Flavia Gu, adalah anak dari selir kesayangan Tuan Gu. Dibawa olehnya masuk ke dalam keluarga Gu. Ketika ibunya meninggal .
Namun, tidak pernah dianggap sebagia anggota keluarga Gu. Bahkan dia harus menghidupi dirinya sendiri dari keahlian yang dia miliki. Keahlian yang dia sembunyikan dengan baik.
Tidak hanya itu saja, bahkan Flavia dijadikan tumbal malam pertama untuk menggantikan peran Olivia Gu yang ingin menjadi menantu utama keluarga Lin .
Siapa sangka Flavia yang selama ini diam akan menyerang balik mereka semua, yang pernah mencelakainya. sampai pada akhirnya takdir membawa Flavia ke pangkuan Eryk Lin, seorang Mysophobia yang sengaja memilih menjadi dokter Forensik demi mengatasi rasa takutnya yang berlebihan.
Akankah ketika konflik bersemi, justru malah akan membuat keduanya saling jatuh cinta dan menginginkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASKER RUMPUT LAUT
Eryk menutup sambungan telponnya, dia pun tertawa tak percaya, berpikir jika dirinya baru saja mengajak istri pria lain untuk makan siang bersama.
"Apa yang baru saja aku lakukan" ujarnya pelan.
Merasa salah, namun merasa tidak bisa menghindari apa maunya hati. Eryk mempercepat jadwal kerjanya hari ini, hatinya tak sabar untuk melihat Flavia, si gadis buruk rupa yang telah berhasil menawan hatinya.
Flavia sudah sampai lebih dulu di restoran, dia membawa sumpit dan sendok sendiri. Ini adalah hadiah pemberian dari Austin Long, gurunya.
Hadiah atas kehamilan Flavia. Austin sudah menyelidiki Tuan Mo, dan karena posisinya di Klan Naga Hitam. Maka bisa saja Flavia dalam keadaan bahaya. Di tambah sebelumnya cucu perempuan Tuan Mo mati karena dibunuh.
Set alat makan ini sama seperti yang dipakai oleh Raja Andrew dan ratu Freya dari Kerjaaan Funan. Sumpit, sendok dan garpu itu bisa mendeteksi racun. Sekalipun racun itu tidak berbau dan tidak berwarna.
Jika ada racun maka sumpit, sendok dan garpu itu akan memberitahu dengan perubahan warna yang akan terlihat.
"Maafkan aku sedikit terlambat," ujar Eryk lalu menarik kursi dan duduk di depan Flavia.
"Tidak apa Tuan," jawab Flavia.
Mereka pun memesan makanan, lalu tiba-tiba Eryk menarik tangan Flavia, dan bertanya, "Apa kau sudah memaafkan aku?"
Flavia ingin menarik tangannya. Namun, malah Eryk semakin menggenggamnya dengan kencang.
"Kau belum memaafkan aku atas sikapku yang waktu itu?" ujar Eryk dalam sendu.
Flavia menarik napas, lalu berkata, "Aku memang marah pada Tuan, sangat-sangat marah."
Perkataan Flavia ini juga merujuk kepada malam di mana Eryk merengkuhnya di malam itu. Sementara itu, tatapan mata Eryk menjati terlihat lebih sendu lagi.
"Maafkan aku ... maafkan aku!" pintanya kepada Flavia.
Flavia pun berkata lagi, "Aku sudah memaafkan, tapi aku tidak melupakan."
Eryk pun melepaskan genggaman tangannya, takut jika terlalu memaksa maka akan membuat Flavia membencinya.
Makanan pun datang ke meja mereka. Sambil menikmati hidangan, Flavia bertanya kepada Eryk, "Tuan, yang aku dengar jika Olivia Gu bukanlah wanita yang Tuan pilih?"
Eryk menghentikan gerakan sumpitnya, lalu hanya menjawab, "Emm ..."
"Lalu siapa wanita itu?" tanya Flavia.
"Apa Tuan mengenalnya?" tanya Flavia lagi.
"Aku tidak mengenalnya sampai di malam itu," jawab Eryk jujur.
"Apa Tuan menyukainya karena itu memilihnya?" tanya Flavia lagi.
"Entahlah, yang aku tahu jika malam itu aku seperti tertarik oleh sebuah kekuatan magnet yang memiliki daya tarik yang besar sekali," jawab Eryk.
Dalam hati Eryk merasa bersama si gadis buruk rupa yang tengah duduk di depannya ini dia seperti kembali merasakan daya tarik magnet di malam itu lagi.
"Apa Tuan tidak mencarinya?" tanya Flavia lagi.
"Aku mencarinya," jawab Eryk.
"Lalu apa sudah ada hasil?" tanya Flavia sedikit menyelidik.
"Dia seperti hilang tertelan bumi, bersih tiada berjejak," jawab Eryk.
Flavia pun tersenyum samar, gurunya telah dengan baik melindungi identitasnya, begitu juga dengan Klan Naga Hitam.
Eryk melihat set alat makan milik Flavia, lalu berkata "Itu terlihat bagus."
"Oh, ini hadiah," jawab Flavia.
"Dari siapa?" tanya Eryk penasaran.
"Dari seseorang yang sangat penting untukku," jawab Flavia.
'Pasti dari pria itu' pikir Eryk lalu dia pun memaksakan senyuman di wajahnya. Untuk menutupi rasa cemburunya.
Selesai makan, Flavia merasa sangat kekenyangan. Perut Flavia sudah mulai terlihat membesar.
Mereka duduk sebentar di taman yang ada di dekat restoran itu sembari berbincang lagi.
"Aku harus apa agar kau bisa benar-benar memaafkan lalu melupakan?" tanya Eryk.
Flavia diam tidak bisa menjawab, lalu malah berkata tentang hal lain, "Bagaimana keadaan Nyonya Lin?" tanya Flavia.
"Sudah mulai membaik," jawab Eryk.
"Paman Lin juga sudah kembali. Dia sudah mengundurkan diri dari rumah sakit," jelas Eryk.
"Apa!?" tanya Flavia terkejut.
"Apa kau akan memecat dokter Song?" tanya Flavia.
"Memangnya kenapa jika aku memecatnya?" tanya Eryk.
Flavia menggigit ujung bibirnya, lalu berkata membujuk Eryk, "Bukankah di bawah pengawasan Dokter Song, semua baik-baik saja."
"Ya dia adalah dokter yang hebat di bidangnya," jawab Eryk.
"Jika Begitu lalu memgapa kau harus menggantinya," tanya Flavia.
Belum lagi Eryk menjawab, Flavia sudah berkata lebih dulu. "Begini saja. Aku akan memberikan perawatan ke Nyonya Lin lagi, dalam sebulan akan ada beberapa hari, kalian boleh membawa Nyonya datang ke rumahku untuk memberikan akupuntur kepada Nyonya."
Hati Eryk langsung seperti terjun dari ketinggian yang sangat tinggi, "Jika begitu setuju," ujarnya tanpa pikir panjang.
Baru saja Eryk ingin menawarkan mengantar Flavia pulang. Namun, sebuah mobil berawarna hitam, dengan kaca jendela gelap datang menjemput Flavia.
"Terima kasih Tuan, tapi sudah ada yang menjemputku," jawab Flavia.
"Ah ya, jika begitu hati-hati di jalan," ujar Eryk.
Perasaan senangnya langsung hancur begitu saja ketika melihat mobil yang membawa Flavia melaju menghilang dari pandangannya.
Di dalam mobil, Flavia memgelus lembut perutnya itu sambil berkata, "Apakah sudah puas bertemu dengan Papa?" tannya dalam nada pelan.
Sesampainya di Mansion Mo, Flavia langsung mengatakan ingin pindah rumah kepada Tuan Mo.
"Tapi kenapa?" tanya Tuan Mo.
Flavia menjelaskan alasannya, mendengar ini menyangkut Nyonya Lin lagi, maka Tuan Mengijinkan Flavia tinggal di luar.
Asisten He langsung saja mengatur tempat tinggal baru untuk Nona Mudanya itu.
Dalam beberapa hari rumah itu pun telah siap ditinggali. Flavia pun memberitahu Dokter song agar membawa Nyonya Lin ke tempat tinggalnya.
Dokter Song bersiap membawa Nyonya Lin. Ketika sedang mendorong kursi roda Eryk baru saja keluar dari kamarnya.
"Mau ke mana?" tanyanya.
"Pergi terapi ke rumah Nona Flavia," jawab Dokter Song.
"Jika begitu aku antar," ujar Eryk menawarkan diri.
Dokter Song, tidak bisa memberikan kabar kepada Flavia jika Eryk ikut bersama mereka, karena harus menyetir mobil dan merasa sedang diawasi terus oleh Eryk.
Mereka pun tiba di rumah Flavia. Dokter song menekan pintu bel. Flavia melihat dari lubang kaca kecil di pintu rumahnya.
"Eryk" ujarnya.
"Astaga" ujarnya lagi memegang wajahnya.
"Bagaimana ini," ujar paniknya.
"Ah Ya itu saja ..." ujarnya lagi sambil berlari ke kamar mandi.
Eryk menekan pintu berkali-kali dan pada akhirnya pintu pun terbuka.
"Tuan Lin" sapa Flavia.
Eryk sedikit terkejut melihat wajah Flavia yang sedang memakai masker berwarna hijau, dengan gigi majunya itu, sungguh membuat Flavia terlihat seperti monster yang baru saja keluar dari tanah lumpur.
"Aku mengantar Mama untuk terapi" ujarnya.
"Ya, silahkan masuk. Aku sudah mempersiapkan kamar," ujar Flavia.
Dalam hati Flavia tidak menyangka jika Eryk akan ikut mengantar ke sini. Untung saja dia sudah pindah rumah, dan ada masker rumput laut itu.
Eryk menggendong tubuh Nyonya Lin ke ranjang yang sudah disiapkan, lalu Flavia berkata, "Baiklah kalian berdua tunnggu di luar."
beda dari yang lain disini juga banyk ilmu yang dijelaskan...
Love bangett Karya Nita
Yaa, emang sih klo gda adegan itu, kasusnya g muncul ya? 🤭