Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Seusai mengantar Humaira kembali kerumahnya. Sameer pun bergegas untuk pulang setelah mendapat telfon dari Bi Imah yang mengatakan kalau Elena sudah sadar.
"Jangan...jangan...!"teriak Elena membuat gerakan menendang dan terus memukul. Bi Imah yang menemani Elena, terlihat gugup dan bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Kenapa Bi?" tanya Sameer setelah tiba dirumah mendapati Elena tengah mengamuk dan berteriak.
"Nyonya Elena mengamuk Tuan, saya tidak tau apa yang harus saya lakukan" tutur Bi Imah gemetar ketakutan.
Sameer mendekati Elena memberikan pelukan untuk meredakan emosinya. Sameer menatap Elena prihatin.
"Sayang, aku disini. tenang ya" bisik Sameer ditelinga Elena.
"Sam" Elena membalas pelukan Sameer, meraung mengeluarkan air matanya.
"Aku takut Sam" racaunya.
"Aku disini jangan takut ya" Sameer terus menenangkan Elena yang beberapa kali terbangun dan kalut setiap kali bayangan peristiwa itu berseliweran di matanya.
***
Pagi-pagi sekali Humaira sudah berkutat dengan adonan kue. Sejak tokonya di buka, pengunjung sudah ramai berdatangan membuat beberapa karyawan kuwalahan apalagi ada beberapa pesanan yang harus mereka selesaikan.
Humaira pun harus ikut turun tangan untuk membantu dan mengurungkan niatnya menjenguk Elena.
"Sepertinya toko mu sedang ramai?" tanya Akbar yang baru tiba ditoko kue milik Humaira.
"Sejak kapan Gus Akbar datang?" tanya Humaira melihat Gus Akbar memasang apron ke tubuhnya
"Lima menit yang lalu dan kau terlihat sibuk. Jadi aku akan membantu"
"Gus Akbar bisa duduk saja, setelah ini juga akan selesai"
"Jangan membantah!" tegas Akbar
"Baiklah" Humaira menghembuskan nafas pasrah membiarkan Akbar membantunya menyelesaikan adonan kue yang sedang dia buat.
Diruang kerjanya Sameer tengah berkutat dengan beberapa berkas yang sedang dia kerjakan dengan di bantu Doni asistennya. Sameer memilih bekerja dirumah sembari menjaga Elena yang kapan saja bisa mengamuk dan berteriak.
"Tuan" panggil Doni ragu
"Ada apa Don? Apa ada masalah dengan perusahaan?"
"Ini tentang Nyonya Humaira"
"Humaira?" Sameer mengangkat sebelah alisnya memandang Doni serius. Doni menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.
"Apa ini Don?"
"Sebaiknya Tuan membukanya sendiri"
Tak menunggu lama Sameer membuka amplop itu mengeluarkan semua isinya. Di dalam amplop itu berisi kumpulan foto Humaira dan Akbar, potret kebersamaan mereka berdua yang terlihat seperti pasangan.
"Shitt!!" Sameer meremas foto itu penuh emosi.
"Siapa yang mengirimnya Don?" tanya Sameer. Tatapan mata penuh kemarahan tampak berkilat di mata Sameer. Rasa cemburu mulai membakar hatinya.
"Saya tidak tau Tuan"
"Apa kau tidak memeriksanya?" teriak Sameer mencengram kerah kemeja Doni dengan sebelah tangannya mengepal kuat.
"Maafkan saya Tuan"
"Sialan Akbar, kenapa dia bermain-main dengan ku?" tanya Sameer mengebrak meja kerjanya.
"Siapkan mobil, aku akan menjemput Humaira" perintah Sameer sudah tidak tahan lagi. Sameer rasanya ingin menghajar Akbar, sahabat itu dengan berani dan dengan diam-diam menemui istrinya bahkan datang ke toko kue istrinya.
"Sam...Sam..." teriak Elena dari dalam kamarnya.
Sameer yang baru melangkah keluar dari ruang kerjanya mendengar teriakan Elena, segera berlari menuju kamar Elena menahan niatnya untuk menemui Humaira dan Akbar.
Sammer khawatir terjadi sesuatu dengan Elena apalagi kondisi psikis Elena yang tengah terganggu.
Dilihatnya Elena sudah mengacak-acak kamarnya. Seluruh barang dikamarnya berserakan, bantalnya pun sudah tidak berbentuk.
"Akkkkhhh.....kau jahat" teriak Elena menatap Sameer penuh kemarahan.
"Pyarrr...." Elena membanting lampu tidur miliknya.
Humaira yang baru tiba berlari kecil menuju kamar Elena menyaksikan kejadian itu membuatnya terperangah menutup mulut. Ia tidak menyangka kalau akan seperti ini reaksi Elena.
"Elena stop!" bentak Sameer mendekap Elena erat untuk menghentikan aksi brutalnya.
"Ini salah mu" teriak Elena memukul Sameer kencang. Sameer bergeming membiarkan Elena melampiaskan kemarahannya.
"Gara-gara kau pergi dengan Humaira, aku harus di culik dan di perkosa. Sialan..!kau kejam Sam. Kau kejam. Aku benci..!" Elena berteriak histeris. Sameer hanya mampu memeluk Elena erat membiarkan Elena tenang.
"Maaf..maafkan aku, aku sungguh tidak tau kalau ini akan terjadi pada mu. Maaf kan aku sayang" Sameer mengecup kening Elena. Humaira masih diam, memerhatikan Sameer yang menenangkan Elena.
"Aku akan meminta Doni menjebloskan orang itu ke penjara, orang yang sudah berani memerkosa mu. Aku janji Ele" janji Sameer terus mendekap Elena erat. Sameer sungguh merasa prihatin dengan kondisi Elena karena peristiwa itu membuat Elena kehilangan akalnya.
Elena menatap mata Sameer dalam, ia melihat ada kesungguhan dimata Sameer. Ia tau kalau Sameer adalah pria yang sangat menepati janjinya. Pria yang penuh tanggung jawab, ia memang bodoh dulu meninggalkan Sameer demi pria brengsek seperti Erik.
"Sam, sentuh aku. Hilangkan bekas pria sialan itu" pinta Elena penuh permohonan.
Tatapannya memelas, ia sangat berharap Sameer menyentuhnya karena selama mereka menikah Sameer tidak pernah memberikannya hak sebagai seorang istri. Selama ini yg mereka lakukan hanya saling berpelukan dan berciuman, tidak lebih dari itu.
Sameer menundukkan wajahnya, ia melirik Humaira yang berdiri di depan pintu kamar Elena. Ia yakin kalau Humaira mendengar permintaan Elena itu. Ia juga yakin kalau perkataan Elena telah menyakiti perasaan istrinya. Tapi mengingat foto-foto itu membuat api kecemburuan berkorbar kembali di hati Sameer.
"Baiklah, aku akan menghilangkan bekas itu. Tenangkan diri mu" ujar Sameer membelai lembut wajah Elena. Sameer menyatukan bibirnya dengan bibir Elena, Elena memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir Sameer yang lembut.
Humaira menutup pintu kamar Elena perlahan membiarkan sepasang suami istri itu menuntaskan kegiatannya. Tak dapat dipungkiri jawaban Sameer telah melukai hatinya.
Jawaban Sameer bagaikan pisau yang menyayat hatinya. Humaira melangkah gontai meninggalkan rumah itu dengan derai air mata.
Baru seciul kebahagiaan yang ia nikmati, romansa cinta yang baru ia teguk, kini harus lenyap begitu saja. Padahal ia sangat bahagia saat Sameer hanya miliknya tapi kini Sameer sungguh membaginya dengan Elena. Ia tidak percaya kalau Sameer akan menyentuh Elena.
Meskipun ia tau itu kewajiban Sameer untuk memberikan haknya pada Elena yang notabene istri sah Sameer tapi tetap saja ia sebagai seorang wanita tidak rela berbagi.
Humaira melangkahkan kakinya tanpa tujuan, hatinya terlalu sakit kalau ia tetap berada dirumah itu membiarkan mata dan telinganya mendengar suara rintihan dan desahan orang bercinta. Hatinya tidak sekuat itu.
****
"Humaira" panggil Akbar melihat Humaira pergi meninggalkan rumah Sameer dengan air mata.
"Gus..."panggil Humaira memberikan tatapan sendunya.
"Hey kamu kenapa?" Akbar menangkup wajah Humaira yang telah basah oleh air mata.
"Mai sudah tidak tahan" gumam Humaira lirih.
Akbar menarik tubuh Humaira kedalam pelukannya. Akbar mengelus punggung adik kecilnya lembut, memberikan penenangan untuk sang adik.
Akbar menggiring Humaira menuju mobil miliknya. Membawa Humaira pergi meninggalkan rumah Sameer.
Disepanjang perjalanan Akbar mengutuk Sameer, dilubuk hatinya yang paling dalam dia tidak terima Sameer memberikan luka terus menerus pada Humaira.
Mobil yang Akbar kendarai menuju sebuah pantai. Deburan ombak sudah terdengar, angin pantai berhembus kencang.
"Suara ombak yang menenangkan bisa membuat mu rileks" kata Akbar membantu Humaira keluar dari dalam mobil. Seulas senyuman manis Humaira berikan untuk Akbar.
"Terima kasih Gus" ucap Humaira
"Ini sudah menjadi kewajiban ku menjaga mu Mai" Akbar mengelus lembut kepala Humaira penuh kasih.
"Gus, apa seperti ini beratnya rumah tangga berpoligami?" tanya Humaira menatap hamparan pantai yang luas.
"Bukankah kamu pernah belajar bagaimana poligami itu? Sepuluh tahun kamu tinggal di lingkungan yang sedikit banyak rumah tangga yang menganut sistem poligami. Seharusnya kamu tidak butuh lagi jawabannya"
Humaira terdiam, menunduk dalam. Dulu saat dipondok memang banyak yang melakukan rumah tangga secara poligami bahkan kakak laki-laki Akbar juga berpoligami dan beberapa ustadz pengajarnya dulu juga ada yang berpoligami.
"Apa aku salah Gus? Membiarkan kak Sameer menikah lagi?" tanya Humaira tatapan matanya menerawang jauh.
"Keadaan yang menyulitkan mu sehingga kau memilih jalan ini"
Akbar memberikan waktu Humaira untuk menceritakan keluh kesahnya.
Akbar sangat tau kalau Humaira bukan sosok wanita yang mudah berbagi perasaan dan permasalahannya dengan orang lain. Wanita itu lebih suka menahannya seorang diri.
"Ujian hidup mu kini hanyalah bersabar Mai, kau harus bertahan dan kuat. Kau sekarang bukan seorang diri lagi tapi juga ada ke dua anak mu yang butuh kekuatan dari mu. Walaupun awalnya Gus begitu marah pada Sameer tapi melihat bagaimana kacaunya Sameer saat kau masuk rumah sakit saat itu, cukup jadi bukti kalau Sameer sangat mencintai mu. Percayalah pada Gus" Akbar menggenggam tangan Humaira menyalurkan kekuatan untuk Humaira.
"Tapi Gus, rasanya begitu sakit. Apakah aku kuat untuk bersabar Gus? apakah perjuangan ku tidak akan sia-sia Gus?" tanya Humaira sendu. Setetes air mata kembali jatuh dari mata indahnya.
"Humaira yang Gus kenal adalah wanita kuat. Kalau sakit jangan menahannya, lepaskan rasa sakit itu Mai. Gus yakin segala perjuangan mu tidak akan sia-sia, perjuangan mu akan terbayarkan. Bersabarlah Mai, Gus yakin sedikit lagi kau akan merasakan kebahagiaan itu" Akbar kembali menyakinkan Humaira, hati wanita itu sedang lemah. Kepercayaan diri yang Humaira miliki mulai terkikis secara perlahan.
"Gus..." panggil Humaira lirih menatap iris mata hitam Akbar.
"Saat nanti perjuangan Mai berakhir, jaga anak-anak Mai dengan baik ya Gus. Mai merasa perjuangan Mai akan segera berakhir" tuturnya.
Saat perkataan yang menyiratkan pesan meluncur begitu saja dari mulut Humaira memberikan ketakutan di hati Akbar.
Akbar memerhatikan Humaira, menatapnya dalam menyelami apa yang sebenarnya ada di mata itu.
***