Mohon anak-anak di bawah usia tidak membaca cerita ini, terima kasih :)
Calissa mencoba melarikan diri, setelah dirinya di paksa oleh menikah dengan seorang lelaki bernama Brian. Calissa tahu, jika Brian adalah sosok lelaki kasar dan sangat suka main tangan.
Untuk menghindari pernikahan paksa, Calissa nekad melarikan diri dari rumah. Gadis muda berusia 21 tahun, yang begitu polos dan bahkan tidak mengenali dunia luar.
Hingga dia bertemu dengan sang mantan kekasihnya, Arsen. Dan menerima tawaran untuk tinggal bersamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty Nine : Kembalinya Arsel
Malamnya..
Arsen membawa kembali Calissa ke rumah, setelah selesai dengan pekerjaannya. Kedua pasangan itu sepertinya tampak menikmati hari ini, Calissa tidak berhenti tersenyum hingga dirinya turun dari mobil sembari membawa sebuah roti cokelat kesukaannya. Arsen sendiri membawakan makanan, bukan untuk mereka. Melainkan untuk tamu yang datang seperti jelangkung itu.
Well, memang diakui Arsen membenci Arsel dan Arish, tapi dia bukan tipe kakak kembar kejam yang membiarkan adik kembarnya mati kelaparan, dia tetap membawakan makanan untuknya. Mereka berdua sudah makan di restoran saat perjalanan pulang, jadilah perut kenyang dan hati yang senang membuat keduanya tampak bahagia.
Tapi kebahagiaan itu sedikit luntur saat melihat Arish berada di ruang tamu dengan tubuh penuh luka, Arsen memukul keningnya sendiri, sementara Calissa terkejut bukan main. Dia tidak tahu siapa itu, jadilah dia bertanya..
“Err.. Arish.. Atau Arsel ??”
“Arish.”
“Ah iya.. Maksudku.. Kenapa dengan tubuhmu ?? Apa yang terjadi ??”
“Bertarung dengan kucing liar manalagi ??” Ujar Arsen dengan santai, seakan sudah sering mengetahui pertengkaran yang dilakukan oleh Arish.
“Brian.”
“Ha ?!”
“Kucing sialan itu, Brian.”
“Brian ?? Maksudmu.. Bajingan, keparat, lemah, tidak berguna itu ?! Astaga bajingan rendahan itu kembali berulah.”
Arish menyeringai, “Aku suka panggilan nama untuknya, hanya saja terlalu panjang.”
“Kalau begitu basreng.”
“Hah ??”
“Basreng, bajingan brengsek.”
Arish memberikan tatapan seakan berbicara kepadanya apa kau serius ?! Arsen memberikan tatapan datarnya seakan membalas bukankah kau yang protes namanya terlalu panjang ?! Sementara Calissa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua lelaki itu..
Astaga lelaki tetaplah anak-anak, entah berapapun usianya.. Sepertinya itu ungkapan yang tepat untuk Arish dan Arsen saat ini. Calissa menghela nafasnya.
“Sudahlah.. Berhentilah bertengkar seperti anak kecil.”
“Aku bukan anak kecil !!” Kedua lelaki itu merajuk dengan nada lucu menurut Calissa, hal itu membuat Arish benar-benar terlihat seperti kembaran Arsen meskipun dia hanyalah kepribadian ganda Arsel.
“Ya.. Baiklah.. Aku akan mengambil kotak obat, dan Arsen kau yang akan mengobatinya.”
“Kenapa tidak kau saja ??” Ujar Arish dengan sedikit nada manja, membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Arsen.
“Tidak, biarkan aku saja !”
Lelah mengurusi perdebatan keduanya, Calissa memilih meninggalkan mereka di sana, dan mengambil kotak obat yang berisikan berbagai macam obat, bahkan obat luka dan juga perban. Setelah itu, Calissa menyerahkan kotak itu di depan meja di depan Arish, yang masih berdebat kecil dengan Arsen.
“Ini kotak obatnya, aku akan ke kamar dulu untuk bersantai.” Ujar Calissa.
“Baiklah..”
“Tapi, Cali-”
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Arsen menginjak kaki Arish yang membuat lelaki itu terpaksa memotong ucapannya sendiri. Arsen yakin, jika dia mencoba memarahi Arish, maka lelaki itu pasti sanggup menjawabnya, jadilah dia sengaja menginjak kaki Arish agar lelaki itu tidak mampu menjawab apapun. Sementara Calissa yang tidak mendengarkan ucapan dari Arish langsung masuk ke dalam kamar.
“Lepaskan kakiku !!”
“Itu akibatnya jika kau masih berani menganggu kekasihku.”
“Ck, kita saudara kembar.. Seharusnya kita berbagi !!”
“Saudara kembar ku adalah Arsel bukan kau, besok aku ingin berbicara dengan Arsel !!”
“Y.”
Disisi lain, Calissa di dalam kamar berbaring sembari memainkan handphone dan mendengarkan musik melalui earphone miliknya yang di belikan oleh Arsen. Sembari bersantai menunggu Arsen untuk masuk ke dalam kamarnya.
...
Keesokan harinya, saat sarapan bersama.
Arsen dan Calissa mendengarkan suara langkah kaki yang mendekati meja makan. Kemudian kedua pasangan menoleh melihat sosok Arish ?? Atau Arsel berjalan dengan memijat bagian belakang tubuhnya dan wajahnya menampilkan ekspresi seakan sedang menahan rasa sakit.
“Ada apa denganmu ??” Tanya Arsen.
“Astaga bagian belakangku sakit semua, apa yang dilakukan Arish kemarin ??” Ujar sosok yang ternyata adalah Arsel merasakan sakit pada bagian punggungnya itu.
Calissa mengamati, wajah Arsel jauh lebih bersahabat daripada Arish, yang terlihat dingin, kaku seakan tidak menunjukkan reaksi apapun, justru Arsel sebaliknya dia memperlihatkan lebih banyak ekspresi dengan wajahnya daripada Arish.
“Well, dia bertengkar dengan seseorang kemarin.”
“Hah ?! Gila !! Badanku remuk semua.. Kayanya harus panggil tukang pijat kesini.” Ujar Arsel mengeluh bagian belakangnya merasa pegal dan nyeri.
“Duduklah, dan makanlah kemari. Aku akan panggilkan tukang pijat nanti, sekarang makanlah dulu.”
“Hmm...”
Calissa sedikit melihat perbedaan Arsen dalam memperlakukan Arsel dan Arish. Meskipun di bibirnya mengucapkan kebencian dan sempat mengusir Arsel, tapi Arsen terkesan masih memiliki hati dan perhatian kecil untuk adik kembarnya itu daripada Arish. Memang semalam Arsen mengobati luka di tubuh Arish, tapi.. Bukankah itu juga tubuh Arsel ?? Mungkin jika bukan kepribadian ganda adiknya, Arsen kemungkinan tidak akan memperdulikan kondisi Arish.
Arsel kemudian duduk dan ikut makan pagi di sana, tampak lelaki itu sangat lelah dan capek karena tubuhnya di gunakan untuk bertarung dengan Arish kemarin. Dia juga terlihat sangat kelaparan dan menikmati makanan di depannya itu. Arsen memperhatikan adik kembarnya itu, memang lelaki itu sudah selesai menghabiskan makanannya sejak Arsel belum datang ke meja makan.
“Arsel.. Setelah ini, berbicara denganku di ruangan ku.” Celetuk Arsen kepada adik kembarnya.
Arsel hanya mengangguk, karena mulutnya penuh dengan makanan. Calissa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari Arsel, benar-benar seperti orang yang tidak makan selama 3 hari berturut-turut, hingga dia bisa makan dan malah menjadi sosok yang brutal dalam menikmati makanan. Arsen memberikan kode mata, untuk ijin kepada Calissa, karena handphonenya berbunyi di sana.
Calissa mengangguk, sebagai jawaban atas kode mata Arsen kepadanya.