Ini hanyalah kehaluan dan kegabutan author saja. Dan sedang belajar menulis cerita. Semoga kalian suka dengan ceritanya. Mohon maaf bila masih banyak kekurangannya🙏
🌹🌹🌹
Fatmawati biasa di panggil Wati gadis cantik, dengan hidung mancung, bibir mungil dan berkulit putih. Berusia dua puluh enam tahun adalah gadis sebatang kara yang telah di tinggal selamanya oleh kedua orang tuanya. Wati mempunyai kekasih yang bernama Reno pria berusia dua puluh sembilan tahun yang bekerja di tempat yang sama dengannya. Mereka berdua sudah lama menjalin kasih.
Hingga suatu hari tempatnya bekerja kedatangan seorang pria berusia tiga puluh lima tahun yang gagah, tampan dan rupawan bak pahatan patung dewa Yunani idaman kaum wanita.
Siapakah gerangan pria berusia tiga puluh lima tahun yang gagah, tampan dan rupawan itu?.
Adakah yang akan terjadi antara Wati dan Reno kekasihnya?.
Simak ceritanya di sini. Jangan lupa tinggalkan jejak Like,Vote,Comment & Hadiah.
Follow ig : srilestarikolopaking
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MKA 29
“Maaf Nyonya, kalau boleh tahu ada apa Nyonya memanggil saya ke kantor?,” tanya Reno kembali.
“Aku ingin minta maaf padamu, Mas Reno. Maafkan aku yang menuduhmu telah mencelakai suamiku. Aku telah salah besar main menuduhmu begitu saja tanpa menunggu penjelasan suamiku, sadar terlebih dahulu. Dan aku juga minta maaf telah mengkhianati cinta kita, bahwasanya aku kini mencintai Tuan Jaka, suamiku,” ujar Wati dengan perasaan bersalah dan air mata yang bercucuran.
Reno pun berjalan mendekati Wati, di pegangnya kedua bahu mantan kekasihnya dengan kedua tangannya, di tatapnya kedua bola matanya dengan lekat. Dengan kedua ibu jari jempol tangannya ia menghapus air mata Wati yang bercucuran.
Dan mengatakan, “ Aku memaafkanmu Wati. Dan aku pun minta maaf atas semua ucapanku waktu lalu padamu. Aku kini sadar, cinta tidak harus selalu memiliki. Aku relakan kau hidup bersamanya dan aku akan bahagia bila melihatmu bahagia” kata Reno dengan mata merah menahan air matanya dan merengkuh Wati ke dalam pelukannya.
“Mas Reno,” ucap Wati sambil membalas memeluk Reno mantan kekasihnya dengan erat dan menangis tersedu-sedu di dadanya.
Mereka berpelukan cukup lama hingga tangisan Wati hanya terdengar isakan. Di belainya rambut Wati dengan lembut dan di ciumnya ubun-ubun kepalanya hingga akhirnya Reno melonggarkan pelukannya.
“Mas harap ini adalah air mata kesedihanmu untuk yang terakhir kalinya. Semoga suatu saat nanti air mata yang kamu keluarkan adalah air mata kebahagiaan. Mas akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Semoga kamu diberikan kelancaran saat waktu melahirkan tiba, kamu dan anak-anak dalam keadaan sehat wal’afiat,” ujar Reno dengan tersenyum.
Wati pun menengadahkan kepalanya dan menatap mata Reno dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
“Terima kasih Mas Reno. Aku juga berdoa semoga Mas mendapatkan wanita yang lebih baik segala-gala nya dariku. Dan aku doakan semoga Mas mendapatkan kebahagiaan seperti diriku,” sahut Wati sambil memberikan kecupan untuk yang terakhir di bibir Reno mantan kekasihnya.
Bibir mereka saling berpagutan melepas rasa rindu dan saling mengucapkan perpisahan. Hingga akhirnya Reno mengakhiri pagutan bibir mereka.
“Jaga diri kamu baik-baik. Mas pamit untuk kembali bekerja,” pamit Reno sambil mencium kening Wati untuk terakhir kalinya dan membalikkan badannya melangkah menuju pintu keluar ruang kerja Tuan Jaka.
Setelah menutup pintu ruang kerja Tuan Jaka, Reno menyenderkan tubuhnya di pintu dan menengadahkan kepalanya menahan jatuh air matanya. Sakit memang harus merelakan wanita yang dicintainya untuk pria lain. Tapi ia sadar Wati mungkin bukan tercipta untuknya. Dan semua ini adalah suratan takdir.
Sedangkan di dalam ruang kerja Tuan Jaka, Wati terduduk menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis tersedu-sedu. Ia merasa bersalah dan kasihan dengan Reno tapi ia juga tidak bisa membohongi hatinya sendiri benih-benih cinta mulai tumbuh untuk Tuan Jaka suaminya.
Setelah dirinya merasa tenang, Wati berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Tuan Jaka dan berpamitan pulang pada rekan-rekan kerjanya dulu juga Pak Eka.
Melihat Nyonyanya keluar dari Cafe, Pak Diman dengan sigap membukakan pintu mobil. Saat ia sudah masuk dan duduk di jok kursi belakang, Pak Diman menutup pintunya. Ia pun masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil meninggalkan halaman Cafe.
Di mansion.
Tuan Jaka menunggu kepulangan Wati dengan resah. Sudah beberapa jam istrinya pergi dari mansion hingga detik ini belum memberikan kabar. Di ambilnya telepon genggamnya.
“Halo Assalamualaikum,” salam di seberang sana saat telepon di angkat.
“Waalaikumsalam. Kamu di mana Sayang?. Kenapa perginya lama sekali?,” tanya Tuan Jaka.
“Maaf Mas, urusanku baru selesai. Sekarang aku sudah di jalan Ahmad Yani menuju pulang,” jawab Wati.
“Oh ya sudah kalau begitu, Mas tunggu makan siang bersama di mansion. Dan hati-hati di jalan. Ingatkan Pak Diman untuk berhati-hati mengendarai mobilnya.”
“Iya Mas ... Sabar ya sebentar lagi sampai kok. Assalamualaikum,” ujar Wati pada Tuan Jaka.
“Waalaikumsalam,” sahut Tuan Jaka sambil menutup panggilan teleponnya.
Tak lama mobil yang di naiki Wati tiba di mansion. Pak Diman membantu membukakan pintu mobil dan membantu Wati turun. Dengan perut yang sudah membuncit Wati masuk ke dalam mansion.
“Assalamualaikum,” salam Wati saat masuk ke dalam mansion.
“Waalaikumsalam,” sahut Tuan Jaka dan Siti.
Di raihnya tangan kanan Tuan Jaka dan di ciumnya punggung tangannya.
“Lama amat perginya Sayang. Kamu ngapain saja di Cafe, kenapa matamu bengkak dan sembab begitu?,' tanya Tuan Jaka dengan nada dan tatapan menyelidik.
“Aku tidak apa-apa Mas dan yang pasti aku baik-baik saja. Ya sudah sekarang aku mau membersihkan diri dulu, habis itu kita makan siang sama-sama. Pasti Mas sudah lapar karna menunggu aku pulang,” ucap Wati sambil berusaha tersenyum tipis pada suaminya.
“Oke Mas tunggu kamu di sini Sayang. Jangan lama-lama membersihkan dirinya ya,” ujar Tuan Jaka sambil membalas senyuman Wati.
Wati pun pergi meninggalkan Tuan Jaka menuju kamar tidur untuk membersihkan dirinya.
Di ruang keluarga sambil menunggu Wati selesai membersihkan dirinya, Tuan Jaka duduk di sofa. Ia bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada istrinya di Cafe tadi pagi.
Hingga istrinya berada di sana berjam-jam dan pulang dalam keadaan mata bengkak dan sembab seperti habis menangis. Tak lama menunggu akhirnya Wati datang dan mereka pun menuju meja makan untuk makan siang bersama.
Di meja makan Wati melayani Tuan Jaka, ia mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring suaminya dan untuk dirinya sendiri. Meskipun ia merasa tidak nafsu makan karna masih teringat pertemuan terakhirnya dengan Reno di Cafe tadi tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk mengisi perutnya. Karna ada dua nyawa di dalam perutnya yang harus ia pikirkan.
“Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu sakit?,” tanya Tuan Jaka saat melihat istrinya seperti tidak nafsu makan.
“Aku Ngga apa-apa Mas. Mungkin hanya karna merasa lelah saja,” jawab Wati pada suaminya.
“Ya sudah sehabis makan kamu istirahat saja. Jangan lupa vitaminnya di minum.”
“Iya Mas,” sahut Wati sambil melanjutkan menyendokkan makannya ke dalam mulutnya.
Usai makan siang mereka bersantai sejenak di ruang keluarga. Tuan Jaka duduk di samping Wati sambil mengusap-usap perut istrinya yang membuncit.
“Aku sudah tidak sabar menunggu anak-anak kita lahir, Sayang. Rasanya mansion ini akan terasa ramai dengan kehadiran mereka. Dan aku tidak sabar bermain bersama mereka,” ucap Tuan Jaka sambil mengelus perut istrinya.
“Sama Mas, aku pun juga tidak sabar menantikan kelahiran mereka. Pasti lucu saat melihat mereka bertengkar memperebutkan mainan. Dan mereka akan memanggilku Mama.”
“Dan mereka juga akan memanggilku Papa,” sahut Tuan Jaka sambil mengedipkan sebelah matanya pada Istrinya.