Zainna Keisha Nugraha, seorang Mahasiswi kampus ternama di Jakarta harus menerima pernikahannya dengan seorang Profesor yang merupakan salah satu dosennya yang berstatus sebagai duda beranak satu. Inna menerima pernikahan ini karena sudah terlanjur sayang pada Putri kecil yang sangat manis dengan nasib yang sama dengannya yaitu ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Namun Inna juga harus menelan pahit bahwa suaminya masih sangat mencintai istri pertamanya dan sangat sulit untuk Inna dapat menggantikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
"Ya ampun. Mati gw." Pekik seorang gadis cantik saat mobilnya tak sengaja menabrak mobil di depannya. Karena panik, ia pun turun dari mobilnya dan menghampiri mobil yang di depan. Lalu mengetuk jendela mobil sambil menggigit bibirnya.
Tak lama, jendela kaca itu terbuka dan menampakkan seorang pria tampan. Pria itu mengibaskan tangannya, meminta agar sang gadis bergeser. Refleks gadis itu mundur. Pria itu pun membuka pintu dan turun dari mobil dengan penuh karisma. Membuat sang gadis terpesona. Bagaimana tidak, pria itu memiliki tubuh yang kekar terbalut jas hitam. Sebuah kaca mata hitam bertengger indah dihidungnya yang mancung. Ia juga memiliki rahang yang tegas, membuat karismanya semakin terpancar. Mulut gadis itu sedikit terbuka, terhipnotis dengan ketampanan sang pria.
"Ekhem." Gadis itu langsung terkejut saat mendengar dehaman sang pria. Ia kembali sadar dalam dunianya.
"Ya ampun Mas, saya minta maaf. Saya beneran gak sengaja tadi. Saya... saya mau tanggung jawab kok." Ujar gadia itu sedikit gugup.
"Apa kamu baru belajar mengemudi?" tanya pria itu dengan santai. Sontak gadis itu langsung melotot.
"Enak saja, saya sudah handal kok. Hanya saja tadi saya kurang fokus. Lagian situ yang berhenti mendadak." Sahut gadis itu menggembungkan pipinya.
Pria itu hanya menatap sang wanita datar. Gadis bodoh- satu kata untuknya.
"Mas kita pernah ketemu ya? Kok sepertinya muka mas familiar deh. Tapi di mana ya?" Gadis itu terlihat berpikir keras.
"Tidak perlu basa-basi, mana tanggung jawan Anda?" Tanya pria dengan nada dingin.
"Eh... Be--berapa harus saya ganti? Tapi sekarang saya tidak ada uang kes. Saya juga buru-buru. Gimana ya?" ucap gadis itu sambil mengigit jarinya. Ia benar-benar tak membawa uang sepeserpun.
Cih, ternyata benar-benar gadis bodoh. Menarik.
Pria itu mendorong si gadis hingga membentur mobil. Lalu mengurungnya dengan dua tangan. Si gadis mulai panik dan gugup. Di tambah wajah si pria semakin mendekat, bahkan hembusan napas pria itu menyapu wajahnya yang mulai memerah. "Itu... sa... saya akan...."
Belum selesai bicara, si pria langsung merebut ponsel yang ada dalam genggaman sang gadis. Membuat gadis itu kalang kabut. "Ini saya sita, karena ini penyebab kamu menabrak mobil saya bukan?"
"Eh, tapi...." Lagi-lagi si pria memotong ucapannya dengan memberikan sebuah kartu nama.
"Jika sudah punya uang, temui saya." Kata pria itu yang langsung masuk ke dalam mobil. Si gadis yang masih kaget pun langsung menjauh sebelum mobil itu benar-benar hilang di pelupuk mata.
"Ihhh... nyebelin banget sih tu orang. Lo pikir gw gak punya duit apa? Brengsek!" Umpatnya setelah mobil itu benar-benar tak terlihat lagi.
"Sial! Mana hp gw lagi yang diambil. Kalau ada pemberitahuan penting gimana? Ihhh... sial banget sih gw hari ini." Gerutu gadis itu karena kesal. Lalu ia melihat kartu nama yang pria itu berikan.
"Reynaldi Zulliyan Willson? Willson crop." Gadis itu terlihat berpikir keras. Sepertinya nama itu sangat familier untuknya.
"Dita...." panggil seseorang yang berhasil membuat gadis itu terkejut. Kemudian menoleh ke seumber suara dan memasukkan kartu nama itu ke dalam sakunya.
"Ngapain Lo dijalan sendirian? Mau ngamen ya?" Tanya orang itu sambil tertawa kencang.
"Juju!! Lo kira gw gelandangan apa?" Kesal gadis itu yang tak lain adalah Dita.
"Gw becanda kali. Terus Lo ngapain disini?" tanya Juju sambil melihat kiri dan kanan.
"Gw nabrak mobil orang." Ungkap Dita sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kok bisa? Lo pasti main hp ya pas nyetir?" Tanya Juju yang sudah tahu kebiasaan sahabatnya itu. Walaupun Dita sering mengerjainya, tetapi Juju cukup perhatian pada sahabatnya. Kekurangan gadis itu cuma satu, selalu lambat dalam berpikir.
"Iya. Tau aja lo." Jawab Dita sambil cengengesan.
"Kebiasaan deh." Kesal Juju sambil melangkah pergi.
"Eh kok malah pergi sih, gak ada niat bantu gw?" Ujar Dita saat melihat Juju masuk ke dalam mobilnya lagi.
"Gw buru-buru nih, sorry ya. Dadah Dita." Juju langsung melajukan mobilnya. Meninggalkan Dita yang masih terperangah.
"Ya ampu miss Lola. Gak peka banget sih jadi orang. Sahabat lo lagi butuh bantuan, terus lo pergi gitu aja?" Ucap Dita tak habis pikir. Padahal ia sudah menaruh harapan lebih pada Juju. Tetapi apa daya, Juju tetaplah Juju. Dita pun langsung beranjak masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat sial itu.
***
"Mas mau ke mana?" tanya Inna saat melihat Samuel sudah rapi. Padahal ini hari minggu dan saatnya bersantai.
"Ada meeting, klien dari Jepang baru sampai." Sahut Samuel sambil memasang arloji ditangannya.
"Hari minggu? Besok kan bisa Mas." Protes Inna.
"Klien kali ini tidak bisa lama di Indonesia. Besok dia sudah berangkat lagi ke Malaysia." Samuel duduk di sebelah Inna yang sibuk dengan laptopnya. Mengecup kepala Inna dengan lembut.
"Terus Inna sendirian dong? Mana Elya pergi sama Mama lagi. Kalau tahu Mas mau pergi, mending Inna ikut Mama tadi." Ujar Inna mengerucutkan bibirnya.
"Mas cuma sebentar, Sayang. Mas janji langsung pulang." Ujar Samuel mengelus rambut Inna.
Inna pun mengangguk pasrah.
"Oh iya Mas, Inna boleh keluar kan?" tanya Inna menatap suaminya penuh harap.
"Ke mana?" tanya Samuel meneliti wajah istrinya.
"Emmm... Jalan jalan ke mall mungkin, atau ke rumah Dita. Emm kerumah Didi deh." Jawab Inna yang masih bingung dengan tujuannya.
"Di rumah aja. Kamu masih pucat." Putus Samuel yang langsung bangkit dari duduknya. Inna yang mendengar itu Samuel langsung membelalakan matanya.
"Kok dirumah sih mas?" Protes Inna tak terima.
"Selesaikan proposal kamu karena tiga hari lagi Mas keluar kota." Ujar Samuel yang berhasil membuat Inna terkejut.
"Tiga hari lagi? Tapi kemarin Mas bilang minggu depan." Kata Inna yang ikut bangkit dari duduknya. Lalu berdiri di depan Samuel dengan tatapan intimidasi.
"Dipercepat." Jawab Samuel dengan santai.
"Ck, berapa lama?" tanya Inna tak semangat.
"Tiga hari."
Inna menatap Samuel sekilas, lalu duduk kembali dan melanjutkan kegiatannya. "Ya sudah, Mas boleh pergi." Kata Inna sedikit tak rela. Samuel yang mendengar itu tersenyum tipis.
"Mas berangkat." Samuel kembali mengecup pucuk kepala Inna.
"Hm. Hati-hati di jalan." Ucap Inna tanpa melihat suaminya. Ia berharap Samuel mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Assalamualaikum," ucap Samuel bergegas keluar dari kamar.
"Waalaikumsalam." sahut Inna seraya meletakan laptopnya di nakas. Lalu mengejar Samuel ke luar.
"Mas, Inna boleh keluar ya? Inna bosan di rumah." Inna berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Samuel. Namun, Samuel tidak menanggapi permintaan istrinya dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Mas." Panggil Inna lirih. Lalu Samuel membuka kaca mobilnya. Dan itu berhasil menerbitkan senyuman penuh harap di wajah Inna.
"Bersiaplah, jam 11 Mas jemput." Kata Samuel kembali menutup kaca mobilnya yang perlahan melaju. Meninggalkan Inna yang kini tersenyum lebar.
"Yes." Seru Inna begitu bahagia. Ia langsung masuk ke rumah sambil bersenandung ria. Berharap jam cepat berputar.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 11 pas. Inna sudah terlihat rapi dengan gaun selutut berwarna pink nude. Rambutnya yang indah dibiarkan tergerai. Inna pun turun dari kamarnya dan menunggu Samuel di depan rumah.
Tiga puluh menit berlalu, Samuel sama sekali belum terlihat batang hidungnya. "Ck, mana sih Mas El?" Inna terus melihat jam ditangannya. Bahkan kakinya sudah terasa kebas.
Dua jam sudah Inna menunggu, namun orang yang ditunggu tak kunjung datang. Dengan sangat kesal, Inna kembali ke kamarnya dan mengganti pakaian dengan pakaian santai. Inna merebahkan tubuhnya yang terasa pegal karena terlalu lama berdiri.
"Php kamu Mas." Inna memukul bantalnya dengan kesal.
Inna langsung bangkit dan menyambar ponselnya. Lalu menekan salah satu nomor sahabatnya.
"Halo ta." ucap Inna saat telpon tersambung. Namun tidak ada jawaban dari sana. Inna melihat ponselnya dan memastikan jika nomor yang ia tekan tidak salah. Eh, bener kok nomornya.
"Halo, Ta Lo disana kan? Kok gak jawab sih, gw ngomong nih? Lo marah ya sama gw?"
"Halo." ucap seseorang dibalik telpon. Inna terkjut dan menjauhkan ponselnya dari telinga. Karena yang menjawab bukanlah Dita, melainkan suara bariton seseorang. Dengan ragu, ia kembali meletakkan ponselnya ditelinga.
"Ta kok suara Lo jadi berubah laki sih?" tanya Inna bingung. Mungkin saja Dita sedang mengerjainya.
"Dia sedang sibuk." Balasnya dan langsung memutuskan telpon Inna. Inna sangat terkejut dan menatap ponselnya heran.
"Kok aneh sih, jangan-jangan Dita di culik lagi." Kata Inna mulai panik. Ia menyambar kunci mobilnya dan langsung bergegas pergi. Namun, saat Inna hendak memasuki mobil, seseorang lebih dulu menahan tanganya.
ceritanya keren,bagus
dan mantap
sukses
semangat
mksh
Ini kata Jidan pada Samuel
"Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"
Tau tidak Jidan itu kekasihnya didi dan di episode 28 dia melamar didi. Ini keistimewaan pebinor di novel2 egois, apapun kelakuannya selalu dibenarkan,
Kenapa novel harus egois dan tidak adil, pelakor dilakanat dibuat hina dan dihancurkan sedangkan pebinor begitu dipuja2, diistimewakan, dispesialkan, apapun salahnya selalu dibenarkan
Simple pertanyaan untuk author
Jika suami atau kekasihmu sangat perhatian dan membela mati matian istri orang lain, dan suami mengatakan seperti Jidan katakan pada samuel, (ini kata Jidan pada samuel "Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"). Apa kau akan bilang suamiku hebat karena perhatian dan mau merebut istri orang dan mencintai istri orang ituu