Time travel ke tubuh gadis yang bunuh diri, membuat Elliana kembali mendapatkan penampilannya yang dulu. Dia ingin mengubah takdir bagi Sabrina, pemilik tubuh yang tertekan dengan semua bullyan teman-temannya di kampus.
Elliana juga mencairkan tabungannya untuk membantu Sabrina dalam perubahan yang akan dilakukannya.
Apakah Elliana akan berhasil dan kuat dengan tubuh baru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cowok Misterius
Deg deg deg
Elliana merasa jantungnya berdegup kencang saat ia merasakan ada yang mengamati dirinya. Ia melirik ke sekeliling, mencari-cari siapa yang melihatnya, namun tidak ada satupun yang tampak mencurigakan. Namun, rasa tidak nyaman itu masih terus menghantuinya. Setiap kali ia berjalan di koridor kampus atau berada di ruang kuliah, Elliana selalu merasa seperti sedang diawasi.
Saat ini ia sedang duduk di sebuah kafe untuk mengerjakan tugas, Elliana merasa ada seseorang yang menatapnya dari kejauhan. Ia memandang ke arah luar kafe dan melihat seorang cowok tampan sedang duduk di meja luar sambil memegang cangkir kopi. Ia terlihat misterius, dengan rambut hitam yang berantakan dan mata yang selalu terlihat tajam. Namun, ada keindahan dalam wajahnya yang mengundang perhatian.
Elliana memutar bola matanya. Ia tidak suka orang-orang yang menatapnya seperti itu, apalagi cowok yang tidak ia kenal. Namun, ada sesuatu yang membuat cowok tersebut menarik perhatiannya.
"Itu, bukannya cowok itu yang kemarin ada di kasino juga?"
"Tapi, kenapa dia ada di sini?"
Cowok misterius itu akhirnya menghampiri Elliana dengan cangkir kopi di tangannya. Ia duduk di kursi kosong di sebelahnya dan meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Maaf mengganggu, bolehkah saya duduk di sini?" tanya cowok itu sambil tersenyum manis.
Elliana mengangkat alisnya sedikit, namun ia mengangguk memberi izin pada cowok itu. "Tentu saja, tidak masalah," ujarnya dengan sopan.
Cowok itu mengulurkan tangan ke arahnya. "Halo, saya David."
Elliana meresponsnya dengan menerima luluran tangan David, kemudian menyebutkan namanya sendiri. "Saya El... ehh, Sabrina."
Hampir saja Elliana salah menyebutkan namanya sendiri untuk nama Sabrina.
David mengamati Elliana dengan seksama. "Saya tidak bisa tidak memperhatikanmu di sini. Kamu sangat cantik dan menarik perhatian."
Elliana merasa malu dengan pujian David, tapi juga jengah. Namun, ia tetap mencoba menjaga sikap sopan pada orang yang baru dikenalnya. "Terima kasih, tapi saya sedang sibuk dengan tugas kuliah."
"Tapi, sepertinya aku sudah pernah melihatmu. Bukankah kamu yang kemarin ada di kasino?" tanya Elliana penasaran.
David tersenyum. "Iya. Dan saya sebenarnya pengangguran, jadi saya tidak sibuk dengan apapun. Apa yang sedang kamu kerjakan?"
Elliana menunjukkan laptopnya yang berisi tugas kuliah. "Ini tugas kuliah saya."
David melihat-lihat tugas Elliana. "Oh, jadi kamu kuliah jurusan ekonomi ya? Bagus, saya juga memiliki latar belakang yang sama."
Elliana mengangguk. "Ya, saya memang kuliah jurusan ekonomi. Tapi saya masih mempelajari banyak hal."
David mengangguk-angguk setuju. "Saya juga begitu. Apalagi dalam dunia saham, selalu ada hal baru yang perlu dipelajari."
Elliana terlihat terkejut. "Apakah kamu bekerja di dunia saham?"
David tersenyum. "Ya, saya bekerja di bidang itu. Tapi saya masih berusaha mempelajari banyak hal dan memperluas jaringan kontak saya. Jadi, saya belum ada apa-apanya."
Elliana terlihat takjub. "Itu terdengar menarik. Bagaimana kamu bisa berhasil di bidang itu?"
David memandang Elliana. "Saya rasa, kunci dari kesuksesan dalam bidang apapun adalah kerja keras dan tekun. Dan yang terpenting adalah memiliki keberanian untuk mengambil risiko."
Elliana mengangguk-angguk. "Saya setuju. Tapi saya masih merasa takut untuk mengambil risiko."
Obrolan keduanya semakin menarik, ingin membicarakan hal-hal yang ringan.
David tersenyum penuh arti. "Jangan takut untuk mencoba, Sabrina. Karena kadang-kadang, kita hanya perlu memperluas batas-batas kita untuk mencapai kesuksesan."
Elliana terdiam sejenak, merenungkan kata-kata David. Ia merasa sedikit tersentuh dengan kata-kata cowok misterius itu. Tapi ia masih merasa waspada terhadapnya, karena ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan David.
"Oh ya, ternyata saya lupa mengatakan sesuatu pada kamu," ujar David tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Elliana.
David tersenyum. "Sebentar. Aku hanya merasa penasaran kenapa kamu sering ke kasino? apa kamu sama tertarik di sana atau apa sesuatu yang ingin kamu kejar?"
Tapi karena Elliana juga bukan cewek sembarangan, yang pernah hidup di masa lalu dengan kerasnya dunia mafia. Dia tidak cepat percaya dengan pengakuan cowok tersebut.
Setelah berbincang-bincang dengan cowok misterius yang mengaku sebagai pengangguran tapi sebenarnya adalah pelaku saham, Elliana merasa bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dipikirkan tentang David. Di satu sisi, ia merasa tertarik pada cowok itu dan merasa bahwa ada kemungkinan untuk mereka berdua menjadi teman atau bahkan lebih. Namun, di sisi lain, Elliana merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan David dan dia tidak yakin apakah ia bisa mempercayai cowok itu.
Setelah berbicara dengan David selama beberapa waktu, Elliana mengucapkan terima kasih dan berdiri untuk pergi.
"Maaf, saya harus pergi sekarang."
David mengamati Elliana yang pergi dengan pandangan tajam. Setelah Elliana pergi, David mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirimkan pesan teks kepada seseorang.
"Sudah berhasil membuat Sabrina tertarik pada saya. Sekarang saatnya untuk melancarkan rencana kita."
David tersenyum penuh kepuasan ketika ia mengirimkan pesan itu. Dia merasa senang bahwa rencananya mulai terbukti berhasil.
Namun, ketika Elliana keluar dari kafe, dia merasa bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Dia merasa sedikit gugup, karena dia tidak tahu siapa orang itu dan apa yang dia inginkan.
Dia melangkah cepat dan mencoba untuk pergi secepat mungkin. Namun, orang itu semakin mendekatinya, dan dia merasa semakin panik.
"Sabrina! Tunggu sebentar!" teriak suara pria dari belakangnya.
Elliana berbalik dan melihat seorang pria yang dia kenal dengan baik. Pria itu adalah Lucas, teman kuliahnya yang berbeda jurusan.
"Lucas? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Elliana dengan terkejut.
Luca tersenyum. "Aku datang untuk melihatmu, Sabrina. Aku mendengar bahwa kamu di sini sedang mengerjakan tugas kuliah. Tapi baru saja aku sampai di sini, kamu malah mau pergi?"
Elliana merasa lega ketika dia tahu bahwa pria itu bukanlah ancaman. Dia dan Lucas berbincang-bincang sejenak, membahas hal-hal yang ringan.
Namun, di tengah-tengah pembicaraan mereka, Elliana merasa ada sesuatu yang salah. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Lucas darinya.
"Lucas, apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Elliana akhirnya.
Luca terdiam sejenak. "Aku tahu kamu merasa curiga padaku, Sabrina. Tapi aku berjanji bahwa aku tidak akan menyakiti kamu. Aku hanya ingin tahu apakah kamu baik-baik saja."
Elliana merenungkan kata-kata Luca dengan cermat. Dia tahu bahwa Lucas pernah menjadi bagian dari Riyan. Menjadi anggota geng motor yang diketuai oleh Riyan dan teman-temannya, yang pernah Elliana kalahkan waktu itu.
"Aku baik-baik saja, Lucas."
Luca tersenyum mendengar perkataan Elliana. "Apakah kamu sudah putus dengan Riyan?" tanya Lucas tiba-tiba.
"Putus? apa maksudmu?" tanya Elliana bingung.
"Aku hanya bertanya, karena kamu sering berjalan dengan Riyan. Tapi beberapa kali aku melihatmu sendirian, bahkan sering menghilang dari area kampus. Memangnya kamu ke mana?"
Elliana terdiam dan tidak bisa memberikan jawaban apapun, atas pertanyaan tersebut.
dan skrng Lolli memng pntas klo sampai kehilangn rasa percya diri krn putus kakinya akibt kecelakaan yg dibuat sndri...