NovelToon NovelToon
Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili

Status: tamat
Genre:Romansa / Time Travel / Petualangan Fantasi-Penyeberangan dunia lain / Fantasi Urban-Mengubah takdir / Chicklit / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:409.7k
Nilai: 4.6
Nama Author: Lien Machan

Sin Yoona, seorang prajurit perempuan satu-satunya di kesatuan. Saat ini ia sedang melaksanakan tugas negara, yaitu mengupayakan pembebasan para tawanan yang di sandera oleh musuh di wilayah perbatasan negara.

Dia dan rekan lainnya terus menggempur pertahanan musuh sampai berhasil melumpuhkan mereka dan menyelamatkan para tawanan.

Namun apa yang terjadi? Saat mereka sudah berhasil, sebuah bom meledak sebelum mereka kembali ke negaranya. Akibatnya, Sin Yoona dan sebagian prajurit lainnya tewas seketika terkena ledakan bom yang sengaja di pasang musuh.

Sin Yoona merasa dia sudah mati. Tapi, kejadian yang menimpanya di medan perang seolah mimpi baginya. Dia terbangun di tempat yang asing dan dengan identitas berbeda.

Apakah Raja neraka sengaja membangkitkan jiwanya lagi karena berbelas kasih padanya? Tapi, kenapa harus di tubuh yang lemah seperti ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lien Machan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama

Kuda kembali menghentakkan kakinya dengan cepat setelah mereka beristirahat. Kini, bukan hanya dua kuda, melainkan ada tiga. Kakek Lon Thong ikut serta pulang bersama Zhaoling dan Xin'er ke arah utara, kemudian akan berpisah diperbatasan kota.

"Sampai jumpa lagi, cucu-cucuku! Kelak, kita akan bertemu dilain waktu. Sampaikan salam ku pada kedua orang tuamu!" ucap Kakek sambil melambaikan tangannya.

Pangeran Ketiga membalas lambaian tangan kakek pertanda jawaban iya darinya. Lalu, keduanya melanjutkan perjalanan lagi menuju kota Yongseon untuk mengantar Xin'er ke rumahnya, yaitu Kediaman Perdanana Mentri Yun.

Sampailah mereka di pintu gerbang Paviliun Josheng dengan disambut meriah oleh Tuan Yun Xiaoyu bersama istri dan juga anak-anak mereka. Yun Xiaolang, Yun Moheng dan Yun Mingna.

Terlihat, semuanya tersenyum saat menyambut kedatangan pasangan suami-istri baru tersebut. Mereka melakukan ritual penyambutan sesuai adat kepercayaan yang berlaku.

Pangeran Ketiga hanya tersenyum puas dibalik cadarnya, saat melihat wajah satu persatu keluarga istrinya saat ini. Tuan Xiaoyu dan Xiaolang terlihat sedih atas pernikahan Xin'er sebab, mereka akan berpisah dengan gadis itu. Padahal, mereka masih bisa bertemu kapan saja karena Perdana Mentri bekerja di dalam Kerajaan.

Berbeda dengan Nyonya Muning, Moheng, dan Mingna. Walaupun ketiganya iri karena Xin'er menjadi anggota Kerajaan, tapi mereka pun cukup puas karena Xin'er menikahi pria cacat serta buruk rupa. Padahal, mereka tak tahu keaslian dari wajah Pangeran Ketiga dibalik cadarnya, termasuk Xin'er sendiri.

"Yang Mulia. Perjalan yang jauh cukup melelahkan bagi kalian. Maka dari itu, saya menyarankan Anda dan Xin'er untuk beristirahat di kamar. Kami akan menyiapkan makanan dan membawanya kesana," kata Tuan Xiaoyu dengan hormat.

Pangeran hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, sebelum pergi menuju kamar Xin'er. Dia berjalan diikuti Xin'er dibelakang yang menunjukan letak kamarnya dengan langkah yang gontai.

"Kenapa dia harus menginap disini, sih? Tak bisakah dia pulang saja ke Istana? Aku sangat lelah dan ingin beristirahat!" gerutu Xin'er dalam hati. Kakinya menghentak karena kesal yang berlebihan.

Tanpa menoleh saja, Pangeran yakin saat ini Xin'er sedang kesal. Dia tetap tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk bahkan bertanya perihal arah menuju kamar Xin'er, yang padahal dirinya sudah tahu.

Zhaoling sengaja berbelok arah, agar Xin'er menegurnya karena salah. Dan benar saja, Xin'er segera memanggilnya saat kaki Zhaoling melangkah kearah lain.

"Hei, tunggu!" teriak Xin'er menghentikan langkah Zhaoling. Melihat Pangeran berbalik menatapnya, Xin'er segara sadar dan langsung membungkuk hormat. "Ma-maaf, Yang Mulia. Arah ke kamarku itu kesini, bukan kesana!" ucapnya gugup.

Terbesit senyum manis dibibir indah Zhaoling yang tak mungkin terlihat oleh Xin'er ataupun yang lainnya. "Oh," hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

Kemudian Xin'er mengulurkan tangan kedepan, guna mempersilahkan Pangeran berjalan terlebih dulu. "Silahkan!" ucapnya sopan.

Helaan nafas terdengar lemah, namun Zhaoling memilih bersikap biasa saja. Sejujurnya, dia ingin Xin'er bersikap layaknya istri pada suami. Bukan seperti pelayan pada majikan. Haish, ya sudahlah! Mungkin dia belum paham.

Setibanya di depan kamar, Xin'er segera membuka pintunya dan mempersilahkan Pangeran masuk. Namun, matanya menangkap sesuatu yang mengisyaratkan tanda bahaya.

Ruangan persegi tersebut dipenuhi berbagai hiasan dinding, serta kain merah panjang yang membentang, dan mengikat satu sama lain. Ranjang yang dihias cantik dengan taburan kelopak bunga diatas kasurnya, serta tirai penutup berwarna merah pula. Ini adalah kamar pengantin.

Astaga. Apa yang harus dilakukan?

Ting ... Sebuah ide muncul dikepala Xin'er saat ini. Otak cerdasnya berpikir cepat untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang akan terjadi malam ini.

Xin'er tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Pangeran. Anda bisa beristirahat terlebih dulu. Saya akan keluar sebentar untuk menemui ayah dan kakak saya." cetusnya dengan sedikit membungkuk.

Kemudian, kakinya melangkah menuju pintu dan akan menutupnya. Tapi, sebelum tangannya menyentuh handle pintu, teriakan Pangeran membuatnya terdiam ditempat.

"Apa aku mengizinkanmu keluar?" tanya Pangeran dengan dingin.

Xin'er berbalik dan sangat terkejut. Ternyata, Pangeran sudah berdiri dibelakangnya. "Aaa-aku ... aku ..." entahlah harus menjawab apa. Saat ini dia menjadi gugup dibuatnya.

Pangeran menarik tangan Xin'er sambil menutup pintu kamar lagi. "Duduk dan temani aku mengobrol! Aku bosan bila berada diruangan sendirian!" permintaan yang sebetulnya terdengar seperti perintah bagi Xin'er.

Haish, ya sudahlah!

Terpaksa Xin'er duduk didepan Pangeran, dengan wajah terus menunduk. Dia tak berani menatap, walaupun wajah Pangeran samar terlihat karena terhalang cadar hitam. Tapi, Xin'er merasa ada yang aneh. Jika Pangeran mengalami insiden mengerikan itu, kenapa tangannya sangat halus? Bukan cuma kali ini, kemarin saat mereka melaksanakan ritual pernikahan, tak sengaja tangan mereka bersentuhan dan kulitnya sangat halus tanpa ada keriputan sama sekali.

Apa benar dia mengalami luka bakar yang sangat parah? Ataukah, luka bakar itu hanya terdapat diwajahnya saja? Jika seperti itu, dapat dipastikan seberapa buruk wajahnya saat ini. Hiiiy, membayangkannya saja, sudah membuat Xin'er bergidik ngeri.

"Kenapa melamun?" suara Pangeran mengembalikan pikirannya yang sudah sempat melanglang buana entah kemana.

"A-anu ... itu ... aku ..." Kenapa Xin'er sangat gugup dihadapan pria yang menjadi suaminya saat ini? Hadeuh, berabe urusannya.

"Kamu kan gadis pemberani yang tegas dan juga cerewet. Tapi, dihadapanku kau banyak diam. Apa kau takut denganku?" tanya Zhaoling dengan sengaja.

"Ti-tidak! Siapa yang takut denganmu? Aku cuma ... cuma ... kepanasan. Ah, iya. Kepanasan. Hahaha," dia tertawa hambar karena merasa tak tahu harus berkata apa.

"Kalau begitu, lepaskan saja pakaianmu!" ucap Zhaoling enteng.

Xin'er membulatkan mata mendengar perkataan pria dihadapannya itu. "Hah? Apa? Me-melepaskan pakaianku?"

"Bukankah tadi kau bilang kepanasan? Ya sudah, lepaskan saja." ulang Zhaoling lagi. Kemudian, dia mendekati Xin'er yang masih belum sadar sambil berbisik ditelinganya. "Lagipula, aku suamimu. Jadi, walaupun kau telanjang, bagiku tak masalah. Aku ikhlas!" berbicara dengan suara yang menggoda.

"Hei. Kau ini mulai mesum ya!" teriak Xin'er setelah sadar.

"Kenapa? Aku ini kan suamimu." sahut Zhaoling tak mau kalah.

Xin'er terdiam dan tak membantah lagi. Memang benar, pria ini adalah suaminya. Tapi, dia belum siap lahir batin jika harus ... ah, sudahlah!

Melihat Xin'er terdiam, Zhaoling akan berucap kembali. Tapi, suara ketukan pintu terdengar nyaring, sehingga mengalihkan pandangan keduanya.

Tok ... tok ... tok ...

"Permisi, Yang Mulia. Makanan Anda dan Nona sudah siap!" ucap seseorang dibalik pintu.

Ini kesempatan Xin'er untuk menghindar dari Pangeran. Kakinya segera melangkah menuju pintu untuk membukakannya. Senyumnya kian merekah melihat pelayan pribadinya membawa dua nampan berisikan penuh makan serta minuman untuk mereka.

"Masuklah, Ashu, Yuelie. Taruh semuanya di meja, biar Yang Mulia memakannya." ujar Xin'er mempersilahkan kedua pelayannya masuk.

Menghshu dan Yuelie segera masuk dan menaruh barang bawaannya dimeja dan segera menghidangkannya untuk disantap Pangeran.

Melihat Pangeran sepertinya sibuk dengan kedua pelayannya, Xin'er tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kabur dari kamar pengantin. Ia mengendap supaya tidak ketahuan. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat dirinya malah harus terkurung semalaman.

"Kau ingin kabur?" pertanyaan itu membuatnya terhenyak dan segera mendongakkan kepalanya.

Zhaoling sudah berdiri diambang pintu dan melipat kedua tangannya didada. Dari auranya saat ini, Xin'er menyimpulkan bahwa suaminya sedang menahan amarah. Ia pun segera meminta maaf. Tapi, Pangeran tak membalas permintaan maafnya itu dan segera menyuruh para pelayan keluar.

Tanpa bersuara, keduanya menyantap hidangan yang disiapkan pelayan untuk mereka. Pangeran tersenyum karena Xin'er tak membantah apapun lagi. Jadi, setelah mereka selesai makan, Pangeran pun mengajak Xin'er beristirahat.

"A-anda duluan saja. A-aku belum mengantuk," desisnya menolak saat Pangeran menyuruhnya tidur.

"Kau ingin membantahku?" tanya Pangeran dingin. Ada nada ancaman tersirat dalam pertanyaannya.

"Bu-bukan begitu, Yang Mulia. A-aku benar-benar belum mengantuk. Biasanya aku akan melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum tidur," sahutnya cepat walaupun diawal ia sangat gugup. Lebih tepatnya, takut.

Pangeran lebih mendekatkan tubuhnya sambil berbisik. "Kita juga bisa melakukan sesuatu sebelum tidur. Misalnya ... melakukan pemanasan sebelum memulai permainan inti!"

Wajah Xin'er berubah memerah. Entah apa yang terjadi. Desiran dalam dada membuat bulu kuduknya meremang seketika, serta jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.

Tangan Pangeran mengusap lembut wajah Xin'er, kemudian berhenti dibibir mungilnya. Wajahnya perlahan maju, mengikis jarak membuat jantung Xin'er tak karuan. Padahal, dia masih memakai cadarnya. Tapi, Xin'er merasa sangat ketakutan.

"Ini malam pertama kita. Bersiaplah menjadi istriku sepenuhnya!" bisik Pangeran ditelinga Xin'er dengan suara sensualnya.

Tubuh Xin'er bergetar mendengar perkataan itu. Malam pertama? Ya. Pria dihadapannya ini memang suaminya dan sudah sewajarnya mereka menghabiskan malam pertama sebagai pasangan suami-istri yang berbahagia. Tapi, apapun alasannya Xin'er belum siap untuk hal ini.

"Ya Dewa. Bisakah aku lari dari tempat ini? Aku lebih baik memilih berperang di medan perang, dari pada harus melewati malam pertama!" jerit Xin'er tanpa suara.

...Bersambung, gaes ......

1
Nayira Azzahra
terlalu bodoh,buat apa reinkarnasi KLO hal kyk gitu aja g bisa d imbangi,buat apa juga ilmu bela diri????? sungguh aku kecewa 😔😔😔😔😔
Olan moro
mantap.. 👍👍👍
Wan Trado
serius nih namanya chibai..?? 🤣
Siti S
Luar biasa
Machan: makasih bintang 5 nya, kak Siti🥰
total 1 replies
Sarah Arami
seru
Machan: 🥰 makasih bintang 5 nya, kak Sarah🤗
sehat dan bahagia selalu🙏
total 1 replies
ira kasih
happy ending yeeyy...💕
makasih thor.. semoga selalu sehat dan semangat membuat karya baru
Machan: amiiin, makasih doanya kak Ira. doa terbaik juga untukmu🥰
untuk karya baru masih update fantasi pria, klo berkenan silahkan baca. tinggal klik profil othor😁 tapi klo mau genre sama belum rilis, mungkin setelah selesai yang ongoing🙏
total 1 replies
RIA SARI
semua cerita sama y ....
Albuddin
ceritanya muter" terus
Machan: mungkin othor lupa lagi nyemil gangsing makanya muter"🤣
total 1 replies
Aryanti
karyanya hilang entah kemana😭😭😭

bikin patah hati aja
Endri Yani
kok g nyambung
Aryanti
link pemesanannya donk kak🥺🙏
jesica jesi
bagus
Machan: makasih
total 1 replies
nurul istiqomah
apik
Machan: makasih kakak
total 1 replies
NOiR🥀
Ending yg indah..best
Machan: makasih kakak
total 1 replies
NOiR🥀
penuh drama..begitu sulit...
Littlefairy Bundle
aku nggak mau teruskan LG. bosan dgn karekter xin'ernya yg bodoh
Pengagum setia: kalau ga mau baca gausah maksain apalagi tidak like,kasihan othornya capek mikir cape nulis
total 1 replies
Mami Mara
dna??? jaman kerajaan? typo ya thor?
Mami Mara
kan???? q bru mikir, pasti ada yg komen gini? 🤣🤣🤣
Machan: 😁😁😁 maaf bikin keselek
total 1 replies
Lina Octavianti
Luar biasa
Machan: makasih kakak😊
total 1 replies
Machacy
Mungkin ada baiknya, "mengecilkan suaramu saja," apa lgi ini jaman kekaisaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!