NovelToon NovelToon
Abang Penjual Sate, Imamku

Abang Penjual Sate, Imamku

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.7
Nama Author: aisy hilyah

Sedang direvisi.

Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemukan

Tiga buah mobil sedan mewah meluncur di jalanan, melaju dengan cepat membelah jalanan kota yang mulai sepi. Di malam yang kelam, tak ada satu pun bintang di sana. Bahkan rembulan yang hanya sebagian muncul pun kini tersembunyi di balik awan hitam yang melintas. Mobil tersebut terus melaju tanpa hambatan yang pasti, mereka bergerak beriringan memecah kesunyian malam, hingga akhirnya keluar dari jalanan besar di ibu kota menuju pinggiran kota.

Mobil-mobil itu menepi di pinggiran hutan, masuk ke dalamnya dan berhenti di sana. Mereka mulai keluar satu per satu dari dalam mobil tersebut. Mobil pertama yang dipimpin oleh Paman Max dan beberapa orang pilihannya. Yang kedua Razka dan Rendy dan beberapa orang pilihan. Mobil ke tiga adalah orang-orang pilihan Paman Max. Mereka akan memasuki hutan tersebut. Sesuai informasi yang diterima oleh mereka dari orang kepercayaan Paman Max yang melihat Ferdi keluar dari sebuah bangunan tua yang mirip gudang di dalam hutan.

Mereka bergerak perlahan, menyebar ke berbagai arah. Dua orang yang mengintai di dekat gudang tersebut telah menunggu mereka. Razka dan Rendy menemukan keduanya yang berada di balik pohon di depan gudang itu. Sementara Paman Max berjalan ke arah belakang gudang. 

"Bagaimana pengintaian kalian? Berapa orang yang menjaga tempat ini sekarang?" Ucap Razka pada mereka berdua.

"Menurut yang kami amati, jika tidak salah kami menghitung ada sekitar 10 orang yang menjaga tempat ini Tuan Muda." Razka mengangguk mengerti.

"Lalu, apakah selama kalian di sini Paman Ferdi datang ke tempat ini?" Tanya Razka, matanya tak lepas dari dua orang penjaga di depan gudang tersebut. 

"Selama kami di sini kami tidak melihat kedatangan Tuan Ferdi Tuan Muda." Razka mengangguk kembali.

"Baiklah... Kita mulai saja permainannya. Kau kecohlah dua penjaga itu, jika mereka bertanya padamu katakan saja aku tersesat dalam hutan ini." Razka meminta salah satu orang yang dibawanya untuk sengaja melintas di depan gudang tersebut. Sementara yang lain, mereka telah bersiap pada posisi mereka masing-masing. Razka dan orang-orang yang dibawanya kini telah mengepung tempat tersebut.

'Semoga saja Emil masih di dalam sana.'  Razka bergumam dalam hati. Ia tidak ingin terjadi apapun pada adiknya itu. 

Razka memperhatikan dari jauh saat salah seorang di antara mereka mulai berjalan dan dihampiri oleh dua penjaga itu. Samar terdengar perdebatan hingga salah satu di antara dua penjaga itu menarik paksa lengan laki-laki suruhan Razka masuk ke dalam gudang tersebut.

Saat mereka lengah Razka dan Rendy menyelinap masuk ke dalam gudang. Berjalan perlahan dengan menempelkan tubuh mereka pada dinding. Dari balik dinding gudang tersebut mereka dapat melihat laki-laki yang menyeret orang suruhan tadi terus berjalan di lorong sepertinya itu mengarah ke bagian belakang dari gudang ini.

'*B*agus, Paman Max sudah menunggumu di sana.' Batin Razka bergumam senang. 

Ia dan Rendy melanjutkan langkahnya dengan perlahan, di dalam gudang itu terdapat kamar-kamar yang berjejer dengan pintu-pintu kayu yang masih lumayan kokoh untuk ukuran tempat tak terpakai. Pada pintu pertama Razka mengintip dari celah pintu namun kosong tak ada apapun di sana. Ia beralih pada pintu kedua pun sama kosong. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara tawa sekelompok orang dari dalam ruangan yang kini di depannya.

Razka kembali mengintip dari celah lubang pintu sementara Rendy mengawasi sekitar. Razka dapat melihat sekelompok laki-laki yang sepertinya sedang berpesta di dalam sana terdapat beberapa botol yang sepertinya minuman beralkohol. Beberapa di antara mereka telah mabuk berat, tapi ia tidak melihat keberadaan Emil.  Rendy bertanya melalui isyarat tubuhnya yang mengatakan 'bagaimana?' saat Razka menoleh padanya. Razka menggeleng lalu melangkah kembali menuju pintu selanjutnya. 

Di balik sebuah pintu Razka mendengar suara laki-laki berbincang. Razka mendekatkan wajahnya pada daun pintu di sana dan menempelkan telinganya.

"Sayang sekali. Gadis yang masih suci seperti ini dibiarkan mati begitu saja." Ucap salah satu laki-laki di dalam sana. Membuat Razka merapatkan giginya geram. 

"Kau benar sekali. Bagaimana jika kita mencicipinya dulu sebelum dia mati. Karena sepertinya tidak lama lagi dia akan mati." Ucap yang lain, Razka mengepalkan tangannya erat. Wajahnya sudah memerah menahan emosi yang siap meledak kapanpun.

Ia mengintip ke dalam melalui celah kecil pada daun pintu di sana. Mata Razka membelalak saat melihat seorang gadis yang tak berdaya duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan dan kaki terikat juga mulut yang disumpal. Wanita itu menunduk entah ia masih sadar ataukah sedang tak sadarkan diri di sana. 

Razka menggeram kecil tangannya yang mengepal terlihat memutih ia memberi, isyarat pada Rendy dengan kepalanya untuk memasuki ruangan tersebut. Mereka  berdua masuk perlahan tanpa suara membuka pintu lalu menutup nya kembali. Saking pelannya hingga membuat dua laki-laki yang sedang berdiri membelakangi pintu itu tidak menyadari bahwa ada orang lain di ruangan tersebut.

\=\=\=\=\=\=

Emil yang tak berdaya dengan keadaannya saat ini hanya pasrah pada takdirnya. Ia sudah tidak lagi menangis. Ia hanya menunduk pasrah pada takdir yang akan menimpanya. Saat dua orang penjahat masuk ke dalam ruangannya disekap, ia tetap menunduk. Apapun yang akan mereka lakukan Emil sudah tidak berdaya untuk melawan. 

'*J*ika ini memang takdirku, aku siap untuk mati ya Allah. Tapi aku tidak ingin mati dalam keadaan kotor. Tolong aku yaa Robb. Tolong jaga kesucian ku sampai aku menghadapMu.'

Hanya kalimat itu yang terus dia ucapkan dalam hatinya, saat dua orang laki-laki di hadapannya ingin merenggut kehormatannya. Ia semakin gencar berdoa ketika mereka mendekatinya, keringat sudah bercucuran dari wajahnya. Tidak ada satu pun yang menyadari kehadiran dua orang di dalam ruangan itu.

Razka masih menatap dua laki-laki di hadapannya yang terus berjalan mendekati Emil. Ia bisa melihat tubuh Emil bergetar ketakutan. Kilatan matanya penuh amarah tangannya mengepal saat melihat keadaan adiknya yang begitu menderita, hatinya tercabik. Ia bersumpah tidak akan mengampuni mereka yang sudah berani menyentuh adiknya.

"Jangan sentuh adikku dengan tangan kotor kalian!"

Sebuah suara dingin menggema dalam ruangan itu saat mereka hendak menyentuh Emil. Tiba-tiba saja suhu dalam ruangan itu menjadi sangat dingin. Dua orang penjahat itu menoleh ke belakang dan mereka terkejut.

"Bagiamana bisa kalian masuk ke dalam sini?" Ucap salah satu laki-laki dengan geram.

"Sedikit saja kau sentuh adikku dengan tanganmu, aku bersumpah akan ku cabik-cabik seluruh tubuhmu."

Razka melangkah maju dengan tangan mengepal. Saat ini ia sulit mengendalikan dirinya untuk menahan amarah. Emil mengangkat wajahnya ia tersenyum lemah tak berdaya, mulutnya yang tersumpal kain seolah berkata tanpa suara,

'Kakak.' Namun tak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.

Razka tersenyum dan mengangguk pada Emil saat mereka bertatapan. Hati Razka menjerit, ia menangis tanpa air mata melihat keadaan adiknya yang begitu menyedihkan. Hampir di seluruh wajahnya membiru dan masih terlihat kemerahan di pipinya bekas tamparan Ferdi siang tadi. Razka semakin mengepalkan tangannya kuat tubuhnya bergetar karena amarah yang meluap-luap dari dalam dirinya.

"Aku bersumpah akan ku buat mereka merasakan lebih dari apa yang mereka lakukan pada adikku."

Razka menoleh pada dua orang penjahat yang saat ini menatapnya dengan keringat bercucuran dari wajahnya. Tubuh mereka bergetar saat menatap sorot mata Razka yang dipenuhi amarah. Bagaimana dengan Rendy?

Rendy tak jauh berbeda dengan Razka. Sorot matanya memancarkan penyesalan dan kesedihan juga amarah saat melihat keadaan Emil dalam ruangan itu. Tangannya mengepal marah, matanya memerah karena emosi yang membuncah. Dia bersumpah akan menghancurkan mereka yang telah menyiksa Emil sampai seperti ini. 

'******** tua. Tunggu pembalasanku akan ku buat kau merasakan lebih dari ini.'

Ia melihat Emil yang mengangkat wajahnya dan tersenyum dengan mulut tersumpal namun tak ada apapun yang terucap. Tanpa disadarinya air matanya lolos begitu saja. Berbeda dengan Razka yang harus menahan diri untuk tidak menangis. Rendy segera mungkin mengusap air matanya dan kembali menatap dua penjahat di sana.

Razka yang masih berdiri tak jauh dari penjahat itu, hanya beberapa langkah saja jaraknya. 

Rendy tak dapat menahan dirinya lagi ia berlari melewati Razka menerjang salah satu penjahat memukulnya dengan membabi buta. Laki-laki itu terus terpojok hingga ke sudut ruangan, Rendy tak berhenti sampai di situ ia menarik tangan penjahat itu ke belakang dengan kuat hingga bebunyi,

Kraaakkkkkk

"Aaaaaarrrggghhhh"

Suara tulang yang patah diiringi suara jeritan salah satu penjahat yang diserang Rendy.

"Tangan kotor ini yang berani ingin menyentuh gadisku." Ucap Rendy tanpa sadar yang membuat Emil tersenyum dalam kelemahannya. Gadisku katanya.

Razka masih diam tak bergerak menatap tajam pada satu orang penjahat yang tersisa.

"Percuma kau menjerit meminta bantuan, aku pastikan teman-temanmu di sana sedang berlibur di neraka." Ucapnya dingin saat melihat penjahat itu yang ingin berteriak meminta tolong.

Tanpa bicara banyak Razka melakukan hal yang sama pada satu penjahat lagi. Ia menyerang memukul dan menendang dengan brutal. Awalnya penjahat itu dapat menghindar dan menangkis setiap serangan Razka namun seolah tenaga Razka tak ada habisnya ia terus menyerang laki-laki itu tanpa jeda sedetikpun. Ia tidak memberikan celah sedikitpun padanya untuk menyerang Razka.

Razka mematahkan setiap tulang dalam tubuhnya beberapa kali terdengar suara jeritan keluar dari mulut dua laki-laki yang diserang secara brutal. Hingga akhirnya mereka terkapar tanpa nyawa. Razka dan Rendy tidak berniat mengampuni nyawa mereka. Amarah yang menguasai mereka menolak untuk memberi ampun.

Setelah itu Razka dengan cepat menoleh pada Emil dan berlari ke arahnya, ia berjongkok di hadapan Emil yang duduk di kursi dan masih terikat. Dengan perlahan Razka mengambil kain dari mulut Emil membuangnya dengan murka, kembali ia melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Emil. Perlahan dan sangat hati-hati. Air mata yang ditahannya tumpah begitu saja saat melihat pergelangan tangan dan kaki Emil yang membiru akibat ikatan tersebut. 

Razka terisak pilu, ia menundukkan kepalanya dalam. Tangannya bergerak mengusap-usap pergelangan tangan dan kaki Emil yang membiru. Hancur hatinya, Rendy yang kini berdiri di samping mereka berdua pun tak dapat menahan tangisnya ia membuang muka saat melihat Razka mengelus pergalangan tangan Emil yang membiru.

"Ka-kak."  Suara lemah Emil terdengar, namun Razka tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Emil. Ia semakin terisak pilu. Tangan Emil bergerak menyentuh kedua pipi Razka lemah sekali, Razka menyentuh kedua tangan itu dan menciuminya.

"Iya. Ini kakak. Kakak datang menjemputmu." Ucapnya dengan Isakan yang tersisa. Emil memeluk lehernya erat ia tak dapat menahan air matanya, ia bahagia doanya terkabul.

"Kakak!" Ucapnya dengan suara yang semakin melemah. Tangannya yang memeluk leher Razka semakin melemah dan akhirnya terkulai. Razka panik merasakan pelukan Emil yang terlepas dengan tangan yang terkulai lemah di samping tubuhnya. Dengan segera Razka melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Emil. Emil tak sadarkan diri saat ini.

"Emil! Sayang! Emil! Bangunlah! Kakak sudah datang." Tangis Razka semakin menjadi, ia meraung sambil memeluk tubuh lemah Emil. Rendy yang tak kuasa menahan dirinya mencoba untuk tetap tegar, ia menghampiri Razka menepuk bahunya.

"Sebaiknya kita segera bawa Emil ke rumah sakit." Ucapnya yang menyadarkan Razka dari tangisannya.

Razka segera mengangkat tubuh Emil dan membawanya keluar dari gudang tersebut. Di luar gudang tak kalah mengerikan mayat-mayat penjaga gudang itu berserakan begitu saja. Ia berlari menghampiri mobilnya, Rendy segera membukakan pintu untuknya yang langsung dimasuki Razka. Ia segera berlari ke balik kemudi dan dengan cepat melaju keluar dari hutan tersebut diikuti oleh mobil Paman Max dan yang lainnya.

"Sayang bertahanlah adikku. Kita akan segera membawamu ke rumah sakit."

Ucap Razka di dalam mobil ia terus memeluk tubuh Emil yang terkulai lemas. Air mata Razka tak henti mengalir. Rendy bergerak cepat membelah jalanan kota yang masih sepi kendaraan karena kini sudah masuk waktu dini hari. Satu jam perjalanan mereka tempuh dari hutan tersebut menuju rumah sakit terdekat.

Setelah sampai, mereka dengan cepat memberikan Emil kepada petugas medis di sana untuk segera ditangani. 

Kini Emil sedang ditangani dokter dalam ruangan IGD sedangkan Razka dan Rendy juga Paman Max yang datang terakhir menunggu di depan ruangan tersebut.

'Semoga kau baik-baik saja adikku.' Ucap Razka dalam hati yang juga diucapkan Rendy dan Paman Max dengan kalimat yang berbeda.

1
Mazree Gati
ini aja bertele tele kapanjangan pakai seosen dua segala,,,end
Aisy Hilyah: harap dimaklumi ini pertama kali saya nulis. jadi masih belepotan masih banyak salah-salah. masih jauh dari selera hehehe
total 1 replies
Mazree Gati
skpi,flasback
Mazree Gati
uda lompat baca masi sama
Mazree Gati
flasback,,skip
Mazree Gati
emil terlalu tolol, uda tahu di benci malah ikut campur tolol
jesS Noisyanthie
knp pemeran utama y jadi ubi?
baca dari awal begitu bnyk kematian
jesS Noisyanthie
jgn ngadi² thor,
jesS Noisyanthie
jujur,randy emng harus kembali pd istri dan anak y,
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
jesS Noisyanthie
deri jadikan berondong y emil aja thor🤭
jesS Noisyanthie
kasihan emil ,,,
jesS Noisyanthie
berarti rendy masih suaminya,kan gak ada kata talak,trs mngpa begitu mudah jatuh cinta sama emil
jesS Noisyanthie
knp nama ibu aisy adalah yanti 😭😭
itu namaku🤭🤭
Aisy Hilyah: maa syaa Allah
total 1 replies
jesS Noisyanthie
knp nama ibu aisy adalah yanti 😭😭
itu namaku🤭🤭
jesS Noisyanthie
katanya sgt mirip mita mirna, tp tidak bagi Sony,buktinya Sony tidak menyadari kalau mereka berduq bersaudara
jesS Noisyanthie
mita ibarat menari di atas luka y mirna,dan sony tdk memikirkan hal itu,
jesS Noisyanthie
org yg terlalu kecewa dan terluka menciptakan peran antagonis,
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
jesS Noisyanthie
tio kan asisten ortu y aisy
jesS Noisyanthie
aisy?
jesS Noisyanthie
Cuma rendy yg gak dpt pelukan emil🤭
jesS Noisyanthie
razka tanya pd ferdy apakah masih jauh rumah y,
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔
jesS Noisyanthie: maksud ku rendy🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!