mengalami kecelakaan dulu.
Tapi Arsen benar-benar sangat merasa takut saat melihat betapa banyaknya darah yang di muntahkan oleh Emeline tadi, membuatnya bahkan merasa sangat sakit entah karena apa.
Tok. Tok. Tok.
Pintu di ketuk, mengalihkan atensi keluarga Bagaskara dari Emeline yang tertidur. Gilang yang paling dekat dengan pintu lantas berjalan dan membuka pintu, "Anda?" Ucapnya dengan nada terkejut, mengundang rasa penasaran anggota keluarga yang lain.
"Siapa, Gilang?" Tanya Ariana.
Gilang tidak menjawab, dia hanya membuka pintu semakin lebar dan membuat orang yang di luar terlihat sepenuhnya oleh anggota keluarga yang lain.
"Guntur Mahendra." Hendri berucap dengan tak percaya.
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau selama ini menetap di pedalaman hutan?" Tanya Hendry lagi, dan di balas dengan decakan kesal dari pria tua itu.
"Tentu saja aku harus keluar dari sana untuk menemui cucuku." Ujarnya ketus, lalu berjalan dengan ringan mendekati Emeline, di lihatnya dengan teliti wajah tidur gadis itu.
Sebuah anggukan di berikan dan mata yang berwarna hitam pekat itu lantas menatap semua anggota keluarga Bagaskara dengan tenang. "Dia baik-baik saja, jiwanya hanya sedang tidak seimbang, besok akan segera bangun dan kita harus menceritakan semuanya tanpa ada kekurangan." Jelasnya.
Hendry mengangguk mengerti, ternyata cucunya sakit karena hal yang memang tidak bisa di tangani oleh medis, dia lantas mendekati ranjang sang cucu dan menatapnya lamat.
"Cucuku akan baik-baik saja, bukan?" Tanyanya tanpa menoleh.
Guntur yang merasa pertanyaan itu untuknya lantas mengangguk, "Ya, antara melebur, atau hilang." Jawabnya, membuat orang lain di sekitar menetap tak mengerti.
"Maaf tapi, bisa jelaskan apa yang kalian bicarakan?" Tanya Sergio dengan nada yang terkesan malas.
Guntur menatap Sergio sesaat lalu beralih pada Agraham yang masih duduk di ranjang sebelah kiri Emeline, "Kau sudah memperingatinya?" Tanyanya tak menjawab pertanyaan Sergio.
Agraham yang di tanya menatap sebentar putra kelimanya lalu mengangguk, dia tidak akan membiarkan kesalahan lain lagi, cukup satu kali, dan itu sangat fatal jika harus di tambah masalah lain.
"Dia baik-baik saja, kalian pasti sudah mendengar tentang yang sebenarnya terjadi dari orang tua kalian. Walau terkesan tak masuk akal, tapi itulah kenyataannya."
Guntur mulai menjelaskan dan duduk di dalam satu sofa dekat dengan Leonel, "Jiwa yang dulu mengisi Emeline, masih ada di dalam dirinya, entah dia menyadarinya atu tidak, tapi lambat laun jiwa itu akan hilang, atau jika keduanya setuju, jiwa itu akan melebur menjadi satu."
"Apa yang akan terjadi jika jiwa mereka melebur?" Tanya Leonel.
Guntur terdiam sejenak, lalu menatap tepat pada mata Leonel, "Dia akan memiliki kesadaran sendiri, atau kita biasa menyebutnya Alter Ego."
Arsen mengangguk, "Seperti yang dulu di katakan Emeline." Ucapnya dan menatap pada Agraham, yang di balas dengan anggukan.
"Lalu, jika jiwa yang sebelumnya hilang, apa yang akan terjadi pada Emeline?" Tanya Gilang dan mendapat anggukan dari saudaranya yang lain.
"Dia akan hidup sebagaimana dirinya, tapi dengan tabiat yang di milikinya di kehidupan sebagai orang lain selama ini."
"Jadi sikapnya tidak akan berubah, dan dia akan selalu bersikap seperti beberapa bulan ini?" Tanya Sergio dan mendapat anggukan dari Guntur.
Mereka memang sedikit menyayangkan, karena itu artinya Emeline akan tetap berwatak keras dan bersifat dingin, berbeda dengan Emeline saat dulu.
Tapi mereka juga bersyukur, karena dengan itu, Emeline bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa harus ada peran pengganti, dan tidak akan ada lagi kesalah pahaman yang terjadi.
"Kenapa kalian hanya membicarakan tentangku? Bagaimana dengan jiwa yang kalian paksa untuk menggantikanku?"
Semua menatap kaget pada suara Emeline yang mengalun dengan lirih, tapi masih dapat di dengar.
"Kenapa? Kenapa kalian menegbaikan jiwa Emeline sebelumnya? Hanya karena dia bukan aku? Kalian tidak memikirkan perasaannya?"
•
•
•
•
Bersambung ....
perfect lah thor /Good//Good/
up
up
up