Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: SERANGAN LINTAH DARAT RAKSASA DAN KEKUATAN DARAH NAGA
Malam semakin dalam. Suara gemericik air sungai bawah tanah terdengar samar dari dalam gua, menciptakan irama yang menenangkan. Chen Si memejamkan mata, mencoba memulihkan tenaga yang terkuras habis sejak kemarin.
Wu Ye duduk bersila di dekat mulut gua, berjaga dengan mata setengah terbuka. Usianya yang sudah lanjut membuatnya butuh waktu lebih lama untuk memulihkan energi dibandingkan Chen Si yang masih muda dan penuh vitalitas.
Tiba-tiba...
Sssshhh... Sssshhh...
Suara gesekan aneh terdengar dari luar gua. Seperti daging basah yang bergesekan dengan batu. Suaranya pelan, tapi sangat jelas di tengah keheningan malam.
Hidung Wu Ye bergerak-gerak. Wajahnya berubah keruh.
"Bau amis... Bau darah busuk..." gumamnya pelan.
Chen Si pun terbangun. Ia menegakkan tubuh, matanya langsung waspada. "Kakek, ada apa?"
"Jangan bersuara. Ada tamu tak diundang," bisik Wu Ye. Ia mengangkat tangannya, memadamkan api unggun seketika dengan satu hentakan energi. Gua itu menjadi gelap gulita.
Beberapa detik kemudian, bayangan besar mulai menutupi pintu masuk gua.
Dua mata merah menyala bersinar di kegelapan, diikuti oleh mata-mata lain yang semakin banyak. Total ada lima pasang mata merah yang mengintai dari luar.
Crock... Crock...
Suara perut yang keroncongan atau mungkin air liur yang menetes terdengar jelas.
Tiba-tiba, salah satu makhluk itu melompat masuk!
Tubuhnya panjang dan besar, lebih dari tiga meter! Bentuknya seperti lintah, namun memiliki kulit yang keras seperti tempurung kura-kura berwarna hijau gelap. Di bagian depannya, ada mulut besar yang penuh dengan gigi-gigi runcing tajam yang berjejer rapi. Itu adalah Lintah Darat Raksasa, monster pemangsa yang hidup di daerah lembab dan memakan daging segar!
"GRAAHH!"
Lintah itu meluncur cepat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mulutnya terbuka lebar siap menelan Chen Si utuh-utuh!
"AWAS!" teriak Wu Ye. Ia ingin bergerak, tapi tiga lintah lainnya langsung menerobos masuk dan menghalangi jalannya! Mereka sengaja memisahkan kakek dan cucu itu!
"Kakek!!"
Chen Si tidak punya waktu untuk berpikir. Insting bertahan hidup mengambil alih.
WUSH!
Ia berguling ke samping dengan kecepatan kilat. BAM! Mulut raksasa lintah itu menggigit batu tempat ia duduk tadi, menghancurkan batu keras itu menjadi serbuk!
"Dasyat! Rahangnya sekuat baja!" batin Chen Si terkejut.
Lintah itu melesat lagi, menyerang tanpa henti. Gerakannya licin dan sulit diprediksi. Chen Si terpaksa terus bertahan, menghindar ke kiri, ke kanan, melompat ke atas. Ia mencoba memukul tubuh musuh itu dengan tinju penuh energi.
DONG!
"Argh!" Tangan Chen Si terasa sakit hingga ke tulang. Tubuh lintah itu terlalu licin dan keras! Pukulannya terpental!
"Gila! Kulitnya sekeras zirah besi! Tidak bisa ditembus dengan kekuatan biasa!" seru Chen Si panik.
Di sisi lain, Wu Ye juga sedang kewalahan. Ia melawan tiga lintah sekaligus. Tongkat kayunya bergerak cepat memukul mata dan celah tubuh monster-monster itu, tapi ia tidak bisa membunuh mereka dengan cepat. Terlebih lagi, racun yang dikeluarkan oleh makhluk-makhluk ini membuat udara di dalam gua menjadi beracun dan pengap.
"Si! Serang bagian bawah perutnya! Di situ yang lemah!" teriak Wu Ye sambil menangkis serangan.
"Tapi susah mendekat, Kek! Gerakannya terlalu cepat!"
Salah satu lintah tiba-tiba mengeluarkan semburan air liur asam dari mulutnya! Wush!
Chen Si menunduk, air liur itu melewati tepat di atas kepalanya dan mengenai dinding gua, membuat dinding itu langsung gosong dan meleleh.
'Bahaya! Kalau kena, aku pasti hancur!'
Chen Si terpojok ke sudut gua. Lintah raksasa itu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi, siap menerkam dan melumpuhkan mangsanya sekali gigit.
Saat itulah, rasa takut bercampur amarah memuncak di dada Chen Si. Ia ingat kata-kata Wu Ye tentang darah yang mengalir di tubuhnya. Ia ingat tentang Darah Naga di dalam kotak itu.
'Aku adalah keturunan Raja Alkemis! Bagaimana mungkin aku kalah dari seekor lintah kotor?!'
"AAAAARRGGHH!!"
Chen Si berteriak kencang. Tiba-tiba, darah di seluruh tubuhnya terasa mendidih! Jantungnya berdetak bukan lagi dug-dug, tapi seperti genderang perang yang dipukul gila-gilaan!
BOOM!
Seketika, aura berwarna merah keemasan meledak keluar dari tubuh Chen Si! Aura itu panas membara, seolah-olah ada matahari kecil yang muncul di dalam gua!
Di dahinya, samar-samar muncul sebuah tanda gambar sisik naga yang bersinar terang, lalu menghilang secepat kilat.
"INI... INI KEKUATAN SEBENARNYA!!"
Chen Si merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di pembuluh darahnya. Pandangannya menjadi sangat jelas, waktu seolah melambat di matanya. Ia bisa melihat aliran energi di tubuh lintah itu, ia bisa melihat detak jantungnya yang lambat.
Lintah itu sepertinya merasa takut. Aura Chen Si bukan lagi aura manusia, tapi aura pemangsa tertinggi! Ia ragu untuk maju.
"TELAT!!"
Chen Si tidak memberinya kesempatan. Ia melangkah maju satu langkah. Tanah di bawah kakinya retak!
Tangan kanannya memadat, otot-ototnya menonjol, diselimuti cahaya merah menyala.
"TEKNIK ROH BUMI: PUKULAN PEMECAH GUNUNG!!"
BAMMMMMM!!!
Pukulan itu mendarat tepat di tengah tubuh lintah raksasa itu.
KRAK! BRUK! SLURP!
Suara tulang dan daging hancur terdengar mengerikan. Tubuh lintah yang sekeras baja itu seolah terbuat dari kaca! Ia hancur berkeping-keping, darah hijau menyembur kemana-mana, dan tubuhnya terlempar keluar gua dengan keras!
Mati seketika!
Chen Si berdiri tegak di sana, napasnya memburu, tangannya masih mengepal. Matanya berkilat tajam, penuh wibawa yang menakutkan.
Keempat lintah lainnya yang sedang menyerang Wu Ye seketika berhenti bergerak. Mereka gemetar ketakutan, menatap Chen Si seperti melihat dewa kematian.
"Kau... kau..." Wu Ye ternganga melihat cucunya. "Darah Naga itu... benar-benar terbangun..."
Tanpa menunggu perintah, keempat monster itu langsung berbalik arah dan lari tunggang langgang keluar dari gua, menjerit ketakutan seolah iblis datang menjemput.
Gua itu kembali hening. Hanya tersisa bau amis darah dan napas berat dua orang yang baru saja selamat dari maut.
Kekuatan Baru dan Rahasia Tubuh
Chen Si perlahan melunakkan tangannya. Kekuatan merah keemasan itu menghilang perlahan. Ia tiba-tiba merasa lemas dan duduk terduduk di lantai batu.
"Hah... hah... hah..." Napasnya terengah-engah. Tubuhnya terasa panas sekali, seolah baru saja keluar dari kawah gunung berapi.
Wu Ye segera mendekat, memeriksa kondisi Chen Si dengan wajah cemas namun bangga.
"Kau tidak apa-apa, Nak? Rasanya bagaimana?"
Chen Si menggeleng pelan. "Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi tadi, Kek. Tiba-tiba rasanya sangat kuat. Seperti ada api yang mengalir di darahku. Aku merasa bisa menghancurkan apa saja."
Wu Ye tersenyum lebar, lalu tertawa kecil. "Hahaha! Bagus! Luar biasa! Itu adalah Kebangkitan Darah Suci! Karena ketegangan hidup dan mati, potensi terpendam di dalam genmu terbuka!"
"Darah Naga bukan hanya bahan ramuan, Si. Itu juga mewakili sifat yang gagah, berapi-api, dan dominan. Saat emosimu meledak, darah leluhurmu merespons dan memberimu kekuatan sementara."
"Jadi itu bukan milikku sendiri?" tanya Chen Si sedikit kecewa.
"Bukan sepenuhnya, tapi itu tanda bahwa tubuhmu sudah siap menerima kekuatan itu," jawab Wu Ye bijak. "Sekarang kau tahu rasanya. Latihanmu selanjutnya adalah bagaimana mengendalikan kekuatan 'mendadak' itu agar bisa kau gunakan kapan saja kau mau, tanpa harus menunggu marah atau takut."
Chen Si mengangguk mengerti. Ia menatap tangannya sendiri. Bayangan kekuatan tadi masih terasa di telapak tangannya.
"Aku akan menjadi kuat, Kek. Suatu hari nanti, aku ingin bisa mengeluarkan kekuatan sebesar itu tanpa harus memaksakan diri."
"Itu tujuan kita," kata Wu Ye. Ia lalu mengambil pisau lipat dan memotong bagian daging lintah yang mati tadi. "Nah, meskipun mengerikan, daging Lintah Darat ini sebenarnya bahan obat yang sangat bagus untuk memadatkan otot dan kulit. Sayang kalau dibuang."
Chen Si terkekeh. "Benar juga, Kakek. Darah Alkemis memang tidak pernah menyia-nyiakan apa pun."
Mereka pun membersihkan gua, memasak daging monster itu menjadi sup yang sangat bergizi, dan melanjutkan istirahat mereka dengan rasa aman yang lebih besar.
Chen Si tahu, malam ini ia melangkah satu langkah lebih dekat untuk menjadi seorang pejuang sejati.