NovelToon NovelToon
Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos

Status: tamat
Genre:CEO / Romansa / Rumah Tangga / Romantis / Tamat
Popularitas:345k
Nilai: 4.9
Nama Author: Gledekzz

(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)

Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Halaman ~

...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...

Dua hari terakhir di rumah sakit terasa melelahkan bagi Zahra dan yang lainnya. Karena beberapa perawat masih menjalani masa libur, Finna juga meminta mereka untuk melanjutkan dinas hingga esok hari.

Tidak ada pilihan lain selain kembali bertahan dengan jadwal yang padat.

“Bu... makan dulu yuk di kantin,” ucap Fadel sambil menghampiri.

“Iya Ra, kalian berdua aja duluan makan siang. Gue tunggu di sini,” sahut Mika yang masih sibuk menyusun resep dokter di meja perawat.

“Oke deh kalau begitu.”

Mereka berjalan berdampingan menuju kantin.

“Ibu kok belum mau menikah?” tanya Fadel tiba-tiba. Ia menoleh ke arah Zahra dengan wajah polos penuh rasa penasaran, seolah benar-benar menunggu jawaban serius.

Zahra langsung melirik malas sambil mendengus pelan. “Gue udah bilang sama kalian, bahwa gue udah nikah sama pak bos. Masih aja nggak percaya.”

Fadel terkekeh kecil, jelas menganggap ucapan itu hanya candaan. “Bukan aku mau lancang sama Ibu, tapi kayaknya benar deh kata Bu Hasya... Ibu harus ke ruang sebelah buat diperiksa karena suka berhalusinasi.”

Zahra spontan memutar bola matanya malas, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat tipis. “Barengan aja yuk kita kesana.”

“Nggak ah, Ibu jangan ngajak aku gila berjamaah,” tolak Fadel cepat sambil tertawa lebar.

Zahra ikut menahan tawa. Ia lalu menepuk pelan bahu Fadel dengan ekspresi jahil. “Ayolah... kita terapinya barengan.”

Mendengar itu, Fadel langsung merapatkan kedua tangannya di depan dada seperti orang memohon ampun.

“Nggak Bu, ampun. Aku masih waras.”

Tingkah Fadel justru membuat Zahra terkekeh pelan. Suasana di antara mereka terasa ringan dan akrab layaknya teman kerja yang sudah terbiasa saling bercanda setiap hari.

Mereka akhirnya tertawa kecil sepanjang perjalanan menuju kantin. Sesampainya di sana, keduanya berdiri di antrean sambil masih saling bercanda membahas hal-hal tidak penting yang justru terasa menyenangkan.

Namun di tengah suasana santai itu, Zahra mendadak merasakan sesuatu yang aneh. Ada aura dingin yang seolah menekan dari arah belakangnya.

Ia pun menoleh perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada seorang lelaki yang sedang menatapnya tajam tanpa berkedip.

“Mas Abyan...”

Zahra langsung membeku sesaat melihat Abyan duduk di sudut dekat jendela bersama beberapa orang lainnya. Tiga lelaki duduk membelakanginya, sementara Abyan menghadap lurus ke depan, tepat ke arahnya.

Sudah dua hari mereka tidak saling menghubungi sama sekali.

Abyan mengenakan pakaian serba gelap dengan topi hitam yang membuat penampilannya terlihat lebih dingin dari biasanya. Tatapannya datar, namun justru terasa mengintimidasi.

Zahra langsung teringat ucapan Ima tentang kebiasaan Abyan melakukan sidak diam-diam ke rumah sakit.

Tatapan lelaki itu terasa semakin tajam ketika melihat dirinya berdiri terlalu dekat dengan Fadel.

Abyan memegang sendok dan pisau dengan tenang, tetapi gerakannya terlihat dingin dan penuh tekanan.

Pisau di tangannya mengiris daging dengan cepat sebelum ia memasukkannya ke dalam mulut tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari Zahra.

Jantung Zahra langsung berdegup tidak karuan. Dari sorot matanya, Abyan tampak sedang menahan amarah. Namun, Zahra sendiri merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.

“Del... Del...”

“Iya, Bu?” jawab Fadel spontan sambil menoleh ke arah Zahra, sementara perempuan itu masih melirik ke arah Abyan dengan gelisah.

Tanpa sadar, Zahra ikut menoleh ke arah Fadel pada saat yang bersamaan. Jarak mereka mendadak menjadi sangat dekat hingga wajah keduanya nyaris bertabrakan.

Uhuk...

Uhuk...

Uhuk...

Suara batuk Abyan mendadak terdengar cukup keras, sampai menarik perhatian beberapa orang di kantin. Salah satu rekannya bahkan langsung menepuk pelan punggung lelaki itu.

Wajah Zahra seketika memucat saat kembali melihat ke arah Abyan yang masih menatap tajam ke arahnya. “Mampus gue,” gumamnya pelan.

Ia langsung menoleh ke arah Fadel, lalu buru-buru mendorong bahu lelaki itu menjauh dengan panik. “Lo dekat banget sih?”

“Kok jadi aku yang disalahin sih, Bu?” bela Fadel sambil tertawa kecil. “Kalau Ibu suka, tinggal bilang aja,” godanya santai.

Zahra kembali melirik ke arah Abyan. Tatapan lelaki itu masih sama tajam, seolah menegaskan bahwa ia benar-benar sedang marah.

Merasa suasana semakin tidak nyaman, Zahra segera mencari alasan untuk pergi.

“Del, perut gue tiba-tiba sakit. Entar tolong ambilin nasi sama lauknya ke ruangan ya. Gue mau ke kamar mandi dulu,” ucapnya cepat sambil memegangi perut, lalu kembali menatap Fadel sekilas.

“Oh iya, Bu,” jawab Fadel.

Zahra segera beranjak dan berlari meninggalkan kantin.

...***...

“Ra...” suara Mika sempat memanggil saat Zahra kembali ke ruangan.

“Sebentar... gue ke kamar mandi dulu,” jawabnya cepat tanpa berhenti berjalan.

Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Zahra langsung menyandarkan tubuhnya ke pintu.

Napasnya terasa memburu. Ia benar-benar takut Abyan akan mengejarnya. Bayangan tatapan lelaki itu di kantin tadi terus teringat di kepalanya.

Apa Abyan marah karena dirinya tidak memberi kabar selama beberapa hari? Tapi Abyan juga tidak menghubunginya sama sekali.

Harusnya mereka impas, kan?

Zahra perlahan menempelkan telinganya ke pintu, memastikan tidak ada siapa pun di luar yang mencarinya.

Beberapa menit kemudian, Zahra menghela napas lega. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua yang tadi dirasakannya hanya berlebihan. Perlahan, ia keluar dari kamar mandi dengan hati-hati.

Namun belum sempat benar-benar tenang, “Ra...,” suara Mika kembali terdengar memanggilnya.

Zahra langsung menoleh. “Ada apa?”

Mika mendekat sambil membawa sebuah tas. “Bu Finna minta tolong lo ke lantai atas buat antarin tasnya, penting katanya,” jelasnya sambil menyerahkan tas itu.

Zahra sontak panik. Tanpa pikir panjang ia langsung menolak. “Lo aja, Mik,” ucapnya cepat sambil mendorong tas itu kembali, seperti ingin segera menjauh dari situasi tersebut.

Firasat tidak enak itu kembali muncul begitu saja.

“Ih... nggak ah,” balas Mika cepat, seolah sudah mengetahui sesuatu.

Dari arah lain, Hasya ikut menimpali santai, “Eh... katanya ada pak bos.”

Zahra langsung menatap keduanya, lalu mengangguk kecil seolah mulai memahami situasi. “Serius, Bu?” tanyanya dengan berpura-pura terkejut meski pikirannya sudah mulai kacau.

“Iya... kunjungan katanya. Gue aja di sini gugup. Takut banget beliau sidak kerja tiba-tiba,” keluh Hasya dengan wajah frustrasi.

Zahra semakin gelisah, mengingat kejadian di kantin sebelumnya.

“Ibu aja yang ke sana ya... Ibu kan karyawan lama. Ibu juga sudah tau wajah pak bos. Kalau aku ke sana takut salah bertindak, di pecat, Bu.... alamatnya.”

Hasya menggeleng cepat. “Gue aja takut. Nggak mau ah,” jawabnya tanpa ragu.

“Udah lo aja...,” sambung Mika sambil mengedipkan mata centil, seolah sudah sepakat menjadikannya target.

Zahra langsung melotot, tidak terima dijadikan sasaran.

“Kemarin kan lo yang ngotot kalau pak bos suami lo. Maka dari itu... sekalian temuin sana,” tambah Hasya dengan datar tapi menusuk.

“Nah bener... temui suami kesayangan lo. Siapa tau rindu,” goda Mika lagi.

Belum sempat Zahra menanggapi, Fadel tiba-tiba datang sambil membawa piring berisi makanan.

“Mau kemana, Bu? Nih nasinya.”

Zahra langsung menatapnya dengan wajah seperti menemukan jalan keluar. “Akhirnya... makanan gue dateng. Gue belum makan mik. Lo aja ya.”

“Entar aja makannya. Bentar juga,” ucap Hasya tegas, tidak memberi ruang untuk Zahra beralasan.

Zahra langsung menatap Fadel penuh harap, seperti meminta pertolongan terakhir.

“Fadel... lo kan rajin menabung, ikhlas, tabah, dan menolong sesama.”

“Eh lo—”

Fadel belum sempat merespons karena Hasya memotong cepat.

Telepon di ruangan berbunyi, membuat semua orang langsung menoleh.

“Iya halo keperawatan cempaka satu, ada apa?” jawab Hasya cepat. Wajahnya langsung berubah serius. “Oh iya Bu, sebentar lagi sampai.”

Telepon kemudian ditutup.

“Tuh... Bu Finna nelepon lagi. Cepetan lo kesana. Dia tunggu lo di ruangan HRD,” ucap Hasya lagi dengan tegas.

Zahra masih mencoba bertahan, meski sudah terlihat kewalahan.

“Tapikan, Bu...” ia ragu sejenak, lalu melanjutkan, “Fadel... lo tolong antarin tas bu Finna ya... gantiin gue. Gue laper banget nih.”

“Eh... entar Fadel salah tempat. Lo yang disuruh, lo yang harus kesana,” ucap Hasya.

Zahra terdiam sejenak, wajahnya mulai putus asa.

“Ini tasnya, cepetan pergi,” ucap Mika sambil memaksa menyerahkan tas itu ke tangannya.

“Mik...” Zahra masih mencoba menahan, suaranya melemah.

Namun Mika justru menariknya keluar ruangan sambil berbisik, “Siapa tau suami lo kangen, minta di belai.”

Zahra langsung bereaksi panik. “Ih... gila lo ya.. jangan buat gue takut napa.”

“Ngapain harus takut, itu kan suami lo. Kalian udah nikah, pastinya nggak mungkinkan... lo belum pecah ketuban juga.”

“Belum... masih terbalut rapih dengan selaput.” Zahra spontan menjawab.

“Lo yang berarti udah nggak waras,” balas Mika kesal. “Dah... pergi sana. Siapa tau bukan pak Abyan, bu Finna beneran minta tasnya,”

Zahra kembali mengingat kejadian di kantin. “Masalahnya tadi kami ketemu di kantin, gue lagi asyik bercanda sama Fadel. Eh... dia duduk di kursi liat gue dengan tatapan mematikan.”

“Nah... itu tandanya suami lo cemburu, berhati-hatilah. Siap-siap lo buka segel,” ucap Mika menakuti.

Zahra langsung bergidik. “Lo jangan buat gue merinding.”

Belum sempat situasi mereda, Hasya kembali muncul dengan tergesa-gesa. “Lo masih di sini juga? Bu Finna nelepon lagi. Cepetan.”

Zahra akhirnya menghela napas panjang, benar-benar pasrah.

“I-iya, Bu.”

Dengan langkah berat, ia pun membawa tas itu, berharap semua yang terjadi hanya salah tafsir dan perasaannya saja.

“Semangat ya, Ra...” Mika berteriak riang.

Zahra menoleh sekilas, menatap Mika dengan wajah kesal sebelum akhirnya benar-benar pergi.

...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...

1
Yani Cuhayanih
Ko ada lllakiyg langka suka sama cewe matre kayak zahra....thor masih punya stock gk aku juga mo cowo kayak abyan hahaha
Yani Cuhayanih
ini acara nikahan yg paling aneh bin ajaib bisa dapet suami kayak opa ...gk mesti pdkt dulu langsung sah.....hebaaat
Alexa Juliana
Waahh Zahra koma 2 bulan...Tp syukurlah dia selamat dan bangun dalam keadaan baik2 saja..
Alexa Juliana
Kematiaj yg terlalu mudah buat Cherly, harusnya dia di siksa ala2 mafia dulu sampai dia meminta kematiannya sendiri..Duuuhhh knp aku juga psikopat yaaa?Efek sebel dan kesal sama si Cherly..
Alexa Juliana
Hadeuh si Zahra ini keras kepala juga, jalan saja sdh mulai susah Krn perut hamilnya malah pengen ke pasar tradisional, blm lg ancaman dr si ulat bulu yg pasti lg nunggu lengahnya buat ngelancarin aksinya..
Alexa Juliana
Msh berharap klo Zahra hamil bayi kembar, apalagi Hanum anaknya kembar jd biar tambah seru aja, blm nanti anak dr Falisha dan Mika semakin rame aja rumah utama..
Alexa Juliana
Klo klrg sdh ngumpul adaaaa ajaaaa bahan pembicaraan yg bikin seru..
Alexa Juliana
Fadeeeelll kamu dimana? Itu ulat bulu lepas dr pengawasan kamu, sampai2 udh nemplok aja meluk Mas Abyan..
Alexa Juliana
Berarti saat Zahra di culik itu kecebong sdh tumbuh..Alhamdulillah kecebongnya kuat, kualitas premium jd g kenapa2..
Alexa Juliana
Ishh Zahra katanya perawat tp g tau yg namanya Couvade Syndrome..
Alexa Juliana
Semoga saja Zahra benar2 hamil cuma gajala kehamilannya Abyan yg ngerasain..😁
Alexa Juliana
Ternyata Cherly ga metong...Hmmm berarti selama ini Abyan menangisi dan maratapi org yg salah sampai di rawat di RSJ..Kasihan Abyan ditipu mentah2, untung ada Fadel yg membongkar kebusukan Cherry..
Alexa Juliana
Tuuhhh kaannn bnr yg nyelamatin Zahra saat di culik adalah Mas Abyan, tp g nyangka juga ternyata dia punya geng mafia yg di pimpin oleh Fadel, sepupunya...
Alexa Juliana
Ngebayangin para suami yg ditinggal istrinya liburan, mana lama lagi 2 Minggu kelimpungan2 deh..dan udh pasti para suami pun nyusul para istri...😁😁
Alexa Juliana
Kartu unlimited..
Alexa Juliana
Makan malam Thor bukan sarapan malam..
Alexa Juliana
Mrk yg unboxing knp aku yg nahan nafas yaaa? 🤭😄
Alexa Juliana
Kenapa bukan Zen yg jd wali nikahnya Mika, kan dia kakak kandungnya Mika?
Alexa Juliana
Baca novel ini berasa baca buku hariannya Zahra deh..🤭🤭
Alexa Juliana
Abyan dan pasukannya yg nolong Zahra and the geng, makanya mata Zahra di tutup..lalu dianya pingsan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!