Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbayarkan oleh kata.
Dikantor Cahaya bersikap seperti biasanya, ia tidak murung ataupun menangis hanya saja ia melamun beberapa kali. Dunianya yang ia pikir akan indah pada waktunya, justru meredup tanpa ia sadari.
Langit sore ini pun seakan menjadi gambaran dihatinya, mendung dan berawan. Dia tidak hujan, tapi anginnya lumayan kencang dan petir bergemuruh pelan disudut sana.
Disaat pekerjaannya selesai dan jam pulang pun sebentar lagi, ia kembali merenung. Bertanya pada dirinya sendiri. "Haruskah ia bercerai dengan suaminya?"
Jika harus, sia-sia saja semua yang dilakukannya. Ia sudah kalah oleh wanita yang mungkin tengah bersama dengan suaminya.
"Yaya!" panggil seorang disampingnya dengan nada lumayan tinggi dan tamparan dilengan kirinya.
Cahaya mengaduh dengan tangan kanan menyentuh dan mengusap lengan kirinya.
"Mimi, kamu tuh kenapa, sih?" kesal Cahaya dengan tatapan sebalnya.
"Dari tadi dipanggilin gak nyaut-nyaut, kamu udah kebanyakan ngelamun sejak tadi. Sampe gak sadar yang lain udah pada pulang, disini cuma kita berdua. Mikirin apa, sih?" tanya Yumi mengomel, rekan kerja sekaligus sahabat Cahaya sejak SD.
Cahaya menghela nafas berat, bisa-bisanya ia melamun terus. Tapi, kalimat-kalimat yang dikatakan Fery padanya memang benar-benar menyakitkan. Sampai rasanya ia minder dan ingin pergi jauh.
"Tuh, kan. Ngelamun lagi," sebal Mimi ngedumel dan memalingkan mukanya, merasa diabaikan.
Cahaya menarik lengan baju Mimi dengan pelan, ia merasa Mimi harus tahu sesuatu.
"Mimi, aku mau cerai," ungkap Cahaya mulai ingin bercerita.
Mimi melirik Cahaya mendengar kalimat tak biasa itu.
"Hah! Kok bisa! Bukanya hari ini Anniversary yang ke tiga?" mata Mimi membulat penuh, serasa mendapatkan kejut jantung mendengar keinginan sahabatnya itu.
"Tunggu, tunggu. Kamu hari ini aneh banget, apa terjadi sesuatu?" tanya Mimi mulai kepo dengan mata yang menatap lekat pada rekannya.
Awalnya biasa saja, namun sedetik kemudian wajah Cahaya berubah cemberut. Tak lama wanita itu langsung menangis didepan sahabatnya.
"Hua ... Mimi kita minum, yuk! Aku mau mabuk, aku gak mau pulang!" ajak Cahaya sembari mendaratkan keningnya pada pundak temannya.
"Sayangku bebeb, nasib kamu lebih buruk dariku ternyata," gumam Mimi merasa iba, tangannya menepuk-nepuk punggung Cahaya.
Jangan tanya perasaan Mimi, dia juga ikut menangis walau temannya belum bercerita satu kata pun. Mereka sudah saling mengenal lama, kebersamaan mereka sudah lebih dari sahabat malah seperti saudara.
Banyak yang mengira bahwa mereka berdua adalah keluarga, padahal mereka tak punya hubungan darah. Mereka saling melindungi dan membantu, dua wanita itu sudah mirip lem saling lengket dan menempel kalau sudah bersama.
^^^
Dua wanita muda itu akhirnya pergi ke Bar, mereka minum dan menari bersama. Mereka menghabiskan malam yang panjang itu dengan bermabukkan, namun baru dua gelas Cahaya sudah mabuk berat.
Lain dengan Mimi yang masih kuat, gadis itu masih menari dengan pria yang sering ia temui di Bar. Tempat ini sudah jadi tempat hiburan diri, pelampiasan hati bagi mereka yang terluka dan kurang kasih sayang.
Brak
Cahaya menggebrakkan meja tempat mereka berdua.
"Aku benci! Bisa-bisanya si dokter jahat itu berselingkuh," ujar Cahaya tanpa sadar.
Mimi meliriknya sebentar, "Sudah ku duga, pantas ia gak pernah sentuh kamu. Pria brengsek begitu, memang harus kamu ceraikan."
"Betul!" sahut Yaya dengan menunjuk jempolnya yang berarti benar dan setuju.
"Tenang saja, pria itu banyak. Buang satu dapat seribu, siapa tahu besok kamu hoki bisa dinikahi Ceo," kata Mimi lagi, hanya memberinya semangat ala kadarnya.
"Benar, buang satu dapat seribu. Ngomong-ngomong itu pepatah siapa? Yang ku kenal Mimi ku sangat bodoh," ujar Yaya dengan tersenyum lebar.
"Tentu itu adalah pepatahku sendiri, jika orang lain akan bilang hilang satu tumbuh seribu. Tapi aku akan bilang buang satu dapat seribu." Mimi tertawa receh, diikuti Cahaya yang benar-benar diluar dugaan.
Dua wanita itu sudah kacau, namun mereka masih setengah sadar dengan tempat sekitar.
"Otakmu cerdas, Einstein sudah kalah sama siswi yang nilainya Roti O terus," ujar Yaya makin error.
^^^
Mereka pulang, tapi bukan ke rumah melainkan ke Hotel. Kondisi Cahaya yang sudah error membuat Mimi membawanya ke tempat yang tak jauh dari Bar, hanya penginapan tersebut yang tak jauh dati tempat gemerlap itu.
Mimi melakukan chek in, sedangkan Cahaya berusaha untuk sadar. Wanita itu sudah muntah beberapa kali, hidupnya yang tengah berantakan membuatnya nekat minum minuman keras yang membuatnya hilang rasa malu.
Tiba-tiba Mimi mendapat telepon, ia mengangkatnya sebentar yang ternyata itu adalah keluarganya yang menanyakan keberadaannya. Percakapan telepon itu pun tak lama, wanita itu langsung menutupnya.
"Yaya, aku harus pulang. Adikku sendirian dirumah, kamu gak apa-apa kan, menginap sendirian?" ujar Mimi.
"Baiklah, aku sudah lebih baik, ko. Salam buat om dan tante, ya!" jawab Cahaya dengan senyum paksa.
"Ini kartu kamarmu," kata Mimi sambil menyerahkan.
Mimi pun berpamitan dan pergi dari penginapan tersebut, sedangkan Cahaya melanjutkan langkahnya menuju kamar yang sudah dipesan rekannya. Langkahnya sempoyongan, walau ia berusaha untuk tetap sadar.
Sesekali ia berpegangan pada dinding, agar tak jatuh namun sekuat apapun ia berusaha untuk tak jatuh tetap saja hatinya lah yang rapuh. Luka itu cukup dalam dan mengejutkannya meski dengan sebuah kalimat menusuk.
"Kamar 302, ya ini," ucap Yaya melebarkan matanya, melihat kembali dengan jelas no pintu kamarnya dan kartunya bergantian.
Ia menggesek kartunya dan memutar knop pintu, namun tiba-tiba ...
Brak
Seseorang menabraknya, membuat mereka ambruk ke dalam kamar yang baru saja terbuka. Cahaya bangun perlahan dengan tangan menyentuh kepalanya yang terbentur, meski tak berdarah tapi nyerinya membuatnya pusing.
Ia melihat seseorang yang menabraknya, minuman yang membuatnya mabuk tak bisa menyadarkannya kembali begitu cepat. Mungkin karena pikirannya yang tengah memikirkan suaminya, ia melihat sosok asing itu seperti Fery.
"Tolong aku! Aku akan berikan apapun yang kamu mau," suara serak pria asing itu, memelas padanya. Dahinya berkeringat dingin, ia kepanasan mirip cacing dibawah matahari.
"Mas, kamu pasti mau jemput aku, kan?" tebak Cahaya merasa terharu, ia mulai berhalusinasi. Ia tersenyum bahagia, melihat pria yang ia sukai datang padanya.
Kening pria itu berkerut, seakan bertanya-tanya apa maksud wanita didepannya. Ia menatap wanita yang tak bisa ia lihat wajahnya dengan jelas dengan lekat, meski begitu suaranya bisa ia dengar. Namun dorongan kuat menyiksanya.
Obat yang merongrongnya membuat pandangannya berkabut, gairah kelakiannya meningkat ke level tinggi membuatnya dalam keadaan tak berdaya.
"Tolong aku! Aku ...." pinta pria itu dengan sangat, ia sudah tak bisa lagi menahannya.
"Aku akan menolongmu, tapi katakan padaku kalau kamu cinta aku. Kamu gak cinta dia, kamu cintanya sama aku. Katakan, mas! Katakan!" ujar Cahaya berharap Fery mengatakan itu padanya.
"Aku cinta kamu," jawab pria asing itu dengan ragu.
Cahaya tersenyum senang, ia merasa bahagia. Penantiannya selama tiga tahun terbayarkan oleh kata yang ingin selalu ia dengar, ia bangun dan menutup pintu kamarnya.
Setelahnya ia membantu pria asing itu berdiri, "Aku akan bantu kamu, kamu tenang saja," ucapnya dengan lembut.
Dua wajah itu saling tatap, pada satu pandangan dan keinginan yang sama. Yakni bercinta ...