Hayu Hasmita, seorang yatim piatu yang rela menguras isi rekening demi bertemu dengan seorang pria asal Qatar, yang dia kenal melalui aplikasi kencan online. Dia harus menerima kenyataan bahwa lelaki bernama Ferhat Al Malik itu hanya main-main terhadapnya.
Demi bisa kembali ke Indonesia, Hayu harus mengumpulkan uang dengan bekerja sebagai pelayan di rumah Ferhat. Sebuah rahasia pun terungkap, dan membuat Hayu semakin sakit hati dengan keluarga besar Al Malik.
"Bodoh, adalah salah satu kata yang tepat untukku. Aku terlalu berharap bisa menggapai langit, padahal kaki serta tanganku tak cukup panjang untuk menjangkaunya." - Hayu Hasmita.
Rahasia apa yang disembunyikan oleh Ferhat dan keluarganya? Mampukah Hayu merebut hati Ferhat sehingga usahanya pergi ke Qatar tidak sia-sia? Atau Hayu memilih menyerah dan kembali ke Indonesia setelah uangnya cukup untuk pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Berusaha Tanpamu
Harapan Fayez runtuh seketika menoleh ke arah sumber suara. Ternyata orang yang sedang berdiri di belakangnya bukanlah Hayu, melainkan Asya. Dokter cantik itu tampak mengerutkan dahi karena melihat sudut mata Fayez yang basah.
"Kamu ngapain di sini, Fay?" tanya Asya seraya mengerutkan dahi.
"Tidak ada." Fayez menjawab pertanyaan Asya dengan suara dinginnya.
Lelaki tersebut mengusap sudut matanya yang basah. Dia melangkah pergi meninggalkan Asya. Asya pun bergegas mengikuti lelaki itu.
"Hei, Fay! Kamu itu kenapa? Kenapa ada di sini sambil menangis pula!" Asya setengah berlari untuk menyejajarkan langkahnya dengan Fayez.
"Bukan urusanmu!"
"Hei bodoh!" seru Asya.
Sontak Fayez menghentikan langkah. Lelaki itu memutar tubuh hingga kini berhadapan dengan Asya. Sebuah tatapan datar kini dilemparkan Fayez kepada Asya.
"Jangan pernah mendekatiku! Nanti kamu suka!" Fayez mencoba memperingatkan Asya.
Lelaki itu tahu betul jika Asya menyukai Ferhat. Keduanya dulu sama-sama kuliah di Amerika setelah lulus SMA. Sebelum hati Fayez bertaut pada Hayu, dia juga sempat memiliki perasaan kepada dokter cantik itu.
Akan tetapi, Fayez memendam perasaan itu karena Asya mengatakan bahwa dia menyukai Ferhat. Setelah pengungkapan itu, Fayez mengubur perasaannya. Dia tidak mau memaksakan perasaannya kepada Asya.
"Dih, kamu terlalu percaya diri! Mana mau aku hidup sama lelaki dingin macam kamu!" Asya tersenyum miring seraya melipat lengan di depan dada.
"Aku paham. Kamu lebih menyukai lelaki hangat, ceria, dan penuh perhatian seperti Ferhat." Fayez tersenyum kecut karena teringat bagaimana Asya mengungkapkan perasaannya untuk Ferhat secara terang-terangan.
"Ah, itu ...." Asya terlihat sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Lupakan! Ayo pulang! Bisa antar aku ke rumah sakit? Aku tadi ke sini naik taksi. Aku mengantar Profesor Ahmed untuk tugas luar kotanya."
"Ya sudah, baliknya naik taksi lagi saja. Kenapa harus pulang denganku?" Fayez balik kanan kemudian melangkah menjauhi Asya.
Akan tetapi, bukan Asya namanya jika menyerah begitu saja. Perempuan itu terus mengekor di belakang Fayez. Ketika Fayez hendak masuk ke mobil, Asya bergegas membuka pintu mobil dan mendudukkan bokongnya ke atas kursi penumpang.
Melihat Asya yang tengah memasang sabuk pengaman, Fayez berdecap kesal. Lelaki itu melirik sekilas ke arah Asya yang kini sedang tersenyum jahil. Mau tak mau Lelaki tersebut pun mengantar Asya kembali ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, Asya mulai membuka pembicaraan. Sebelum perempuan itu mulai mengajak Fayez mengobrol, dia terlihat bimbang. Asya berulang kali melirik Fayez kemudian jemarinya saling meremas satu sama lain.
"Bagaimana kondisi Ferhat?" Asya menunduk dengan jemari yang kini meremas rok.
"Masih sama," jawab Fayez singkat.
"Apa Afra menjaganya dengan baik?"
"Hm." Fayez masih menanggapi pertanyaan Asya dengan singkat dan ketus.
"Mungkin aku kan menjenguknya akhir bulan ini. Jadi ...." Ucapan Asya terhenti karena Fayez memotongnya.
"Aku tidak peduli! Keluarlah dari mobilku jika mulutmu yang cerewet itu tidak bisa diam!" bentak Fayez.
Asya terbelalak. Perempuan itu mengangkat kedua alisnya. Sedetik kemudian mata dokter cantik itu mulai berkaca-kaca.
"Maaf, kalau begitu aku turun di sini saja."
Tanpa basa-basi Fayez pun menghentikan mobilnya. Dia menatap lurus ke depan. Asya pun segera turun dari mobil dan membanting pintu kasar.
Setelah itu, Fayez langsung tancap gas dengan kecepatan penuh. Mobil mewah itu pun melaju kencang membelah jalanan Doha. Asya menatap kesal ke arah mobil Fayez sambil terus mengumpat.
"Dasar lelaki tak berperasaan! Lelaki dingin! Lelaki kutub! Lelaki judes melebihi pelayan restoran Karen’s Dinner!" teriak Asya seraya menunjuk mobil yang sudah tak terlihat itu.
***
"Para penumpang yang terhormat, sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja Anda berada dalam posisi tegak. Pastikan juga sabuk pengaman Anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi di depan Anda, atau di penyimpanan atas. Terima kasih."
Kalimat yang diucapkan pramugari melalui pengeras suara, sontak membuat Hayu membuka mata. Perempuan itu mulai meregangkan otot setelah berjam-jam melakukan penerbangan dari Doha ke Surabaya. Tak lama kemudian pesawat mendarat dengan sempurna.
"Atas nama maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan Anda lagi dalam penerbangan pada kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!"
Usai pramugari mengucapkan pengumuman terakhir, Hayu keluar dari pesawat tersebut. Langkahnya tampak lesu ketika menyusuri koridor yang akan membawanya ke dalam bandara. Ketika keluar dari pintu kedatangan, Haris beserta sang ibu sudah berdiri tegap sambil tersenyum tipis.
Riska sempat terbelalak karena melihat rambut Hayu yang kini terbungkus rapat oleh jilbab. Perempuan yang biasa berpenampilan cuek itu pun masih memakai riasan tebal di balik masker dengan gamis yang menjuntai menutupi lekuk tubuhnya.
Hayu menelan ludah kasar, karena teringat bagaimana dirinya berdebat dengan Haris sebelum berangkat ke Qatar. Dia menghentikan langkah. Perempuan itu hanya bisa mematung, karena rasa bersalah kepada dua orang yang kini menyambut kepulangannya itu.
"Hayu, kemarilah, Nak! Kami sudah menunggumu dari tadi!" Riska merentangkan kedua tangan seraya tersenyum lebar.
Mata Hayu mulai basah. Perempuan itu pun bergegas menarik koper sambil setengah berlari mendekati Riska. Hayu menghambur ke dalam pelukan perempuan yang sudah dia anggap seperti ibu sendiri itu.
Riska pun memeluk erat putri kesayangannya tersebut. Dia berulang kalu mencium puncak kepala Hayu seraya mengungkapkan rasa rindunya kepada perempuan cantik itu. Tangis Hayu pecah, sehingga kini tubuhnya bergetar hebat.
"Hei, kamu kenapa menangis, Sayang? Apa ada hal buruk yang terjadi di sana?" Riska melonggarkan pelukan, lalu merangkum wajah tirus Hayu.
Hayu masih belum sanggup menceritakan semuanya. Dia terus menangis sesenggukan karena teringat masa terburuk dalam hidupnya itu. Kehilangan orang tua merupakan momen paling menyedihkan dalam hidup Hayu.
Akan tetapi, mendapat perlakuan buruk dari Fayez dan kedua orang tuanya sanggup membuat hati Hayu merasa sangat sakit. Selain karena hal buruk tersebut, Hayu juga menangisi kebodohannya yang telah mengabaikan kebaikan dari Haris dan keluarganya.
"Tenangkan dirimu, ceritakan semuanya setelah dirimu merasa jauh lebih baik. Kita sekarang pulang dulu, ya?"
Mereka pun melangkah keluar dari bandara menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan, Hayu hanya diam membisu. Perempuan itu menatap jalanan kota Surabaya yang masih sama seperti dua bulan yang lalu.
Akan tetapi, hatinya sudah tak sama lagi. Hati perempuan itu hancur berkeping-keping sepulang dari Qatar. Beberapa kepingan hatinya pun masih tertinggal di sana. Hayu berharap, dia bisa mengambil kepingan hati itu dan segera menyatukannya agar kembali seperti semula.
trus gmn pernikahan hayu dan Fayez selanjutnya...
nasi Ferhat jg blm dibahas kelanjutannya Thor ☹️☹️😥
jgn2 liatin psang mnsia yg ge brciuman..
oo ap kbr ati y Harris ap ga terbakar it....