Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Pertemuan 2.
...~•Happy Reading•~...
Toby dan Mala yang mendengar gumangan Kandara sontak mencari sumbernya, dengan memperhatikan semua pimpinan yang baru masuk. Ketika melihat sosok yang dikenal, mereka berdua langsung memegang pinggiran meja, lalu melihat ke arah Kandara.
"Dia pmpinan baru itu?" Mala bertanya tanpa membuka mulut, jadi berupa guman, seperti yang dilakukan Kandara. Tapi bisa didengar dan dimengerti oleh Kandara yang duduk di antaranya dan Toby.
"Maybe..." Jawab Kandara singkat, masih berupa guman yang hanya bisa didengar oleh Toby dan Mala. Tapi pikirannya ke berbagai arah. Alaram tanda bahaya berbunyi di semua sisi kepala dan hatinya.
^^^Walaupun Lucha belum melihat ke arahnya, Kandara sudah tidak bisa hindari. Mereka dalam satu ruangan dan dia tidak bisa menyembunyikan kehadirannya. Pertemuan terakhir mereka langsung bagaikan slide yang menyajikan adegan kenangan bersama Lucha bergantian silih berganti.^^^
Kandara yang menunduk dan melihat Mala dan Toby yang sedang memegang pinggiran meja, jadi teringat pertemuan terakhir mereka bertiga dengan Lucha. Semua adegan jadi tumpang tindi dan menjadi acak. Kandara mengkhwatirkan banyak hal, mengingat karakter Lucha dan mulutnya yang tidak bisa dikontrol ucapannya.
^^^Pertemuan pertama kali di restoran dengan Mala dan Toby, dan kemarahannya pada Mala dan Toby, membuat mereka berpisah, kembali terbayang diingatan Kandara. Membuat dia tidak bisa konsentrasi dengan pertemuan tersebut.^^^
^^^Mengapa Lucha tiba-tiba pindah dan bekerja di tempatnya bekerja? Apakah dia masih menyimpan dendam dan mau membalasnya, setelah tahu dia sudah menikah? Banyak pertanyaan di kepalanya tanpa dia mengerti dan bisa menjawabnya.^^^
"Orang itu yang akan jadi pimpinan kita?" Toby bertanya pelan, cendrung berguman karena tidak membuka mulutnya.
"Maybe..." Hanya itu yang bisa dijawab Kandara, karena ketidak tahuannya.
^^^Mereka tidak bisa bercakap-cakap dengan bebas, karena ruangan pertemuan sangat sepi. Tidak ada yang berani berkata-kata, tanpa diminta terlebih dahulu. Hal itu membuat mereka bertiga sangat kesal dengan situasi yang ada.^^^
Setelah para petinggi perusahaan telah duduk, semua yang ada dalam ruangan dipersilahkan duduk. Kemudian tiba waktunya diumumkan perubahan pimpinan perusahaan dan juga memperkenalkan Lucha.
^^^Momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para staff wanita yang masih sendiri. Mereka sudah melihat Lucha sejak masuk ke ruangan dengan minat yang besar, berharap pimpinan baru masih bujangan. Walaupun kesannya dingin dan arogan, tapi tampan. Sikap para staff wanita itu sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Kandara. Dia berharap tidak ada dalam ruangan tersebut.^^^
"Terima kasih para pimpinan dan staff yang sudah berkumpul di sini. Sebagaimana pengumuman sebelumnya, hari ini kami akan memperkenalkan pemilik perusahaan ini, Pak Lucha Alfadian. Beliau menggantikan Pak Berto Prakoso, karena kondisi kesehatan Ayahnya sedang terganggu." Kata asisten menjelaskan, mengapa Lucha berada di pertemuan tersebut.
^^^Ketika mendengar asisten Pak Berto memperkenalkan Lucha, Mala dan Toby serta Kandara terhenyak. Lampu lalu lintas berubah warna tidak beraturan di dalam kepala mereka. Mereka bersyukur, Lucha duduk pada sisi yang sama dengan mereka, jadi tidak bisa melihat perubahan wajah dan sikap mereka.^^^
Kemudian Lucha dipersilahkan duduk di kursi yang biasa diduduki oleh ayahnya. Sehingga sekarang dia bisa melihat ke semua pimpinan perusahaan dan juga staff yang hadir tanpa perlu menengok kiri atau kanan.
Lucha melangkah ke tempat duduk ayahnya dengan percaya diri dan dia tetap berdiri untuk memberikan kata sambutan perdananya.
"Terima kasih. Saya Lucha Alfadian. Semoga selanjutnya kita bisa bekerja sa ma ..." Lucha berkata sambil melihat semua yang hadir satu persatu dan terhenti sejenak saat melihat mpat duduk Kandara.
^^^Dia jadi terkejut melihat Kandara hadir dalam ruangan bersama yang lain. Wajahnya berubah-ubah melihat Kandara duduk di antara kedua orang pria yang tidak pernah dilupakannya. Membuat salah seorang komisaris yang ada di dekatnya berdehem untuk mengembalikan kesadarannya.^^^
^^^Kandara, Mala dan Toby yang mendengar, hanya bisa diam sambil berpikir, tanpa bisa berkata-kata. Terutama Mala dan Toby, bayangan mereka memukul Lucha kembali teringat di benak, tanpa bisa dicegah.^^^
Lucha kembali duduk, tapi tidak bisa konsentrasi dengan apa yang sedang dibicarakan oleh para kepala bagian memperkenalkan nama dan dari bagian apa. Dia tidak bisa fokus mendengar pada apa yang dikatakan setiap orang. Dia terus bertanya dalam hati atas kehadiran Kandara dalam pertemuan tersebut.
^^^'Mengapa dia sudah ada di sini? Mengapa dia masih bekerja? Apa mereka menikah hanya formalitas?' Dan masih banyak pertanyaan di dalam kepalanya tentang Kandara yang tidak bisa dijawab dan dimengerti.^^^
Emosinya jadi berubah-rubah. Entah senang, kesal, marah dan berbagai rasa hati mempengaruhi dan menganggu penampilan pertama sebagai pemimpin dan pemilik perusahaan.
^^^Sebelum pertemuan, dia sudah bicara secara pribadi dengan Pak Ari untuk membahas kedua staff perusahaan yang bernama Mala dan Toby. Dia tidak membicarakan Kandara, karena dia berpikir Kandara mungkin tidak bekerja lagi atau akan pindah ke Seoul setelah menikah.^^^
^^^Pak Ari hanya mengatakan Kandara sedang ambil cuti besar untuk melaksanakan pernikahannya. Sehingga Lucha berusaha atur pertemuannya untuk memperkenalkan dirinya. Jadi jika Kandara mau kerja lagi, saat masuk nanti, Lucha telah merubah banyak kebijakan perusahaan yang telah menjadi miliknya.^^^
^^^Jika Kandara masih mau kerja lagi di perusahaannya, dia tidak bisa bersikap separti dulu lagi. Dia harus menerima semua kebijakan perusahaan yang sudah dia bicarakan dengan asisten dan juga Pak Ari.^^^
Tidak disangka, Kandara hadir pada hari perkenalan dan hari dimana dia mau lakukan rencananya. Hal itu membuat Lucha tidak bisa berkonsentrasi dan berulang kali melihat ke arah Kandara.
"Dara... Angkat wajahmu dengan PD, lihat dia. Sekarang kau bukan lagi Kandara beberapa bulan lalu." Toby berbisik pelan, karena melihat Kandara masih menunduk diam dan melihat Lucha sering melihatnya.
"Dia tidak bisa lakukan apa-apa lagi padamu. Kami masih bisa membuat dia lihat banyak kunang-kunang." Mala berkata pelan, membuat Kandara tersenyum dalam hati lalu mengangkat wajahnya, seperti yang dikatakan Toby.
^^^Tapi Kandara tidak melihat ke arah Lucha. Dia tahu, Lucha pasti sedang melihat ke arahnya. Oleh sebab itu, dia tidak mau melihatnya, agar tidak menjadi pusat perhatian semua yang ada dalam ruangan.^^^
"Mas bilang sikembar yang jadikan uncle nya preman, padahal uncle nya sendiri ada bibit preman terpendam." Kandara berkata pelan dengan berbisik untuk mengurangi ketengan mereka. Orang yang duduk jauh dari mereka tidak akan mendengar, namun Toby dan Mala yang mendengar, tahu apa yang dimaksudkan Kandara, jadi tersenyum.
^^^Ucapan Mala sebelumnya (Dara, anakmu membuat kami jadi preman) setelah Toby memukul perut Lucha, pada saat Kandara sedang hamil, kembali terngiang dan membuat mereka tersenyum.^^^
^^^Lucha yang melihat perubahan wajah Kandara, Toby dan Mala, dari serius jadi senyum tertahan, membuatnya kesal. 'Pasti mereka sedang membicarakanku.' Lucha berkata dalam hati dengan emosi mulai meningkat.^^^
"Dara, jangan kau berkata apapun, jika tidak ingin kami tertawa dan diusir keluar dari ruangan ini." Toby mengingatkan, karena melihat perubahan wajah Lucha yang mulai tidak enak dilihat.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
...~••'Wajah seseorang bisa menceritakan rasa hati, tanpa perlu mengucapkan banyak kata'••~...
Terimakasih buat authornya..