Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
POV: Nara
Brak!
Pintu terbuka kasar hingga nyaris terlepas dari engselnya.
“Sialan!” Suara itu menggelegar seperti petir di tengah malam. Seketika tubuhku membeku.
Wajah yang berdiri di ambang pintu itu, berubah menjadi sesuatu yang terlalu kukenal. Bukan Devandra yang biasa, melainkan monster yang selalu kutakuti.
"Dev," ucapku lirih.
Tanpa mengatakan apa pun, ia melangkah cepat ke arah kami. Semuanya terjadi terlalu cepat. Devandra langsung menarik Leon dari duduknya, lalu—
Buk!
Pukulan keras itu mendarat tepat di wajah Leon. Tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga tersungkur ke lantai.
“Leon!” Aku refleks berdiri, jantungku seperti berhenti berdetak sesaat.
Leon terduduk di lantai sambil menahan napas, tangannya terangkat menyentuh sudut bibirnya. Saat jemarinya menjauh, ada bercak darah di sana. Seketika tenggorokanku terasa tercekat. Aku menutup mulut dengan tangan, dadaku dipenuhi rasa sesak yang datang begitu cepat hingga sulit bernapas.
Sorot mata Devandra saat itu terlalu kukenal.
Tatapan seseorang yang sudah tidak lagi berpikir jernih
“Lo emang temen bangsat, ya!” bentak Devandra. Suaranya terdengar kasar, penuh amarah yang seolah sudah lama ditahan.
Leon malah tertawa kecil, meski napasnya terdengar berat. Tangannya masih menyentuh bibirnya yang berdarah.
“Udah paling bener waktu itu lo pergi,” lanjut Devanda. “Ngapain balik lagi?”
Tatapannya berubah semakin tajam. “Lo cuma datang buat bikin hidup gue makin kacau.”
Bug!
Tendangan keras itu mendarat di punggung Leon, membuat tubuhnya sedikit terhuyung di lantai. “Argh...” erangnya pelan sambil menahan sakit.
Dadaku langsung terasa sesak. “Dev, cukup!” teriakku refleks.
Seketika itu Devandra langsung menoleh ke arahku. Tatapannya membuat tubuhku langsung membeku. Tanpa aba-aba, tangannya tiba-tiba menarik rambutku kasar hingga kepalaku mendongak paksa.
“Ahh...” ringisku pelan.
“Dan kamu...”Devandra tertawa kecil, tawa yang justru terdengar lebih menyeramkan dibanding bentakannya tadi. “Berani banget, ya?”
Buk!
Sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, sebuah pukulan keras mendarat di wajah Devandra. Cengkeraman di rambutku langsung terlepas.
“Lepasin tangan lo dari dia, bangsat!” bentak Leon. Napasnya terdengar berat, bibirnya masih berdarah, tapi sorot matanya kali ini jauh lebih tajam dari sebelumnya. Ia berdiri di depanku, seperti refleks melindungiku.
“Denger, ya,” suaranya meninggi. “Gue nggak bakal tinggal diam kalau perempuan yang gue suka disakitin.”
Dadaku langsung terasa sesak mendengar kalimat itu keluar begitu lantang.
“Nara emang nggak pantes buat lo.”
Devandra menyeka sudut bibirnya yang terkena pukulan, lalu tertawa hambar.
Tapi Leon belum selesai. “Dari awal gue percaya lo bisa jagain dia,” lanjutnya. “Tapi kenapa sekarang lo malah berubah jadi orang kayak gini?”
Hening beberapa detik.
Devandra menatap Leon tanpa ekspresi. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Gue penjahat?” Tatapannya bergeser ke arahku sesaat sebelum kembali ke Leon. “Atau justru lo... yang berani nyium istri temen lo sendiri?”
Suasana di ruangan ini benar-benar menjadi kacau hanya dalam sekejap, tubuhku gemetar dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Denger ya, bung, Nara itu istri gue. Dan gue berhak ngelakuin apa pun ke dia. Jadi lo... jangan ikut campur.”
Leon langsung maju selangkah. “Dengan nyakitin dia?” balasnya cepat.
Devandra tertawa pendek. “Nggak ada asap kalau nggak ada api.”
Sebelum aku sempat memahami maksud kalimatnya, tangannya tiba-tiba menarik lenganku kasar.
“Akh!” Tubuhku hampir kehilangan keseimbangan, jemarinya mencengkeram terlalu kuat sampai terasa sakit.
Entah keberanian dari mana, tapi kata-kata itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutku. “Aku nggak mau pulang.”
Hening.
Jujur saja aku terlalu takut. Takut pulang bersama Devandra dalam keadaan seperti ini. Takut pada sorot matanya yang sekarang terasa asing. Dan yang paling kutakuti, bagaimana ia akan memperlakukanku nanti saat tidak ada orang lain di rumah.
Wajah Devandra berubah seketika.
Plak!
Sebelum sempat bereaksi, tamparan keras itu mendarat di pipiku. Kepalaku sampai menoleh ke samping. Seketika mataku memanas. Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar menangis.
"Sialan!” Sorot mata Leon berubah seketika saat melihatku ditampar. Tanpa berpikir panjang, ia kembali melayangkan pukulan ke wajah Devandra.
Buk!
Kali ini lebih keras. Sudut bibir Devandra langsung robek hingga mengeluarkan darah.
“Leon!” pekikku reflek.
Devandra langsung menoleh tajam, napasnya memburu. Tangannya mengepal, bersiap membalas pukulan itu. Namun sebelum semuanya semakin kacau, aku buru-buru berdiri di tengah mereka.
“Cukup!” Suaraku menggema lebih keras dari yang kubayangkan. Bahkan aku sendiri terkejut mendengarnya. Dadaku naik turun menahan sesak, sementara air mata masih terasa membasahi pipiku.
“Udah cukup...” suaraku mulai bergetar. Aku menatap Devandra dengan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan. Takut, marah, kecewa, semuanya bercampur jadi satu.
“Aku nggak mau pulang kalau kamu masih dalam keadaan emosi kayak gini.”
Devandra perlahan mengangkat kepalanya. Ia mengembuskan napas berat, lalu tiba-tiba tertawa kecil di tengah kekacauan itu.
“Kamu maunya aku gimana?” ucapnya lirih.
Tatapannya jatuh tepat ke mataku. Pelan-pelan ia berjalan mendekat. Refleks tubuhku langsung menegang. Saat tangannya terangkat, aku spontan memalingkan wajah dan memejamkan mata. Kupikir dia akan menamparku lagi. Namun beberapa detik berlalu tanpa rasa sakit. Justru jemarinya bergerak pelan, menyingkirkan rambut yang menempel di pipiku. Gerakan yang seharusnya lembut, tapi entah kenapa malah membuat bulu kudukku berdiri.
“Masa iya... kamu pengen aku berlutut, terus mohon-mohon supaya kamu pulang?” Sudut bibirnya terangkat kecil. “Setelah kamu mengkhianati suamimu sendiri?”
Tatapannya bergeser sekilas ke arah Leon.
“Ciuman sama sahabat suami sendiri.” Ia tertawa lagi.
Tapi kali ini aku sadar sesuatu. Tawa itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Dan justru itu yang paling membuatku takut. Ruangan tiba-tiba terasa terlalu sunyi.
"Nara... ayo kita pulang," tangannya mengelus pipiku yang masih memerah akibat tamparannya. "Aku tadi beli sesuatu buat kamu, surprise. Pasti kamu suka." Dia tersenyum padaku. Senyuman yang benar-benar menakutkan.
Aku melirik ke arah Leon, ia juga menatapku dengan tatapan menyedihkan.
"Ayo Nara, malam semakin larut. Aku janji nggak marah lagi."
Dengan berat hati, aku menurut untuk pulang bersamanya.
"Dev, kalau sampai Nara kenapa-napa, gue gak bakal tinggal diam."
Devandra tetap berjalan menggandeng tanganku tanpa memperdulikan kalimat Leon. Tapi tiba-tiba Dev menoleh ke belakang.
"Gue lupa, mulai sekarang... lo gak bakal boleh lagi ketemu istri gue, paham?!"
Devandra membukakan pintu mobil untukku seperti biasa. Seolah beberapa menit yang lalu tidak pernah ada kekacauan, tidak ada tamparan, tidak ada darah di bibir Leon. Aku masuk tanpa banyak bicara. Tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan studio.
Suasana di dalam mobil terasa mencekam, tidak ada percakapan, tidak ada musik. Bahkan suara napas kami terasa terlalu jelas di tengah keheningan itu. Devandra hanya fokus menatap jalanan di depan. Rahangnya masih terlihat mengeras, jemarinya mengetuk pelan setir seperti sedang menahan sesuatu di kepalanya. Sesekali klakson mobil berbunyi kasar setiap kali ada kendaraan yang sedikit menghalangi lajunya.
Tin!
“Anjing...” gumamnya pelan saat sebuah motor memotong jalan.
Aku hanya diam di kursi penumpang, jemariku saling menggenggam erat di atas paha. Entah kenapa keheningan ini terasa jauh lebih menakutkan dibanding saat ia berteriak tadi.
Tubuhku gemetar, pikiranku berisik membayangkan hal-hal yang akan terjadi di rumah. Aku berusaha untuk menenangkan pikiranku sendiri, toh tidak mungkin Dev akan membunuhku.
Tidak! Itu mustahil.
Tapi, bagaimana jika ada yang lebih menakutkan daripada sekedar mati? Ah sial, pikiran itu semakin membuatku takut.
Atau mungkin saja aku bisa meluluhkan dirinya. Tapi bagaimana caranya? Mungkin dengan memuaskan nafsunya, bermain seperti yang dia inginkan.
Argh... kacau, pikiranku kacau. Tolong, apa saja yang bisa menghentikan malam ini, tidak sengaja menabrak pocong jadi-jadian, mungkin. Atau, rumah Dev kebakaran.
Bahkan hal paling absurd sekalipun rasanya ingin kuamini. Asal kami tidak cepat sampai rumah, asal aku punya sedikit waktu lagi untuk bernapas, sedikit saja. Karena jujur, untuk malam ini, aku hanya ingin selamat.